Kisah korban KDRT yang membunuh pasangannya – 'Dia bilang akan membunuh saya dan anak saya, lalu bunuh diri'

Sumber gambar, iStock / Getty Images Plus
- Penulis, Mariana Rosetti y Paola Churchill
- Peranan, BBC News Brasil
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 9 menit
Peringatan! Artikel ini berisi deskripsi kekerasan yang mungkin bisa mengganggu sebagian pembaca.
Dalam sekejap, nyawa Milene Vasconcellos berada di ujung tanduk.
Rafael mencoba mencekik dan melemparkan Milene ke sofa. Laki-laki itu mengabaikan permohonan Milene untuk menghentikan kekerasan. Dia justru semakin intensif, kata Milene kepada polisi.
Milene bilang, dalam posisi itu dia menatap ke arah dapur dan melihat pisau.
"Jika kau memukul saya sekali lagi, saya akan menggunakan apa pun untuk membela diri," kata perempuan berusia 38 tahun itu.
Milene memperingatkan Rafael, menurut berkas laporan polisi.
Namun Rafael tidak berhenti. Milene lalu melayangkan satu pukulan fatal.
Rafael dan Milene adalah pasangan suami-istri. Mereka tinggal di Santo André, di Negara Bagian São Paulo, Brasil, ketika peristiwa itu terjadi pada 2024.
Sekitar 400 kilometer dari tempat tinggal Rafael dan Milene, tepatnya di Nova Iguaçu, Ursula Ricardo Francisco menembak dan membunuh suaminya yang berprofesi sebagai polisi militer. Kejadian itu juga terjadi di dapur, tapi pada 2008.
Ursula adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Sekarang dia berusia 55 tahun dan seorang pekerja sosial.
Ursula bilang, dia memutuskan untuk menembak suaminya itu setelah mendengar pasangannya berkata, "Saya akan membunuhmu dan anak kita, lalu saya akan bunuh diri."
Atas peristiwa ini, Milene dan Ursula mengeluarkan klaim yang sama: mereka bereaksi untuk membela diri setelah bertahun-tahun menderita.

Sumber gambar, Getty Images
Kasus Milene sedang diselidiki oleh Kejaksaan Agung Brasil. Apakah Milene akan dibawa ke meja hijau atau tidak, tergantung pada keputusan lembaga tersebut.
Ursula, di sisi lain, telah dibebaskan oleh pengadilan. Dia menunggu putusan itu selama hampir satu dekade.
Dalam kasus Ursula, perbuatannya dianggap pembelaan diri. Oleh karenanya, tindakan Ursula tidak dianggap kejahatan. Aturan di Brasil, menurut hakim dalam kasus itu, mengatur bahwa reaksi Ursula sebanding dengan risiko yang mengancam jiwanya.
Namun, pembuktian soal pembelaan diri dari ancaman keselamatan seperti ini tidak selalu mudah, menurut para ahli yang diwawancarai oleh BBC Brasil.
Pengakuan pembelaan diri tersebut yang sah secara hukum bergantung pada berbagai faktor, dari kualitas pengacara yang mendampingi, dan hasil penyelidikan polisi, hingga seberapa besar hegemoni maskulinitas dalam persidangan.
'Saya pikir saya bisa menyelamatkannya'
Milene mengatakan kepada polisi bahwa dia dan Rafael bertemu di Facebook pada 2017. Percakapan pertama mereka itu berlangsung singkat, karena Rafael ditangkap polisi beberapa minggu kemudian.
Menurut versi Milene, mereka kembali berhubungan ketika Rafael mencarinya pada September 2023.
Rafael baru saja dibebaskan dari penjara dan tidak punya tempat tinggal. Bagi Milene, ini adalah kesempatan untuk memulai hidup baru.
"Saya pikir saya bisa menyelamatkannya entah bagaimana," kata Milene.
Keduanya mulai tinggal bersama pada awal 2024. Setelahnya, Milene menyebut Rafael melakukan serangan pertama pada suatu sore, ketika dia pulang kerja.
Saat itu, Milene mendapati Rafael sedang menggunakan narkotik.
"Dia mengambil pisau dan mulai menyerang saya," ceritanya.
