You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Yordania berencana bangun ibu kota baru di Gurun Hitam, satu lagi calon proyek terbengkalai?
- Penulis, Matthew Petti & Jack Pearson
- Peranan, BBC Travel
- Telah diterbitkan
Gurun Hitam di Yordania menyimpan sejarah alam dan manusia selama jutaan tahun. Namun, semua itu akan berubah karena ada rencana pembangunan ibu kota baru di tepi gurun.
Kami berada 30 kilometer dari Qasr Mushash, sebuah pos perbatasan Romawi kuno di pinggiran timur Amman. Lokasi itu diusulkan menjadi ibu kota baru Yordania.
Perbukitan Levant telah berubah menjadi gurun vulkanik hitam yang datar.
Tiba-tiba, sebuah drone militer meluncur di atas kepala, mungkin sedang dalam perjalanan untuk mengawasi medan perang di suatu tempat di dekat Irak atau Suriah.
Beberapa menit di ujung jalan terdapat Cagar Alam Azraq dan Suaka Margasatwa Shaumari, tempat kami berbaur dengan rusa dan menyaksikan pesawat kargo militer terbang di atas cakrawala.
Ini adalah Gurun Hitam Yordania, juga dikenal sebagai Harrat al-Sham, sebuah perbatasan yang memiliki banyak arti.
Lanskap yang keras menceritakan kisah peradaban masa lalu dan masa kini.
Reruntuhan bangunan peradaban Romawi, bangunan beton setengah jadi, pangkalan militer modern, dan kamp pengungsi berada menandai adanya jalan besar.
Dan melewati titik tertentu, tidak ada tanda-tanda kehidupan umat manusia di gurun ini.
Hampir tidak ada orang yang tinggal di sini kecuali orang Badui nomaden, yang mengembara di sekitar pagar hewan yang dipasang ribuan tahun sebelumnya oleh pemburu era prasejarah serta prasasti Safaitik kuno yang ditulis dalam dialek Arab yang mendahului kebangkitan Islam.
Meskipun kurang terkenal dibandingkan destinasi wisata Yordania lainnya seperti Petra dan Pilar Kebijaksanaan, Gurun Hitam menawarkan sejarah alam dan manusia selama jutaan tahun kepada pengunjung, termasuk lahan basah yang megah di padang pasir yang dialiri oleh oasis yang rentan.
Namun, gurun ini bisa berubah jika pemerintah Yordania tetap pada keinginannya membangun ibu kota baru.
Proyek Kota Baru bertujuan untuk menciptakan ibu kota kedua di tepi Gurun Hitam pada 2050, menggunakan tanah murah untuk memikat penduduk Amman keluar dari pusat kota yang padat.
Beberapa ahli skeptis terhadap rencana tersebut; satu-satunya sumber air Gurun Hitam, Oasis Azraq, sebelumnya mengering karena pemompaan berlebihan dan harus dimunculkan lagi secara artifisial.
Proyek ini dapat mengubah lanskap Gurun Hitam yang indah. Atau, mengingat kesulitan yang dialami Yordania dengan pasokan air, Kota Baru mungkin menjadi satu lagi peninggalan terbengkalai karena kerasnya gurun.
Kerajaan Yordania modern bukanlah pihak pertama yang mencoba membuat daerah ini bisa ditinggali.
Gurun Hitam dihiasi dengan "istana gurun", serangkaian bangunan yang dibangun antara era Romawi akhir dan awal Islam. (Nama Arabnya, qasr, berasal dari akar bahasa Latin yang sama dengan "kastil".)
Apa sebenarnya tujuan mereka – atau apakah mereka semua memiliki tujuan yang sama – adalah pertanyaan yang diperdebatkan oleh para arkeolog.
Baca juga:
Di akhir zaman kuno, Gurun Hitam berada di perbatasan antara Kekaisaran Romawi dan Persia.
Tempat ini menjadi saksi pertempuran sengit selama hampir lima abad sebelum kekhalifahan Islam mendorong kedua negara adidaya itu keluar dari wilayah tersebut.
Kastil-kastil yang ada di gurun mungkin merupakan pangkalan militer, pos perdagangan, pondok berburu, atau kombinasi dari ketiganya.
Dalam sebuah makalah tahun 2016, arkeolog Karin Bartl mencatat jarak antara kastil-kastil gurun kemungkinan besar merupakan titik pemberhentian bagi para pelancong.
Dipetakan bersama, titik-titik itu memungkinkan "perjalanan sepanjang hari yang nyaman di rute sekitar 100 kilometer antara Amman dan oasis Azraq," tulisnya.
Dengan kata lain, pos terdepan mungkin seperti tempat istirahat (rest area) modern yang sekarang digunakan wisatawan ketika melintasi jalan raya – meskipun perjalanan hari ini memakan waktu berjam-jam, bukan berhari-hari.
Hingga zaman modern, wilayah tersebut didominasi oleh pengembara Badui, yang bergabung dengan sejumlah kecil pemukim Druze dan Chechnya dari tempat lain di Kekaisaran Ottoman ke Oasis Azraq pada abad ke-19.
Kehadiran Badui "adalah kehadiran politik", menurut Dr Murad Kalaldeh, dosen di departemen arsitektur Universitas Terapan Al-Balqa di Yordania. "Orang Badui tidak suka membiarkan wilayah yang luas ini tidak terkendali."
Mengendalikan sebuah wilayah, bahkan tanah kosong, memberi suku-suku pengaruh atas sumber air dan rute kafilah – baik untuk perdagangan, kampanye militer, atau ziarah haji.
Kota-kota seperti pemukiman Druze dan Chechnya di Azraq tumbuh "untuk melayani orang-orang Badui", memasok mereka dengan barang-barang manufaktur dan kebutuhan lainnya, tambah Kalaldeh.
