Spanyol vs Belgia: 'Inilah momennya Lamine Yamal'

Sumber gambar, EPA

Tim nasional Spanyol asuhan Luis de la Fuente semakin mendekati kejayaan.
Mereka berupaya menjadi tim keempat yang mampu meraih gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa secara bersamaan; mengikuti jejak timnas Spanyol pada 2010, timnas Prancis pada 2000, dan timnas Jerman Barat pada 1974.
De la Fuente kini memasuki tahun keempatnya sebagai pelatih Spanyol.
Selama periode itu, Spanyol menjuarai Piala Eropa dua tahun lalu dan kini membawa negaranya menghadapi Belgia di perempat final Piala Dunia 2026 pada Sabtu (11/07) pukul 02.00 WIB.
Di babak semifinal, Prancis menunggu pemenang laga tersebut.
Baca juga:
De la Fuente hanya kalah tiga kali sejak mengambil alih timnas Spanyol pada Januari 2023, dan kini mencatat rangkaian 35 pertandingan tanpa pernah kalah.
Ada pelatih yang membangun tim melalui taktik, dan ada pelatih yang membangun tim melalui manusia.
De la Fuente entah bagaimana mampu melakukan keduanya.
Yang membedakannya dengan pelatih lain lebih dari sekadar filosofi sepak bola, melainkan cara memahami manusia.
Gayanya dapat didefinisikan sebagai mengendalikan penguasaan bola namun dengan berbagai alternatif.
Namun di samping itu ia juga menciptakan sebuah budaya.

Sumber gambar, Getty Images
Keberhasilan De la Fuente bersama timnas Spanyol merupakan buah dari puluhan tahun bekerja di dalam federasi sepak bola Spanyol, serta perannya sendiri sebagai pelatih dalam sistem tersebut sejak 2013. Selama kurun waktu itu dia membentuk para pemain dan menanamkan nilai-nilai.
Dia memainkan peran penting dalam membangun identitas kolektif yang kini sangat jelas terlihat, dan itu bukan hal kecil bagi sebuah tim nasional.
'Sepakbola adalah olahraga tim, dibangun oleh orang-orang baik'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Inti pandangan hidup De la Fuente: sepak bola adalah olahraga tim yang dibangun oleh orang-orang baik.
Bukan "baik" dalam pengertian moral yang abstrak, melainkan dalam konteks sepakbola; murah hati, suportif, tidak egois, disiplin, dan bersedia berkorban demi kepentingan bersama.
Dia terus mengulang pandangan hidup ini ke setiap pemain dan ofisial.
"Mereka yang pernah berada di ruang ganti tahu apa artinya menjadi orang yang baik," katanya dalam percakapan eksklusif sebelum pertandingan melawan Belgia.
"Hampir setiap skuad pernah memiliki kebalikannya, pemain yang merusak keharmonisan, yang mengutamakan dirinya sendiri."
Baca juga:
De la Fuente, 65 tahun, telah melalui cukup banyak ruang ganti untuk mengetahui bahwa bakat tanpa kemurahan hati tidak akan melangkah jauh.
Timnas Spanyol asuhannya dibangun dari pemain-pemain yang memberi sebelum menerima.
Gaya bermain Spanyol selalu bergantung pada pemain yang memahami permainan secara kolektif.
Umpan, penguasaan bola, kecerdasan posisi: semuanya adalah kualitas teknis, tetapi juga kualitas sosial.
Tim yang 'paling mudah dianalisis' tetapi 'paling sulit dikalahkan'
Setiap tim yang tersisa di Piala Dunia ini memiliki satu kesamaan: gagasan yang jelas.
Tim nasional tidak punya waktu untuk membangun kompleksitas seperti tim klub, sehingga pesannya harus sederhana dan terus diulang.
Di sinilah Spanyol memiliki keunggulan.
Identitas sepak bola mereka telah dikembangkan selama beberapa dekade.
Pemain dan pelatih dipilih karena sesuai dengan gagasan tersebut, bukan sebaliknya.
Dan mereka mampu mengembangkan gaya permainan mereka karena fondasinya sudah ada.
Sebagian orang berpendapat mereka memiliki keuntungan tertentu dibanding tim nasional lain yang sedang menjalankan "proyek baru" dengan pelatih baru.
De la Fuente mewarisi identitas itu. Meminjam parafrasa dari apa yang pernah dikatakan Pep Guardiola tentang Johan Cruyff, De la Fuente "tidak membangun katedral itu, ia hanya mengecat ulang dari waktu ke waktu".
De la Fuente menambahkan berbagai lapisan: lebih banyak fleksibilitas, lebih banyak kedalaman, lebih nyaman dalam transisi, lebih tidak terduga di sepertiga akhir lapangan, dan lebih solid.
Spanyol tetap mudah dikenali dan "tim yang paling mudah dianalisis", seperti yang dikatakan seorang anggota staf Portugal kepada saya setelah kekalahan mereka di babak 16 besar, tetapi "yang paling sulit dikalahkan".
Baca juga:
Dia mengenal para pemain asuhannya karena telah bekerja bersama mereka di level usia muda selama satu dekade.
Keputusan-keputusan kepelatihannya mencerminkan kedekatan tersebut.
Stafnya secara logis menganalisis setiap pertandingan secara rinci dan mempelajari penyesuaian yang diperlukan.
Melawan Tanjung Verde, Spanyol kurang halus dalam operan mereka.
Melawan Arab Saudi, mesin kembali berjalan mulus.
Melawan Uruguay, dia tahu bahwa Spanyol secara historis kalah ketika terseret ke dalam provokasi dan kekacauan, sehingga ia menekankan ketenangan, disiplin, dan pengendalian emosi.

