You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Banjir di Sumatra menewaskan 7% populasi orangutan paling langka di dunia, ungkap riset terbaru
- Penulis, Gavin Butler
- Penulis, Navin Singh Khadka
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Banjir dan longsor di Pulau Sumatra, Indonesia, telah mendorong orangutan—hewan paling terancam di dunia—semakin dekat ke jurang kepunahan, menurut studi.
Penelitian menunjukkan 58 ekor dari sekitar 800 orangutan tapanuli yang berstatus kritis—sekitar 7% dari total populasi— tewas akibat banjir dan longsor pada November lalu.
Angka itu disebut konservatif, karena tidak memperhitungkan kerusakan kanopi hutan akibat hujan maupun berkurangnya ketersediaan makanan, kata para penulis studi yang dipublikasikan pada Rabu (10/06).
Siklon Senyar melanda Sumatra pada akhir November 2025. Gabungan faktor cuaca dan deforestasi turut menewaskan lebih dari 1.000 orang—bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang 2025.
Temuan studi tersebut, kata para penulis, menunjukkan bahwa peristiwa hujan ekstrem dapat secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi kera besar.
Sebelumnya, para ahli satwa liar dan pegiat konservasi mengamati bahwa setelah badai, penampakan orangutan Tapanuli semakin jarang—memicu spekulasi bahwa kera besar itu mungkin tersapu banjir dan longsor.
Profesor Erik Meijaard, direktur pelaksana Borneo Futures di Brunei sekaligus salah satu penulis studi yang dipublikasikan Rabu, mengatakan kepada BBC pada Desember lalu bahwa Siklon Senyar kemungkinan menewaskan sekitar 35 orangutan—sebuah kehilangan yang ia sebut sebagai "pukulan besar bagi populasi".
Kini, studi komprehensif ini menunjukkan wilayah tersebut kehilangan hampir dua kali lipat jumlah itu.
Baca juga:
Beberapa pekan setelah siklon, pekerja kemanusiaan mengatakan kepada BBC bahwa mereka menemukan bangkai yang diyakini sebagai orangutan tapanuli, setengah terkubur di antara lumpur dan tumpukan kayu di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.
"Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya melihat satwa liar mati," kata Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan di lokasi. "Dulu mereka datang ke sini untuk makan buah. Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka."
Meijaard mengatakan ia telah melihat foto orangutan mati itu, dibagikan oleh Chandra.
"Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak," ujarnya. "Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, bahkan orangutan yang kuat sekalipun tak berdaya dan hancur."
"Ibarat neraka di dalam hutan saat itu."
Para peneliti mencatat bahwa Siklon Senyar merupakan peristiwa anomali, namun perubahan iklim akibat ulah manusia berperan signifikan.
Mereka juga menekankan bahwa frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di kawasan tersebut kemungkinan akan terus berlanjut di masa depan, mengancam kelangsungan hidup orangutan tapanuli dan habitatnya.
Studi menunjukkan bahwa spesies yang baru ditemukan pada 2017 itu akan punah jika kehilangan lebih dari 1% populasinya setiap tahun.
"Jadi, ketika ada peristiwa di mana sekitar 58 individu mati dari 580, itu berarti sekitar 10 hingga 11% populasi di wilayah tersebut dan 7% dari total populasi spesies," kata Profesor Sergei Vich, primatolog dari Liverpool John Moore University sekaligus salah satu penulis studi.
"Angka kematian itu jauh melampaui kemampuan bertahan mereka. Jadi ini adalah peristiwa besar."
Baca juga:
Pemerintah Indonesia telah menghentikan sementara proyek-proyek besar di kawasan hutan lindung Batang Toru, termasuk pertambangan, kelapa sawit, dan ekspansi pembangkit listrik tenaga air, memberi kesempatan langka bagi peneliti untuk menilai lebih jauh risiko ekologis yang dihadapi kera besar tersebut.
Para penulis laporan yang dirilis Rabu menegaskan bahwa kehancuran akibat Siklon Senyar membuktikan betapa rentannya spesies ini.
"Krisis yang dihadapi orangutan tapanuli menggambarkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan, sehingga membutuhkan respons terkoordinasi yang sepadan dengan skala ancaman," tulis laporan itu.
Untuk melindungi orangutan yang tersisa, mereka menambahkan, dukungan internasional berkelanjutan akan sangat diperlukan.
"Melalui perlindungan domestik yang diperkuat, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan finansial dan teknis global, kita masih bisa mencegah kepunahan pertama spesies kera besar di era modern."