Perlakuan buruk dan diskriminasi keluarga tentara KNIL Maluku yang dipindahkan ke Belanda pada 1951 – 'Tidak cukup kata maaf untuk penderitaan yang dialami'

Seorang tentara Maluku bersama keluarganya di atas kapal Kota Inten, Maret 1951.

Sumber gambar, Arsip Nasional Belanda/rotterdam.nl

Keterangan gambar, Seorang tentara Maluku bersama keluarganya di atas kapal 'Kota Inten', Maret 1951.
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 19 menit

Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakuan buruk yang dialami 12.500 tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku dan keluarga mereka, yang dipindahkan ke Belanda pada 1951.

Namun, permintaan maaf itu disebut menjadi tak bermakna jika tak diikuti rencana dan langkah konkret untuk memulihkan kehidupan keturunan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) Maluku di Belanda.

Pasalnya, perlakuan buruk, trauma dan diskriminasi yang dialami mereka disebut masih membekas, melintasi empat generasi. Mulai dari kehidupan di kamp yang tidak layak, janji-janji palsu pemerintah Belanda, hingga perlakuan diskriminatif yang dialami keturunan serdadu KNIL Maluku itu.

Lalu, apa saja penderitaan yang dialami puluhan ribu orang Maluku itu di Belanda? Mengapa mereka dipindah paksa dari akar kelahiran mereka dan bagaimana mereka kini memandang Belanda, Indonesia, dan Maluku?

Apakah permintaan maaf saja cukup?

Minggu, 21 Juni 2026, banyak orang Maluku berkumpul menghadiri peresmian Monumen Ulu Kora yang berbentuk haluan kapal tradisional, di Rotterdam, Belanda.

Monumen itu dibuat untuk mengenang orang-orang Maluku pertama yang tiba di Belanda 75 tahun silam.

Dalam acara itu hadir Perdana Menteri Belanda Rob Jetten dan dia menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakukan buruk yang dialami tentara KNIL Maluku dan keturunan mereka.

Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyapa orang-orang menjelang peresmian monumen nasional di Lloydkade untuk warga Maluku selama peringatan komunitas Maluku yang tiba di sana 75 tahun yang lalu, di Rotterdam pada 21 Juni 2026. Pada tahun 1946, pria-pria Maluku pertama datang ke Belanda untuk pelatihan dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda, setelah itu mereka bertugas aktif di Amsterdam, serta di Indonesia dan bagian lain Kerajaan Belanda.

Sumber gambar, Robin Utrecht / ANP / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyapa seorang warga Maluku di peresmian museum Ulu Kora, Rotterdam.

"Atas pemecatan mereka yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara [KNIL] , atas penerimaan dan tempat tinggal mereka yang tidak layak, atas ketidakpedulian dan pengabaian terhadap mereka, atas kerinduan akan kampung halaman yang tak terpenuhi, atas kesedihan dan penderitaan di banyak keluarga Maluku."

"Untuk semua ini, saya menyampaikan permintaan maaf hari ini atas nama pemerintah Belanda," kata Jetten.

Selain permintaan maaf, Jetten menekankan pentingnya penyelidikan parlemen mendatang, yang melibatkan komunitas Maluku di Belanda saat ini.

Generasi kedua keturunan mantan tentara KNIL Maluku di Belanda, Minggus Pattiradjawane, menyambut baik permintaan maaf itu. Namun, ucapan itu harus diikuti dengan aksi nyata.

Orang-orang menunggu sebelum peresmian monumen nasional di Lloydkade untuk warga Maluku selama peringatan komunitas Maluku yang tiba di sana 75 tahun yang lalu, di Rotterdam pada 21 Juni 2026. Pada tahun 1946, pria-pria Maluku pertama datang ke Belanda untuk pelatihan dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda, setelah itu mereka bertugas aktif di Amsterdam, serta di Indonesia dan bagian lain Kerajaan Belanda.

Sumber gambar, Robin Utrecht / ANP / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Museum nasional Ulu Kora yang berbentuk haluan kapal tradisional, di Rotterdam, Belanda.

Mungkin Anda tertarik:

"Tidak cukup kata maaf untuk penderitaan yang dialami generasi pertama. Hak mereka seperti gaji dan pensiun saat dipecat sepihak dari KNIL harus dipenuhi. Lalu dilakukan reparasi melalui restitusi, kompensasi, maupun rehabilitasi bagi mereka dan keturunannya yang menderita di Belanda," kata Minggus.

