You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Mengapa Iran membalas serangan Israel terhadap Lebanon?
- Penulis, Amir Azimi
- Peranan, Editor BBC Persia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Serangan balasan Iran ke wilayah Israel pada Minggu malam hingga Senin (08/06) membawa dampak politis yang cukup signifikan, meskipun secara militer dampaknya bisa terukur atau bahkan diredam.
Balasan itu merupakan reaksi Iran setelah Israel menyerang sebuah bangunan yang disinyalir terkait Hizbullah—sekutu Iran, di Beirut Selatan, satu hari sebelumnya.
Serangan-serangan ini terjadi meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat baru saja diperbarui.
Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan langsung atas tindakan Hizbullah yang menembakkan roket ke Israel utara.
Namun, pada tahun-tahun sebelumnya, Iran kerap melancarkan serangan langsung terhadap Israel sebagai pembalasan atas tindakan terhadap wilayah, komando atau bahkan kepentingan Iran.
Serangan kali ini memiliki tendensi yang berbeda karena berpotensi membahayakan negosiasi perdamaian yang 'rapuh' dengan Amerika Serikat.
Sebagian dari jawabannya mungkin terletak pada bagaimana para pemimpin Iran menilai posisi mereka setelah berbulan-bulan konflik.
Baca juga:
- Persoalan visa dan berpindah tempat latihan dari AS ke Meksiko – Timnas Iran dirundung isu perang dan perpecahan dalam negeri jelang Piala Dunia
- Terjebak di Selat Hormuz selama hampir 100 hari — 'Hanya ada satu jalan keluar'
- Iran hancurkan 20 fasilitas militer AS sejak perang dimulai, menurut citra satelit
Republik Islam itu bangkit dari perang dalam keadaan melemah di beberapa aspek, tetapi juga dengan rasa ketahanan diri yang lebih kuat.
Meskipun terdapat tekanan militer Israel dan Amerika yang mencakup sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut AS, Iran masih bertahan.
Pemerintah Iran masih berkuasa, aparat keamanannya tetap utuh, dan tidak ada pemberontakan massal yang terwujud—yang sering diprediksi negara-negara lawan.
Pengalaman itu mengindikasikan bahwa Iran telah memperhitungkan semuanya.
Alih-alih melihat dirinya sebagai aktor rentan yang berusaha menghindari konfrontasi dengan cara apa pun, Iran mungkin kian memandang dirinya sebagai kekuatan yang telah berhasil melewati masa-masa terburuk dan kini mampu menegakkan batasan akhir yang lebih tegas.
Oleh karena itu, serangan Iran terhadap Israel kali ini besar kemungkinan bukan sekadar pembalasan, melainkan langkah pencegahan.
Iran kemungkinan besar memberi isyarat bahwa serangan terhadap sekutu regionalnya tidak akan lagi diperlakukan terpisah dari serangan terhadap Iran sendiri.
Pesan semacam itu akan memiliki kepentingan khusus bagi Hizbullah, milisi Irak dan anggota jaringan regional Iran lainnya yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”.
Kredibilitas pengaruh Iran selalu bertumpu sebagian pada keyakinan bahwa Iran akan berdiri di belakang mitranya. Ketika Iran tidak bereaksi terhadap serangan Israel pada sekutu Iran, maka itu akan merusak kredibilitas Iran dalam "Poros Perlawanan".
Dilihat dari sudut pandang ini, serangan itu tidak hanya ditujukan pada Israel, melainkan sekutu Israel dan Amerika Serikat yang selama ini melihat tindak tanduk Iran.
Pada waktu yang berdekatan, Presiden AS, Donald Trump baru-baru ini menyebut bahwa kesepakatan mungkin akan segera digapai. Iran diminta menghindari tindakan yang dapat membahayakan upaya diplomasi.
Namun, keyakinan Iran rupanya berbeda.
Para pemimpin Iran bisa menyimpulkan, dengan menujukan kekuatan militer yang terbatas, sebenarnya dapat memperkuat posisi Iran di meja perundingan, alih-alih melemahkannya.
Dari perspektif Iran, mengerahkan kekuatan militer bisa menjadi pengingat bahwa Iran masih memiliki pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Melancarkan serangan militer tidak selalu berarti Iran ingin perundingan gagal. Iran tampaknya telah mengambil tindakan untuk membangun preseden dan mengirim pesan politik, tetapi tidak pada skala yang akan membuat eskalasi konflik membesar.
Reaksi warga Iran terhadap serangan balasan itu pun beragam, sejumlah pihak melihat tindakan Iran sebagai reaksi yang dibenarkan.
Seorang pembaca BBC Persia mengatakan: “Iran bergabung dalam konflik untuk membela Lebanon adalah benar dan merupakan bentuk solidaritas. Sejak kesepakatan nuklir, Iran tidak melanggar hukum internasional, dan serangan ini sebagai tanggapan terhadap pihak lain yang melanggar aturan gencatan senjata."
Yang lain mempertanyakan prioritas Iran. “Selama hampir dua bulan telah terjadi beberapa pertempuran (pengeboman) di Iran Selatan, tetapi tidak ada tanggapan serius. Tampaknya Lebanon selatan dianggap lebih penting daripada Iran Selatan."
Namun, banyak yang mulai mempertanyakan arah konflik ini ke mana? “Jujur, hati saya hancur ketika perang dimulai lagi,” kata seorang penonton kepada BBC Persia.
Pembaca yang lain percaya bahwa serangan balasan itu tidak akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Seorang pembaca berpendapat, “Serangan ini tidak terlalu serius dan tidak akan berubah menjadi perang seperti dua perang sebelumnya."
"Iran tahu AS tidak menginginkan perang lagi, jadi mereka [Iran] memimpin. Ini juga sebagai bentuk pertunjukan dan propaganda, untuk membuat pendukung mereka merasa seperti meraih kemenangan,” ujarnya.
Kemungkinan lain adalah bahwa serangan balasan mencerminkan ketidakpuasan Iran terhadap arah negosiasi.
Jika Iran yakin diminta untuk membuat konsesi tanpa menerima manfaat yang berarti sebagai imbalannya, tindakan ini mungkin merupakan cara untuk meningkatkan pengaruh sebelum fase negosiasi berikutnya.
Bagaimanapun, serangan itu menunjukkan kepemimpinan yang merasa lebih percaya diri daripada yang diperkirakan banyak hali sebelumnya.
Pertanyaan kuncinya bukanlah apakah Iran siap dengan serangan Israel lagi?
Melainkan, apakah Iran sekarang percaya diri dapat melakukan serangan militer sambil melakukan diplomasi?Jika itu masalahnya, Iran mungkin berusaha membangun realitas regional baru: di mana ia bernegosiasi dari posisi kuat sambil secara aktif menegakkan jalannya sendiri.
Betapapun berisikonya pendekatan itu, ada kemungkinan akan membawa perubahan yang signifikan bagi Iran dan posisinya di dunia Arab.