Saat kami berkelana lebih jauh ke gurun, kota-kota menghilang sepenuhnya, hanya menyisakan tempat perkemahan untuk orang Badui dan turis yang paling suka berpetualang.
Bahkan di hutan belantara yang dalam, ada tanda-tanda tempat tinggal manusia purba. Wilayah ini ditandai dengan prasasti batu Safait dan pagar hewan yang dipasang oleh pemburu prasejarah.
Seni cadas (atau seni pada batu) menjadi "museum terbuka yang mencatat sejarah nenek moyang kita," kata Rawan Al Adwan, seorang seniman Yordania yang karyanya terinspirasi oleh prasasti ini sejak dia menemukannya pada 2003, ketika bekerja di Museum Arkeologi Yordania.
Prasasti tersebut juga mengisyaratkan dunia yang berbeda dan tidak terlalu kering, catat Al Adwan.
Seni pada batu itu menampilkan gambar singa, kuda, dan burung unta di daerah di mana hewan tersebut tidak lagi ditemukan karena perburuan berlebihan dan perubahan iklim.
Perubahan lanskap menjadi lebih drastis dalam beberapa dekade terakhir dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi yang cepat di Yordania.
Yordania, salah satu negara dengan kelangkaan air paling tinggi di dunia, telah memompa terlalu banyak akuifernya ke perairan di sekitar Oasis Azraq hanya 0,04% dari ukuran historisnya.
Sebagian besar air telah dipompa untuk memasok kebutuhan di Amman, yang populasinya berlipat ganda dari tahun 1975 hingga 2000 dan antara tahun 2000 dan 2020. Sekitar seperempat pasokan air ibu kota sekarang berasal dari Azraq.
Pertumbuhan populasi yang sama juga telah membebani infrastruktur, dan Proyek Kota Baru bertujuan untuk menciptakan alternatif ibu kota yang lebih efisien dan tidak terlalu ramai.
Jika semua berjalan sesuai rencana, pemerintahan juga akan dipindahkan dari Amman ke kota metropolis baru.
Daya tarik Kota Baru terletak pada kekosongan tanah. Kalaldeh mengatakan bahwa bagian tertentu dari Gurun Hitam ini adalah salah satu daerah yang memiliki sisa "pengaruh suku [Badui] paling sedikit".
Baca juga:
Karena daerah tersebut sebagian besar tidak berpenghuni, pemerintah Yordania berencana untuk membiayai proyek tersebut dengan menawarkan sebidang tanah kosong yang murah kepada pengembang.
Juru bicara pemerintah, Faisal al-Shboul, mengatakan kepada media lokal bahwa negara tidak perlu mengambil pinjaman untuk membangun Kota Baru.
Kalaldeh berpendapat skema tersebut kontradiktif karena kekosongan juga berarti kurangnya "aktivitas spesifik di lokasi tersebut" yang mungkin bisa menarik investor: tidak ada sumber daya alam untuk dieksploitasi, tidak ada zona industri utama, tidak ada air tanah untuk pertanian.
Sebaliknya, dia menilai pemerintah harus fokus pada perluasan kota-kota yang sudah ada di provinsi.
Nyatanya, nilai Gurun Hitam mungkin berasal dari pembiaran dan tidak tersentuhnya wilayah ini. Gurun timur adalah rumah bagi empat dari 12 cagar alam Yordania – dan sebagian besar keindahan alam negara itu.
Suaka Margasatwa Shaumari menampilkan rusa, onager, dan populasi kijang Arab terakhir yang diketahui di Yordania.
Kerbau air dan burung migran berkumpul di Oasis Azraq di dekatnya, yang tetap bertahan di tengah terbatasnya air yang dipompa kembali ke kawasan lindung setiap tahun.
Lebih jauh ke gurun, melewati oasis, ada Cagar Alam Dahek, yang terkenal dengan prasasti Safaitik kuno serta bukit dengan puncak datar berwarna putih, yang kontras dengan bidang basal gelap Gurun Hitam.
Al Adwan percaya bahwa prasasti Safaitik yang sangat terpencil – yang bisa ditemukan dengan terlebih dahulu melakukan perjalanan off-road melalui padang pasir – menjadikannya tujuan yang menarik bagi wisatawan petualang, asalkan mereka dipelihara dengan baik.
Oasis Azraq dulunya cukup besar sehingga orang Yordania dari ibu kota melakukan perjalanan sehari untuk memancing dan berenang di sana.
Namun, pemompaan air yang berlebihan berarti bahwa oasis benar-benar habis pada 1993. Royal Society for the Conservation of Nature ingin setidaknya mengembalikan lahan basah menjadi 10% dari ukuran historisnya.
Menurut papan yang dipasang di cagar lahan basah, kementerian air setuju untuk memompa sekitar 1,5 juta meter kubik air kembali ke oasis per tahun untuk membantu pemulihannya.
Yordania terbelah antara dua keinginan untuk Gurun Hitam, yaitu mengeksploitasi atau melestarikannya.
Pariwisata mungkin merupakan jalan tengah, yang memungkinkan negara memperoleh keuntungan finansial dari upaya pemulihan lingkungannya.
Berdiri di situs Kota Baru yang kering, sisa-sisa Oasis Azraq yang dipagari, dan reruntuhan buatan manusia selama ribuan tahun di Gurun Hitam, kami memahami kerasnya lingkungan.
Namun, kami juga melihat kegigihan beberapa orang yang tinggal di dalam dan sekitar gurun, dan yang mencoba menyebutnya rumah.
Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul Jordan's beautiful, cursed landscape dapat Anda baca di BBC Travel.