Persahabatan atau alat tawar-menawar: Mengapa Xi Jinping berada di Korea Utara?

    • Penulis, Laura Bicker
    • Peranan, China correspondent
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Beijing tengah berusaha menegaskan kembali pengaruhnya atas mitra yang secara strategis sangat penting, namun juga sulit diprediksi.

Presiden China Xi Jinping berjanji akan mempererat hubungan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam kunjungan kenegaraan langka ke Pyongyang.

Kerumunan massa yang bersorak sambil meneriakkan kata sambutan dalam bahasa Korea dan Mandarin memenuhi jalan-jalan ibu kota—mulai dari bandara hingga Lapangan Kim Il Sung di pusat kota, tempat pasukan kehormatan militer sudah menunggu.

Sebuah spanduk besar di lokasi menggambarkan ikatan kedua negara sebagai "tak tergoyahkan".

Xi mengatakan kepada Kim bahwa dia bersedia bekerja sama untuk membawa hubungan kedua negara ke "tingkat yang lebih tinggi".

Namun, hubungan Beijing–Pyongyang tidak selalu seerat ini.

Kunjungan Xi kali ini dipandang lebih dari sekadar menegaskan kembali ikatan antarnegara tetangga, melainkan juga sarat dengan makna geopolitik yang lebih luas.

Bagi Xi, Korea Utara adalah tetangga yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, namun juga tidak bisa dilepaskan.

Kedua negara kerap menggambarkan hubungan mereka sebagai "terjalin dalam darah", merujuk pada Perang Korea.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpercayaan telah menekan hubungan tersebut. Kini Beijing berusaha menegaskan kembali pengaruhnya atas mitra yang secara strategis penting, namun sangat sulit diprediksi.

Baca juga:

China menginginkan stabilitas di perbatasannya dan pengaruh di Pyongyang, tanpa harus terseret ke dalam krisis yang dipicu ambisi nuklir Korea Utara.

Karena itu, kunjungan Xi pekan ini kemungkinan lebih terkait dengan posisi tawar, bukan sekadar persahabatan.

Seoul meyakini Xi mungkin mencoba menempatkan China sebagai mediator antara Korea Utara dan Amerika Serikat, meski Beijing bisa saja memiliki motif lain.

Sumber diplomatik Barat mengatakan kepada BBC bahwa China semakin khawatir dengan berkembangnya kemitraan antara Pyongyang dan Moskow.

Setelah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu, Xi tampaknya ingin memastikan dia juga dapat menjaga kendali atas Kim Jong Un, terutama ketika Beijing semakin menegaskan kehadirannya di panggung global.

Mencairnya hubungan yang tegang

Hubungan yang merenggang antara Beijing dan Pyongyang terlihat jelas, meski secara halus.

Kedua negara nyaris tidak menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik pada Oktober 2024, dengan pesan publik yang minim.

Bahkan, duta besar China tidak menghadiri perayaan hari jadi Korea Utara sebulan sebelumnya.

Sepanjang tahun itu, tidak ada pertukaran pejabat tingkat tinggi—kontras dengan hubungan Pyongyang yang semakin hangat dengan Moskow.

Kedekatan Korea Utara dengan Rusia membuat Beijing resah.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Pyongyang memperluas kerja sama militer dengan Presiden Vladimir Putin, yang berpuncak pada penandatanganan pakta pertahanan bersama saat kunjungan Putin ke Pyongyang pada 2024.

Menurut investigasi BBC, sekitar 2.300 tentara Korea Utara tewas bertempur untuk Rusia melawan Ukraina.

Pyongyang juga dituduh memasok amunisi bagi upaya perang Rusia dengan imbalan minyak dan bantuan, sebuah perkembangan yang memicu kekhawatiran Washington dan sekutunya, serta diam-diam mengguncang Beijing.

"China ingin memastikan kepentingannya terhadap Korea Utara tetap terlindungi di tengah konvergensi cepat antara Moskow dan Pyongyang," kata Ankit Panda, pakar kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace.

China hanya memiliki satu perjanjian pertahanan formal, yakni dengan Korea Utara.

Karena itu, Beijing tidak mungkin menyambut skenario di mana Rusia menjadi pengaruh dominan di Pyongyang.

Sosok Kim Jong Un yang lebih percaya diri dan kurang bergantung pada China berarti berkurangnya posisi tawar Beijing.

Sebagai respons, China berusaha mengatur ulang hubungan.

Akhir tahun lalu, Xi Jinping mengundang Kim menghadiri parade militer di Beijing, menempatkannya di sisi Xi bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Baca juga:

Itu merupakan pertemuan puncak formal pertama mereka dalam enam tahun.

