'Saat malam dada terasa panas saat menghirup udara' – Warga Aceh Barat terdampak karhutla di tepi area konsesi sawit

Bubon, Aceh Barat

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Pemadaman karhutla di Bubon, Aceh Barat.
    • Penulis, Tim Redaksi BBC Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 9 menit

Ulul Azmi tidak bisa tidur nyenyak. Mahasiswa Universitas Teuku Umar yang tinggal di Gampong Masjid, Kecamatan Samatiga, ini merasakan langsung dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Aceh Barat, selama Mei dan Juni.

Puluhan hektare lahan gambut terbakar dengan kabut asap yang menyebar ke udara, memasuki rumah warga sekitar. Titik api terindikasi terletak di sebelah konsesi lahan sawit.

"Dalam minggu ini asap ke rumah dan permukiman. Saat malam dada terasa panas saat menghirup udara," ujarnya Senin (15/06).

Senada juga disampaikan Keuchik, atau Kepala Desa, Rangkileh, Umar Dani. Warga merasakan menghirup asap kiriman dari desa tetangga yang mengalami karhutla.

"Selama karhutla memang asap terbang ke sini," ujarnya.

Puskesmas Cot Seumeureung, Kecamatan Samatiga, mencatat ada 257 orang pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama Januari-Juni 2026.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi karena permukiman masyarakat setempat merupakan daerah paling rentan terdampak asap karhutla.

Warga melintas di bawah helikopter yang memadamkan api di Aceh Barat.

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Warga melintas di bawah helikopter yang memadamkan api di Aceh Barat.

Mayoritas pasien yang dibawa adalah warga dengan kondisi sesak napas.

Ada yang memang memiliki riwayat sesak napas, ada pula kasus baru dengan diagnosa sesak karena pengaruh udara di sekitar lingkungan tempat tinggal selama karhutla Mei-Juni 2026.

"Hingga hari ini masih ada dua pasien masih di rawat di Puskesmas karena ISPA. Sebagian lain yang awal-awal kejadian langsung ke luar karena hanya rawat jalan," ujar Kepala Puskesmas Cot Seumeureung NS Yevi Rahmawati S.Kep, Rabu (17/06).

Pembagian masker untuk pasien di Aceh Barat

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Pembagian masker untuk pasien di Aceh Barat

Karhutla di Aceh Barat terjadi sejak akhir Mei hingga Juni 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat luas kebakaran mencapai 34,1 hektare, tersebar di lima kecamatan: Bubon (25 hektare), Samatiga (4 hektare), Meureubo (2,6 hektare), Arongan Lambalek (1 hektare), dan Johan Pahlawan (1,05 hektare).

Proses pemadaman karhutla di wilayah Aceh Barat disebut tidak mudah. Jarak lokasi titik api tak bisa dijangkau mobil pemadam kebakaran, sehingga tim pemadam hanya menggunakan mesin portable dengan pipa air 200 meter - 300 meter.

Cara pemadaman juga harus dilakukan berulang kali agar api yang bersarang di bawah permukaan rawa gambut benar-benar mati dan tidak berpindah.

Kapolres Aceh Barat AKBP Yhogi Hadisetiawan, S.I.K, M.I.K menyebut, yang membuat prosesnya melelahkan adalah sisa api bersarang di permukaan bawah gambut.

Pascakebakaran hutan di Cot Seumeureung, Aceh Barat

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Proses pemadaman api di Cot Seumeureung, Aceh Barat

"Lahan gambut ini tidak bisa dilakukan pemadaman hanya sekali atau dua kali. Setiap vegetasi yang masih ada asap-asap berpotensi muncul api lagi," ujarnya saat melakukan pemadaman karhutla di Cot Seumeureung, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Jumat (12/06).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengerahkan dua pesawat udara untuk melakukan modifikasi cuaca dan water bombing, dengan operasi darat dan udara berlangsung lebih dari dua pekan.

Titik api di tepi konsesi sawit

Tak jauh dari sana, di Kecamatan Bubon, Risman (60) berdiri di atas lahannya yang kini menghitam. Lahan seluas enam hektare miliknya terbakar habis, meskipun ia mengaku tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar.

"Lahan ini milik saya dan anak dalam kapleng seluas enam hektare. Terbakar semua, padahal sudah saya bersihkan dengan menyewa alat berat tanpa membakar," ujarnya.

