Kembalinya buah lemon Menton, legenda “istri Nabi Adam”, dari kepunahan di pesisir selatan Prancis

Sumber gambar, AFP/Getty
Menton adalah sebuah kota di selatan Prancis yang berbatasan dengan Italia. Ia pernah menjadi daerah penghasil lemon terkemuka di seluruh Eropa, namun mengalami penurunan tajam selama berabad-abad. Dan belakangan ini, para produsen kembali melihat potensi buah itu.
Jika Anda ingin tahu seberapa dekat orang-orang di kota pesisir Menton dengan lemon kesayangan mereka, dengarlah legenda lokal di sana.
Ceritanya, diusir dari taman Eden, Hawa memetik lemon untuk dibawa bersamanya dalam perjalanan.
Adam, takut akan hukuman abadi, memohon pada Hawa untuk membuang lemon itu. Hawa setuju, namun harus dibuang di tempat yang dia pilih.
Hawa kemudian menemukan daerah Menton, terletak di Teluk Garavan yang berkilauan, di mana Pegunungan Alpen menjauh dari air, dan lokasi lereng dengan kesejajaran timur ke barat, serta pantai pesisir Mediterania Prancis - kondisi yang sempurna untuk menanam lemon.
Meskipun legenda itu tidak dapat dibuktikan kebenarannya, simbolisme lemon surgawi tertanam dalam cerita rakyat kota tepi laut yang berpenduduk sekitar 30.000 jiwa ini, di mana jalur busnya disebut "Zeste" (kulit lemon) dan motif lemon tampaknya merupakan pilihan yang logis bagi banyak bisnis lokal.
Baca juga:
Penduduk kota ini meningkat tajam hampir dua kali lipat selama acara Fête du Citron, sebuah festival tahunan pada bulan Februari untuk merayakan sejarah dan budaya jeruk yang tumbuh di wilayah tersebut, terutama lemon Menton.
Lemon Menton adalah spesies yang diakui secara resmi dan berbeda dengan jenis Korsika, Spanyol atau varietas Italia, baik dalam hal rasa yang ringan, ukuran besar, dan bentuk bulat dengan kulit bergelombang.
Daya pikat festival ini terletak pada kendaraan hias berbentuk kapal dan hiasan patungnya. Masing-masing kendaraan memuat lebih dari tiga ton lemon dan jeruk yang dibentuk sesuai dengan tema tahun ini.
Fête du Citron berdiri terpisah dari acara karnaval lainnya di Perancis, di mana pekerja kota yang menghabiskan sebagian besar tahun memelihara bangunan kota juga adalah orang-orang yang menyiapkan kendaraan hias dan patung.
Berjudul "Opera dan Tarian", edisi tahun 2022 menandai kembalinya festival dengan penuh kemenangan setelah dibatalkan pada pertengahan tahun 2020 karena pandemi virus corona.
Parade hari Minggu adalah sebuah perayaan marching band yang menggelegar. Para penari tampil dengan bersemangat.
Kemudian, enam kendaraan hias yang dilapisi lemon, jeruk dan beberapa setinggi 10 meter, melintas dengan pahatan gaya Samba, Can-can, Haka, Matachines, Salsa dan Kathakali.
Dari kendaraan hias, para penampil berkostum bekerja sama dengan pegawai kota berompi keselamatan hijau neon "menghujani" konfeti atau potongan kecil kertas dalam jumlah tak terbatas pada 15.000 penonton.
Saat pesta menggelora di lembah, lereng bukit bertingkat yang menghadap ke kota menyimpan kenyataan dan sejarah yang lebih keras: Menton pernah menjadi wilayah penghasil lemon terkemuka di seluruh Eropa. Tetapi hari ini, hanya sekitar 15 produsen yang tersisa.
Semua buah untuk patung dan pelampung Fête du Citron harus diimpor dari Spanyol.
"Produksi tahunan lemon Menton adalah antara 100 dan 120 ton. Pada periode ini, kami membutuhkan antara 150 dan 180 ton lemon dan jeruk. Jadi, produksi lemon Menton tidak akan cukup untuk membuat seluruh Fête du Citron," kata Christophe Ghiena, direktur layanan teknis kota, yang menambahkan bahwa sisa jeruk dijual dengan harga diskon setelah festival.
Di balik cerita legendanya, kisah yang terdokumentasi tentang naik turunnya lemon Menton dimulai dengan kedatangan buah itu dari Spanyol pada abad ke-15.
