Tanjung Verde cetak sejarah Piala Dunia – 'Semua orang meragukan kami'

    • Penulis, Adam Millington
    • Peranan, Jurnalis BBC Sport
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 4 menit

Aksi para pemain Tanjung Verde pada Piala Dunia 2026 akan tercatat dalam sejarah setelah berhasil menahan imbang dua negara peraih Piala Dunia pada babak grup.

Tim berjuluk 'Hiu Biru'' tersebut telah menciptakan salah satu kejutan terbesar sepanjang masa ketika bermain imbang 0-0 dengan Spanyol pada debutnya.

Negara itu kembali menunjukkan kualitasnya di panggung terbesar sepak bola dengan menahan imbang Uruguay, 2-2.

Kepulauan yang terdiri dari 10 pulau di Samudra Atlantik ini, dengan populasi kurang dari 525.000 orang menurut data terbaru Bank Dunia, kini berpeluang untuk lolos ke babak gugur.

Tanjung Verde tidak bisa diremehkan

Pada pertandingan melawan Uruguay, sorotan tidak hanya tertuju pada aksi heroik kiper Vozinha—yang jumlah pengikut Instagram-nya melonjak dari 40.000 sebelum pertandingan melawan Spanyol menjadi lebih dari 15 juta.

Para pemain Tanjung Verde di lini depan kini juga mendapat perhatian.

"Mereka pasti akan memeriksa ponsel mereka untuk melihat berapa banyak pengikut yang mereka miliki," kata mantan bek Wales, Ashley Williams, kepada BBC.

Sejak menit pertama, Tanjung Verde menerapkan permainan menyerang. Mereka terus berupaya mengalirkan bola ke depan untuk menyulitkan Uruguay.

Kemudian momen bersejarah pun tiba.

Baca juga:

Kevin Pina maju untuk mengeksekusi tendangan bebas yang menembus pagar betis dan melewati kiper Fernando Muslera.

Di Praia, ibu kota Tanjung Verde, gol tersebut disambut dengan gegap gempita.

Setelah itu, Cape Verde menunjukkan kekuatan bertahan seperti saat melawan Spanyol dan menggabungkannya dengan ancaman serangan.

Gol kedua diciptakan Helio Varela dengan sentuhan halus untuk melewati kiper Muslera.

Hasil ini membuktikan bahwa Tanjung Verde tidak bisa diremehkan—walau banyak pengamat yang memprediksi mereka akan kalah.

Seorang pendukung Tanjung Verde mengatakan kepada BBC Sport bahwa "semua orang meragukan kami, semua orang mengira kami tidak akan berhasil. Sekarang kami ada di sini".

Reaksi seperti itu menggambarkan bagaimana Tanjung Verde dengan cepat menjadi salah satu kisah terbaik di Piala Dunia tahun ini.

Akankah Tanjung Verde lolos ke babak gugur?

Hasil imbang melawan Spanyol dan Uruguay menjadikan Tanjung Verde sebagai tim debutan pertama yang tidak terkalahkan dalam dua pertandingan pertama Piala Dunia sejak Senegal pada 2002.

Dua hasil imbang tersebut menempatkan Tanjung Verde berada di posisi ketiga klasemen Grup H dengan dua poin.

Format baru dalam Piala Dunia 2026 memberi Tanjung Verde peluang untuk lolos ke babak gugur.

Baca juga:

Pada pertandingan penentu babak grup, Tanjung Verde akan menghadapi Arab Saudi, yang bermain imbang 1-1 dengan Uruguay dan kalah telak 4-0 dari Spanyol.

Tiga poin melawan Arab Saudi akan cukup bagi Tanjung Verde untuk memastikan tiket ke babak 32 besar.

"Hal terbesar bagi saya adalah betapa Cape Verde menikmati permainan mereka," kata mantan penyerang Skotlandia, James McFadden.

"Mereka sangat menikmati permainan. Sangat menyenangkan untuk ditonton."

Dukungan sang ibu

Ada yang spesial saat Tanjung Verde menghadapi Uruguay di Stadion Miami, pada 21 Juni 2026.

Saat itu, ibu kiper Vozinha—Ana Candida Evora—dapat menyaksikan penampilan anaknya secara langsung di stadion.

Sebelumnya, pada pertandingan melawan Spanyol, Vozinha mengatakan bahwa ibunya tidak dapat menghadiri Piala Dunia karena tingginya biaya untuk mendapatkan visa AS.

Namun, ibunya mengonfirmasi kepada BBC di Sao Vicente bahwa ada pihak-pihak yang membantu agar dirinya bisa ke Miami.

"Saya sangat bahagia," kata Ana Candida Evora.

"Semua ini terjadi begitu cepat, tetapi saya tetap cukup bahagia. Saya akan melihat anak saya bermain di Piala Dunia, jika Tuhan menghendaki.

"Saya akan pergi ke sana untuk mendukungnya, memberinya kekuatan dan keberanian. Saya akan memeluknya setelah pertandingan."

Ketua Fraksi Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, mengatakan bahwa biaya visa telah digratiskan dan tiket pesawat sudah diatur agar ibu penjaga gawang Tanjung Verde tersebut bisa menyaksikan penampilan putranya.

"Tidak ada seorang ibu pun yang seharusnya kehilangan kesempatan untuk melihat anaknya mencetak sejarah," tulis Jeffries di X.

"Saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan meminta Departemen Luar Negeri untuk melakukan segala yang mereka bisa guna memastikan ibunya dapat menghadiri pertandingan Tanjung Verde."

Tanjung Verde adalah salah satu dari lima negara yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut, yang warganya diwajibkan oleh pemerintah AS untuk membayar deposit visa yang dapat dikembalikan sekitar £11.000, meskipun para penonton yang memiliki tiket pertandingan dibebaskan dari aturan ini pada bulan Mei.