You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Tangkuban Parahu kembali erupsi, statusnya dinaikkan menjadi waspada
Gunung Tangkuban Parahu dinaikkan statusnya menjadi level waspada setelah kembali memuntahkan gas, uap dan abu vulkanik pada Kamis (01/08) malam dan Jumat (02/08) pagi.
Dengan peningkatan status, masyarakat dilarang masuk ke dalam zona berbahaya, yaitu 1,5 kilometer dari pusat kawah, kata kepala PVMBG kepada wartawan di Bandung, Jumat pagi.
Selain sebaran abu yang bisa mengganggu pernapasan, juga munculnya gas beracun yang bisa mengancam jiwa, tambah pejabat itu.
"Kami naikkan (statusnya) sejak pukul 08.00 WIB tanggal 02 Agustus 2019, dari level 1 normal menjadi level 2 waspada dengan ancaman," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, dalam jumpa pers di Bandung, Jumat (02/08) pagi.
Peningkatan status menjadi waspada ini karena "ada peningkatan ancaman keselamatan di sekitar kawah yang tadinya 500 meter (dari pusat kawah) semakin meningkat," tambahnya.
Dijelaskan, durasi erupsi pada Kamis dan Jumat "cukup lama yaitu hingga dua jam" dan berbeda dengan erupsi sebelumnya, akhir Juli lalu, yang sekitar lima menit, seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka, untuk BBC News Indonesia.
"Dan hingga, pukul 08.00 wib, Jumat (2/8), erupsi telah terjadi sebanyak delapan kali," ungkapnya.
Sampai sekitar pukul 10.00 WIB, sambungnya, masih terjadi erupsi, tambahnya.
Akibat erupsi, menurutnya, tinggi kolom abu yang teramati sekitar 180 meter dari dasar kawah atau sekitar 2284 meter di atas permukaan laut. "Kolom abu teramati berwarna kelabu condong ke arah Utara dan Timurlaut."
Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dengan durasi sekitar 11 menit 23 detik yang diikuti erupsi lainnya berdurasi fluktuatif.
Dari pantauan PVMBG, erupsi yang terjadi masih kategori freatik, namun masih dilihat kemungkinan meningkat menjadi erupsi freatomagmatik atau magmatik, katanya.
"Erupsi ini masih dikategorikan freatik, artinya terkait dengan aktivitas fluida, gas vulkanik, dan uap air yang ada di situ. Begitu terjadi penumpukan gas, penumpukan uap, ada penumpukan di situ, dierupsikan."
"(Apakah bisa berubah ke freato magmatik atau magmatik) ini tergantung perkembangannya, makanya kami akan pantau gunung api ini secara ketat 24 jam sehari," paparnya.
"Kami punya pos pemantau di situ dan pengamat ditambah para ahli di situ, untuk memantau perkembangannya. Tapi untuk meningkat lagi, sejauh ini belum ada perkembangan dari bawah peningkatan magma," kata Kasbani.
Dengan peningkatan status tersebut, sambungnya, masyarakat dilarang masuk ke dalam zona berbahaya, yaitu 1,5 kilometer dari pusat kawah.
"Selain sebaran abu yang bisa mengganggu pernapasan, juga munculnya gas beracun yang bisa mengancam jiwa," tambahnya.
Di luar radius 1,5 kilometer, Kasbani menjamin masyarakat masih aman beraktivitas, baik untuk mengunjungi tempat wisata atau menjalankan kegiatan harian.
Apakah warga perlu dievakuasi?
Sejauh ini, kata Kasbani, belum perlu mengevakuasi warga.
"Sampai sejauh ini, belum evakuasi karena masyarakat masih jauh dari daerah ancaman, karena jarak pemukiman terdekat berada di radius 5 kilometer, artinya tidak ada pengungsian. Yang ada adalah wisatawan dan para pendaki tidak ada yang masuk di dalam radius 1,5 kilometer " ucap Kasbani.
Kasbani memastikan kondisi Gunung Tangkuban Parahu terpantau dengan baik.
Di samping sejumlah ahli vulkanologi yang memantau selama 24 jam, peralatan yang terpasang juga berfungsi baik. "Seperti seismogram, alat informasi gas, dan CCTV," ujarnya.
"Gunung ini terpantau dan terlaporkan dengan baik. Masyarakat perlu tenang, tidak waswas berlebihan, tapi waspada," himbau Kasbani.