Hal senada diungkapkan oleh generasi ketiga, Yopi Abraham.

Dia bilang seharusnya Jetten menyampaikan permintaan maaf di acara resmi parlemen, bukan malah mengambil panggung acara orang Maluku.

Tentara Ambon mengenakan seragam KNIL tengah menyimak perintah, di Hindia Belanda.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Tentara Ambon mengenakan seragam KNIL tengah menyimak perintah, di Hindia Belanda.

Selain itu, Yopi juga menegaskan, permintaan maaf tak lantas membuat trauma masa lalu selesai.

"Warga Maluku harus dilibatkan dalam meja perundingan untuk menyamakan perspektif tentang sejarah masa lalu dan merumuskan langkah serta kebijakan tentang kami. Karena jika tidak, maka sejarah akan terulang kembali. Ini akan menjadi jalan satu arah," ujar Yopi.

Langkah konkret itu, menurut sejarawan dari Vrije Universiteit Amsterdam Wim Manuhutu, di antaranya seperti menguatkan edukasi yang mendalam dalam sistem pendidikan Belanda tentang sejarah orang Maluku—yang tidak hanya dimulai dari tahun 1951 namun jauh hingga abad ke-17, ketika perdagangan rempah-rempah membawa bangsa Belanda ke Kepulauan Maluku.

Selain itu, kata Wim, adalah perawatan lansia Maluku dan jaminan permukiman bagi warga Maluku di Belanda.

Dipecat sepihak dan ditampung di kamp bekas Nazi

Foto keluarga Minggus Pattiradjawane di Leerdam pada tahun 1975. Ayah Minggus memboyong istri dan kedua anaknya, bersama dengan ribuan tentara KNIL Maluku, berlayar ke Belanda Pada 1951.

Sumber gambar, Minggus Pattiradjawane

Keterangan gambar, Foto keluarga Minggus Pattiradjawane di Leerdam pada tahun 1975. Ayah Minggus memboyong istri dan kedua anaknya, bersama dengan ribuan tentara KNIL Maluku, berlayar ke Belanda Pada 1951.

Mengapa Minggus, Yopi, dan juga sekelompok keturunan Maluku lain merasa permintaan maaf tak cukup?

Hal itu terjadi karena adanya rangkaian janji palsu, pengabaian dan perlakuan diskriminatif yang hadapi orang Maluku di Belanda.

Minggus Pattiradjawane lahir pada 1954 di Belanda. Kedua kakaknya lahir di Sumatra dan Kalimantan.

Ayah Minggus adalah prajurit KNIL Maluku di Hindia Belanda.

Pada 1951, ayah Minggus memboyong istri dan kedua anaknya, bersama dengan ribuan tentara KNIL Maluku, berlayar ke Belanda.

Dari 12.500 orang keluarga Maluku itu hampir setengahnya dilaporkan berusia di bawah 15 tahun.

Minggus Pattiradjawane dan istrinya Christine Pattiradjawane kini menetap di Kota Ambon.

Sumber gambar, Minggus Pattiradjawane

Keterangan gambar, Minggus Pattiradjawane dan istrinya Christine Pattiradjawane kini menetap di Kota Ambon.

Dalam buku In Nederland gebleven De geschiedenis van Molukkers 1951-2025, Henk Smeets dan Fridus Steijlen mengutip pengalaman orang Maluku yang menaiki kapal ke Belanda, bernama F.X. Wenehenubun-Arlia.

'Suatu malam kami diberitahu bahwa kami akan pergi ke Belanda selama enam bulan...Saya tidak ingat apapun tentang perjalanan itu sendiri. Saya sakit dan satu-satunya yang saya lakukan adalah tidur. Kapal kami bernama Roma."

"Saya memikirkan ayah saya di Bone, Sulawesi. Kapan saya akan bertemu dengannya lagi? Ketika saya tiba di Belanda, saya langsung merasa rindu rumah. Saya ingin pulang. Di sana dingin, saya merasa orang-orangnya aneh, dan rasanya mengerikan diperiksa [kesehatan] di Amersfoort."

Kapal dari Indonesia yang membawa tentara KNIL Maluku tiba di Rotterdam, Belanda pada 1951.

Sumber gambar, Arsip Nasional Belanda/rotterdam.nl

Keterangan gambar, Kapal dari Indonesia yang membawa tentara KNIL Maluku tiba di Rotterdam, Belanda pada 1951.

