Apa yang membuat orang enggan untuk berbuat baik?

    • Penulis, Claudia Hammond
    • Peranan, BBC Future
  • Telah diterbitkan

Tes Kebaikan adalah survei terbesar di dunia tentang apa sebenarnya artinya berbuat baik. Ini menjelaskan hambatan yang menghentikan seseorang untuk bertindak baik - tetapi juga menunjukkan bahwa empati itu sama dipahami di berbagai belahan dunia.

Saya sedang olah raga berlari beberapa hari yang lalu ketika saya melihat seorang pria dan seorang perempuan di ujung jalan mencoba memindahkan sebuah kasur besar dari sebuah van ke dalam rumah.

Mereka jelas kesulitan. Saya sedang memakai sepatu olah raga. Saya tidak sedang membawa apa-apa. Dan saya tidak sedang terburu-buru. Saya bisa saja menawarkan bantuan.

Tetapi jika saya melakukannya, mungkinkah perempuan itu berpikir bahwa saya menduga dia tidak bisa melakukannya sendiri karena dia perempuan?

Sekarang mereka telah membawa kasur itu ke taman belakang dan mulai menaikkannya ke tangga luar rumah.

Pagar rumah mereka terlalu tinggi bagi mereka untuk melihat saya, jadi untuk menawarkan bantuan, saya harus masuk ke kebun mereka tanpa diundang. Apakah saya akan mengganggu privasi mereka? Mungkinkah mereka keberatan?

Sekarang semuanya sudah agak terlambat dan mereka sudah setengah jalan menaiki tangga.

Saya mungkin terlalu memikirkannya, tetapi sepertinya saya tidak sendirian dalam bersikap hati-hati dalam menawarkan untuk melakukan sesuatu yang baik untuk orang asing.

Baca juga:

Tes Kebaikan

Kembali pada Agustus 2021, kami meluncurkan Tes Kebaikan di Radio BBC 4.

Itu merupakan kuesioner online yang dibuat oleh tim di University of Sussex yang dipimpin oleh psikolog Robin Banerjee.

Lebih dari 60.000 orang dari 144 negara memilih untuk ambil bagian, menjadikannya studi psikologis terbesar di dunia tentang topik kebaikan. (Baca lebih lanjut tentang itu di artikel sebelumnya BBC Future 'Apa yang kita tahu dan tidak ketahui tentang kebaikan'.)

Selain skala yang mengukur kepribadian, kesejahteraan, dan empati, kebaikan juga dinilai dengan menanyakan kepada orang-orang seberapa sering mereka melakukan serangkaian tindakan kebaikan.

Variasi dalam tanggapannya besar, dengan beberapa orang dengan jujur mengakui bahwa mereka tidak terlalu sering berbuat baik, dan yang lain menunjukkan tingkat kebaikan yang tinggi.

Ketika ditanya kapan terakhir kali mereka menerima tindakan kebaikan, 16% orang mengatakan dalam satu jam terakhir dan 43% lain mengatakan dalam sehari terakhir.

Jelas bahwa berapa pun usia orang atau di mana pun mereka tinggal, kebaikan sangat umum.

Tetapi ada hambatan yang menghalangi orang untuk menjadi lebih ramah dan kami ingin menjelajahinya dalam Tes Kebaikan.

Ketika orang diminta untuk mengurutkan daftar kemungkinan faktor yang mencegah mereka berbuat baik, alasan paling umum yang diberikan responden adalah karena mereka takut akan disalah artikan.

Ini mengingatkan saya pada keragu-raguan saya untuk menawarkan bantuan membawa kasur, bukan karena saya tidak ingin membantu, tetapi karena saya takut itu akan disalah artikan dan menyebabkan orang menjadi tersinggung.

Terkadang berbuat baik bisa jadi penuh pertimbangan, seperti menawarkan tempat duduk di bus kepada seorang perempuan yang mungkin kita duga hamil, yang kemudian dapat disalah artikan. Dan terkadang kita takut akan rasa malu atau penolakan.

Ini mungkin menjelaskan mengapa tindakan baik paling umum yang dilaporkan orang adalah "membantu orang ketika mereka meminta".

Itu mungkin terdengar sedikit enggan.

Seberapa baik suatu tindakan jika Anda harus diminta untuk melakukannya?

Tetapi bagi saya ini penting. Mungkin kita gugup menawarkan bantuan, tetapi sangat senang melakukannya begitu kita tahu orang itu menyambut bantuan kita.

