Kapal Nurul Salsa tenggelam di Sulsel, belasan orang belum ditemukan – 'Berharap ada keajaiban'

    • Penulis, Muh Aidil
    • Peranan, Wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Peristiwa tenggelamnya kapal KM Nurul Salsa di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Rabu 15 Juli 2026 menyisakan penantian panjang bagi keluarga korban.

Andi Eka Gurnati, salah satu keluarga korban, masih menunggu kabar dari tim penyelamat terkait lima orang anggota keluarganya yang sampai hari ini belum diketahui keberadaannya.

Mereka adalah bagian dari 18 orang yang belum ditemukan sejak kapal KM Nurul Salsa tenggelam pada Rabu (15/07), menurut tim penyelamat dari Basarnas Makassar.

Sebanyak 78 orang berada di atas kapal KM Nurul Salsa saat kapal itu tenggelam, menurut Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar. Delapan di antara mereka adalah anak buah kapal.

Hingga hari keenam operasi pencarian, Senin (20/7) malam, total korban yang ditemukan dalam keadaan selamat tercatat sebanyak 59 orang. Sebanyak satu orang ditemukan meninggal dunia.

Operasi pencarian masih dilakukan dengan memperluas area pelacakan dan melibatkan berbagai pihak.

Berharap ada keajaiban

Raut wajah Andi Eka Gunarti, seorang perempuan berusia 37 tahun, memancarkan kecemasan dan kesedihan. Sudah hampir seminggu dia menunggu kabar dari tim pencari terkait keberadaan lima anggota keluarganya.

Sebelum peristiwa itu terjadi, sebanyak enam anggota keluarganya menghadiri acara pesta perkawinan keluarga di Pulau Jampea, Kepulauan Selayar, Minggu (12/07).

Keenam orang itu adalah Muhammad Umar (88 tahun), Maridaeng (65 tahun), Naurah Bintany Syafiah (13 tahun), Sahrul Amin (53 tahun), Bau Intang (50 tahun), dan Rosmaeni (56 tahun).

Setelah acara selesai, keenam orang itu bersama-sama berangkat dari Pelabuhan Ujung Jampea menuju Pelabuhan Benteng Jampea, Selayar, pada Rabu (15/07) subuh. Mereka menumpang kapal KM Nurul Salsa.

Hari itu, Eka yang masih berada di kantornya, di Benteng, Selayar, menghubungi salah satu keluarganya, Rosmaeni, yang berada di atas kapal itu sekitar pukul 10.00 WITA.

Dia ingin mengetahui posisi kapal KM Nurul Salsa yang ditumpangi keluarganya tersebut.

"Saya hubungi karena anak saya [Naurah] kan ada di situ [kapal]. Saya mau tahu kepastiannya, dia posisi kapalnya sekarang di mana. Pada saat saya telepon, sudah panik, katanya 'minta tolong, ini kapal sudah mati mesin'," kata Eka kepada wartawan Muh. Aidil di Makassar yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Sabtu (18/7).

Baca juga:

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea di Kepulauan Selayar, Mohamad Nasir Radjab, pihaknya menerima laporan mati mesin dari kapal KM Nurul Salsa pada 11.25 WITA.

Dari situ, kata dia, pihaknya kemudian melakukan koordinasi dengan Basarnas Selayar, SROP Selayar, Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintah daerah dan lainnya untuk melakukan evakuasi dan penanganan darurat.

Tim SAR di Selayar kemudian menghubungi para keluarga penumpang, termasuk Eka.

Eka mengaku dimintai nomor telepon dan lokasi para penumpang yang ada di atas kapal KM Nurul Salsa.

Menurut Eka, posisi kapal KM Nurul Salsa yang ditumpangi keluarganya pada saat itu belum sampai di Pelabuhan Benteng Jampea, Selayar.

"Tidak sampai ke Pelabuhan Benteng, terus terjadi itu insiden karena mesinnya mati. Masih di pertengahan [jalan]," jelas Eka.

Di tengah kondisi itu, Eka tetap terus menghubungi keluarganya. Dia berusaha menenangkan keluarganya yang masih berada di atas kapal tersebut.

"Saya bilang: 'sabar, sabar, sabar'. Sudah menuju ke situ kapal," kata dia.

"Tapi posisinya sudah panik semua, sudah menangis," tambah Eka.

Dalam pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Rosmaeni, Eka menanyakan berbagai hal, termasuk soal kondisi anaknya, Naura Bintany Syafiah dan ayah mertuanya, Muhammad Umar.

"Jadi sempat saya cerita dengan bapak mertua [Umar]. Saya tanyakan anak saya [Naura], 'anak saya di mana?'"

"'Tidak apa-apa nak, anak kamu ada di sini. Saya peluk ini, tapi jangan panik nak karena posisi kapal sudah mau ke Pulau Polassi, kan sudah dilihat itu pulaunya'," tutur Eka menirukan perkataan mertuanya saat itu.

Dalam kondisi itu, Eka juga menghubungi Kepala Desa Polassi, Mustakim, untuk dapat segera mengevakuasi para korban di kapal KM Nurul Salsa tersebut.

Eka bilang dirinya masih tetap dapat berkomunikasi dengan keluarganya hingga pukul 12.00 WITA.

"Setelah itu tidak aktif, tidak ada yang aktif HP-nya," ungkap Eka.

Dalam proses evakuasi korban, katanya, pihak pemerintah desa di Polassi mengalami kesulitan untuk dapat mendekati posisi kapal KM Nurul Salsa itu. Hal ini karena kondisi ombak laut yang sangat tinggi dan cuaca buruk saat itu.