Setibanya di Belanda, rombongan warga Maluku itu disambut dengan sebuah pesan dari Ratu Juliana, yang berharap "agar waktu yang dihabiskan di sini" akan menjadi "kenangan yang baik."

Mereka kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan di Amersfoort. Di kota ini juga, mereka menerima formulir pemberhentian dari militer.

Mendengar pemecatan itu, prajurit A.A. Ohoioeloen yang tiba dengan kapal Roma, mengatakan, "Kami marah, sangat marah, situasi yang sangat emosional. Namun, apa yang bisa kami lakukan?"

Kemarahan yang sama juga dirasakan tentara Maluku lainnya.

"Dunia saya runtuh. Saya merasa sangat dikhianati. Kesetiaan saya kepada otoritas Belanda berubah menjadi kebencian, agresi, dan kekecewaan," kata tentara KNIL Maluku.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemecatan dari militer, mereka lalu dikumpulkan ke tempat penampungan yang tersebar di lebih dari 50 lokasi kamp.

Salah satu kondisi kamp penampungan tentara KNIL Maluku di Belanda.

Sumber gambar, Arsip Kota Rotterdam/rotterdam.nl

Keterangan gambar, Salah satu kondisi kamp penampungan tentara KNIL Maluku di Belanda.

Puluhan kamp itu terletak jauh dari kota dan menciptakan komunitas Maluku yang terisolasi secara fisik dan sosial.

Bahkan, dua titik adalah bekas kamp konsentrasi Nazi, yaitu Kamp Westerbork dan Kamp Vught.

Keluarga Minggus bersama ratusan keluarga KNIL Maluku tinggal di Kamp Singel, Woerden, Utrecht.

Selama enam tahun tinggal di kamp, Minggus berkata, keluarganya dan juga keluarga eks KNIL Maluku lainnya mendapatkan bantuan makan, kupon pakaian, dan uang saku dari pemerintah.

"Di kamp, kami punya kamar, bukan rumah ya. Cuma [ukuran] 3x4 meter. Saya dengan adik-adik, kakak-kakak, papa dan mama, 10 orang tinggal dalam itu kamar," kenang Minggus yang fasih berbahasa Melayu Maluku dan Belanda.

"Aku bilang, [kondisi] gudang sekarang lebih bagus dari kamar kami."

Minggus Pattiradjawane dan istrinya Christine Pattiradjawane berada di Belanda.

Sumber gambar, Minggus Pattiradjawane

Keterangan gambar, Minggus Pattiradjawane dan istrinya Christine Pattiradjawane berada di Belanda.

Selain berukuran kecil, Minggus yang kini tinggal di Ambon berkata, kamar itu hanya dilapisi kayu dengan bangunan semi permanen.

Akibatnya, keluarganya mengalami kedinginan saat musim salju, yang suhunya bisa mencapai minus 15 derajat.

Di dalam kamar, keluarga Minggus tidur di atas tumpukan karung yang berisi jerami dan ditemani selimut pemberian pemerintah.

"Benar-benar menyedihkan jika membayangkannya kembali. Tapi orang tua saya terus bertahan karena di kepala mereka hanya tinggal enam bulan saja, lalu kembali ke Maluku," ujar Minggus.

Selama tinggal di kamp, Minggus bilang, anak-anak tidak bisa keluar dari kamp yang dikelilingi oleh pagar duri dan mereka pun terisolasi dari dunia luar.

Gambaran serupa juga diungkapkan Tete Siahaya, yang besar di Lunetten dan terlibat dalam aksi pendudukan rumah dinas duta besar Indonesia, pada 1970.

"Ruang seluas 20 meter persegi dimanfaatkan sepenuhnya. Mama berhasil menyulap ruangan itu menjadi ruang duduk dan ruang tidur dengan menggunakan sehelai gorden. Untuk tempat tidur susun besi, kasur dari goni jerami, dan selimut wol abu-abu."

Mantan tentara KNIL Maluku berpartisipasi dalam pawai jalan kaki di Belanda pada1951.

Sumber gambar, Arsip Nasional Belanda/moluksevoetstappen.nl

Keterangan gambar, Mantan tentara KNIL Maluku berpartisipasi dalam pawai jalan kaki di Belanda pada1951.

Selain kamar yang sempit, Minggus berkata makanan yang disediakan pun tak layak.

"Orang bilang anjing sendiri tak mau makan dan kami [diberi] uang sekitar enam golden per minggu," katanya.

