Pendatang lokal di Bali tak lagi sanggup bayar biaya kos yang kian meroket — 'Lebih susah cari kos ketimbang cari kerja'

Sumber gambar, Nyimas Laula/Bloomberg via Getty Images
- Penulis, Christine Nababan
- Peranan, Wartawan di Bali
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 9 menit
Ardiansyah (30) senang bukan main saat mendapat pekerjaan pada hari ketiga ia menginjakkan kakinya di Bali. Dia hijrah dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan niat mengubah nasib.
Ardi datang ke Bali bermodalkan nekat dua tahun lalu, tanpa pengalaman atau keahlian tertentu.
Dia mengikuti sepupunya yang sudah lebih dulu menetap di Bali. Uang yang dikantonginya pun tak banyak, bahkan tak mampu untuk menyewa kamar kos-kosan.
"Jadi waktu pertama datang itu saya tinggal bareng sepupu di kamar kosnya. Kami patungan. Hari ketiga saya dapat pekerjaan sebagai waiter (pramusaji). Pelan-pelan pikir saya nabung dulu biar bisa cari kamar kos sendiri," katanya kepada wartawan Christine Nababan, pertengahan Mei 2026.
Waktu berjalan cepat. Setahun berlalu, Ardi masih berbagi kamar kos dengan sepupunya. Sementara, usahanya menggemukkan tabungan berjalan seperti jam pasir. Kalaupun ia harus memaksakan diri untuk tinggal di kamar kos sendiri, biayanya akan menguras nyaris 50% dari gajinya.
"Sudah empat bulan terakhir ini saya cari kamar kos di bawah Rp1 juta, belum dapat. Maunya tinggal sendiri, biar punya privasi dan juga dekat dari tempat kerja. Tapi, selalu penuh. Kalau pun ada, harganya di atas Rp1 juta. Bisa saja dipaksakan, tapi saya bakal nombok untuk biaya hidup lainnya, seperti makan dan bensin," terang Ardi.
Sebagai solusi jangka pendek, dia pun memutuskan berbagi kamar kos dengan temannya yang tinggal tak jauh dari tempatnya bekerja. Patungan adalah 'jalan tikus' untuk berhemat di tengah tingginya biaya hidup di Bali dan rendahnya pendapatan pekerja lokal.
"Nggak salah memang kalau banyak orang bilang cari kerja di Bali lebih gampang daripada cari kos. Kecuali pendatang lokal yang punya banyak uang ya, mereka banyak tinggal di kos-kosan di atas Rp3 juta. Masalahnya, gaji saya ya segitu [Rp3 juta]," tuturnya.
Baca juga:
Senada, Yanresa Utami (39), karyawan swasta di perusahaan bonafide di Jakarta, terpaksa mengurungkan cita-citanya untuk menikmati slow living di Bali. Rencananya tersandung tingginya biaya hidup di Pulau Dewata.
Harga kamar kos di lokasi strategis dengan fasilitas standar, yaitu satu unit AC, kamar mandi di dalam, tempat tidur dan lemari, dibanderol sampai di atas Rp 5 juta per bulan.
Sebagai perbandingan, dengan fasilitas serupa di Jakarta, ia memperkirakan harganya cuma Rp 2,5 juta-Rp 3 juta.

Sumber gambar, Christine Nababan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Yanresa sempat menjajal kehidupan di Bali selama satu bulan. Ia mengambil cuti tanpa gaji dari perusahaannya dan tinggal di Bali. Tantangan utamanya, mencari kamar kos layak sesuai budget.
Alih-alih mendapatkan kamar kos, ia justru berakhir berbagi rumah dengan pasangan lansia lokal yang menyewakan satu kamar kosong di rumahnya.
"Lokasinya oke, sangat strategis di Denpasar Barat berbatasan dengan Kabupaten Badung. Tetapi, ini bukan kos-kosan ya, melainkan rumah tinggal sepasang lansia. Saya membayar Rp 2,5 juta dengan fasilitas di dalam kamar berupa tempat tidur, lemari, dan AC. Untuk kamar mandi dan dapur, sharing," imbuhnya.
