Siswa MAN 3 Padang diduga ledakkan bom rakitan di sekolahnya – Apa fakta yang diketahui sejauh ini?

Sumber gambar, KOMPAS.COM/DHARMA HARISA
- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 11 menit
Seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatra Barat, diduga meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolahnya, pada Selasa (14/07) kemarin.
Aksi yang diduga dilakukan siswa berinisial R, 17 tahun, itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
Polda Sumbar dan Densus 88 Anti Teror mengaku tengah mendalami ledakan itu. Mereka juga melakukan pendampingan hukum kepada R, anak berkonflik dengan hukum dalam peristiwa itu.
Dalam penyelidikan awal, polisi menyebut perundungan (bullying) di sekolah diduga sebagai pemicu tindakan yang dilakukan oleh R.
Aksi peledakan di lingkungan sekolah oleh siswa dengan pola yang hampir sama menjadi insiden ketiga dalam setahun terakhir.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fitra Yogi
Di awal Februri 2026 lalu, seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, melempar bom molotov ke sekolahnya.
Pada November 2025, seorang siswa SMA Negeri 72 Jakarta meledakan bom di sekolahnya, yang menyebabkan 96 orang luka-luka.
Perundungan juga disebut sebagai pemicu dua kasus itu.
Menurut Aully Grashinta, dosen Psikologi Universitas Pancasila, ada beberapa faktor yang mendorong korban perundungan membalas dendam lewat bom rakitan. Salah satunya pola perundungan, yang biasanya melibatkan banyak pelaku, dan membuat korban memilih cara yang dianggap paling efektif untuk menyerang seluruh kelompok sekaligus.
Apa fakta yang diketahui sejauh ini tentang aksi peledakan di MAN 3 Padang?
Mengapa korban perundungan menggunakan ledakan untuk balas dendam dan bagaimana memutus mata rantai perilaku kekerasan itu?
Bagaimana kronologinya?
Seorang siswa MAN 3 Padang dilaporkan meledakkan bom di dalam kelasnya pada Selasa (14/07) kemarin.
Ledakan itu terjadi sekitar pukul 10.15 WIB dan disebut menghebohkan seluruh siswa beserta guru di lingkungan sekolah.
"Saya saat terjadi ledakan itu berada di ruangan saya yang jaraknya cukup jauh. Jadi saya tidak mendengar jelas bagaimana ledakan tersebut," kata Kepala Sekolah MAN 3 Padang, Marliza, saat diwawancarai wartawan Halbert Caniago, Selasa (14/07).
Marliza kemudian melaporkan insiden itu ke aparat keamanan.
"Setelah itu sudah banyak yang datang. Ada dari Polres dan polisi lainnya juga ada yang datang dari Brimob juga ada," kata Marliza.

Sumber gambar, Halbert Chaniago
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kapolresta Padang, Kombes Pol Apri Wibowo mengatakan pengeboman itu diduga dilakukan seorang siswa berinisial R, 17 tahun.
"Dari kamera CCTV kita mendapatkan petunjuk bahwa pelaku adalah salah satu siswa [R] yang langsung kami amankan bersama orang tuanya," kata Apri.
Apri bilang, anak berkonflik dengan hukum dalam peristiwa itu telah menyiapkan empat bom rakitan dari rumahnya, yaitu bom molotov, bom rakitan mesiu, dan perlengkapan perakitan seperti kelereng.
R lalu disebut memasukkan bom rakitan itu ke dalam tas dan membawanya ke sekolah.
Setibanya di sekolah, dia disebut meletakkan satu bom rakitan di laci sebuah meja.
Mungkin Anda tertarik:
Posisi meja itu disebut tepat di samping dinding kelas dan berdekatan dengan tempat duduk teman yang diduga menjadi sasaran ledakan.
Polisi menduga, bom rakitan itu ditujukan untuk merobohkan dinding kelas dan mencelakai target dari anak berkonflik itu.
Saat jam istirahat, sekitar pukul 10.15 WIB, R disebut kembali menuju lokasi itu untuk menyalakan bom rakitannya.
"Bom itu dipantik menggunakan mancis [korek api] saat jam istirahat sekitar pukul 10.15 WIB," ujar Kombes Apri.