Lemon dengan cepat beradaptasi dengan iklim mikro Menton yang dihasilkan dari kombinasi unik dari tanah dan udara pegunungan - tepi laut.
Pada akhir abad ke-18, wilayah itu diperkirakan menghasilkan satu juta lemon setiap tahun, kata David Rousseau, direktur departemen warisan Menton.
"Pada abad 17, 18 dan 19, lemon benar-benar menjadi kekayaan kota Menton. Lemon diekspor hingga ke Amerika Serikat, ke Rusia. Itu adalah produksi skala global," katanya
Penurunan popularitas lemon Menton dimulai pada akhir Revolusi Prancis, ketika undang-undang yang melindungi Menton dari persaingan dengan daerah penghasil lemon lainnya dicabut.
Pukulan kedua datang pada abad ke-19, ketika kedatangan turis musim dingin Inggris mendorong pembangunan hotel dan vila di tanah yang digunakan untuk teras jeruk.
Akhirnya, pada 1950-an, udara dingin yang tidak biasa menyebabkan kematian lemon Menton.
"Ada pembekuan besar di Menton dan di Prancis, yang membunuh pohon lemon yang tersisa," kata Rousseau.
"Pada tahun 1980-an lemon mulai muncul kembali berkat beberapa produsen yang melihat lemon memiliki potensi dan meluncurkan kembali produksinya."
Salah satu petani tersebut adalah Laurent Gannac.
Berasal dari wilayah barat daya Prancis, Gannac tiba di Menton pada tahun 1988 untuk bekerja sebagai penata taman.
Dia mengatakan bahwa setiap kali membawa pohon lemon ke klien di daerah itu, dia akan mendapatkan pertanyaan yang sama: Apakah ini lemon Menton?
"Saya memiliki pelatihan pertanian namun saya bahkan belum pernah mendengar tentang lemon Menton," katanya.
"Jadi, saya akan mengatakan kepada mereka 'Yah, saya membawanya dari Menton jadi saya kira itu lemon Menton jika Anda mau.'"
Gannac segera menjadi penasaran dengan spesies tersebut dan, pada tahun 1991, dia menanam pohon lemon Menton pertamanya.
Pada saat itu, beberapa produsen yang tersisa mempertanyakan mengapa seorang anak muda tertarik pada produk yang tampaknya sudah ketinggalan zaman, kata Gannac.
Saat ini, Gannac dan putranya memiliki 750 pohon di lahan seluas 2,5 hektare dengan target mencapai 1.000 pohon dalam tiga tahun ke depan.
Meskipun operasinya tidak ada artinya dibandingkan dengan hasil produsen di Spanyol atau Italia, Gannac bangga menyebut dirinya orang pertama dalam beberapa tahun terakhir yang hidup sepenuhnya dari lemon Menton.
Namun, dia hanyalah satu dari sedikit orang. "Menanam 400 pohon di sini berarti memulai dengan lahan yang benar-benar terbengkalai, membersihkannya, meratakan teras, membuat waduk irigasi dan memagarinya untuk melindungi dari babi hutan," katanya.
"Ini membutuhkan banyak pekerjaan, terutama bila Anda mempertimbangkan butuh delapan tahun untuk mendapatkan hasil investasinya."
Sekarang, Gannac percaya bahwa kebangkitan lemon Menton sedang terjadi, sebagian besar berkat upaya pejabat lokal, petani, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai Indikasi Geografis yang Dilindungi Uni Eropa untuk lemon Menton, yang diterimanya pada tahun 2015.
Meskipun ia telah membudidayakan lemon Menton selama hampir dua dekade pada saat itu, selama proses inilah Gannac dihadapkan dengan keunikan spesies tersebut selama kunjungan ke Institut Nasional untuk Penelitian Pertanian Prancis.
"Saya selalu berpikir Mentonnais sedikit bias tentang lemon mereka," katanya.
"Ketika saya memiliki kesempatan untuk pergi dari pohon ke pohon dan mencicipi setiap lemon, saya menyadari bahwa lemon Menton yang asli sebenarnya berbeda dari yang lain dalam aroma, rasa manis dan rasa kulitnya yang sangat ringan sehingga bisa dimakan."
Lemon Menton juga dipuji karena kulit buah yang tebal dan kandungan minyak esensial yang tinggi sehingga membuatnya menjadi favorit koki terkenal seperti Mauro Colagreco, pimpinan Mirazur, restoran peringkat satu di Menton dalam World's 50 Best in 2019.
