You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Evolusi Messi, dari pemain sayap memukau hingga veteran minim gerakan — 'Messi versi terbaru selalu merupakan versi terbaik'
- Penulis, Guillem Balague
- Peranan, Kolumnis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Hanya beberapa jam setelah Kylian Mbappe dari Prancis dan Erling Haaland dari Norwegia memanaskan Piala Dunia, dengan masing-masing mencetak dua gol, panggung utama telah siap. Pentas utamanya adalah sang megabintang, Messi.
Melawan Aljazair, Messi mencetak hattrick pertamanya di Piala Dunia—gol ke-16 yang menyamai rekor sepanjang masa turnamen ini. Sebuah pengingat kembali bahwa terlepas dari usianya, karirnya belum selesai.
Tepat dua puluh tahun setelah debut Piala Dunianya sebagai remaja berusia 18 tahun di Jerman tahun 2006, salah satu superstar terbesar dalam sejarah sepak bola ini tampil setajam biasanya. Ia menyuguhkan performa spektakuler dalam penampilan ke-200 bersama negaranya.
"Bisa menikmati momen ini bersama keluarga dan rekan-rekan setim, mereka yang selalu ada untuk saya, adalah momen yang sangat indah. Skuad ini adalah kelompok yang sangat bersatu dan kuat. Saya merasa dalam kondisi baik; kami cukup beruntung bisa memenangkan pertandingan yang sulit. Sangat penting untuk memulai laga pertama dengan kemenangan," katanya usai laga.
"Saya berterima kasih kepada para penggemar, karena sekali lagi mereka menunjukkan betapa gilanya Argentina terhadap sepak bola—kami berhasil memenuhi stadion lagi."
Baca juga:
Jika Argentina ingin menjadi negara pertama yang sukses mempertahankan gelar juara Piala Dunia sejak 1962, dan yang ketiga sepanjang sejarah, bisa dipastikan Lionel Messi akan menjadi motor utamanya.
Sebagian besar pemain akan mengalami penurunan performa seiring usia. Namun, para pemain elit selalu punya cara untuk beradaptasi.
Ronaldo, misalnya, mengubah dirinya menjadi predator di dalam kotak penalti ketika kecepatannya mulai hilang.
Messi tidak sekadar beradaptasi untuk meredam penurunan performanya. Ia beradaptasi agar bisa terus mendominasi dan tetap berada terdepan di pertandingan.
Sejak debutnya bersama Barca di usia 16 tahun dalam laga persahabatan melawan Porto asuhan Jose Mourinho, saat ia bermain di sisi kanan, menggiring bola, dan sering menusuk ke dalam, Messi telah mengubah gaya mainnya setidaknya lima kali. Semua itu ia lakukan untuk berevolusi menjadi sosok pemain seperti sekarang, baik untuk Argentina maupun Inter Miami.
Apa alasan Guardiola menggeser Messi dari posisi sayap?
Saat Ronaldinho, yang kala itu merupakan pemain terbaik dan paling terkenal di dunia, melihatnya berlatih untuk pertama kali, dia bilang, "Dia [Messi] akan menjadi yang terbaik."
Dua tahun kemudian, pada Agustus 2005, Messi memperkenalkan dirinya kepada dunia dalam ajang Joan Gamper Trophy melawan Juventus.
Fabio Capello, manajer Juventus saat itu, dibuat begitu terkesan oleh pemain berusia 18 tahun tersebut hingga ia dikabarkan langsung mencoba untuk merekrutnya.
Ketika Messi menginjak usia 21 tahun, saat performa Ronaldinho mulai meredup dan tongkat estafet kepemimpinan mulai dioper, manajer Barca kala itu, Frank Rijkaard, tahu persis apa yang dibutuhkan tim dari dirinya.
"Tepat di pusat permainan," ujar Rijkaard. "Semakin sering dia menyentuh bola, semakin baik bagi tim."
Selama bulan-bulan pertama Guardiola memegang kendali pada tahun 2008, sisi kanan lapangan adalah koridor milik pemain Argentina tersebut, seakan jadi jalur pribadinya menuju gawang lawan.
Pertama kali Guardiola memutuskan untuk menggeser Messi dari posisi sayap sebenarnya adalah karena alasan bertahan.
Dia tidak ikut turun membantu pertahanan, sehingga bek sayap tim kewalahan. Namun, manajer asal Katalan itu tahu bahwa Messi pada akhirnya akan selalu berakhir di pusat permainan.
Dan tim pun akan dibangun di sekeliling posisi barunya tersebut, demi panggung-panggung terbesar dan momen-momen paling krusial.
Peran false nine dan lahirnya pemain perusak taktik lawan
Tanggal: 2 Mei 2009. Tempat: Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Laga La Liga.
Guardiola mengambil sebuah keputusan besar. Ia menarik Messi dari posisi sayap kanan dan menempatkannya di ujung tombak formasi lini serang—namun tanpa tugas sebagai striker tradisional.
