Spanyol melaju ke final Piala Dunia, kalahkan Prancis – 'Prancis kehilangan daya ledak setelah begitu menjanjikan'

Sumber gambar, David Ramos/Getty Images
- Penulis, Sam Drury
- Peranan, Wartawan olahraga BBC News
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Spanyol melaju ke final Piala Dunia setelah menyingkirkan favorit Prancis dengan kemenangan meyakinkan pada laga semifinal di Stadion Dallas.
Tim asuhan Luis de la Fuente berhasil meredam Prancis 2-0 dengan mengendalikan pertandingan yang minim peluang.
Spanyol melaju ke partai puncak berkat gol Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro.
Oyarzabal membuka keunggulan melalui titik penalti pada pertengahan babak pertama.
Hadiah penalti diberikan wasit setelah kesalahan bek kiri Prancis, Lucas Digne, melanggar pemain sayap Lamine Yamal saat berusaha menyapu bola.
Penalti dieksekusi dengan tenang oleh Oyarzabal ke sudut gawang.
Setelah unggul, Spanyol semakin menunjukkan kendali penuh atas jalannya laga.
Setelah penampilan yang kurang meyakinkan di babak pertama, Prancis diperkirakan akan tampil lebih agresif selepas jeda.
Tapi justru Spanyol yang kian percaya diri kembali mengambil alih momentum.
Porro mencetak gol kedua setelah melakukan kombinasi umpan satu-dua yang apik dengan Dani Olmo, sebelum menaklukkan kiper lawan lewat penyelesaian ke tiang dekat.
Dengan lebih dari setengah jam waktu tersisa untuk menyelamatkan keadaan, Prancis kembali gagal membongkar pertahanan Spanyol yang tampil sangat disiplin.
Sepanjang turnamen ini, Spanyol baru kebobolan satu gol.
Spanyol tetap bermain tenang, terorganisasi, dan penuh kualitas hingga peluit akhir.
Pada akhirnya, mereka mampu mengamankan kemenangan hingga laga berakhir.

Sumber gambar, Getty
Bagi Prancis, harapan untuk mencapai final ketiga secara beruntun harus kandas.
Mereka kini akan tampil dalam laga perebutan tempat ketiga pada Sabtu.
Pertandingan itu juga akan menandai berakhirnya sebuah era, dengan pelatih Didier Deschamps akan meninggalkan jabatannya setelah 14 tahun menangani tim nasional Prancis.
Sementara itu, Spanyol akan bertolak ke New Jersey untuk menantikan pemenang semifinal kedua antara Inggris dan Argentina yang digelar Rabu, dalam upaya mereka meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya.
Analisis: Ketangguhan lini pertahanan Spanyol kembali menjadi pembeda
Pertandingan ini digadang-gadang sebagai duel antara lini serang terbaik di Piala Dunia melawan pertahanan paling tangguh sepanjang turnamen.
Pada akhirnya, pertandingan tersebut jauh dari kata seimbang.
Jika Prancis memukau lewat permainan menyerang mereka sepanjang turnamen, Spanyol cenderung melaju tanpa banyak sorotan.
Gaya bermain mereka yang mengandalkan kontrol dan disiplin mungkin tidak semenarik tim-tim lain untuk disaksikan, tetapi jika masih ada keraguan mengenai kualitas mereka secara keseluruhan, kemenangan ini seharusnya menghapusnya.
Tim yang menjuarai Euro 2024 dikenal lewat permainan sayap yang eksplosif dari Lamine Yamal dan Nico Williams.
Namun, cedera membatasi kontribusi keduanya di turnamen ini.

Sumber gambar, Kyle Rivas - FIFA/FIFA via Getty Images
Secara kolektif, mereka baru menyumbang satu gol, meski pengaruh Lamine Yamal terus berkembang seiring berjalannya kompetisi.
Meski demikian, Spanyol kini berhasil mencapai final Piala Dunia untuk kedua kalinya dan berharap dapat menyamai pencapaian generasi emas mereka pada 2010 yang mengangkat trofi di Afrika Selatan.
Menghadapi Prancis, Rodri tampil dominan di lini tengah.
Gelandang Manchester City itu berulang kali mematahkan serangan lawan sebelum mengalirkan permainan ke depan, mengatur tempo, dan menunjukkan performa yang semakin mendekati level terbaiknya setelah lama menepi akibat cedera ligamen anterior lutut (ACL).
Penampilannya kini terlihat semakin mendekati standar yang mengantarkannya meraih Ballon d'Or pada 2024.