Istri dari Sersan E.P Noya, yang tinggal di Kamp Kazerne, Woerden, bercerita salah satu kesedihan yang mereka hadapi di kamp saat putrinya Noor berulang tahun.

"Suami saya berkata kepadanya [Noor], 'Papa tidak bisa memberikan pesta ulang tahun untukmu, seperti yang pernah didapatkan oleh Thom [anak laki-lakinya]'… Hari itu kami hanya makan nasi dengan bayam dan sebutir telur rebus."

"Suami saya duduk sambil memeluk Noor. Itu pertama kalinya saya melihat suami saya menangis. Dia tak bisa memberikan apapun saat ulang tahun putrinya."

Seorang perempuan berdarah Maluku sedang menjemur pakaian di Kamp Lunetten, Vught, pada 1984, yang pernah menjadi bekas kamp konsenterasi Nazi.

Sumber gambar, Sepia Times/ Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan berdarah Maluku sedang menjemur pakaian di Kamp Lunetten, Vught, pada 1984, yang pernah menjadi bekas kamp konsenterasi Nazi.

Selama di kamp, mayoritas warga Maluku masih berpikir akan dipulangkan ke kampung halaman. Bahkan, ada yang mempersiapkan radio agar bisa menyala dengan aki dan merajut jaring ikan untuk digunakan di Maluku.

Sejarawan Wim Manuhutu berkata generasi pertama Maluku merasa diperlakukan tidak adil.

"Perasaan diperlakukan tidak adil sangatlah kuat, begitu pula dengan keinginan untuk pulang. Karena mayoritas dari mereka hanya ingin kembali ke negara Maluku yang merdeka, hal tersebut tidak dapat terwujud," kata Wim.

Wim bilang mantan tentara KNIL Maluku itu tak bisa berbahasa Belanda, kehilangan pekerjaan sebagai tentara, ditempatkan dalam kamp terisolasi, iklim dan makanan berbeda, serta hubungan dengan kerabat di Maluku tak mungkin dilakukan.

Tahun berganti tahun dan mereka masih di Belanda.

Di luar campur tangan pemerintah, Wim berkata, sekelompok eks tentara KNIL itu mulai bekerja secara informal di Belanda, seperti menjadi buruh pabrik, pemetik buah musiman dan pekerja bangunan.

Pada 1956, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan swadaya, yaitu menghentikan segala bantuan untuk warga Maluku itu.

Imbasnya, mereka harus mencari pekerjaan, membeli makanan dan memasak sendiri. Jika tidak dapat pekerjaan, mereka bisa mengajukan tunjangan sosial.

Seperti yang dilakukan ayah Minggus yang menjadi petani serabutan dan buruh di pabrik kaca.

Kamp orang Maluku di Lunetten, Vught, pada 1984. Kamp itu bekas konsentrasi Nazi.

Sumber gambar, Sepia Times/ Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Kamp orang Maluku di Lunetten, Vught, pada 1984. Kamp itu bekas konsentrasi Nazi.

Kemudian, pemerintah membangun lebih dari 60 kampung atau permukiman khusus (wijk) Maluku pada 1960.

Salah satu alasannya adalah karena kamp sudah tak layak huni dan jauh dari lokasi tempat kerja.

Minggus berkata, awalnya rumah itu disewa dengan harga murah. Namun setelah pemerintah menyerahkan pengelolaan ke koperasi, "Biaya sewa jadi sangat besar."

Perlahan, kehidupan keluarga Minggus membaik. Ayahnya dan beberapa anggota keluarganya sudah bekerja.

Setelah lulus SMP, Minggus bekerja di pabrik kaca.

Mereka pun pindah ke rumah yang lebih besar di Leerdam, dekat Utrecht pada 1975.

Sekelompok orang Maluku mengenakan pakaian adat dan menari di Belanda.

Sumber gambar, Sepia Times/Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok orang Maluku mengenakan pakaian adat dan menari di Belanda.

Puluhan tahun berlalu, orang tua Minggus memutuskan pulang dan menetap di kampung halaman mereka, di Ambon pada 1998.

"Sampai mereka meninggal, segala janji tak pernah ditepati. Kadang mereka bilang Belanda itu parlente [tukang bohong]. Sebagai tentara Belanda, di satu sisi, mereka merasa sudah berkhianat ke Indonesia. Tapi di Belanda, mereka diabaikan dan hidup menderita," ujar Minggus.

Langkah yang sama juga diambil Minggus. Kini dirinya menghabiskan hari tua bersama sang istri di Kota Ambon.

