AS klaim Israel-Hizbullah sepakati gencatan senjata, di tengah serangan lanjutan ke Lebanon

    • Penulis, Henry Moore
    • Penulis, Tom Bateman
    • Peranan, Koresponden BBC di Deplu AS
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/06), kata seorang pejabat Amerika Serikat. Pengumuman ini muncul menyusul serangan udara bertubi-tubi oleh Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 47 orang.

Kesepakatan terbaru ini tercapai di tengah kekhawatiran bahwa bentrokan yang terus berlanjut, termasuk serangan Hizbullah yang menewaskan empat tentara Israel di Lebanon, dapat merusak kesepakatan mengakhiri perang antara AS dan Iran.

Militer Israel membenarkan bahwa gencatan senjata telah diberlakukan. Namun, tak lama kemudian, seorang juru bicara menegaskan bahwa pasukannya akan "terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika".

Pihak Hizbullah sendiri belum memberikan konfirmasi resmi terkait gencatan senjata ini.

Meski begitu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyatakan bahwa "rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal".

Tim SAR di kota Nabatieh mengungkapkan kepada BBC bahwa sedikitnya terjadi 12 kali serangan udara sejak gencatan senjata dinyatakan berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat.

Eskalasi mematikan ini menjadi sinyal kuat bahwa Donald Trump tidak sepenuhnya memegang kendali atas nasib kesepakatan yang ia gagas dengan Iran.

Nota kesepahaman (MoU) sebenarnya menyatakan gencatan senjata di Lebanon, sekaligus antara AS dan Iran. Namun, realitas di lapangan berbicara sebaliknya.

Kondisi ini memicu Teheran menuduh Trump gagal meredam sekutu dekatnya, Israel.

Trump sendiri memanaskan situasi lewat serangkaian tuduhan yang dia layangkan kepada sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump menyebut Netanyahu telah membantai warga sipil tanpa akal sehat dalam upayanya memerangi Hizbullah.

Ketegangan yang kembali pecah semalam di Lebanon selatan ini pun kian menambah pelik masalah.

Di saat Gedung Putih berkeras bahwa gencatan senjata tengah berjalan, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, merespons kematian para tentara Israel dengan pernyataan keras.

"Lebanon harus dibakar... Untuk setiap tetes air mata ibu Israel, 1.000 ibu Lebanon harus menangis," tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Israel menginginkan "perang abadi".

Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap komitmen yang tertera dalam nota kesepahaman "akan ditimpakan sebagai tanggung jawab AS".

Kesepakatan Trump ini sangat bergantung pada kemampuan masing-masing pihak untuk menahan kelompok garis keras mereka dan menunjukkan pengendalian diri, sesuatu yang saat ini dinilai hampir tidak terlihat di lapangan.

Netanyahu terus dihujani tekanan domestik untuk melanjutkan operasi militer terhadap Hizbullah. Di sisi lain, kelompok yang disokong Iran tersebut menegaskan akan terus melancarkan serangan selama invasi Israel di Lebanon selatan masih berlangsung.

Menyusul pengumuman gencatan senjata terbaru, juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menegaskan bahwa Israel akan "terus melenyapkan ancaman yang ada, merespons setiap pelanggaran Hizbullah, dan melakukan apa pun yang diperlukan demi melindungi warga sipil kami".

Pada hari Jumat, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, mendeklarasikan, bahwa "rencana melenyapkan Hizbullah telah gagal, dan pasukan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami".

Pertempuran sengit kembali pecah ketika Hizbullah mengklaim telah menjebak barisan pasukan Israel di Lebanon selatan. Mereka menghancurkan tiga tank menggunakan rudal kendali, serta menggempur pasukan musuh dengan roket dan artileri. Seorang komandan batalion termasuk di antara empat tentara Israel yang tewas.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan 47 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai 97 orang lainnya.

Di wilayah Nabatieh, korban jiwa tersebar di beberapa titik. Sembilan orang tewas di Harouf, tujuh orang di Haboush, dan enam orang di al-Duweir, termasuk satu anak.

Kantor berita resmi Lebanon sebelumnya menggambarkan pemboman massal di seantero wilayah Nabatieh pada hari Kamis sebagai salah satu serangan paling intens sepanjang perang ini.

Baca juga:

Kabar mengenai gencatan senjata ini disambut dengan rasa skeptis oleh warga Lebanon yang mengungsi. Mereka sangsi Israel akan mematuhi perjanjian damai tersebut.

"Perjanjian itu bagus, dan kita semua ingin damai. Tapi Israel tidak pernah mematuhinya," kata seorang pria kepada kantor berita Reuters.

"Sudah berapa kali mereka membuat perjanjian? Lebih dari sekali, dan mereka tidak pernah berkomitmen."

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pembicaraan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel akan kembali digelar di Washington pekan depan, dengan target untuk mencapai "perdamaian yang langgeng."

Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa "gencatan senjata menyeluruh" yang dapat mengakhiri "serangan Israel di wilayah Lebanon" sangat dibutuhkan agar perundingan di Washington bisa membuahkan hasil, demikian keterangan dari kepresidenan Lebanon.

Lebanon terseret ke dalam pusaran perang antara Israel, AS, dan Iran tak lama setelah konflik pecah. Hizbullah mulai menghujani Israel dengan roket sebagai aksi balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.

Israel membalasnya dengan melancarkan kampanye pengeboman masif di seluruh penjuru Lebanon dan menduduki sekitar 5% wilayah di bagian selatan. Langkah ini bertujuan untuk memukul mundur para pejuang Hizbullah dari perbatasan utara Israel.

Lebih dari 3.900 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 11.600 lainnya luka-luka sejak konflik terbaru ini meletus, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon.

Hingga kini, sekitar satu juta orang masih telantar di pengungsian, sementara puluhan permukiman di wilayah selatan telah hancur total merata dengan tanah.