Milene berkata, Rafael juga merusak peralatan dapur dan perabotan di rumah mereka.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Aparat kepolisian lantas datang ke lokasi itu, setelah dihubungi tetangga Milene. Polisi menemukan Milene terluka. Rafael lantas ditangkap dengan tuduhan mencoba melakukan pembunuhan.
Di kantor polisi, Milene mengajukan Tindakan Perlindungan Darurat. Ini adalah instrumen yang diatur dalam Undang-Undang Maria da Penha, undang-undang di Brasil untuk melawan kekerasan gender.
Regulasi itu disahkan untuk memisahkan pelaku dan korban, agar kekerasan tidak semakin memburuk.
Dua hari kemudian, dalam pernyataannya kepada seorang komisaris polisi, Milene justru bilang bahwa dia berencana untuk kembali bersama Rafael.
Polisi itu, kata Milene, kemudian memberinya peringatan sekaligus nasehat. "Orang ini akan membunuhmu atau kau yang akan membunuhnya," kata sang polisi.
Meskipun mendapat peringatan dari ibunya, teman-temannya, dan bahkan polisi, Milene—yang sudah terperangkap dalam siklus kekerasan—mekanisme perlindungan darurat itu dihentikan.
Sebulan setelah Rafael dibebaskan, Milene kembali menerima pasangannya itu. Namun kemudian Milene membunuhnya.
Pembelaan diri
Pembelaan diri diatur dalam Pasal 25 KUHP Brasil. Aturan ini menyebut bahwa seseorang tidak akan didakwa melakukan kejahatan ketika bereaksi terhadap serangan yang tidak adil, baik yang sedang atau akan segera dialami, dengan menggunakan "cara yang diperlukan dan tidak berlebihan".
Serangan yang tidak adil "adalah setiap tindakan kekerasan yang tidak dilindungi oleh hukum," kata Chimelly Marcon, jaksa penuntut umum untuk Kejaksaan Santa Catarina. Dia juga berstatus peneliti bidang gender di Universitas Nova Lisbon.
"Ini adalah setiap serangan yang melanggar hak—hak untuk hidup, integritas fisik, kebebasan, martabat—tanpa dasar hukum," ujarnya.

Sumber gambar, Getty Images
Dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, ancaman biasanya tidak dianggap sebagai serangan mendadak, melainkan sebagai keadaan risiko permanen, kata Marcon.
Dia menyebut siklus kekerasan biasanya tidak linier. Artinya, melibatkan fase serangan, penyesalan, janji, pengendalian emosi, dan ketergantungan. Siklus ini dapat membuat korban terjebak dalam hubungan yang penuh kekerasan selama bertahun-tahun.
"Mengakui situasi seperti itu bukan berarti mengidealkan kejahatan [pembunuhan pasangan yang melakukan kekerasan]," kata Marcon.
"Namun kita juga tidak dapat mengabaikan realitas kekerasan dalam rumah tangga sebagai fenomena yang kompleks dan progresif," ujarnya.
'Saya belajar menembak di bawah tekanan'
Ursula mengatakan dia belajar menembak dari suaminya sendiri, yang seorang polisi.
"Dia pulang dari barak, meletakkan senjatanya di atas meja, mengeluarkan semua peluru dari magazen, dan memerintahkan saya untuk memasukkannya kembali. Ketika saya gagal, dia akan memukul tangan saya," katanya.
"Saya belajar menembak di bawah tekanan. Dan itulah penyelamat saya, karena jika saya tidak tahu cara menembak, saya pasti sudah mati," ucapnya.
Serangan fisik pertama yang dihadapi Ursula terjadi ketika dia dan pasangannya akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-10. Peristiwa itu bertepatan dengan periode ketika perdebatan tentang Undang-Undang Maria da Penha dimulai.
Ursula menyebutkan tonggak sejarah ini karena dia ingat ancaman suaminya. "Jika kau melaporkanku, aku akan membunuhmu, memasukkanmu ke dalam karung dan membuangmu ke sungai."
Ursula mengatakan, dia tidak pernah melaporkan suaminya karena takut. Alasannya bukan hanya karena ancaman itu, tapi juga karena suaminya adalah seorang polisi.