Sumber gambar, Reuters
De la Fuente mengakui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya ia akan bereaksi lebih emosional.
Ia berkata: "Pengalaman telah mengajarkan saya menghadapi situasi-situasi ini berkali-kali. Saya sudah menjalani pertandingan-pertandingan seperti ini. Saya sudah mengalaminya dan biasanya kalah. Mengapa? Karena kami tidak tahu cara memainkan jenis pertandingan tertentu."
"Jadi, ketika seseorang membuat kami kehilangan ketenangan, mengganggu permainan, memecah fokus, permainan kami terhenti, tertunda, dengan ritme yang berubah dan terganggu."
Hal itu mengajarkannya bahwa Spanyol kalah ketika mereka meninggalkan identitas mereka.
Baca juga:
Konferensi persnya mencerminkan nilai-nilai yang sama.
Dia mempersiapkannya dengan bantuan Aitor Karanka selaku direktur sepak bola federasi, tim media, psikolog federasi, dan mantan pemain Javier Lopez Vallejo. Di sisi lain, dia berimprovisasi ketika situasi memerlukan.
Dia berbicara dari hati.
Dia memanggil jurnalis dengan nama mereka karena ia diajarkan di rumah bahwa "rasa hormat dimulai dengan mengakui orang yang berada di hadapan Anda".
Dia menatap mata orang dan memperlakukan mereka sebagai setara.
Dia menegaskan bahwa semua itu bukanlah trik media.
Pertahanan yang solid
Berkat tangan dingin De la Fuente, timnas Spanyol punya beragam pemain di lini serang dan kekayaan di lini tengah yang akan membuat iri sebagian besar negara.
Mikel Oyarzabal telah mencetak 17 gol dalam 17 penampilannya sebagai pemain utama untuk La Roja.
Penyerang berusia 18 tahun, Lamine Yamal, kembali bugar. Adapun Pedri terus mengatur permainan di lini tengah dengan dukungan peraih Ballon d'Or 2024, Rodri.
Di lini belakang, timnas Spanyol membangun fondasi terkuat.
Tim asuhan Luis de la Fuente mencapai perempat final tanpa kebobolan satu gol pun dan menjadi satu-satunya tim yang belum berhasil ditembus lawan di Piala Dunia 2026.
Mereka menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gawangnya belum pernah dijebol lawan dalam enam pertandingan berturut-turut, melampaui rekor sebelumnya yang dibuat Italia (1990) dan Swiss (2006-10).
Mereka kini telah bermain selama 10 jam sembilan menit tanpa kebobolan dalam Piala Dunia 2026—sejak hasil imbang tanpa gol pada babak 16 besar Piala Dunia 2022, saat Maroko lolos melalui adu penalti.
"Ini adalah hasil dan buah dari kerja kolektif—tentu saja soliditas pertahanan yang luar biasa," kata De la Fuente setelah kemenangan atas Portugal.
"Ada solidaritas, kerja keras, pengorbanan dan semua orang berlari satu untuk yang lain. Setiap gagasan sepak bola hadir dengan sangat jelas, tetapi yang indah adalah sikap yang ditunjukkan para pesepak bola ini, mereka berkomitmen pada tujuan bersama."