Ditemui di lokasi lahannya yang sudah terbakar, ia mengaku mengalami kerugian Rp20 juta karena sebelumnya menyewa alat berat membersihkan lahan.

Menurutnya, sudah lebih 25 tahun ia memegang sertifikat tanah itu, namun baru kali ini lahannya terbakar.

"Tak disangka bisa terbakar begini. Padahal saya jaga dan sudah saya bersihkan dengan sewa alat berat sebelum kebakaran," keluhnya.

Risman

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Risman, yang lahannya terbakar di karhutla Kecamatan Bubon, Aceh Barat.

Lahan kosong milik Risman hanya terpisah kanal parit dari area perkebunan kelapa sawit PT Prima Agro Aceh Lestari (PAAL). Namun kebun perusahaan itu tak tersentuh api karhutla.

Temuan lapangan ini diperkuat oleh data citra satelit. Citra dari lembaga Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) yang diambil pada 29 Mei 2026, yang disandingkan dengan data konsesi perkebunan dari organisasi nonprofit Auriga Nusantara, menunjukkan titik-titik api yang terbakar berbatasan dengan area konsesi Hak Guna Usaha (HGU) PT PAAL di wilayah Kecamatan Bubon.

BBC News Indonesia telah mencoba menghubungi PT PAAL untuk meminta tanggapan, namun hingga artikel ini diterbitkan, pihak perusahaan belum merespons.

Pemetaan karhutla HAkA

Sumber gambar, HAkA

Keterangan gambar, Titik kebakaran 29 Mei 2026 di Aceh Barat, berdasarkan pemetaan HAkA
Pemetaan konsesi HGU Aceh Barat

Sumber gambar, Auriga Nusantara

Keterangan gambar, Pemetaan konsesi HGU Aceh Barat, berdasarkan pendataan Auriga

Temuan ini mencerminkan pola yang lebih luas. Dalam laporan Greenpeace, disebutkan bahwa pada 2023, kebakaran terjadi di 298 konsesi kelapa sawit dengan luas sekitar 319.000 hektare.

Data Greenpeace Indonesia juga menunjukkan, luas indikatif karhutla 2023 setidaknya mencapai 2,13 juta hektare. Dari jumlah itu, sekitar 1,3 juta hektare dari total area terbakar pada 2023 pernah dilalap api sepanjang 2015-2022. Sisanya, sekitar 830.000 hektare lahan, tercatat sebagai kejadian kebakaran yang baru.

Artinya, lebih dari separuh kebakaran bukan kejadian baru, melainkan pengulangan di titik yang sama.

Karhutla di Kecamatan Bubon, Aceh Barat

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Karhutla di Kecamatan Bubon, Aceh Barat.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Senior Data and GIS Specialist Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menegaskan bahwa kebakaran di Indonesia hampir tidak pernah muncul di hutan yang masih utuh.

"Ada kebakaran tiba-tiba di dalam taman nasional yang jauh dari mana-mana? Enggak ada, hampir enggak ada," ujarnya.

Sebaliknya, api selalu muncul di area yang sudah terhubung dengan aktivitas manusia.

"Kalau kita lihat, kebakaran kita selalu berdekatan dengan area yang sudah terbuka, area industri, atau area perkebunan. Pasti selalu berdekatan dengan area yang sudah terbuka," katanya.

Data Greenpeace Indonesia pada laporannya menunjukkan, sebagian besar kebakaran terjadi di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang dibebani konsesi dan telah dibuka, dengan kanal-kanal yang cenderung mengeringkan lahan gambut supaya dapat ditanami. Dari 520 KHG yang dianalisis Greenpeace, 220 di antaranya dibebani konsesi dan kanal.

Luas KHG yang terbakar hampir seluruhnya disumbang oleh KHG berkonsesi. Pada 2019, dari total 806 ribu hektare KHG yang terbakar di tujuh provinsi prioritas restorasi, 99% atau 697 ribu hektare terjadi di KHG berkonsesi.

Gambut sebenarnya adalah ekosistem yang berfungsi sebagai penyimpan air dan penahan api alami.

Namun ketika gambut dikeringkan, fungsi ini hilang. Dari angka tersebut, sekitar dua pertiga merupakan kebakaran berulang di lokasi yang sama, menunjukkan bahwa kerusakan gambut membuat wilayah tersebut menjadi sumber api yang terus aktif dari tahun ke tahun.