Samuel Eto'o digeser ke kanan, Thierry Henry ke kiri, dan Messi diberi instruksi khusus, yakni untuk turun ke belakang, jemput bola, ambil keputusan. Saat peluit panjang berbunyi, skor berakhir 6-2. Peran false nine pun lahir kembali.
Sebenarnya ini bukan strategi baru. Timnas Hungaria asuhan Gusztav Sebes pernah menghancurkan Inggris di kandang mereka sendiri pada tahun 1953.
Dalam kemenangan 6-3 tersebut, ia berulang kali menginstruksikan Nandor Hidegkuti untuk turun ke lini tengah, menarik bek tengah lawan keluar dari posisinya, dan menciptakan ruang bagi Ferenc Puskas serta Sandor Kocsis.
Johan Cruyff, yang awalnya bermain di bawah asuhan Rinus Michels, juga memainkan peran penyerang yang bebas bergerak dalam filosofi Total Football bersama Belanda.
Pada awalnya, Messi menjadi sebuah masalah yang seakan tidak ada solusinya. Ketika ia turun menjemput bola di antara lini tengah dan lini belakang, para bek tengah Madrid harus memilih, antara mengikutinya dan meninggalkan lubang di pertahanan, atau diam di tempat dan memberinya ruang yang sangat luas.
Tidak ada satu pun pilihan yang berhasil. Messi melenggang melewati celah tersebut tanpa ada yang menghadang.
Dengan Xavi, Andres Iniesta, dan Yaya Toure di belakangnya, serta Henry dan Eto'o yang merenggangkan lebar pertahanan lawan, setiap keputusan yang diambil oleh musuh selalu berujung jadi keputusan salah.
Guardiola mengulangi eksperimen tersebut beberapa pekan kemudian dalam laga final Liga Champions melawan Manchester United. Messi mencetak gol lewat sundulan kepala saat laga tersisa 20 menit.
Antara tahun 2011 dan 2013, Messi mencetak 96 gol hanya dalam 69 pertandingan La Liga.
Penghargaan Ballon d'Or yang diserahkan kepadanya pada tahun 2009 seolah menjadi miliknya secara permanen—ia memenangkannya lagi pada tahun 2010, 2011, 2012, 2015, dan 2019, hingga akhirnya berhasil mengoleksi total delapan trofi. Trofi pertamanya diraih saat ia berusia 22 tahun.
Yang paling terbaru diraihnya saat berusia 36 tahun.
"Dulu saya tidak terlalu memperhatikan taktik," kata Messi kepada jurnalis Juan Pablo Varsky pada tahun 2024.
"Namun bersama Guardiola, saya belajar banyak sekali. Saya mulai memahami tentang ruang, penguasaan bola, dan bagaimana permainan sepak bola sebenarnya berjalan."
Transisi: beban sebuah tim
Ketika Xavi meninggalkan Barcelona pada tahun 2015, diikuti oleh Iniesta tiga tahun kemudian, sebuah pergeseran besar terjadi. Messi yang selama ini selalu menjadi penentu kemenangan, kini dituntut untuk menjadi motor penggerak seluruh tim.
Lini tengah yang selama ini menjadi jaring pengamannya—para pemain yang terus mengalirkan bola dan menciptakan ruang bagi Messi untuk bersinar—telah tiada.
Untuk beberapa waktu, Messi diharapkan bisa menjadi Xavi, Iniesta, sekaligus pencetak gol di saat yang bersamaan. Ini adalah tuntutan yang terlalu berat bagi siapa pun.
Namun, ia mengatasinya dengan berevolusi kembali. Sang pencetak gol yang juga menyandang peran nomor 10 atau false nine ini menjelma menjadi seorang 'enganche' alias sang penghubung.
Dengan turun jauh lebih ke belakang, ia kini menjadi organisator permainan, sosok yang mengawali serangan dan tak jarang menyelesaikannya sendiri.
Catatan assist-nya pun mulai menyaingi perolehan gol dalam statistiknya. Pada musim 2019-20, ia mencatatkan 22 assist dan 25 gol hanya dalam 33 pertandingan La Liga.
Ia sempat kembali ke performa ketajaman terbaiknya di musim terakhir bersama Barcelona (2020-21) dengan mengemas 30 gol dan 11 assist dari 35 laga La Liga.
Namun, musim pertamanya di Paris Saint-Germain menegaskan pergeseran peran tersebut secara mutlak, 11 gol dan 15 assist dalam 34 pertandingan di semua kompetisi. Untuk pertama kalinya dalam karier di level klub, ia mencatatkan jumlah assist yang lebih banyak daripada golnya.
"Seorang pencetak gol ulung yang berubah menjadi sosok Iniesta," begitulah cara seorang analis asal Argentina menggambarkannya.
Beban sang kapten
Berjalan beriringan dengan evolusi taktiknya, ada sebuah kisah paralel yang berlangsung, yakni pertanyaan tentang siapa sebenarnya sosok Messi bagi Argentina.
Ia resmi menjadi kapten pada Agustus 2011. Setelah itu, rentetan kekalahan mulai berdatangan. Final Piala Dunia 2014, kalah dari Jerman lewat babak perpanjangan waktu di Maracana. Final Copa America 2015, kalah adu penalti dari Cile. Final Copa America 2016, kembali kalah adu penalti dari Cile.