Sumber gambar, DOK. MAN 3 PADANG
Suara ledakan itu lalu memecah suasana sekolah.
"Semua panik dan langsung berlarian keluar ruangan," ujar Baitikal, 17 tahun, salah seorang teman sekelas R.
Usai ledakan, R diduga kabur dan mengganti seragam sekolahnya dengan kaus putih dan celana biasa. R lalu mengenakan topeng dan topi, serta membekali dirinya dengan sebuah ketapel.
Saat dia mencoba memasuki kembali ke area sekolah, R dilaporkan diamankan oleh sejumlah guru.
Kombes Apri bilang, ledakan berdaya ledak rendah itu tidak menyebabkan korban jiwa maupun luka-luka.

Sumber gambar, KOMPAS.COM/DHARMA HARISA
Ledakan menyebabkan bekas gosong dan meretakkan dinding kelas.
Usai ledakan terjadi, polisi lalu mengamankan R untuk pemeriksaan dan pendampingan ke rumahnya.
"R kami amankan dan dampingi saat ini menuju rumahnya. Selanjutnya kami akan melakukan gelar perkara. Status hukumnya masih berproses," kata Apri.
Polisi juga melakukan penggeledahan tas para siswa dan menemukan tiga bom rakitan lain yang belum digunakan.
"Tim menemukan beberapa barang bukti di dalam tas terduga pelaku berupa bom molotov serta beberapa peralatan lainnya seperti korek api dan lainnya," katanya.

Sumber gambar, DOK. POLDA SUMBAR
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, mengatakan dari hasil pemeriksaan awal, penyidik menyita berbagai barang yang diduga berkaitan dengan perakitan bom.
Barang bukti yang diamankan antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, serta sejumlah barang lainnya.
Bagaimana terduga pelaku merencanakannya?
Penyelidikan awal mengungkap bahwa R telah merencanakan aksinya sejak beberapa pekan sebelumnya.
Bahkan, anak berkonflik hukum itu disebut sempat mengunggah alat-alat yang digunakan untuk merakit bom, tas ke media sosial TikTok.
Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol M. Yasin mengatakan, R mempelajari cara merakit bom secara otodidak melalui internet.
"Proses belajar otodidak melalui internet berlangsung sejak empat bulan terakhir. Setelah memahami cara [merakit], R mulai membeli alat dan bahan baku secara mandiri melalui toko daring [e-commerce]," ujar Yasin, Selasa (14/07) malam.
Yasin menambahkan, seluruh komponen itu lalu dirakit diam-diam di rumah tanpa sepengetahuan orang tua maupun keluarganya.
Bom itu lalu disimpan di kamarnya sebelum dibawa ke sekolah.
Apa dugaan faktor pemicunya?

Sumber gambar, NurPhoto / Contributor via Getty Images
Penyelidikan sementara kepolisian menunjukkan bahwa perundungan diduga menjadi faktor pemicu.
"Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam karena sering menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekelasnya," kata Kabid Humas Polda Sumbar Susmelawati, Selasa (14/07).
"Anak ini merasa sering menjadi objek bullying. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan merakit bom berskala kecil atau low explosive. Cara merakitnya dipelajari secara mandiri melalui internet," tambah Susmelawati.
Susmelawati menyebut aksi R tidak berkaitan dengan jaringan terorisme.
Kini, Polda Sumbar memberikan pendampingan psikologis kepada R.
Langkah itu dilakukan agar kondisi siswa itu dapat dipulihkan dan tidak berkembang ke arah tindakan yang lebih berbahaya.

