The Matrix Resurrections: Sekuel yang kekurangan 'ambisi visioner' pendahulunya

    • Penulis, Nicholas Barber
    • Peranan, BBC Culture
  • Telah diterbitkan

Sudah 18 tahun sejak trilogi Matrix tamat, jadi mengapa Lana Wachowski memutuskan untuk menghidupkan kembali waralaba ini? Dia memberikan jawabannya di awal The Matrix Resurrections.

Film dimulai dengan menceritakan bahwa Neo (Keanu Reeves) bukan lagi pahlawan berkekuatan super yang membebaskan umat manusia dari penguasa robot di The Matrix Revolutions. Dia sekarang adalah seorang software programmer bernama Thomas Anderson, seperti pada awal The Matrix.

Anderson terkenal karena menciptakan tiga video gim terkenal berjudul The Matrix. Dia bersumpah ia tidak akan pernah membuat gim Matrix lagi, namun dengan berat hati akhirnya melakukannya setelah seorang koleganya berkata, "Perusahaan induk kita, Warner Brothers, akan membuat sekuel trilogi - dengan atau tanpa kita."

Jadi begitulah: Wachowski (kali ini tanpa kakaknya, Lilly) membuat The Matrix Resurrections hanya karena dia tidak ingin ada orang lain yang melakukannya.

BACA JUGA:

Entah itu benar-benar motivasi utamanya atau bukan, babak pembuka film ini penuh dengan adegan yang merujuk pada film-film Matrix sebelumnya. Seakan-akan, mereka mengomentari para penggemar waralaba ini dan studio produksinya sendiri.

Bagian terbaik dari adegan-adegan awal ialah ketika mereka mempertanyakan apakah petualangan Neo benar-benar terjadi, atau apakah itu hanya khayalan seorang pegawai kantoran yang getir. Benarkah dia pernah jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Trinity (Carrie-Anne Moss), atau apakah dia hanya bertemu dengan perempuan bernama Tiffany di sebuah kafe dan menggunakannya sebagai model untuk karakter tersebut di video gim? Terapisnya (Neil Patrick Harris) bersikeras bahwa semua khayalannya akan hilang jika ia terus meminum pil birunya (simbol penting dalam The Matrix), dan Anderson menurut.

Lucu juga melihat Anderson yang kikuk berusaha menggoda Tiffany: Reeves tidak pernah terlihat serentan ini. Dan lelucon meta itu dengan tegas membedakan The Matrix Resurrections dari trilogi orisinalnya.

Namun skenario yang ditulis oleh Wachowski, David Mitchell, dan Aleksander Hemon tidak dapat mempertahankan ambiguitas ini selamanya. Tidak lama kemudian, misteri diabaikan, dan kembali ke bisnis seperti biasanya: Neo akhirnya percaya bahwa dia sebenarnya sedang berbaring tak sadarkan diri di masa depan, dan kehidupan Abad 21 yang dia jalani adalah konstruksi realitas virtual yang dijalankan oleh mesin.

Setelah itu, Wachowski menggunakan trik Matrix lamanya. Di dunia nyata yang hancur, ada kota-kota bawah tanah yang suram, pesawat ruang angkasa kumal, robot dengan tentakel metal, dan sweater rajutan yang melihatnya saja sudah membuat Anda gatal. Di dunia virtual, ada kejar-kejaran motor, tembak-tembakan, dan perkelahian di mana orang-orang berlari di atas tembok atau melempar lawannya ke sana. Dan di kedua dunia, ada banyak pidato panjang lebar yang bermakna atau pretensius atau kombinasi keduanya.

Film ini masih kelihatan keren dan stylish, dengan beberapa konsep filosofi dan politik yang provokatif, namun mengingat waralaba ini pernah identik dengan inovasi, sebagian besar The Matrix Resurrections terasa sangat familier.

Betul, kaca mata hitamnya lebih keren, dan para karakternya punya lebih banyak tato, namun cuma itu kemajuannya yang paling signifikan. The Matrix Reloaded dan The Matrix Revolutions mungkin agak membingungkan, namun bahkan mereka punya ambisi yang visioner dan mendobrak batas, hal-hal yang kurang terasa dalam film ini.

Bukan hanya kefamilierannya yang mengecewakan, Sebagaimana sekuel-sekuel lain yang mengandalkan nostalgia seperti Star Wars: The Force Awakens dan Ghostbusters: Afterlife, film ini juga menyajikan semua bumbu khasnya, namun mereka tidak seenak sebelumnya.

Barangkali The Matrix Reheated adalah judul yang lebih cocok. Adegan perkelahiannya kurang koheren dibandingkan trilogi pertama, alur ceritanya tidak terasa penting atau mendesak, dan kostum serta karakternya tidak sekeren pendahulunya.

Rekan utama Neo bukan lagi Trinity tapi Bugs, diperankan oleh Jessica Henwick; ada versi alternatif Morpheus, diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II; dan ada inkarnasi terbaru Agen Smith yang jahat, diperankan oleh Jonathan Groff. Ketiga aktor muda ini berbakat dan karismatik, namun tidak satu pun dari mereka yang dapat menyamai karisma Moss, Hugo Weaving, dan Laurence Fishburne.

Setidaknya, Moss mendapat beberapa adegannya sendiri. Weaving dan Fishburne tidak muncul sama sekali, kecuali dalam cuplikan rekaman arsip. Anda hanya perlu mengingat cara unik Weaving menyebut "Mr Anderson" untuk memahami bahwa, tanpa dia, The Matrix Resurrections akan selalu menjadi titik terendah dalam serial ini.

Jadi apakah Wachowski benar-benar membuat film superhero yang cukup solid ini supaya tidak ada orang lain yang membuatnya? Mungkin tidak, tetapi sulit mencari alasan lain. Barangkali memang lebih baik jika ia menyerahkan sekuel Matrix terbaru ini ke orang lain.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris ulasan ini di BBC Culture.