Tiga final dalam tiga tahun, semuanya berakhir dengan kekalahan. Setiap kegagalan itu kian mempererat jerat ekspektasi publik yang menghimpit dirinya.
Setelah kekalahan terakhir, ia memutuskan pensiun—sebuah keputusan yang sebenarnya sudah dua kali ia pertimbangkan sebelumnya.
Lalu, dia akhirnya kembali. Namun, Messi telah menjadi sosok yang berbeda.
Pada Copa America 2019, setelah disingkirkan secara kontroversial oleh tuan rumah Brasil di semifinal, Messi berjalan ke ruang konferensi pers dan mengkritik keras konfederasi sepak bola Amerika Selatan (CONMEBOL).
Messi bukanlah pemain yang dulu tampaknya selalu menarik diri dalam keheningan setiap kali beban Argentina terasa terlalu berat. Dia adalah seorang pemimpin yang telah memutuskan untuk tidak lagi dinilai berdasarkan apa yang belum pernah ia menangkan.
Copa America 2021 menjadi momen pembuktian sekaligus pelepasan beban tersebut. Argentina mengalahkan Brasil di final yang digelar di Maracana, sekaligus mengakhiri penantian 28 tahun untuk gelar juara turnamen besar.
Pidato penyemangat yang diberikan Messi sebelum pertandingan bahkan membuat seisi ruang ganti meneteskan air mata.
Baca juga:
Lalu, sosok Messi di Piala Dunia 2022 adalah sesuatu yang berada di level berbeda—sebuah perpaduan sempurna dari semua proses yang telah ia lalui sebelumnya.
Di sana, ada momen ketika ia beradu lari melewati Josko Gvardiol dalam laga semifinal melawan Kroasia. Tiba-tiba, sosok penyerang sayap tahun 2009 seolah muncul kembali dalam satu momen yang luar biasa.
Ada pula presisi luar biasa layaknya seorang quarterback di laga final melawan Prancis—umpan jenius yang membebaskan Nahuel Molina, pergerakan tanpa bola yang tak terdeteksi hingga melahirkan bola muntah untuk gol ketiga Argentina, serta eksekusi penalti yang tenang saat segalanya berada di ujung tanduk.
"Sepak bola telah banyak berubah," ujarnya kepada Zinedine Zidane dalam sebuah wawancara pada tahun 2023. "Cara bermain, sistemnya. Permainan saat ini jauh lebih mengandalkan taktik dan fisik dibanding dulu. Dulu, Anda bisa menemukan lebih banyak ruang."
Ia mengatakan hal ini dengan nada bicara yang datar dan lugas—khas seseorang yang telah bermain melintasi tiga era taktik berbeda dalam sepak bola modern, mulai dari era gelandang-gelandang bertenaga fisik milik Porto dan Chelsea, era puncak permainan posisi dan umpan pendek, hingga era persaingan taktik pasca-Guardiola yang mengandalkan transisi cepat—dan ia masih berhasil keluar sebagai pemenang.
'Messi versi terbaru selalu jadi versi yang terbaik'
Di Inter Miami, dan di sepanjang gelaran Copa America 2024 lalu, Messi lebih banyak berjalan kaki daripada berlari.
Para pengkritik dulu sering menggunakan hal ini untuk menyerangnya. Namun sekarang, aksi tersebut justru dipandang sebagai sebuah kejeniusan. Ia sedang membaca permainan, menghemat energinya untuk momen-momen yang benar-benar krusial.
"Messi versi terakhir selalu menjadi Messi yang terbaik," kata Pablo Aimar—idola masa kecil Messi—pada suatu waktu. Dan tampaknya, ucapan itu masih terasa pas.
Apa yang telah dicapai Messi selama dua dekade terakhir bukan sekadar tumpukan trofi dan catatan statistik, tapi sebuah pendefinisian ulang tentang bagaimana seorang pesepak bola bisa memainkan perannya di setiap tahapan kariernya.
Mulai dari seorang pemain sayap remaja yang membuat Capello terpukau. Lalu menjadi false nine yang menggambar ulang peta taktik sepak bola Eropa. Hingga menjadi seorang 'enganche' yang belajar bagaimana cara membuat rekan-rekan setimnya tampil luar biasa.
Ia adalah kapten yang akhirnya menjelma menjadi sosok yang sangat dibutuhkan oleh negaranya—seorang quarterback dari tim juara Piala Dunia. Dan kini, ia adalah sang veteran yang nyaris tanpa berlari, namun selalu bisa melihat segala peluang lebih cepat dibanding siapa pun.
Piala Dunia akan selalu memunculkan banyak pujian setinggi langit untuk Messi. Namun, sebagian besar dari pujian itu justru melewatkan poin utamanya.
Poin utamanya bukanlah tentang seberapa hebat dirinya, melainkan tentang seberapa sering ia harus mengubah dirinya menjadi sosok yang benar-benar baru.