Karhutla Kecamatan Bubon

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Karhutla Kecamatan Bubon.

Asep Komarudin, Senior Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan langsung dengan aktivitas di dalam konsesi.

"Kenapa kemudian banyak di dekat konsesi perusahaan? Ya karena memang peran-peran industri ataupun konsesi perusahaan inilah yang kemudian memberikan dampak terkait dengan penurunan kadar kualitas lahan gambut itu, gambutnya menjadi rusak. Kalau gambutnya sudah rusak, ya sangat rentan akan terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Dalam kondisi alaminya, gambut bersifat basah dan tahan api. Namun dalam beberapa dekade terakhir, ekosistem ini berubah secara drastis.

Studi menunjukkan kebakaran besar di Indonesia bukan semata-mata akibat kekeringan atau faktor alam, melainkan karena perubahan lanskap akibat pembukaan lahan, pembangunan kanal, dan aktivitas manusia dalam skala besar.

Kanal-kanal yang dibangun untuk kepentingan perkebunan mengeringkan gambut hingga beberapa meter di bawah permukaan. Ketika musim kemarau tiba, lapisan gambut yang kering ini berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Sapta menggambarkan, ketika muka air tanah turun hingga satu sampai dua meter, itu berarti ada lapisan gambut kering setebal itu yang siap terbakar. Dan begitu terbakar, api tidak hanya menjalar di permukaan, tapi juga di bawah tanah.

Yang membuat gambut begitu berbahaya saat terbakar adalah sifatnya yang sangat sulit dipadamkan. Api gambut bersarang di bawah permukaan dan hanya bisa padam jika ada hujan deras atau masuk musim hujan.

"Kebakaran di gambut itu bisa seminggu, sebulan, bahkan dua bulan gitu ya," ujar Sapta.

Klaim pemerintah soal El Nino

Di sisi lain, Kepala Pelaksana (Plt) BPBD Aceh, Barat Teuku Ronald Nehdiansyah, menyampaikan karhutla terjadi akibat Godzilla El Nino, sebuah fenomena alam yang menyebabkan wilayah Aceh Barat dan sekitarnya mengalami kekeringan ekstrim.

"Karhutla daerah kita ini dipicu El Nino. Kita sudah pernah mendapat imbauan mewaspadai karhutla di seluruh Indonesia dan Pemerintah Aceh juga membuat himbauan siaga Aceh menghadapi ancaman bencana El Nino," ujarnya Selasa (16/06).

Imbauan tersebut dikeluarkan pemerintah sejak awal Mei 2026. Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Juli-Agustus 2026.

Katanya, berbagai upaya dilakukan, mulai dari pencegahan, monitoring dan pengawasan daerah rawan karhutla.

Dalam rentang waktu tersebut, potensi karhutla masih berpeluang terjadi, meskipun wilayah Aceh memiliki cuaca dinamis, terkadang tiba-tiba hujan beberapa saat dan kembali panas dengan kelembapan udara yang rendah.

Namun, menurut Sapta dari Greenpeace, dalam konteks ini, fenomena El Nino bukanlah penyebab utama, melainkan faktor yang memperparah kondisi yang sudah rapuh.

"El Nino itu cuma memicu lebih parah aja. Tapi masalah intinya kenapa itu masih terjadi, berarti ada masalah yang tidak pernah diselesaikan," kata Sapta.

Data Kementerian Kehutanan mencatat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia naik delapan kali lipat dalam periode Januari hingga Mei 2026, dengan total luasan sekitar 81 ribu hektare.

Sapta menjelaskan bahwa meski kenaikan itu terdengar dramatis, angka absolutnya secara historis masih relatif kecil dibanding apa yang biasanya terjadi saat puncak musim kemarau.

"Yang besar itu nanti ketika udah mulai bulan Agustus sampe Oktober gitu. Nah itu kalo udah angkanya akumulatifnya udah ratusan ribu gitu," ujarnya.

Untuk keseluruhan tahun ini, ia memperkirakan "pasti di atas 1 juta hektare".

Karhutla Aceh Barat

Sumber gambar, Najma Hafizdhah

Keterangan gambar, Karhutla Aceh Barat.