Sumber gambar, Reuters
Soliditas pertahanan itu dimulai dari Unai Simon.
Kiper Spanyol tersebut terus menorehkan sejarah dengan memperpanjang catatan luar biasanya tanpa kebobolan di Piala Dunia selama 609 menit, sebuah rekor, setelah menahan Cristiano Ronaldo dan rekan-rekannya di Dallas.
"Portugal mendominasi sebagian besar pertandingan, tetapi Rafael Leao tidak memberikan percikan tambahan itu, demikian pula para pemain pengganti lainnya," kata kolumnis Guillem Balague.
"Spanyol bertahan dalam jumlah besar dan secara kolektif, mereka banyak melakukan pergerakan turun membantu pertahanan. Secara individual mereka menyelesaikan masalah. Jadi kami tidak memerlukan penyelamatan ajaib dari Simon."
Baca juga:
Dalam turnamen ini, Simon telah melampaui catatan mantan kiper timnas Italia, Walter Zenga, yang tidak kebobolan selama 517 menit berturut-turut, serta rekor mantan kiper Spanyol, Iker Casillas, yang mencapai 476 menit.
Di depan Simon, Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi menjadi pusat pertahanan mereka, sementara Pedro Porro dan Marc Cucurella memberikan lebar permainan dari posisi bek sayap.
Kuartet belakang tersebut menjadi pemain skuad utama dalam tiga dari lima pertandingan Spanyol di Piala Dunia sejauh ini, dengan Marcos Llorente menggantikan Porro sebagai bek kanan dalam dua pertandingan lainnya.
Balague menambahkan: "Hal ini juga terbantu karena Rodri sedang mencapai versi terbaiknya dan ia menjalani dua pertandingan yang luar biasa - ia adalah mercusuar tim ini.
"Kemitraan antara Laporte dan Cubarsi sempurna untuk cara bermain Spanyol— mengalirkan bola, membawa bola maju, dan bertahan dengan banyak ruang di belakang mereka."
'Ini momennya Lamine Yamal'
Lalu bagaimana dengan Lamine Yamal, yang wajahnya terpampang di setiap poster?
Mengelolanya adalah salah satu tugas paling rumit bagi De la Fuente.
Bagaimana ia menangani tugas khusus tersebut?
Dia berkata: "Ya, terutama dengan tetap tenang dan memberinya kepercayaan diri, karena kami tahu dari mana Lamine datang (dua bulan cedera sebelum bergabung dengan Spanyol musim panas ini) dan meskipun secara kebugaran ia belum benar-benar mencapai kondisi terbaik, kami juga tahu bahwa rencana kami memang ditujukan untuk fase ini.
"Di sinilah kami ingin melihatnya, dan ia ingin melihat dirinya sendiri, dan sekarang ia sepenuhnya fokus menjadikan ini Piala Dunianya."

Sumber gambar, Getty Images
Namun De la Fuente tahu bahwa kebesaran tidak dibangun dalam satu pertandingan.
Kebesaran dibangun melalui kematangan.
Inilah mengapa pertandingan melawan Portugal, dalam pandangan De la Fuente, merupakan yang paling penting dalam karier Lamine.
Bukan karena ia memukau dengan bola, tetapi karena ia bekerja tanpa lelah ketika tidak menguasai bola.
"Ini adalah momennya," kata De la Fuente.
"Bukan momen untuk mencetak 10 gol, melainkan momen untuk menjadi penentu dalam pertandingan-pertandingan yang menentukan.
"Dalam pemahaman saya tentang olahraga ini, kesuksesan datang bersama tim yang baik. Jika Anda menambahkan beberapa pemain individu yang luar biasa, maka Anda hampir, hampir mencapai kesempurnaan, tetapi hanya dengan cara itulah Anda dapat meraih apa pun."
Baca juga:
Kekagumannya terhadap pemain seperti Mikel Oyarzabal mengungkap logika yang sama.
Oyarzabal, menurut pandangannya, adalah salah satu dari lima penyerang tengah terbaik di dunia.
"Ia adalah pemain yang, dalam keadaan berbeda, akan diakui di seluruh dunia sebagai pemain top, yang menurut saya memang demikian adanya, dan ia mulai mendapatkan pengakuan itu, tetapi seharusnya sudah sejak lama," kata De la Fuente.
Segala hal dalam kehidupan De la Fuente mencerminkan konsistensi, termasuk berlatih setiap hari agar tetap bugar.
"Ya, ini adalah gaya hidup," katanya.
"Hal yang paling penting tentang semua ini adalah konsistensi. Saya selalu diajarkan untuk disiplin, konsisten.
"Saya membuat orang lain kelelahan, teman-teman saya dulu bilang saya melelahkan. Ketika saya sudah menetapkan sesuatu dalam pikiran saya, saya termasuk orang yang akan terus melangkah."
Saat ini hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya.





