Sumber gambar, Masashi Hara/Getty Images
Fabian Ruiz menjadi pasangan ideal bagi Rodri di lini tengah dan membenarkan keputusan pelatih yang memilihnya ketimbang kreator permainan Barcelona, Pedri. Sementara itu, lini pertahanan Spanyol sekali lagi menunjukkan kualitas mereka.
Keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi kredit bagi empat pemain belakang dan penjaga gawang, melainkan juga seluruh tim serta pelatih Luis de la Fuente.
Buktinya, Prancis baru mampu mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama mereka pada menit ke-81.
Dalam sepak bola turnamen, sering kali dikatakan bahwa kunci sukses adalah mencapai puncak performa pada saat yang tepat.
Setelah berhasil menyingkirkan Prancis, tim yang banyak dijagokan, dengan relatif mudah, Spanyol tampaknya sedang menuju momen terbaik mereka tepat ketika itu paling dibutuhkan.
Baca juga:
Analisis: Prancis kehilangan daya ledak setelah begitu menjanjikan
Pada beberapa fase Piala Dunia ini, muncul kesan bahwa hanya tinggal menghitung hari sebelum Prancis mengangkat trofi juara.
Mereka memiliki lini serang bertabur bintang, dengan Kylian Mbappe yang eksplosif sebagai tumpuan utama, saat melaju mulus hingga babak semifinal.
Di fase gugur, Prancis menyingkirkan Swedia dengan relatif mudah, menunjukkan kematangan permainan saat mengalahkan Paraguay yang tangguh, lalu melaju tanpa banyak kesulitan ketika menundukkan Maroko.
Dukungan dari Michael Olise, Ousmane Dembele, serta Bradley Barcola dan Desire Doue, membuat Prancis memiliki banyak pilihan di lini depan.

Sumber gambar, Getty
Bahkan ketika Mbappe tidak berada dalam performa terbaiknya, mereka tetap tampak mampu menghasilkan momen-momen krusial dari pemain lain.
Namun, hal itu tidak terjadi dalam pertandingan ini.
Terlepas dari penampilan impresif Spanyol, ini merupakan performa luar biasa datar dari tim Prancis yang sebelumnya dikenal karena permainan penuh energi dan kreativitas di turnamen ini.
Kesalahan Lucas Digne yang berujung penalti membuat Les Bleus untuk pertama kalinya tertinggal dalam pertandingan di Piala Dunia kali ini.
Situasi itu semakin memburuk ketika mereka kehilangan William Saliba akibat cedera beberapa menit kemudian.
Namun, tim yang dibangun untuk memaksimalkan potensi para penyerang kreatifnya justru gagal melakukan hal tersebut.

Sumber gambar, Getty
Khususnya pada babak kedua, Spanyol yang tampil sangat terorganisasi mampu memastikan para pemain paling berbahaya milik Prancis hanya menerima bola di area-area yang mudah dikendalikan.
Meskipun sempat terasa bahwa satu gol Prancis dapat mengubah jalannya pertandingan, kemampuan Spanyol mengontrol permainan, baik saat menguasai bola maupun ketika bertahan, membuat sulit melihat dari mana gol tersebut akan datang.
Setelah begitu banyak hiburan dan harapan yang mereka berikan sepanjang turnamen, ini menjadi akhir yang mengecewakan bagi Prancis.

Sumber gambar, Hugo Rivera/Jam Media/Getty Images
Mereka berharap dapat mengantar Didier Deschamps mengakhiri masa kepelatihannya dengan gemilang melalui gelar Piala Dunia kedua selama kepemimpinannya.
Sebaliknya, Deschamps kini akan menutup perjalanannya bersama tim nasional Prancis dalam suasana yang jauh lebih sederhana, yakni melalui laga perebutan tempat ketiga.
Pertandingan itu setidaknya masih memberi Mbappe kesempatan melanjutkan perburuannya menuju Sepatu Emas, dan mungkin sekaligus mengejar status sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Namun, trofi yang menjadi tujuan utama Mbappe dan Prancis kini sudah lepas dari jangkauan.
Untuk kembali memburunya, mereka harus menunggu empat tahun lagi































