Myanmar: Pemindahan ibu kota Naypyidaw turut memindahkan para arwah

myanmar

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Jalan-jalan utama Kota Naypyidaw begitu lengang. Pemindahan ibu kota Myanmar dari Yangon ke kota ini didasari oleh peringatan sejumlah tukang ramal.
    • Penulis, Will Buckingham
    • Peranan, BBC Travel
  • Telah diterbitkan

Kapten Aung Khant bersandar di kursi plastiknya yang berwarna merah muda. Di usia 40-an tahun, personel militer Myanmar ini adalah pria tampan dengan pembawaan kalem. Kami baru bertemu dan saya langsung terkesan padanya.

"Ada orang-orang seperti Whoopi Goldberg yang dekat dengan hantu," cetusnya.

Dia mencabut sebatang rokok dan tersenyum, seperti sedang menunggu reaksi saya.

"Mereka orang-orang awam, tapi punya kemampuan khusus. Mereka bisa bilang kepada arwah-arwah, sudah saatnya pindah."

Saya coba tanyakan ulang kepada penerjemah. "Whoopi Goldberg?" tanya saya.

Si penerjemah mengangguk. "Iya. Whoopi Goldberg."

Perlu waktu sejenak bagi saya untuk menyadari bahwa Kapten Aung Khant adalah pengagum Ghost, film tahun 1990 yang dibintangi Demi Moore, Patrick Swayze, dan Whoopi Goldberg.

Saya bertandang ke Naypyidaw, ibu kota Myanmar, untuk berbincang dengan sang kapten mengenai tata cara pemindahan arwah, praktik yang didasari oleh kepercayaan kuno masyarakat Myanmar.

Kami duduk di sebuah kafe sepi pengunjung. Saya menyesap jus pepaya dan sang kapten minum air biasa. Di sebelah kami terdapat kanal air yang memberi kesegaran di tengah panasnya cuaca. Pohon asam jawa yang ditanam di tepi kanal turut meneduhkan suasana.

Naypyidaw—yang secara harfiah bermakna 'Kediaman Raja-raja'—tidak seperti kota-kota lain di Myanmar.

Kota ini begitu luas dan jarang dihuni. Jalan-jalannya jarang dilalui kendaraan dan menawarkan pemandangan sepi. Berbagai pengunjung mancanegara yang pernah berkunjung ke Naypyidaw menjuluki kota ini 'kota hantu'.

Akan tetapi, menurut kepercayaan masyarakat setempat, kenyataannya jauh lebih janggal. Jika Naypyidaw adalah kota hantu, maka itu adalah kota hantu tanpa hantu.

myanmar

Sumber gambar, Paula Bronstein/Getty Images

Keterangan gambar, Malam tiba di Kota Naypyidaw, ibu kota Myanmar yang dibangun dari nol.

Ibu Kota Myanmar secara resmi berpindah dari Yangon ke Naypyidaw yang baru dibangun pada 2006.

Alasan pemindahan itu beragam, mulai dari paranoid soal kedekatan Yangon dengan laut dan risiko invasi hingga nasihat sejumlah tukang ramal kepada mantan kepala negara Than Shwe. Para tukang ramal itu memperingatkan bahwa jika Than Shwe tidak memindahkan ibu kota, dia dan rezimnya akan tumbang.

Pembangunan ibu kota baru pun dimulai dari nol di Kabupaten Tatkon pada 2006. Kapten Aung Khant kemudian ditugaskan untuk memindahkan pemakaman di area tersebut sehingga lahannya bisa ditempati bangunan biara dan pengadilan negeri .

Di Myanmar, pemindahan pemakaman bisa menjadi topik kontroversial karena para ahli waris tidak selalu menerima pemindahan jasad kerabat mereka. Namun, ini terjadi pada 2010, setahun sebelum berakhirnya rezim militer Myanmar yang berkuasa hampir setengah abad. Kalaupun ada warga Tatkon yang tidak senang dengan pemindahan pemakaman, tiada yang protes.

Seorang warga Tatkon berkata kepada saya, "Saat itu kami di bawah kekuasaan militer. Kami tidak bisa menentang."

Dari sisi kasat mata, tidak ada masalah. Akan tetapi, ada alasan tak kasat mata yang membuat pemindahan pemakaman berpotensi bahaya.

Cendekiawan urusan agama di Myanmar, Bénédicte Brac de La Perrière, mengatakan kepada saya bahwa Tatkon adalah tempat penguburan jasad para serdadu Jepang era Perang Dunia II. Dalam kepercayaan orang Myanmar, mereka yang meninggal dunia secara menderita "menciptakan residu spiritual yang tidak bisa dilepaskan seluruhnya oleh proses pemakaman".