Ana Paula de Oliveira Antunes, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam hukum keluarga selama 25 tahun menyebut banyak korban tidak melaporkan pelaku kekerasan.
"Korban tidak mencari bantuan karena mereka didiskreditkan. Sangat sulit untuk pergi ke kantor polisi. Mereka diekspos, kredibilitas mereka dirusak, dan mereka menjadi korban lagi," jelas Antunes.
"Itulah mengapa sebagian besar perempuan yang menderita kekerasan tidak mencari bantuan karena mereka tidak merasa dilindungi oleh sistem," ujarnya.

Sumber gambar, The Image Bank
Awalnya, Ursula berpikir ketika mereka memiliki anak, hubungan dia dengan suaminya akan pulih. Namun suaminya ternyata juga melakukan kekerasan terhadap putra mereka. Ursula lantas mengajukan gugatan cerai.
Ursula lalu menerima dua pesan dari suaminya. Yang pertama: "Kau hanya akan pergi dari sini dalam keadaan mati."
Yang kedua: "Kau boleh mengambil kulkas, kompor, apa pun yang kau mau, tapi kau tidak akan mengambil putraku." Karena takut, ia memutuskan untuk tetap tinggal.
Pada hari ia membunuh suaminya, di Februari 2008, Ursula ingat bahwa pasangannya itu pulang dengan sangat gelisah dari tempat kerja. Suaminya melontarkan "ancaman yang tidak hanya muncul pada hari itu, tapi sudah ada sebelumnya."
"Dia mulai mengatakan bahwa ia benar-benar akan membunuhku, membunuh anakku, dan kemudian bunuh diri," ujarnya.
Setelah melontarkan ancaman lain, suaminya pergi ke kamar tidur untuk mengambil senjatanya.
"Tapi aku sudah lebih dulu mengambilnya dari dapur dan menembaknya," kenang Ursula.
BBC Brasil mencoba menghubungi kerabat suami Ursula untuk memberikan komentar tentang kasus ini, tapi tidak berhasil.
Investigasi dan pembebasan
Di kantor polisi, kasus Ursula sejak awal diperlakukan sebagai pembelaan diri. Dia dibebaskan dari tanggung jawab atas kejadian tersebut.
Kepolisian di Brasil memiliki otonomi untuk menunjukkan interpretasi ini dalam laporan investigasi mereka, seperti yang terjadi dalam kasus Milene.
Namun, ini tidak berarti bahwa orang tersebut sudah dibebaskan. Investigasi polisi dirujuk ke Kejaksaan Negeri, yang dapat meminta pembatalan kasus, bukti baru atau mengajukan tuntutan.

Sumber gambar, Getty Images
Kasus Milene berada dalam fase ini, yaitu fase analisis oleh Kejaksaan.
Jika kejaksaan mengajukan tuntutan, pengadilan akan meninjau kasus tersebut dan memutuskan apakah akan menerima klaim pembelaan diri. Hakim kemudian akan mengeluarkan vonis akhir.
Komisaris Viviane Costa Rios, polisi yang menyelidiki kasus Milene, mengatakan bahwa dia tidak ragu perempuan itu bertindak membela diri.
Dia menyebut "telah terjadi serangan sebelumnya, Rafael memiliki catatan kriminal atas perampokan, pencurian, dan percobaan pembunuhan terhadap Milene serta ada laporan menunjukkan bahwa laki-laki itu berada di bawah pengaruh alkohol dan narkoba pada saat kematiannya."
Dalam kasus Milene, senjata yang digunakan adalah pisau dapur, yang ada dalam jangkauan Milene selama serangan itu.
"Terjadi satu tusukan. Milene menghubungi layanan darurat, mencoba membantu suaminya, menghentikan pendarahan, dan menunggu polisi tiba," kata komisaris polisi tersebut.
Duduk di mejanya di kantor polisi, Viviane menekankan bahwa Milene berada dalam situasi dengan risiko yang sangat mengancam.
"Dia sudah melancarkan serangannya. Jika dia keluar untuk meminta bantuan, apakah dia akan selamat?" tanyanya. "Saya rasa tidak," kata Viviane.
Komisaris polisi tersebut menyatakan, selama 16 tahun pengabdiannya di kepolisian sipil, ini adalah kasus pembelaan diri pertama yang pernah dia temui.