Selama tinggal di Bali, Yanresa mondar-mandir menghadiri undangan wawancara pekerjaan. Saat itu, tawaran bekerja bejibun yang masuk.
Sayangnya, setelah menghitung pengeluarannya, ia memutuskan menarik diri dari Bali mengingat tawaran gaji yang masuk tak sebanding dengan biaya hidup yang akan dikeluarkannya.
"Untuk makan masih affordable. Tapi tempat tinggal mahal banget, dua kali lipat lebih dari Jakarta," katanya meringis.
Perlu strategi
Elza S (35) punya cerita unik dan berbeda demi bertahan hidup di pulau yang didapuk jadi surga pariwisata dunia tersebut.
Caranya, dengan bekerja di area dengan pariwisata tersibuk, yaitu di Kuta, Kabupaten Badung, tapi tinggal di Batu Bulan, Kabupaten Gianyar.
Keuntungannya, ia dapat mengantongi gaji lebih tinggi di atas Upah Minimum Regional (UMR), tetapi berhemat dengan membayar kos di bawah Rp 1 juta.
"Gajiku Rp 6,5 juta di toko bermerek. Kosku cuma Rp 750 ribu, kosongan tapi kamar mandi di dalam dan dapur kecil. Jadi, privasiku terjaga. Tapi kosongan ya, isi sendiri perabotannya," tutur Elza.

Sumber gambar, Gonzalo Azumendi via Getty Images
Namun, strategi ini juga mengandung konsekuensi. Elza mengeluh rugi waktu dan tenaga untuk mondar mandir kerja setiap harinya. Rata-rata, dia menempuh perjalanan 60-80 menit sekali jalan dengan sepeda motor untuk sampai ke tempat kerja dari kosnya.
Dia mengakui perjalanannya menjadi sedikit lebih melelahkan.
Namun, pendatang dari Pulau Sumatra itu siap dengan risikonya, seperti bangun lebih pagi dan pulang lebih malam.
"Memang kesannya bela-belain sekali ya antara tempat kerja dan kos yang jauh. Tetapi kan yang penting nyaman, punya privasi, dan bisa nabung untuk ngirim ke keluarga di daerah asal saya," jelasnya.
Elza S mengaku mendapatkan ide 'brilian' tersebut setelah memanfaatkan jasa agen kos-kosan. Ia menggunakan jasa calo untuk mencarikan kos-kosan yang sesuai budget dan kriterianya.
Calo itu adalah perorangan yang ia kenal dari sosial media Facebook. Saat itu, ia menyelam ke salah satu grup kos-kosan dan tertarik dengan jasa yang ditawarkan.
Komisi yang dibayarkan untuk calo pun relatif terjangkau, yaitu Rp250 ribu, sekali bayar.
"Saat itu, calo menawarkan kos-kosan yang sesuai di daerah Batu Bulan. Saya tidak tahu daerah itu, saya pendatang, baru tiga bulan di Bali. Lihat di peta jaraknya 30 kilometer, setelah saya ngobrol dengan calo itu, ya sudah lah saya putuskan menggunakan jasanya," tutur Elza.
Ia juga mengaku beruntung karena bukan cuma mendapatkan kamar kos murah, tetapi bersih dan lingkungannya tenang. Cocok baginya yang mengklaim diri sebagai introvert dan kurang suka bersosialisasi dengan banyak orang. "Apalagi pulang kerja capek kan pengen langsung istirahat," terangnya.
Peluang bisnis agen kos-kosan
Muhammad Farid Wasil, agen atau calo kos-kosan, menilai cari kos di Bali gampang-gampang susah. Menurutnya, banyak orang ingin harga murah, tapi fasilitas mewah. Padahal, kos-kosan di Bali jumlahnya banyak dengan kisaran harga didominasi Rp 2,5 juta-Rp 5 juta.
Sisanya, dengan harga di bawah Rp 1 juta relatif penuh terisi, sedangkan yang bernilai Rp5 juta ke atas banyak diisi oleh pendatang warga negara asing alias WNA.