Kehidupan generasi ketiga di Belanda

Keluarga besar Yopi Abraham.

Sumber gambar, Yopi Abraham

Keterangan gambar, Keluarga besar Yopi Abraham.

Kisah yang serupa juga disampaikan Yopi Abraham, generasi ketiga keturunan Maluku di Belanda.

Kakek dan nenek Yopi berasal dari Maluku Tengah, yaitu Pulau Seram dan Pulau Nusa Laut.

Yopi yang lahir pada 1974 di Belanda bilang, neneknya meninggal akibat asma. Sakitnya disebabkan oleh fasilitas perumahan yang buruk.

Selain itu, dia juga mendengar dari orang tuanya tentang makanan hingga layanan kesehatan yang tak memadai.

Pada periode awal 1951, angka kematian bayi dan anak Maluku di kamp cukup tinggi. Contohnya di kamp Schattenberg, sebanyak 9,5% dari 146 bayi yang lahir meninggal dunia. Angka itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional Belanda.

Yopi yang lahir pada 1974 di Belanda bilang, neneknya meninggal akibat asma. Sakitnya disebabkan oleh fasilitas perumahan yang buruk.

Sumber gambar, Yopi Abraham

Keterangan gambar, Yopi yang lahir pada 1974 di Belanda bilang, neneknya meninggal akibat asma. Sakitnya disebabkan oleh fasilitas perumahan yang buruk.

Perlakuan diskriminasi juga dialami Yopi. Contohnya saat dia mendaftar menjadi militer Belanda.

Yopi mendapat formulir yang berisi pernyataan diskriminatif, seperti "Apakah orang tua Anda terlibat dalam aksi politik RMS? Apakah orang tua Anda menentang kebijakan pemerintah Belanda?"

Baca juga:

Sedangkan rekan Belanda-nya hanya ditanya, "Apakah Anda alergi terhadap jenis makanan tertentu? Apakah Anda memiliki penyakit?"

"Saya keberatan. Saya tidak mau mengisi formulir itu, saya tak jadi daftar," ujarnya yang kini berprofesi sebagai seniman yang membawa identitas budaya Maluku.

Para peserta yang memainkan gendang tifa ikut serta dalam prosesi peresmian monumen baru untuk menghormati upaya para marinir Maluku pada tahun 1946, di Amsterdam pada 29 April 2026, dalam rangka peringatan 75 tahun kehadiran Maluku di Belanda. Pada tahun 1946, orang-orang Maluku pertama datang ke Belanda untuk pelatihan dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda, setelah itu mereka bertugas aktif di Amsterdam, serta di Indonesia dan bagian lain Kerajaan Belanda.

Sumber gambar, Ramon van Flymen / ANP / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para peserta memainkan musik tradisional dalam acara peresmian monumen nasional yang mengormati tentara Maluku Belanda pada 29 April 2026 lalu.

Selain itu, Yopi juga pernah mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.

"Di jalan, diteriaki monyet, kacang [pinda dalam bahasa Belanda, yang adalah ucapan rasis merujuk warna kulit coklat], kembali ke negaramu, dan hal semacam itu."

"Lalu saat keluar dari toko, saya selalu meminta struk belanja. Karena sering kali saya dihentikan di pintu keluar toko untuk menunjukkan isi tas saya, dan hal-hal seperti itu," ujarnya.

Dan hal itu, kata Yopi, masih terjadi sampai sekarang, khususnya di wilayah perbatasan Belanda dengan Jerman yang tidak banyak mengenal dan berinteraksi dengan orang Maluku.

Mengapa tentara KNIL Maluku dipindah ke Belanda?

Tentara KNIL Maluku bertugas di Aceh.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Tentara KNIL Maluku bertugas di Aceh.

Peristiwa itu setidaknya dapat dilihat ketika Jepang mengalahkan Belanda untuk menduduki Indonesia pada 1942.

Kekalahan itu menyebabkan tentara KNIL menjadi tahanan. Namun dalam perkembangannya, tentara KNIL dari Jawa, Melayu, dan lainnya dibebaskan, sementara pasukan KNIL Maluku tetap dijadikan tahanan perang oleh Jepang.

Situasi politik kembali berubah ketika Jepang kalah dari Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Belanda mencoba masuk ke Indonesia lewat Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Dan, KNIL menjadi tangan Belanda untuk melakukan Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II.