BBC Brasil mencoba menghubungi keluarga Rafael untuk membahas kasus ini, tetapi tidak mendapat tanggapan.
'Saya membebaskannya'
Ketika menyadari suaminya tidak bergerak, Úrsula mempertimbangkan untuk bunuh diri, tapi berhenti ketika mendengar putranya memanggilnya dari gerbang.
"Lalu saya tersadar 'Saya sudah menangkapnya, saya harus lari,'" pikirnya.
Ursula lalu mengambil sekaleng susu dan konsol video game putranya lalu melarikan diri.
Pertama, dia pergi ke rumah saudara laki-lakinya. Dari sana dia menelepon polisi dan mengatakan suaminya telah meninggal.
Kemudian, Ursula ke rumah ayahnya. Selanjutnya, ke rumah seorang teman.
Seminggu kemudian, dengan seorang pengacara, dia pergi ke kantor polisi dan mengaku telah membunuh suaminya.
Komisaris polisi mengizinkan Ursula untuk tetap bebas, tapi mendakwanya dengan pembunuhan biasa. Kategori ini adalah kejahatan ketika tidak ada keadaan yang memberatkan.
Persidangan berlangsung selama sembilan tahun untuk mencapai penyelesaian tingkat pertama. Ursula menyebut periode ini sebagai "teror psikologis."
Menurutnya, sidang terus-menerus dibatalkan dan dijadwal ulang karena berbagai alasan. Namun hasilnya tidak biasa: jaksa penuntut meminta pembebasan secara ringkas.
Artinya, hakim menolak kasus tersebut sejak awal, tanpa mendengarkan saksi atau mengumpulkan bukti baru.
Menurut permintaan jaksa penuntut, hakim tingkat pertama membebaskan Úrsula pada tahun 2017.
"Dengan ini saya membebaskan Anda secara ringkas dari semua tuduhan. Pergilah dari sini. Urus urusanmu sendiri dan urusan anakmu," kata hakim kepadanya.

Sumber gambar, Dokumen pribadi
Pembela umum Gláucia Fonseca, yang ikut campur dalam kasus tersebut, menyaksikan kata-kata hakim di pengadilan.
Menurut Fonseca, kisah Ursula menunjukkan unsur-unsur yang umum dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga, yaitu serangan sehari-hari, profesi suami, alkohol sebagai faktor yang memperburuk, dan pola kekerasan.
"Penghinaan dalam segala bentuk. Penghinaan yang akhirnya menyebabkan dampak emosional yang besar," ujarnya.
Meskipun demikian, penyelidikan polisi tidak membahas riwayat kekerasan tersebut.
"Kisah perempuan itu diabaikan. Polisi tidak menyelidikinya," kata Fonseca.
"Seringkali, perempuan itu diperlakukan sebagai orang yang kasar, cemburu, atau histeris," ujarnya.
'Saya membayar harga yang mahal'
Ursula mengatakan bahwa, selama sembilan tahun proses itu berlangsung, hidupnya terhenti.
Ketika dia menikah, dia adalah seorang ibu rumah tangga. Setelah membunuh suaminya, dia kembali bersekolah untuk menghidupi dirinya dan putranya sendiri.
Selama bertahun-tahun menunggu persidangan, setiap kali sidang dijadwalkan, ia berpikir, "Bagaimana jika saya ditangkap? Siapa yang akan merawat putra saya?"
Ursula tidak bisa melakukan perjalanan jauh atau pindah ke tempat yang jauh dan takut menerima pekerjaan bagus yang membutuhkan perjalanan.
"Saya akan menangis terus-menerus... Lalu saya berhenti menangis. Perlahan-lahan saya menjadi lebih kuat. Satu-satunya kekhawatiran saya adalah putra saya," kata Ursula.
Sekarang Ursula terus menerima telepon dari para prempuan yang meminta bantuan dan memberikan nasehat terkait persoalan kekerasan dalam rumah tangga.
"Ketika saya memberikan ceramah, saya selalu mengatakan, 'Jangan lakukan apa yang saya lakukan, oke?' Karena saya telah membayar harga yang mahal."





