Selain itu, di sisi pemilik kos, karena isu sampah di Bali, semakin terbatas kos-kosan yang mau menerima pasangan suami istri (pasutri) dengan anak.
"Gara-gara masalah sampah kan, cari kos jadi tambah susah. Pasutri, terutama. Karena pemilik kos memikirkan sampah rumah tangga yang banyak popok, makanan dari aktivitas masak-memasak. Kalau lajang kan lebih simpel hidupnya, sampahnya juga terukur," jelasnya.

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA / AFP via Getty Images
Pun demikian, Farid mengaku tidak pernah menolak klien yang menggunakan jasanya. Ia rela mengelilingi gang-gang di setiap sudut jalanan dari Denpasar, Badung, hingga Gianyar untuk mencari info kos-kosan. Jika kliennya suka dengan kos yang direkomendasikan, dia mematok tarif mulai dari Rp 300 ribu-Rp 500 ribu.
Farid mengklaim jasanya digunakan lebih dari 10 orang dalam sebulan, bahkan bisa mencapai puluhan.
Dengan tingginya permintaan, dia dan rekannya, yang tergabung di Info Kos Aja, sebuah platform pemasaran info kos-kosan, bisa mengantongi komisi sedikitnya Rp 10 juta per bulan.
Komisi tersebut lah yang membantunya menutup kebutuhan hidup sehari-hari di tanah perantauan.
Saking berkembangnya bisnis spill info kos-kosan yang digeluti, Farid bukan cuma membentuk platform bisnis khusus pencarian kos bersama rekan-rekannya, tapi juga membuat grup khusus pencarian kos-kosan.
Tercatat, ada 800 orang telah bergabung jadi anggota grup tersebut. Ia berharap usaha kecil-kecilan yang digelutinya ini bisa terus berkembang.
"Saya senang kalau orang-orang yang saya carikan kosan suka, bahagia dengan rekomendasi saya. Ini sebagian dari berpuluh-puluh orang yang sudah saya bantu. Komisi itu bonus, tapi senang ada orang yang terhindar dari penipuan info kos yang banyak sekali di Bali. Saya dulu kan korbannya, makanya saya berbisnis untuk bantu orang cari kos," terang Farid.
Kendati demikian, bisnis spill info kos-kosan tersebut, sambung Farid, sekadar usaha sampingan saja.
"Tentunya, sampingan yang menggiurkan dan berkelanjutan untuk peluang bisnis lainnya di masa mendatang," terang Farid tanpa menyebut pekerjaan tetap yang digelutinya.
Dia merupakan pendatang dari Sulawesi Selatan yang juga sedang mengadu nasib di Bali sejak 2022 lalu.

Sumber gambar, Christine Nababan
Budiana juga boleh dibilang seorang calo kos-kosan. Bedanya, ia memiliki modal tebal untuk langsung menyewa setiap kos-kosan yang baru dibangun atau dibuka.
Biasanya, ia mengambil alih sewa dua-empat pintu, lalu 'menjualnya' dengan harga minimal 20 persen lebih tinggi.
Misalnya, Budiana menyewa Rp1,5 juta per pintu. Kemudian, lewat Facebook, dia menyewakan kosan itu seharga Rp1.800.000-Rp2 juta.
Dari sana, dia biasanya mendapatkan passive income Rp400 ribu-Rp1 juta per bulan. Uang itu kemudian ia putar kembali untuk menyewa kos-kosan lainnya.
Namun biasanya, kos-kosan yang diambil alih tersebut berasal dari kenalannya, sehingga mereka mempercayainya dalam berbisnis sebagai penyewa kos bayangan.
"Kamar tidak pernah kosong kalau sewanya maksimal Rp 2,5 juta per bulan. Kalau pun kosong tiga hari paling lama," terang dia.
Sayangnya, Budiana enggan berbicara lebih banyak terkait bisnis kos-kosan bayangan tersebut. Yang pasti, dia mengakui bisnis ini lebih menggiurkan ketimbang memiliki kos-kosan sendiri.
"Simpel, tinggal tambah pintu-pintu kos-kosan saja kalau mau untung lebih banyak," tandasnya.
