Saat politik memecah pendukung Iran di Piala Dunia 2026

    • Penulis, Shaimaa Khalil
    • Peranan, Koresponden BBC di Amerika Utara
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Pada tiket dan jadwal resmi Piala Dunia 2026, pertandingan yang berlangsung di Stadion Los Angeles adalah laga antara Iran melawan Selandia Baru. Namun, di tribun penonton dan di luar stadion, lawan paling vokal bagi Iran bukanlah timnas Selandia Baru—melainkan warga mereka sendiri.

Berulang kali, para pejabat tim Iran menyatakan bahwa mereka ingin sepak bola menjadi pemersatu bangsa. Namun, atmosfer yang terasa dalam laga fase grup Piala Dunia ini sama sekali jauh dari kata bersatu.

Di luar Stadion Los Angeles, ketegangan politik begitu terasa. Ratusan bendera Iran berkibar, dan yang paling mencolok adalah bendera era pra-Revolusi 1979 yang menampilkan lambang Singa dan Matahari.

Bagi banyak warga Iran-Amerika, bendera tersebut telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim di Teheran.

Meski FIFA telah melarang bendera itu masuk ke dalam stadion karena dianggap sebagai simbol politik, bendera itu tetap saja berkibar di dalam tribun dan terpampang pada berbagai kaus penonton.

Beberapa ratus demonstran berkumpul di luar, meluapkan amarah atas keputusan FIFA dan atas apa yang mereka pandang sebagai tim nasional yang lebih mewakili Republik Islam ketimbang rakyat Iran itu sendiri.

"Tim Mullah bukanlah tim saya," seru salah satu kelompok.

"Pergantian rezim di Iran," sahut kelompok lainnya dalam nyanyian mereka.

Tak lama, mereka mulai menyanyikan lagu kebangsaan Iran era pra-Revolusi 1979.

Seorang pemuda tersenyum saat diminta menerjemahkan arti lagu tersebut.

"Artinya adalah kebebasan dan harga diri," ujarnya.

Namun, begitu melangkah ke dalam stadion, riuh rendah suasana seketika berubah drastis.

'Saya di sini untuk mendukung Iran, bukan rezimnya'

Di luar, yel-yel kecaman terhadap rezim dan tim nasional terus menggema.

Di dalam, gemuruh dukungan untuk para pemain justru membahana. Sorak-sorai pecah saat Iran mencetak dua gol untuk bangkit dari ketertinggalan dan memaksakan hasil imbang 2-2 melawan Selandia Baru.

Ada ribuan bendera Iran di tribun penonton. Dari kejauhan, semuanya tampak serupa. Namun dari dekat, bendera-bendera itu menceritakan kisah yang berbeda.

Sebagian membawa bendera resmi Republik Islam Iran. Sebagian lagi membentangkan bendera bergambar Singa dan Matahari. Namun, semuanya kompak mengenakan warna kebangsaan Iran.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi para pesepak bola di lapangan: Iran melawan Iran.

"Ini rumit," kata Samaneh, seorang warga Iran-Amerika yang telah menetap di Amerika Serikat selama satu dekade. "Saya di sini untuk mendukung Iran, bukan rezimnya. Saya merindukan tanah air saya."

Ia mengaku menangis saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan.

"Ayah saya ada di sini, tapi ibu saya tertahan di Iran karena masalah dokumen dan kebijakan pembatasan perjalanan dari Presiden Trump. Saya selalu mengkhawatirkan keselamatan ibu saya. Saya juga takut untuk pulang dan berkunjung ke sana."

Kontradiksi ini terlihat jelas sepanjang pertandingan.

Saat Selandia Baru unggul lebih dulu, beberapa penonton anti-rezim justru bersorak merayakannya sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari.

Begitu laga usai, tensi politik di luar stadion kembali memanas dengan cepat.

"Kami tidak butuh kesepakatan," tegas Nini, merujuk pada perjanjian terbaru antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran.