Konferensi Meja Bundar menyepakati pembubaran KNIL dan peleburan KNIL ke dalam satuan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Konferensi Meja Bundar menyepakati pembubaran KNIL dan peleburan KNIL ke dalam satuan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Namun, agresi itu gagal. Indonesia dan Belanda lalu berunding dalam Konferensi Meja Bundar pada 1949.

Hasilnya, Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara merdeka.

Selain itu, kedua pihak menyepakati pembubaran dan peleburan KNIL ke dalam satuan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Keputusan itu kemudian dilaporkan menimbulkan ancaman bagi pasukan KNIL Maluku yang tersebar di seantero Indonesia.

Ditambah lagi, munculnya pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950 yang dipimpin oleh Dr Soumokil dan mantan prajurit KNIL Maluku. RMS menolak integrasi wilayah Maluku ke dalam RIS.

Padahal, sejarawan Wim Manuhutu berkata, para tentara Maluku sempat mempertimbangkan untuk bergabung dengan tentara Indonesia ketika statusnya masih sebagai tentara RIS. Namun, mereka menolak perubahan saat bentuknya ke negara kesatuan.

Presiden Sukarno wafat pada 21 Juni 1970 dan CIA menegaskan sama sekali tidak ada kaitan dengan kematian itu.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Presiden Sukarno wafat pada 21 Juni 1970 dan CIA menegaskan sama sekali tidak ada kaitan dengan kematian itu.

Presiden Soekarno merespon dengan memerintahkan Operasi Pasupati dan menginvasi Kota Ambon.

Di tengah situasi perang itu, rencana pemulangan prajurit KNIL yang tersebar di berbagai titik wilayah Indonesia ke Maluku tak jadi dilakukan. Hal itu dikhawatirkan akan memperkuat perlawanan RMS.

Dalam situasi itu kemudian muncul delegasi Aponno, seorang mantan prajurit KNIL, yang menggugat negara Belanda ke pengadilan Tinggi Den Haag.

Mereka menentang pemindahan paksa pasukan KNIL Maluku ke wilayah RIS.

Delegasi Dr Appono di Belanda.

Sumber gambar, Collectie Moluks Historisch Museum

Keterangan gambar, Delegasi Dr Appono di Belanda.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Upaya Aponno pun berhasil. Pemerintah Belanda sepakat memindahkan pasukan KNIL Maluku ke Belanda untuk sementara waktu dan kemudian dipulangkan kembali.

Mereka diberangkatkan secara bertahap dari Surabaya, dan wilayah pelabuhan lainnya ke Rotterdam, Belanda.

Setibanya di Belanda, peneliti berdarah Maluku dari International Institute of Social Studies (ISS) - Erasmus University Rotterdam, Tamara Soukotta berkata, para tentara itu langsung dipecat dari militer Belanda.

Pemberhentian itu, kata Nur Aisyah Kotarumalos, menjadi "titik awal kebencian mereka terhadap pemerintah kolonial Belanda yang tidak tahu balas budi walau mereka telah mengabdi dengan sebaik-baiknya."

Namun tak semua pasukan KNIL Maluku pindah ke Belanda. Ada juga yang tetap tinggal di kota-kota Indonesia, seperti Jakarta.

Mengapa orang Maluku bergabung KNIL?

Hindia Belanda disebut memberikan pengistimewaan bagri orang Maluku yang masuk KNIL.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Hindia Belanda disebut memberikan pengistimewaan bagi orang Maluku yang masuk KNIL.

Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) dibentuk setelah berakhirnya Perang Diponegoro, pada abad ke-18. Selama lebih dari satu abad, KNIL bertugas menjaga keamanan kolonial di wilayah Hindia Belanda.

Jumlah mereka diperkirakan mencapai puluhan ribu personel, dan pasukan KNIL Maluku sekitar 4.000 orang pada 1930. Angka itu lebih kecil dari pasukan KNIL asal Jawa.

Relasi antara Maluku dan Belanda mulai terjadi sejak abad ke-16, saat organisasi perdagangan Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) memonopoli rempah seperti cengkeh dan pala dari Maluku.

"Maluku dijajah benar-benar 350 tahun. Sebelum Belanda sudah ada Portugis, sudah ada Spanyol, Inggris sempat masuk juga. Jadi Maluku boleh dibilang mengalami semua penjajahan Eropa," kata Tamara.

 Peneliti berdarah Maluku dari International Institute of Social Studies (ISS)  - Erasmus University Rotterdam, Tamara Soukotta.

