Pemilu Brasil: Jair Bolsonaro kalah, Lula kembali jadi presiden

    • Penulis, Vanessa Buschschlüter
    • Peranan, Editor BBC News Online Amerika Latin, Rio
  • Telah diterbitkan

Brasil telah beralih ke kiri ketika Luiz Inácio Lula da Silva mengalahkan petahana sayap kanan Jair Bolsonaro dalam pemilihan presiden.

Setelah kampanye sengit antara dua rival di sisi berlawanan pada spektrum politik, Lula memenangkan 50,9% suara.

Itu sudah cukup untuk mengalahkan Jair Bolsonaro, yang pendukungnya yakin menang.

Baca juga:

Bagi Lula, kemenangan ini adalah kebangkitan yang menakjubkan mengingat dia tidak dapat mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada tahun 2018 karena dipenjara dan dilarang mencalonkan diri.

Dia dinyatakan bersalah menerima suap dari sebuah perusahaan konstruksi Brasil sebagai imbalan atas kontrak dengan perusahaan minyak negara Brasil, Petrobras.

Lula menghabiskan 580 hari di penjara sebelum hukumannya dibatalkan dan kembali ke medan politik.

"Mereka mencoba mengubur saya hidup-hidup dan di sinilah saya," katanya, memulai pidato kemenangannya.

Lima fakta soal Lula

  • 77 tahun
  • Sayap kiri
  • Mantan pekerja pabrik baja
  • Presiden dari 2003-2010
  • Dipenjara pada 2018, namun dakwaan digugurkan

Sejumlah jajak pendapat mengindikasikan sejak awal bahwa Lula akan memenangkan pemilihan. Namun, ketika keunggulannya di putaran pertama jauh lebih tipis dari yang diperkirakan, banyak orang Brasil mulai meragukan keakuratan jajak pendapat.

Pendukung Jair Bolsonaro - didorong oleh tuduhan Bolsonaro bahwa kaum elite dan media menentangnya - memiliki keyakinan penuh pada kemenangannya.

Karena itu, kemenangan Lula selaku pemimpin sayap kiri kemungkinan akan membuat marah para penggemar Bolsonaro. Mereka secara rutin melabeli Lula sebagai "pencuri" dan berpendapat bahwa pembatalan hukumannya tidak berarti dia tidak bersalah, hanya saja prosedur hukum yang tepat tidak diikuti.

Di sisi lain, walau Jair Bolsonaro kalah, anggota parlemen yang dekat dengannya memenangkan kursi mayoritas di Kongres. Ini berarti bahwa Lula akan menghadapi penolakan keras terhadap kebijakannya di badan legislatif.

Tapi Lula, yang menjabat dua periode antara Januari 2003 dan Desember 2010, tidak asing dengan aliansi politik.

Sebagai contoh, Lula memilih Geraldo Alckmin sebagai calon wakil presiden. Padahal, Alckmin bertarung melawan Lula dalam pemilihan sebelumnya.

Strateginya untuk menciptakan "persatuan" tampaknya telah membuahkan hasil dan menarik pemilih yang mungkin tidak mempertimbangkan untuk memberikan suara untuk Partai Buruh pimpinannya.

Dalam pidato kemenangannya, dia menyampaikan pesan damai. Dia menegaskan bahwa dirinya akan memerintah untuk semua orang Brasil dan bukan hanya mereka yang memilih dia.

"Negara ini membutuhkan perdamaian dan persatuan. Rakyat tidak mau berperang lagi," katanya.

Baca juga:

Hingga kini Jair Bolsonaro belum mau mengakui kekalahan. Sebaliknya, presiden sayap kanan ini telah meragukan - tanpa memberikan bukti apa pun - tentang keandalan sistem pemungutan suara elektronik Brasil.

Ini menimbulkan ketakutan bahwa dia mungkin tidak akan menerima hasil pilpres jika itu bertentangan dengannya.

Namun, sehari sebelum putaran kedua, dia menyatakan bahwa: "Tidak ada keraguan sedikit pun. Siapa pun yang memiliki lebih banyak suara, mengambil [pemilihan]. Itulah demokrasi."

Lima fakta soal Bolsonaro

  • 67 tahun
  • Sayap kanan jauh
  • Mantan kapten Angkatan Darat
  • Mencalonkan diri untuk menjalani masa jabatan kedua
  • Meragukan tanpa bukti sistem pemilu elektronik Brasil

Pada hari pemilihan itu sendiri, bus-bus yang membawa para pemilih ke tempat pemungutan suara dihentikan oleh polisi. Tim kampanye Lula menyebut kejadian itu sebagai upaya untuk mencegah warga untuk memilih.

Ketua pengadilan pemilihan, Alexandre de Moraes, memerintahkan polisi jalan raya untuk mencabut semua penghalang jalan dan pemeriksaan.

Dia mengatakan bahwa walau beberapa pemilih tertunda datang ke tempat pemungutan suara, tidak ada yang dicegah untuk memilih. Tetapi insiden itu meningkatkan ketegangan secara signifikan.

Kini banyak kalangan bertanya-tanya tentang kapan dan apa yang akan dikatakan Bolsonaro mengingat perhitungan suara resmi menyebutkan bahwa suara untuknya lebih sedikit daripada suara untuk Lula.

Pemilihan umum Brasil tidak hanya diawasi dengan ketat di Brasil, tetapi juga di luar negeri. Para aktivis lingkungan khususnya khawatir bahwa jika Bolsonaro memerintah empat tahun lagi, hutan Amazon bakal mengalami deforestasi lebih lanjut.

Lula mengungkit ketakutan ini dalam pidato kemenangannya dengan mengatakan bahwa dia "terbuka untuk kerjasama internasional demi melindungi Amazon".

"Hari ini kami memberi tahu dunia bahwa Brasil telah kembali. Negara ini terlalu besar untuk dibuang sebagai pariah global yang menyedihkan," tambahnya, sembari menyindir Bolsonaro.

Tetapi inti dari pidatonya adalah janji untuk mengatasi kelaparan, yang telah meningkat di Brasil dan yang mempengaruhi lebih dari 33 juta orang.

Kunci popularitas Lula selama dua masa jabatan pertamanya adalah mengangkat jutaan orang Brasil keluar dari kemiskinan.

Tetapi dalam ekonomi pasca-pandemi, mendorong sektor keuangan untuk mengulang prestasi itu bukanlah tugas yang mudah, terutama jika dia dihambat oleh anggota parlemen yang menentangnya.