Xi memuji keduanya sebagai "tetangga baik, sahabat baik, dan kawan seperjuangan yang terikat oleh nasib bersama", serta menyerukan koordinasi strategis yang lebih erat.

Menariknya, tidak ada penyebutan mengenai senjata nuklir Korea Utara dalam pernyataan publik.

Menurut Lee Seong-hyon, peneliti tamu di Harvard University Asia Center, Beijing memiliki "perasaan campur aduk" terhadap kemitraan Pyongyang–Moskow yang semakin erat.

Di satu sisi, kemitraan itu "mengalihkan perhatian Washington dan mempersulit strategi AS di berbagai kawasan, yang secara tidak langsung menguntungkan China".

Baca juga:

Namun, di sisi lain, kerja sama militer yang berkembang antara Rusia dan Korea Utara bisa memicu respons militer trilateral yang lebih kuat dari AS, Jepang, dan Korea Selatan—sesuatu yang akan membuat Beijing khawatir.

Itulah sebabnya China tidak mendukung program nuklir Pyongyang, karena hal itu justru akan meningkatkan keterlibatan AS di kawasan dan memperkuat aliansinya.

Tapi Beijing juga tidak menghadapi isu tersebut secara langsung.

Pada 2022, China dan Rusia memveto resolusi PBB yang dipimpin AS untuk menjatuhkan sanksi baru atas uji coba rudal Korea Utara.

Jika China mengambil sikap keras terhadap program nuklir Pyongyang, "hal itu hanya akan mendorong Korea Utara semakin berpihak kepada Putin," kata Victor Cha, presiden departemen kebijakan luar negeri di Center for Strategic and International Studies.

Mitra yang pragmatis

Tetapi Kim juga tidak bisa begitu saja menjauh dari sumber bantuan terbesarnya.

Ekspor China ke Korea Utara melonjak hingga sekitar US$2,3 miliar tahun lalu— angka tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang pun kembali beroperasi awal tahun ini setelah enam tahun terhenti.

Para analis menilai langkah ini sebagai upaya terukur Beijing untuk menarik Pyongyang kembali ke orbitnya.

Bagi Kim, ini adalah pilihan pragmatis.

Jika perang di Ukraina berakhir, kebutuhan Rusia akan dukungan Korea Utara bisa berkurang. Dan berbeda dengan Putin yang semakin terisolasi, Xi justru menyambut para pemimpin dunia di Beijing.

Karena itu, Kim perlu memastikan dirinya tidak hanya bergantung pada mitra yang melemah.

Namun sejak awal, hubungan ini penuh masalah.

Kim Jong Un mewarisi kekuasaan dengan prioritas yang berbeda dari ayahnya.

Jika Kim Jong Il berulang kali berkunjung ke China dan bergantung pada dukungan Beijing, sang putra justru bergerak cepat mempercepat program nuklir Korea Utara.

Dalam enam tahun pertama pemerintahannya, Kim mengawasi sekitar 90 uji coba rudal balistik dan empat ledakan nuklir—lebih banyak dibandingkan ayah dan kakeknya jika digabungkan.

Langkah ini membuat Beijing khawatir.

Eksekusi terhadap pamannya, Jang Song Thaek—yang dipandang China sebagai sosok stabilisator—semakin memperlebar jurang.

Xi Jinping merespons dengan sinyal diplomatik yang jarang terjadi, yakni berkunjung ke Korea Selatan pada 2014 sebelum pernah bertemu Kim, sebuah langkah yang dianggap sebagai tamparan diplomatik.

Pyongyang kemudian menyebut China sebagai "pengkhianat dan musuh kami."

Baru pada 2018, ketika sanksi atas program nuklir mulai menggigit, Kim melakukan perjalanan luar negeri pertamanya.

Dia naik kereta lapis baja menuju Beijing. Pertemuan itu menandai awal dari penyesuaian hati-hati.

Kim kemudian bertemu dengan para pemimpin Amerika Serikat dan Korea Selatan, namun selalu setelah berkonsultasi dengan China. Pesannya jelas: Pyongyang tidak akan bernegosiasi tanpa dukungan Beijing.

Kini, Korea Utara berfungsi sekaligus sebagai penyangga dan beban bagi China. Keberadaannya menjaga jarak pasukan AS, tetapi uji coba senjatanya justru mengguncang stabilitas kawasan.

Sementara itu, Kim menginginkan perlindungan China—tanpa kendali China.

Kedua pihak sama-sama tidak sepenuhnya percaya satu sama lain. Namun untuk saat ini, keduanya merasa saling membutuhkan, dan itu cukup untuk menjaga komunikasi tetap terbuka.

Laporan tambahan oleh Kelly Ng.