Sumber gambar, KOMPAS.COM/DHARMA HARISA
Di sisi lain, pihak sekolah mengaku tidak pernah menerima laporan bahwa siswa kelas XII itu menjadi korban perundungan.
Kepala MAN 3 Padang, Marliza mengatakan, selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, R dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik dan tidak memiliki catatan persoalan serius.
"Kalau anak kita ini baik-baik saja. Dia cuma pendiam. Tidak ada keluhan-keluhan apa-apa di sekolah mengenai apa pun," kata Marliza.
Menurut Marliza, R memang beberapa kali tidak masuk sekolah. Namun, ketidakhadiran tersebut tidak berkaitan dengan pelanggaran kedisiplinan berat.
Senada, mantan wali kelas R, Nindya berkata muridnya tidak pernah menyampaikan adanya perselisihan dengan teman maupun persoalan pribadi kepada pihak sekolah.
Apa yang menginspirasi aksi terduga pelaku?

Sumber gambar, EPA
Selain belajar merakit bom melalui platform digital dan video YouTube, polisi menyebut aksi R diduga terinspirasi dari kasus SMA Negeri 72 Jakarta.
"Terduga juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di sebuah SMA di Jakarta pada tahun 2025," ujar Jubir Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, Selasa (14/07).
"Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum," tambah Mayndra.
Kasus pengeboman di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta Utara tejadi pada Jumat, (07/11/2025) siang. Seorang siswa, 17 tahun, dilaporkan membawa tujuh peledak ke dalam sekolah.

Sumber gambar, Antara Foto
Empat meledak dan tiga tidak meledak. Akibatnya, sekitar 96 orang dilaporkan luka-luka.
Siswa itu diduga melakukan aksinya karena kerap dirundung siswa lain.
Selain itu, polisi menyebut pelaku peledakan itu tergabung ke dalam sebuah grup daring bernama True Crime Community, yaitu komunitas daring yang memaparkan narasi tentang kisah-kisah kejahatan nyata yang mengandung unsur ekstremisme dan kekerasan.
Grup itu disebut memuat konten propaganda baik dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang dikemas secara menarik guna membangkitkan semangat untuk menjadikan paham ekstremisme sebagai inspirasi.

Sumber gambar, KOMPAS.com/HENDRA CIPTA
Beberapa bulan setelah kejadian di Jakarta, seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, melemparkan bom molotov ke sekolahnya, Selasa (03/02).
Polisi menyebut ada empat petasan yang meledak, untuk memicu bom molotov.
Peristiwa itu membuat murid panik dan dipulangkan ke rumah masing-masing. Seorang siswa dilaporkan terluka akibat kejadian itu.
Aparat menemukan sejumlah barang berbahaya yang diduga akan digunakan untuk aksi lanjutan.
Antara lain lima tabung gas portable yang direkatkan dengan petasan, paku, dan pisau; enam botol berisi bahan bakar minyak dengan sumbu kain yang diduga sebagai bom molotov, serta satu bilah pisau.
Polisi menemukan, anak berkonflik hukum dalam peristiwa itu terpengaruh oleh komunitas daring, True Crime Community.
Pada tas siswa itu, kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, Rabu (04/02), ditemukan tulisan #ZERO DAY dan TCC.
Istilah #ZERO DAY dia sebut kerap digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan.
Selain itu, di tasnya juga tertulis deretan nama pelaku kekerasan dari berbagai negara.
Mengapa korban perundungan menggunakan ledakan untuk balas dendam?
Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Pancasila, Aully Grashinta, menyebut setidaknya ada dua faktor yang berpotensi mempengaruhi anak korban perundungan melakukan balas dendam lewat ledakan bom.
Faktor pertama, Aully berkata, kasus perundungan umumnya dilakukan oleh sekelompok orang kepada satu orang. Dalam kelompok itu ada yang menjadi ketua, provokator, anggota, dan saksi mata.
Pola itu menyebabkan rasa sakit hati dan frustrasi yang ditujukkan kepada banyak orang dalam kelompok itu.
Implikasinya, korban yang tertekan akan pergi (flight) atau melawan (fight). Perlawanan kecenderungannya diambil ketika rasa sakit yang dialami sudah begitu besar dan meledak.
Bagi para korban perundungan yang memiliki tingkat kognitif dan kecerdasan yang baik, biasanya mereka akan mencari strategi untuk membalas dendam dengan cara yang efektif.
"Dan strategi menggunakan bom rakitan, itu tampaknya menjadi strategi yang sekarang dipilih anak-anak itu jika merujuk tiga kasus terakhir," ujar Aully.

