Piala Dunia 2026: Di balik misi Maroko menjadi kekuatan besar sepakbola

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Ciaran Kelly
- Peranan, Reporter sepakbola
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
"Maroko punya potensi untuk menjadi kekuatan besar sepak bola dunia."
Itu adalah pernyataan yang berani, tetapi Neil Ward telah menyaksikan langsung gairah dan rencana negara tersebut.
Setelah menjabat sebagai kepala eksekutif Football Association of Wales Trust, Ward meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengambil peran sebagai direktur operasi teknis di Royal Moroccan Football Federation (RMFF) pada 2020.
Dia berada di Rabat ketika Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar.
Ward melihat bagaimana hal itu "dirayakan seluruh kota hingga dini hari, sang raja ikut merayakannya".
Pada Piala Dunia 2022, tim berjuluk Atlas Lions tersebut disingkirkan oleh Prancis.
Kini mereka berusaha mencetak sejarah saat menghadapi Les Bleus pada Jumat (10/07) pukul 03.00 WIB untuk memperebutkan tempat di empat besar Piala Dunia 2026.
Apa pun yang terjadi di Stadion Boston, bukan berarti upaya Maroko kandas.
Warga Britania lainnya, Simon Jennings, tahu betul.
Selain menyelenggarakan Lisensi Pro UEFA dan Lisensi A UEFA sebagai pendidik pelatih, ia bertanggung jawab atas pengembangan pemain muda di seluruh Maroko antara 2020 dan 2024.
"Ini bukan kebetulan," katanya.
"Ini adalah hasil dari ambisi nasional yang jelas."
'Orang-orang ini serius dan ingin sukses'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ambisi Maroko datang dari tingkat paling atas.
Negara itu mendapat investasi berkelanjutan dalam sepak bola berkat sokongan Raja Mohammed VI.
Dana dalam jumlah besar telah dialirkan ke fasilitas pelatihan mutakhir, akademi nasional, pusat pelatihan regional, pembangunan ulang stadion, dan ribuan lapangan amatir.
"Mereka perlu fasilitas kelas atas itu untuk para pemain dari Eropa yang sudah terbiasa dengannya," tambah Ward.
"Jadi ketika Anda datang dan melihat fasilitas pelatihan dengan kualitas seperti ini, hal itu menunjukkan bahwa orang-orang ini serius dan ingin sukses."
Para aktivis muda telah menyerukan agar dana tersebut dialihkan ke pendidikan, layanan kesehatan, perumahan, transportasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Sebagai tanggapan, Kerajaan Maroko berjanji mengalokasikan dana setara Rp271 triliun dalam anggaran 2026 untuk kesehatan dan pendidikan, kenaikan 16% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga:
Bagi Ward, yang bekerja untuk RMFF antara 2020 dan 2024, motivasi di balik investasi negara dalam sepak bola jelas.
Maroko bertujuan memanfaatkan gairah terhadap sepak bola dan memperoleh "soft power di panggung internasional" dengan membuktikan bahwa mereka mampu bersaing.
Sebelum Piala Dunia 2022, Maroko hanya satu kali mencapai fase gugur Piala Dunia, yaitu ketika lolos ke babak 16 besar pada 1998.
Namun, sebelum bola pertama ditendang pada 2022, mantan pelatih Walid Regragui sudah menegaskan kepada para pemainnya bahwa mereka tidak sekadar pergi ke Qatar untuk memainkan tiga pertandingan fase grup.
Mereka akan melakukan sesuatu yang besar.
Bouaddi, Lamine Yamal, dan diaspora
Maroko punya banyak pemain berbakat berkat diaspora mereka dan para pemain yang lahir di negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Maroko memperkirakan lebih dari lima juta warga Maroko tinggal di luar negeri.
Maroko berupaya mengidentifikasi dan menjangkau pemain-pemain berbakat keturunan Maroko sejak dini dengan menempatkan pencari bakat penuh waktu di Prancis, Belanda, Spanyol, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Denmark.

Sumber gambar, Getty Images
Jennings mengatakan mereka "diterima sebagai orang Maroko".
"Mereka tidak merasakan bahwa ini adalah negara kedua," katanya.
"Mereka sepenuhnya menjadi orang Maroko. Itu adalah gairah yang mereka miliki dan kewarganegaraan yang sangat mereka rasakan."
Hasilnya cukup mencolok.
Sebanyak 19 dari 26 anggota skuad Piala Dunia Maroko saat ini lahir di luar negeri.
Enam dari mereka juga memenuhi syarat untuk memperluat lawan perempat final mereka, Prancis, termasuk gelandang Lille, Ayyoub Bouaddi.
Meskipun pemain berusia 18 tahun itu bermain untuk timnas Prancis di seluruh kelompok usia muda, ia selalu bangga terhadap silsilahnya.
Baca juga:
Demikian pula bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, yang memiliki ayah berdarah Maroko. RMFF bahkan pernah bertemu serta melakukan presentasi kepada dirinya dan keluarganya.
Ward menegaskan bahwa "tidak ada satu pun peluang yang diabaikan" dalam hal identifikasi talenta, meskipun tidak selalu berhasil.
"Saya ingat mereka berbicara tentang Yamal, talenta prospektif besar di Barcelona, ketika usianya sekitar 12 atau 13 tahun," kenangnya.
'Oksigen ini menyebar dengan cepat'
Langkah berikutnya bagi Maroko adalah menghasilkan lebih banyak pemain tim nasional senior melalui jalur domestik.
Chris van Puyvelde, yang menjabat sebagai direktur teknis RMFF antara 2022 dan 2025, mengatakan target menuju Piala Dunia berikutnya adalah memiliki komposisi seimbang antara pemain yang lahir di Maroko dan mereka yang dibesarkan di negara lain.
Namun ia memperingatkan bahwa "seluruh organisasi di dalam negeri perlu menjadi lebih baik".
Ada keseimbangan yang rumit untuk dijaga mengingat meningkatnya tuntutan terhadap hasil.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, merasakan tuntutan kesuksesan setelah tim U-20 asuhannya gagal lolos ke Piala Afrika U-20 pada 2023.
Namun, dengan dukungan baru dan tingkat kesabaran tertentu, Ouahbi yang lahir di Belgia kemudian bisa mengantarkan anak-anak asuhannya menjuarai Piala Dunia U-20 pada 2025.
Dia dipromosikan menjadi pelatih tim senior hanya beberapa bulan kemudian setelah Regragui mengundurkan diri menyusul kegagalan di Piala Afrika tingkat senior.
RMFF memandang ke masa depan dengan memberikannya kontrak hingga 2030.
Maroko terasa benar-benar sedang membangun sesuatu ketika negara itu bersiap menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Spanyol.
"Mereka membangun stadion, tetapi mereka juga membangun struktur dari bawah ke atas," tambah Van Puyvelde.
"Begitu Anda mendapatkan sedikit oksigen, seperti yang didapatkan Maroko di Qatar, Anda akan melihat oksigen ini menyebar sangat cepat. Ke seluruh penjuru negeri."





