"Rakyat Iran berhak atas pergantian rezim. Banyak orang dibantai di jalanan Teheran."

"Kita tidak bisa menormalisasi apa yang terjadi pada bulan Januari lalu lewat sebuah ajang olahraga," ujar Farimah, yang mengenakan kaus bergambar simbol Singa dan Matahari.

"Tim ini tidak mewakili rakyat Iran."

Baca juga:

Tak jauh dari sana, Kourosh berdiri dengan tali tiang gantungan buatan melingkar di lehernya.

"Ini adalah simbol untuk mendesak penghentian eksekusi mati terhadap orang-orang pemberani dan tidak bersalah di Iran," katanya.

Seperti banyak orang di tribun, ia menganggap para pemain di lapangan mewakili rezim, bukan rakyat.

Namun, para pemain menolak anggapan tersebut.

Sebelum pertandingan, striker Mehdi Taremi menyatakan bahwa timnya bermain untuk seluruh rakyat Iran, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, dan mereka tidak ikut campur dalam urusan politik.

Beberapa suporter yang berjalan masuk ke stadion pun sepakat dengan pernyataannya.

Meski ada ketegangan antara negara asal dan negara barunya, Mostafa, seorang warga Iran-Amerika, percaya bahwa sepak bola seharusnya menyatukan orang-orang.

"Sepak bola adalah tentang persahabatan, hubungan budaya, dan tentang bagaimana kita mengesampingkan politik," tambahnya sembari melangkah masuk ke dalam stadion.

'Saya mencoba memisahkan rezim dari tim'

Pourmand rela menempuh perjalanan dari San Diego menuju kamp pelatihan timnas Iran di Tijuana, Meksiko. Ia juga sempat menghadiri dua gelaran Piala Dunia sebelumnya di Qatar dan Rusia.

Mengenakan pakaian putih-hijau-merah khas warna bendera Iran, dari ujung kepala hingga kaki, ia menegaskan bahwa para pemain sama sekali tidak berpolitik.

"Rakyat Iran diwakili oleh para pemain ini," ujarnya. "Mereka di sini untuk menunjukkan bahwa kami layak berada di panggung ini—sebuah pesan tentang persahabatan dan nilai-nilai kemanusiaan."

Seorang warga Iran-Amerika lainnya, Elika, juga merasakan pergolakan batin yang sama. Namun, ia mengaku bisa memisahkan antara tim nasional dan pemerintah.

Ayahnya wafat pada 2020, dan menonton aksi Iran di Piala Dunia selalu menjadi agenda wajib yang mereka lakukan bersama.

"Saya merasa harus datang demi menghormati mendiang ayah saya, dan demi seluruh rakyat Iran yang hanya mendambakan perdamaian serta kesempatan untuk menikmati pertandingan seperti ini," ungkapnya. "Saya mencoba memisahkan antara rezim dan tim ini."

Bahkan tanpa adanya aksi protes pun, isu politik sudah telanjur membayangi langkah Iran di Piala Dunia kali ini.

Masalah visa memaksa timnas Iran memindahkan markas latihan mereka dari Arizona ke Tijuana. Alhasil, para pemain harus bertanding di Amerika Serikat namun menginap di seberang perbatasan, yaitu di Meksiko.

Meski kesepakatan untuk menghentikan permusuhan mungkin telah meredakan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, ketegangan di antara kedua belah pihak tetap saja tinggi.

Semua dinamika pelik itu terus bergulir di saat para pemain berjuang keras untuk tetap fokus pada sepak bola.

Berdiri di luar stadion hari itu, rasanya sulit untuk melihat bagaimana sepak bola dan politik bisa benar-benar dipisahkan di sini.

Tim nasional Iran mungkin bercita-cita menyatukan orang-orang lewat sebuah pertandingan. Namun, apa yang tersaji dalam laga pembuka ini justru menguak fakta sebaliknya: betapa dalamnya jurang pemisah yang masih ada di antara sesama rakyat Iran.