Pada pukul 13.00 WITA, Eka mendapat kabar dari pemerintah desa Polassi bahwa sudah ada enam orang korban kapal KM Nurul Salsa yang berhasil dievakuasi. Salah satunya, anggota keluarganya, Rosmaeni.

Sampai hari ini, Eka masih menunggu kabar dari tim pencari. Berharap ada kabar baik yang datang.

"Kami masih terus menunggu kabar dari tim penyelamat. Untuk perasaan kami sekeluarga tidak bisa diutarakan, cemas, khawatir sudah pasti, berharap ada keajaiban secepatnya," kata Eka.

Bagaimana upaya pencarian berlangsung?

Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan pencarian korban tenggelamnya kapal KM Nurul Salsa dilakukan dengan memperluas area pelacakan menjadi 448 mil laut persegi.

Perluasan area pencarian ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi pergerakan arus, angin, serta kemungkinan hanyutnya korban dan penemuan jaket pelampung.

Jumlah personel yang terlibat dalam pencarian korban kapal tersebut sebanyak 207 orang dari berbagai unsur, termasuk BPBD Selayar dan TNI AL.

Operasi pencarian korban masih akan dilanjutkan dengan mengerahkan seluruh potensi SAR gabungan.

Pencarian dilakukan dengan melakukan penyisiran laut dan pemantauan area-area yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban berdasarkan analisis arus dan kondisi cuaca.

Kendala yang dihadapi dalam operasi pencarian ini, adalah area pencarian yang sangat luas ditambah dengan ombak yang tinggi.

Berbagai pertanyaan seputar insiden KM Nurul Salsa

Ada sejumlah hal mengemuka seputar insiden KM Nurul Salsa.

Pertama, mengapa ada penumpang-penumpang yang tidak terdaftar dalam manifes?

Berdasarkan data Basarnas, sebanyak 21 orang tidak berada dalam manifes penumpang.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea di Kepulauan Selayar, Mohamad Nasir Radjab, mengatakan pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap pemilik, awak kapal, dan dokumen kapal untuk dapat mendukung pemeriksaan kecelakaan kapal KM Nurul Salsa tersebut.

Saat ditanya mengapa banyak yang tidak masuk manifes, Nasir mengaku hal itu akan kembali "dicek di Basarnas."

Baca juga:

Pertanyaan selanjutnya soal cuaca.

Mengapa KM Nurul Salsa tetap berangkat walau cuaca buruk?

Dosen dan Praktisi Infrastruktur dan Transportasi Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles, mengatakan sudah terdapat peringatan tentang adanya ketinggian gelombang, namun KM Nurul Salsa masih tetap berangkat.

Kapal-kapal kecil, kata dia, biasanya masih tetap beroperasi menghadapi cuaca ekstrim, terutama pada musim barat yang berpotensi menimbulkan angin dan gelombang yang kencang.

Hanya saja, selama ini belum ada kesadaran untuk membuat suatu manajemen yang dapat meminimalkan kecelakaan, misalnya, melakukan kontrol dan memperketat penyeberangan.

"Biasanya kalau sudah terjadi kecelakaan baru kita ribut."

Pertanyaan ketiga apakah bobot muatan yang diangkut KM Nurul Salsa tidak berlebihan?

Saat KM Nurul Salsa tenggelam, kapal tersebut membawa sebanyak 78 orang.

"Apakah dia tidak overload [kelebihan muatan]? Mungkin manusianya cukup, tapi apakah overload barang?" tanyanya.

"Kalau kita lihat kapal-kapal yang tradisional atau semi tradisional itu biasanya kan juga bukan cuma manusia [diangkut], tapi biasanya juga ada barang di situ," sambung Lucky.

Pertanyaan keempat, apakah KM Nurul Salsa memiliki mesin dan awak yang andal?

Menurut penyintas, KM Nurul Salsa tenggelam setelah mesinnya mati.

"Kecelakaan juga dapat terjadi apabila kondisi kapal tersebut belum layak untuk berlayar," kata Dosen dan Praktisi Infrastruktur dan Transportasi Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles.

"Kemudian apakah kaptennya atau ABK-nya itu semua sudah mengantongi lisensi yang masih aktif? Apakah manusianya yang membawa itu dalam keadaan sehat secara jasmani, rohani? Apakah cukup waktu dia beristirahat? Itu kan perlu dicek," sambungnya.

Dalam beberapa hal, kata dia, keselamatan penumpang kapal juga bergantung dari pihak lembaga atau perusahaan tempat para ABK itu bekerja.

Lucky Caroles mengatakan dalam peristiwa kecelakaan transportasi laut dapat dilihat dari beberapa faktor utama.

Faktor itu terdiri dari berbagai kesiapan yang sangat berkaitan dengan mitigasi kecelakaan, seperti manusianya, mesin, sistem, kelembagaan, dan cuaca.

"Nah itu bisa menjadi salah satu atau kombinasi, baik manusia, mesin, sistem, kelembagaannya dan cuaca,"

Lucky bilang faktor keselamatan penumpang kapal juga dapat diukur dengan jumlah jaket pelampung yang tersedia di atas kapal, serta teknologi yang dapat mendeteksi kecepatan arah angin, ketinggian gelombang, adanya kebocoran, hingga melaporkan posisi kapal.

Untuk dapat mencegah kasus kecelakaan macam yang dialami kapal KM Nurul Salsa tersebut terulang, kata Lucky, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mematuhi semua regulasi terkait keselamatan dan mitigasi kecelakaan.