Sumber gambar, EMMANUEL DUNAND/AFP via Getty Images
Menurut Aully, alasannya, dengan aksi itu, dampak yang ditimbulkan akan menyasar semua orang dalam kelompok perundung itu.
"Dan itu yang menjadi tujuan dari si korban yang ingin balas dendam. Bukan hanya pada satu orang, tapi pada kelompok. Kalau berkelahi mungkin tidak kuat, kalau melapor mungkin ada yang tidak kena," ujarnya.
"Tapi kalau balas dendam dengan ledakan maka akan banyak yang terdampak," ujar Aully.
Faktor kedua adalah pengaruh paparan informasi di internet yang begitu terbuka, luas dan mudah diakses oleh para korban perundungan.
Aully berkata dirinya tidak yakin bahwa anak-anak itu punya ide merakit bom dari dirinya sendiri.
"Tetapi mereka mendapat inspirasi dari berbagai paparan media, baik itu media sosial, media mainstream, tentang cara-cara itu. Bahwa ketika satu bom itu meledak, maka dampaknya akan bisa berdampak pada banyak orang," ujarnya.
Bagaimana memutus mata rantai perundungan?
Aully berkata cara-cara yang dilakukan korban perundungan mungkin akan lebih ekstrim dan canggih di masa depan, terutama ketika mereka semakin mudah terpapar informasi yang buruk di media sosial.
"Jadi memang memutus mata rantai perundungan tak mudah, dan itu perlu dilakukan oleh semua pihak," ujar Aully.
Dia mencatat setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan.
Pertama yang sangat penting adalah menurunkan tingkat perundungan di kalangan anak-anak.
Peran utama itu dipegang oleh orang tua, sekolah dan pemerintah.
"Orang tua di rumah harus menjadi contoh dalam berperilaku bagi anak-anak. Bagaimana bertindak tanpa bullying," ujarnya.
"Sekolah harus mengawasi dengan ketat murid mereka, dari memantau perilaku, edukasi, hingga konseling untuk mencegah mereka menjadi pelaku maupun korban bullying," kata Aully.
"Pemerintah harus dengan serius membuat sistem pendidikan yang mencegah bullying."

Sumber gambar, Rahmat Panji/Kompas.com
Kedua adalah membatasi paparan media sosial di kalangan anak-anak.
"Anak-anak memang masih perlu dibatasi untuk mengakses media sosial yang memang belum cocok, belum sesuai dengan usianya," kata Aully.
Paparan informasi yang negatif akan mudah memengaruhi anak-anak, terlebih mereka yang menjadi korban perundungan dan menyimpan rasa sakit hati.
Ditambah lagi, ujarnya, anak-anak memiliki imajinasi, daya kreativitas dan energi besar. Kekuatan itu akan bertransformasi ke hal negatif ketika bertemu dengan informasi di internet yang buruk.
Ketiga adalah menciptakan rangkaian kegiatan yang akan meminimalisir perundungan hingga aksi balas dendam.
"Energi anak-anak harus tersalur ke kegiatan yang positif. Akhirnya mereka tidak punya waktu untuk merundung atau dirundung," ujar Aully.
---
Wartawan Halbert Chaniago di Padang, Sumbar, berkontribusi dalam artikel ini.
