Faktor kepribadian

Ada temuan lain yang mungkin menjelaskan keengganan seseorang. Faktor terbesar terkait berbuat baik bukanlah usia atau pendapatan, tetapi kepribadian.

Kami menggunakan skala yang mengukur apa yang dikenal sebagai faktor kepribadian Lima Besar. Tidak mengherankan jika orang-orang yang paling baik memiliki skor tinggi dalam faktor "keramahan", tetapi mereka juga memiliki skor tinggi dalam ekstraversi dan keterbukaan.

Saya menjadi bertanya-tanya apakah orang-orang ini merasa lebih mampu untuk menawarkan bantuan - bukan karena mereka ingin membantu lebih dari siapa pun - tetapi bahwa ekstraversi dan keterbukaan mereka (kegemaran mereka akan pengalaman baru) membuat mereka tidak takut untuk melakukannya.

Dan bagi orang-orang yang ragu untuk membantu, ternyata tidak perlu terlalu khawatir. Kata-kata yang paling sering digunakan orang-orang yang menerima kebaikan adalah "senang", "bersyukur", "merasa disayangi", "lega" dan "senang".

Kurang dari 1% orang mengatakan mereka merasa malu.

Kami juga menemukan bahwa bahkan ketika mempertimbangkan kepribadian, orang yang lebih sering berbicara dengan orang asing juga menerima lebih banyak kebaikan.

Gillian Sandstrom dari University of Sussex, yang tergabung dalam tim yang menganalisis Tes Kebaikan, menemukan bahwa ketakutan kita untuk berbicara dengan orang asing biasanya tidak sesuai dengan kenyataan, dan orang-orang cenderung menikmatinya lebih dari yang mereka harapkan.

Ketika membandingkan wilayah-wilayah di dunia, ketakutan akan salah tafsir lebih rendah di AS daripada di Inggris atau di negara-negara di Afrika. Di AS, penggunaan media sosial lebih sering menjadi alasan yang menghalang seseorang untuk berbuat baik.

Di seluruh dunia, alasan paling umum kedua yang diberikan orang untuk tidak bersikap ramah adalah kurangnya waktu, terutama di Eropa Barat dan Utara. Sementara, hal yang sama tampaknya kurang menjadi faktor di Amerika Utara atau Eropa Selatan.

Memang benar bahwa jika ingin menjadi sukarelawan, perlu memiliki waktu luang, tetapi banyak tindakan lain yang dilakukan orang tidak membutuhkan waktu.

Tindakan kebaikan paling umum yang dikatakan orang kepada kami baru-baru ini adalah mengatakan sesuatu yang baik kepada seseorang, yang cenderung tidak memakan waktu terlalu lama.

Robin Banerjee dari University of Sussex, yang memimpin Tes Kebaikan, menunjukkan bahwa orang memberi, melihat, dan menerima banyak kebaikan di mana pun di dunia, tetapi berdasarkan sampel kami yang berbahasa Inggris, ada beberapa tren tentatif juga.

"Data menunjukkan bahwa ini tidak dapat direduksi menjadi perbandingan sederhana antara Timur versus Barat, atau pun negara-negara kolektivis versus individualistis. Kami menemukan pola yang jauh lebih bernuansa. Kami dapat melihat dua negara yang cukup maju dengan budaya yang mirip, namun pandangan berbeda tentang kebaikan," katanya.

Lebih dari seperempat orang khawatir kebaikan mereka dianggap sebagai kelemahan.

Namun juga diketahui dari Tes Kebaikan bahwa setelah berbuat baik, orang tidak hanya merasa memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan lebih bahagia, tetapi mereka mengatakan bahwa hal itu membantu mereka untuk merasa seolah-olah mereka adalah orang baik, serta menambah makna dalam hidup mereka.

Sementara, menerima kebaikan juga membuat kita merasa seperti orang baik, dan ini dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

Namun demikian, ini hanyalah awal dari analisis data Tes Kebaikan, dan lebih banyak makalah tentang temuannya akan dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Tetapi dengan mempertimbangkan semua bukti ini, mungkin kita perlu mulai mencoba melihat kebaikan, bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai kekuatan.

Dan mungkin lain kali, keitka saya berpapasan dengan orang-orang yang sedang kesulitan memindahkan kasur, saya akan mengumpulkan keberanian untuk menawarkan bantuan.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini berjudul What stops people from being kinder? di laman BBC Future.