"Lemon Menton adalah produk yang sangat langka. Ia memiliki rasa dan tekstur yang berbeda dari lemon yang Anda temukan di tempat lain dan bahkan dapat dimakan langsung dari pohonnya (sebagai buah). Di lima kebun, kami ingin mempertahankan varietas yang luar biasa ini. Setiap tahun kami menanam pohon baru untuk melestarikan budaya," kata Colagreco.
Saat musim panen, para koki restoran menggunakan buah ini dalam hidangan seperti tart lemon Menton atau tourbillon (putaran) larva ikan dengan lemon Menton dan daun bawang.
Mereka juga memproduksi lemon yang diawetkan untuk "mengingat rasa sepanjang tahun".
Colagreco bukan satu-satunya koki yang menjadi duta dari spesies ini. Luisa Delpiano-Inversi adalah pendiri Pasta Piemonte, produsen pasta berbasis Menton yang dibuka pada tahun 2013.
Tak lama kemudian, Delpiano-Inversi menemukan kesuksesan dengan resep Menton lemon ravioli-nya, kombinasi tak terduga yang sekarang dikirimkan ke seluruh Prancis.
"Lemon ini tidak seperti yang lain," tulisnya dalam bukunya tahun 2017 tentang topik tersebut. "Jusnya sangat harum dengan rasa semi-asam dan tanpa rasa pahit."
Gannac mengatakan, dia ingat saat lemon Menton tidak lebih dari sekedar dalih yang digunakan untuk menarik wisatawan selama parade Fête du Citron, yang dimulai pada tahun 1934.
Ketika konsumen Prancis menjadi semakin tertarik pada produk lokal, Gannac sekarang memuji parade Fête karena memberinya kesempatan untuk bertemu para pelanggan dan berbicara tentang keunikan buah lemon Menton.
Rousseau setuju bahwa edisi terbaru dari Fête du Citron telah meningkakan kesadaran masyarakat pada keunikan lemon Menton. Banyak tur teras lemon tahun ini yang terjual habis.
"Para pengunjung lebih tertarik dengan cerita lemon Menton dibandingkan yang lalu. Sebelumnya, mereka kebanyakan datang untuk melihat patung dan mengikuti pawai," ujarnya.
"Hari ini, mereka benar-benar ingin menjelajahi kota dan tidak hanya datang untuk melihat kendaraan hias."
Mungkin hasil yang paling menjanjikan dari upaya lokal untuk merevitalisasi spesies ini dapat ditemukan dalam antusiasme para generasi muda petani lemon, di antaranya Laetita Sepicacchi, penduduk asli Menton yang mulai mengolah properti keluarganya pada tahun 2015 bekerja sama dengan inisiatif kota untuk menanam lebih banyak pohon.
Saat itu, Sepicacchi sedang bekerja di Paris dan sering pulang ke Menton untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.
Dalam salah satu kunjungannya, dia menyadari bahwa teras-teras bekas kebun anggur adalah tempat yang sempurna untuk melanjutkan tradisi budidaya jeruk lemon.
Sementara dia menunggu 35 pohon mudanya mencapai kedewasaan, Sepicacchi memanen sekitar 100 kilogram buah per tahun dari tiga pohon tua.
Dia menjual lemonnya kepada perorangan, pedagang Prancis dan Eropa, meskipun beberapa kliennya juga merupakan produsen parfum terkemuka yang tertarik dengan minyak esensial lemonnya.
"Proyek ini memungkinkan saya untuk menemukan kembali dan mengirimkan warisan budaya," katanya.
"Seolah-olah akar pohon yang menancap kuat pada warisan dan identitas di saat dunia tenggelam dalam budaya virtual, yang terkadang materialistis dan individualistis."
Ketika Sepicacchi merenungkan tujuannya untuk membudidayakan lemon Menton, dia bermimpi bahwa pohon lemon dapat sekali lagi menjadi lanskap keindahan alam dan mendukung ekonomi kota.
Bahkan mungkin menyerupai deskripsi penyair Prancis Stéphen Liégeard tahun 1887 yang berbunyi:
"Lembah kecil yang mengirimkan angin sepoi-sepoi untuk mengguncang orang yang lewat, dengan bau pohon lemon yang memabukkan."
---
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul The return of France's lost lemon di BBC Travel.
