Legitnya bisnis kos-kosan di Bali
Pelbagai riset yang dilakukan perusahaan konsultan properti mengungkap peningkatan harga properti di Bali.
Menurut laporan Prestige Property Bali, pada 2026 harga properti dan biaya sewa di Bali terus meningkat karena tingginya permintaan dan keterbatasan pasokan.
Harga vila rata-rata berada di kisaran US$280.000–299.000, dengan pertumbuhan tahunan 5–12%, sementara harga tanah premium di Canggu mencapai Rp9–14 juta per meter persegi.
Di sisi sewa, tingkat hunian berada di kisaran 53–65% dan bisa melampaui 80% untuk properti premium, dengan imbal hasil sewa sekitar 7–15%.
Meski sempat tertekan dengan penurunan tarif harian sekitar 14% akibat lonjakan pasokan, permintaan tetap kuat, termasuk dari digital nomad, sehingga biaya sewa secara keseluruhan tetap tinggi.
Berangkat dari data-data serupa yang meyakinkan tersebut, Nadia (51), percaya diri untuk mengoperasikan bisnis kos-kosan di Bali. Ia bersama mantan pasangannya membeli hak sewa tanah dan bangunan selama 20 tahun, dengan harga sekitar Rp4 miliar.
Kemudian, di lokasi itu, dia membangun kos-kosan 20 pintu yang dijual Rp7 juta per bulan untuk setiap pintunya.
Dengan harga relatif mahal, kos-kosan Nadia yang terletak di Padangsambian, Denpasar Barat, itu, menawarkan fasilitas kamar seluas 40 meter hingga 60 meter persegi, beserta tempat tidur, lemari, AC, meja kerja, dapur, dan kolam renang yang bisa digunakan seluruh penghuni.
Kos-kosan bernama Adhya Apartments tersebut nyaris tidak pernah kosong. Karena letaknya yang strategis di tengah Denpasar-Badung, kos-kosan Nadia laris manis. Kalau pun kosong hanya 1-2 kamar selama tidak lebih dari dua pekan pada bulan-bulan tertentu.
Rerata penghuninya merupakan pekerja atau wisatawan asing yang bekerja secara remote. Pendatang lokal di tempatnya bisa dihitung dengan jari.
"Iya banyakan bule (yang menyewa). Tetapi, saya tidak pilih-pilih, siapa pun boleh menyewa sepanjang ketersediaannya ada," imbuhnya.

Sumber gambar, Martin Puddy via Getty Images
Nadia mengaku bisa meraup sedikitnya Rp133 juta per bulan, dari 19 pintu kos-kosan yang dibukanya. Satu pintu didedikasikan untuk pekerjanya. Tapi, tidak seluruh pemasukan itu mampir ke kantongnya.
"Operasional per bulan juga tinggi ya, paling sedikit Rp40 juta untuk bayar listrik, perawatan bangunan dan kolam, gaji karyawan, hingga laundry. Sekitar Rp70 juta sisanya masuk ke kantong pemilik [Nadia dan mantan pasangannya] yang sebagian besar juga digunakan untuk membayar cicilan sewa tanah dan bangunan," jelasnya.
Pun demikian, Nadia setuju bahwa bisnis kos-kosan di Bali masih legit di tengah ramainya industri pariwisata, banyaknya pekerja remote yang bermukim di Bali, dan tingginya harga properti di Bali.
"Bayangkan kalau tidak sewa tanah dan bangunan, pemasukan saya setiap bulannya bisa Rp70 juta," katanya seraya tertawa.
Nadia menduga ramainya bisnis kos-kosan di Bali karena tingginya permintaan. Apalagi kini, banyak pendatang lokal dari kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung, bermukim di Bali. Mereka memiliki standar tinggi kamar kos-kosan layak.
Selain itu, mulai menjamurnya platform agen kos-kosan lokal dan derasnya arus informasi lewat sosial media, membuat WNA nomad yang bekerja remote mudah membandingkan harga.
Alhasil, mereka ikut bersaing dengan pendatang lokal tinggal di hunian tipe kos-kosan.
