Sumber gambar, Dick de Jager

Keterangan gambar, Peneliti berdarah Maluku dari International Institute of Social Studies (ISS) - Erasmus University Rotterdam, Tamara Soukotta.

Selama berabad-abad, ujar Tamara, orang Maluku mengalami penderitaan, seperti penghancuran empat kesultanan di Maluku melalui politik adu domba, genosida Banda oleh VOC pada 1621, dan penjajahan Hindia Belanda.

"Tidak hanya penghancuran alam dan manusia lewat operasi militer, tapi juga penghancuran sistem hidup lewat pemaksaan agama untuk membuat mereka patuh ke penjajah," kata Tamara.

Relasi yang terbentuk ratusan tahun itu kemudian digunakan Belanda untuk merekrut orang Maluku sebagai tentara KNIL.

"Narasi yang dibangun mereka memiliki tingkat kesetiaan dan loyalitas yang solid karena kesamaan agama, lalu ikatan historis penjajahan ratusan tahun, yang membuat orang Maluku dianggap lebih gampang patuh sebagai tentara," tambah Tamara.

Batalyon Garnisun Ambon dan Ternate di depan pintu masuk Benteng Nieuw Victoria di Ambon.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Batalyon Garnisun Ambon dan Ternate di depan pintu masuk Benteng Nieuw Victoria di Ambon.

Dalam bukunya yang berjudul Pointy Shoes and Pith Helmets: Dress and Identity Construction in Ambon from 1850 to 1942, Marianne Hulsbosch menulis, bahwa Belanda memberikan pengistimewaan ke orang Maluku.

Di antaranya seperti pendidikan anak yang baik, gaji dan tunjangan yang lebih tinggi, makanan layak dan bergizi, hingga kebebasan berpenampilan yang menunjukkan kedekatan dengan budaya Eropa.

Bahkan, Mantan Duta Besar Indonesia, Johannes Dirk de Fretes bilang sistem penjajahan Belanda membentuk struktur pendidikan, terutama buku-buku bacaan sekolah rakyat di Ambon, yang di dalamnya ditanamkan prasangka atas suku Jawa dan lain-lain.

"Sampai-sampai pemuda-pemuda di Ambon hanya bersekolah dengan cita-cita kelak bisa menjadi anggota tentara KNIL dan marine," ujar Johannes.

Anak sekolah di Maluku menjadi petugas upacara perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina dari Belanda, di Pulau Seram, Maluku.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Anak sekolah di Maluku menjadi petugas upacara perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina dari Belanda, di Pulau Seram, Maluku.

Keistimewaan yang bagian dari politik adu domba itu menciptakan kesenjangan antara pasukan KNIL Maluku dengan dari suku lain, ujarTamara.

Pasukan KNIL Maluku mendapatkan stigma negatif, seperti pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, dengan cap 'pengkhianat bangsa', 'anjing Belanda', dan lainnya.

Implikasinya muncul kekerasan dan aksi diskriminatif terhadap komunitas Maluku di Surabaya, Jakarta dan Makassar pada periode itu.

Padahal, banyak pasukan KNIL juga berasal dari suku lain. Contohnya adalah Oerip Soemohardjo, Gatot Soebroto, Soeharto, dan Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Abdul Haris Nasution. Mereka dididik di sekolah militer KNIL.

Terdapat juga sejumlah tokoh intelektual Maluku dengan tegas menolak penjajahan Belanda. Pendiri Sarekat Ambon, Alexander Jacob Patty. Lalu Jeremias Kayadoe dan Johanes Leimena, yang mendirikan Jong Ambon dan terlibat dalam Kongres Pemuda.

Kemudian Johannes Latuharhary, anggota BPUPKI dan gubernur pertama Maluku. Salah satu perlawanannya terangkum dalam pidatonya berjudul 'Azab Sengsara Kepoelauan Maloekoe'.

Transformasi lintas generasi tentang Belanda, Indonesia dan Maluku

Sekelompok orang Maluku di Belanda menghadiri acara peresmian monumen nasional Ulu Kora di Rotterdam, 21 Juni 2026.

Sumber gambar, Robin Utrecht / ANP / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok orang Maluku di Belanda menghadiri acara peresmian monumen nasional Ulu Kora di Rotterdam, 21 Juni 2026.

Peneliti Tamara Soukotta, berkata rangkaian kekerasan itu bertransformasi dalam lintas generasi orang Maluku di Belanda.

Generasi pertama, yaitu prajurit KNIL Maluku. Mereka melewati kesulitan hidup, janji-janji palsu, di tengah bayang-bayang harapan pulang. Mayoritas dari mereka kini telah meninggal dunia.