Angka itu prediksi historis. Pada 2015—saat El Nino sangat kuat—kebakaran hutan dan lahan Indonesia mencapai 2,6 juta hektare. Pada 2019 sekitar 1,6 juta hektare, lalu 2023, karhutla mencapai sekitar 1,2 juta hektare. Tahun 2015 dan 2023 adalah tahun-tahun terjadinya El Nino yang kuat.

El Nino tahun ini diperkirakan masuk kategori sangat kuat, dengan durasi panjang hingga awal 2027, dan puncak di September-Oktober. Sapta juga menyebut faktor penguat lain, yakni Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena serupa El Nino namun di Samudra Hindia.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tren jarak antar-El Nino yang semakin pendek.

"Kalau dulu kan misalnya 2-7 tahun gitu ya. Nah ini kan... polanya dari 2015 itu kan empat tahun sekali. Ternyata sekarang jadi tiga tahun. Ini jadi sinyal yang mengkhawatirkan," ujar Sapta.

Dengan perubahan iklim yang terus berjalan, frekuensi El Nino bisa semakin rapat, memberi jeda lebih singkat bagi gambut untuk pulih.

Perbedaan data

Salah satu hal yang kerap terjadi terkait kebakaran hutan dan lahan adalah perbedaan data antara pihak pemerintah, melalui BPBD, dan data yang dikeluarkan oleh lembaga nonprofit, termasuk HAkA Aceh.

BPBD Aceh Barat merilis luas karhutla sebesar 34,1 hektare, sementara data HAkA luas karhutla sebenarnya adalah 280 hektare.

"Untuk luasan karhutla di Aceh Barat belum kita rilis data secara menyeluruh. Data 280 itu harus kita lihat juga lokasinya, bisa jadi lebih luas dari itu," kata Senior Manager Advokasi HAkA Jehalim Bangun, Sabtu (13/06).

Ini juga terlihat di titik karhutla Aceh lainnya tahun ini, Nagan Raya.

BPBD Nagan Raya merilis data luas karhutla di daerahnya seluas 99 hektare, meliputi wilayah administrasi dua kecamatan. Titik api berada di Desa Kayee Unoe Kecamatan Darul Makmur dan Desa Babah Lhueng di Kecamatan Tripa Makmur.

Sementara HAkA mengeluarkan data dari sensor Viirs dan Modis dengan luas kerusakan vegetasi gambut 605 hektare.

"Data dari sensor Viirs dan Modis titik api mulai terdeteksi pada 27 Mei 2026 hingga 5 Juni 2026 berjumlah 395 hotspot. Berdasarkan citra Planetscope rekaman tanggal 9 Juni 2026, estimasi luas area yang terbakar di lokasi ini mencapai 605 hektar," ujar Jehalim.

Perbedaan ini mencerminkan pola nasional. Analisis Greenpeace menunjukkan luas kebakaran 2023 mencapai sekitar 2,13 juta hektare—hampir dua kali lipat dari klaim pemerintah sebesar 1,16 juta hektare.

Mitigasi

Dalam situasi ini, Greenpeace menilai upaya pemadaman saja tidak cukup. Pendekatan yang selama ini dilakukan—mulai dari water bombing hingga hujan buatan—dinilai hanya menangani gejala, bukan akar masalah.

Bahkan di area yang telah direstorasi gambut, kebakaran masih terjadi. Analisis menunjukkan sekitar 12% area gambut yang telah mendapat intervensi restorasi tetap mengalami kebakaran dalam beberapa tahun terakhir.

Ini menunjukkan bahwa upaya restorasi yang berjalan saat ini belum mampu sepenuhnya memulihkan fungsi hidrologis gambut atau mencegah api kembali muncul.

Asep Komarudin menekankan bahwa langkah paling mendasar adalah menghentikan sumber kerusakan itu sendiri.

"Yang harus dilakukan adalah menghentikan eksploitasi lahan gambut, menutup kembali kanal-kanal, dan menjaga kualitas air di lahan gambut," ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa pemberian izin baru di lahan gambut harus dihentikan jika kebakaran ingin benar-benar ditekan.

"Stop kemudian untuk memberikan izin-izin untuk eksploitasi lahan gambut ini sudah harus dihentikan... karena hampir 80-an persen kondisi lahan gambut di Indonesia itu sudah ada kritis, ini sudah alarm penting untuk terkait dengan lahan gambut, perlindungan terhadap lahan gambut," tegasnya.

Najma Hafizdhah dan Akmal Hadi berkontribusi terhadap peliputan artikel ini.