Generasi kedua adalah anak dari prajurit KNIL Maluku yang lahir dan besar di Belanda.

Mereka kehilangan kesempatan untuk hidup dengan normal, di tengah ketidakpastian apakah akan tinggal di Belanda atau pulang ke Maluku.

"Mereka lahir dan dibesarkan di Belanda, namun terisolasi dari masyarakat Belanda. Banyak dari mereka memandang RMS sebagai simbol identitas dan tanah air mereka, serta tidak menerima cara orang tua mereka diperlakukan," ujar Tamara.

Generasi kedua itu kemudian melakukan perlawanan, yang salah satu tujuannya agar mereka dipulangkan oleh pemerintah Belanda ke Maluku.

Foto arsip ini, yang diambil pada 11 Mei 1977, menunjukkan asap mengepul keluar dari kereta api selama krisis pembajakan di dekat kota De Punt, Belanda. Pengadilan Belanda pada 1 Februari 2017 memerintahkan penyelidikan mendalam atas kematian dua penyandera asal Maluku pada tahun 1977 yang menurut keluarga mereka dieksekusi dari jarak dekat oleh marinir saat mereka menyerbu kereta api yang dibajak.

Sumber gambar, STR/ANP/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Beberapa orang Maluku di Belanda melakukan pembajakan kapal api di dekat kota De Punt, Belanda.
Sekelompok perempuan Maluku di Belanda berdemonstrasi saat persidangan kasus pembajakan kereta di Assen, pada 12 Maret 1976.

Sumber gambar, Sepia Times/ Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok perempuan Maluku di Belanda berdemonstrasi saat persidangan kasus pembajakan kereta di Assen, pada 12 Maret 1976.

Perlawanan itu disebut pemerintah Belanda sebagai aksi teror. Di antaranya adalah pembajakan kereta api Groningen menuju Amsterdam, pendudukan konsulat Indonesia di Amsterdam, dan gedung pemerintahan di dekat Assen.

Rangkaian aksi perlawanan itu membentuk karakteristik generasi ketiga dan keempat, yaitu bertransformasi dari orang buangan menjadi migran.

Generasi ini mulai menerima diri mereka tinggal dan menjadi warga negara Belanda. Namun, mereka tetap mencari akar leluhur mereka melalui partisipasi komunitas budaya, kesenian dan sosial Maluku.

Generasi ini perlahan mulai berintegrasi dan berorientasi di Belanda.

"Generasi ini dengan upaya mereka sendiri bertahan dan sukses, misalnya sebagai artis, musisi, pekerja kreatif, maupun peneliti," kata Tamara.

"Mereka ada dan menjadi seperti sekarang karena kerja keras dan resistensi, semangat melawan dan semangat untuk tetap ada, terlepas dari semua kekerasan yang mereka alami. Dan itu yang menurut saya perlu dilihat, lebih daripada soal permintaan maaf dari perdana menteri," tambahnya.

Walaupun demikian, Tamara berkata empat generasi itu hidup di antara dua negara yang sama-sama tidak mereka pilih.

"Mereka berada di antara tidak pernah diakui Indonesia, tidak juga diakui Belanda. Oleh Indonesia dianggap gangguan dan oleh Belanda juga dianggap beban," kata Tamara.

Ketika masih kecil, Yopi sebagai generasi ketiga, dibesarkan di era di mana Belanda dilihat sebagai penindas dan Indonesia sebagai musuh.

Namun usai dirinya melakukan perjalanan ke Maluku dan berinteraksi dengan beragam orang di Indonesia, kebencian yang awalnya ada lalu bertransformasi menjadi kepedulian dan fokus pada soal persaudaraan, kelestarian budaya dan penolakan deforestasi di Maluku.

"Walaupun ada banyak perbedaan posisi, saya secara pribadi tidak lagi merasa dibatasi tembok-tembok perbedaan ketika kita benar-benar mencoba untuk saling terhubung. Dari kerja-kerja bersama kelompok-kelompok lain di Maluku, di Indonesia, saya melihat bahwa kita sedang melakukan banyak hal penting," kata Yopi.

"Belajar dari masa lalu dan juga dari perbedaan-perbedaan yang ada, kita sedang bersama-sama mencoba menciptakan masa depan yang lebih baik, lebih indah, salah satunya dengan menemukan titik-titik temu di tengah perbedaan yang ada," tutupnya.