Dengan demikian, pemindahan pemakaman di Tatkon adalah urusan berisiko. "Kami takut dengan hantu-hantu. Jika mereka tidak mau pindah, mereka akan marah. Mereka adalah bahaya bagi warga kota," kata sang kapten.

Kapten Aung Khant lantas menuturkan bagaimana dia dan seluruh anak buahnya memindahkan sisa-sisa jasad manusia ke kuburan baru di luar batas Naypyidaw.

"Setelah memindahkan kuburan, pemerintah menyewa truk-truk untuk memindahkan para hantu. Mereka menugaskan seorang natsaya (pengendali arwah) untuk mengawasi dan mengarahkan para arwah ke truk-truk. Ada 12 truk yang melakukan tiga perjalanan sehari selama tiga hari."

Angka itu, saya dua, tidak serta-merta muncul. Secara keseluruhan terdapat 108 perjalanan, angka yang disukai dalam penomoran di agama Buddha. Jejak kaki Buddha, misalnya, secara tradisi ditandai dengan 108 simbol suci.

"Ada lebih dari 1.000 makam yang dipindahkan. Jadi ada 10 arwah atau lebih per truk," jelasnya.

myanmar

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Arwah-arwah dipindahkan menggunakan truk.

Saya tidak paham berapa banyak arwah yang bisa ditampung sebuah truk. Saya membayangkan lebih dari 10 arwah di setiap truk. Namun, hantu-hantu Myanmar tidak setipis seperti yang saya bayangkan.

Bagi orang yang bisa melihat hantu Myanmar, wujud mereka garang, punya kuping besar, punya cula, tingginya lebih dari dua meter, serta lidah yang panjang. Sebagai penumpang, mereka sulit diatur.

Brac de la Perrière mengatakan cerita semacam itu cukup umum.

Ketika melakoni riset pada 1990-an, dia mendengar kisah serupa soal pemindahan makam di Yangon. Saat itu, para arwah yang dipindahkan, dituduh menyebabkan "masalah pada mesin kendaraan". Kemudian, "truk-truk berhenti atau bergerak sendiri dan para pengemudi ketakutan... para arwah menolak dipindahkan".

Kapten Aung Khant menjelaskan bagaimana hantu-hantu di Naypyidaw berebut tempat di bangku depan truk.

Saat mereka tidak bisa diatur, natsaya turun tangan dan memerintahkan mereka kembali ke bak di belakang. Ketika terisi penuh, menurut sang kapten, truk-truk itu sulit bergerak dan terperosok ke tanah lembek.

"Hantu-hantu itu bobotnya berat," ujarnya sembari menyeruput minuman.

Setelah tiga hari, pemindahan makam rampung. Namun, urusan tidak berjalan mulus.

Pada malam hari ketika pemindahan selesai, asisten sang kapten bermimpi didatangi tiga hantu yang berkata mereka telah ditinggalkan.

Keesokan harinya sang kapten kembali ke pemakaman dan menemukan tiga kuburan di semak-semak.

Menurutnya, satu hantu menolak pindah dan malah menetap di mobil asistennya sehingga menimbulkan kekacauan. Mesin sejumlah buldoser yang terlibat proyek konstruksi tiba-tiba mati. Kemudian kucing di hunian sementara Komite Pembangunan Naypyidaw mati mendadak. Malam harinya, asisten kapten didorong dari tempat tidurnya oleh tangan yang tak terlihat.

Situasi baru terkendali ketika sang kapten memanggil seorang biksu untuk mendaraskan bacaan dalam agama Buddha.

Sang kapten tidak lagi berkabar dengan natsaya yang terlibat dalam pemindahan para arwah. Namun penerjemah saya mengaku kenal dengan natsaya lain yang menyaksikan pemindahan tersebut dan akan mengenalkannya kepada saya keesokan hari.

myanmar

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Naypyidaw dijuluki kota hantu karena wilayahnya begitu luas dan jarang dihuni penduduk.

Esok harinya, U Nain La Shwe datang ke hotel tempat saya menginap. Saat itu pria berusia 60-an tahun tersebut memakai kemeja putih dan sarung tradisional Myanmar—longyi—yang terikat rapih.

Sehari-hari dia bekerja sebagai pembaca zodiak yang menjadi medium dengan para arwah. Slogan bisnisnya "Mempercayai adalah Melihat"—kalimat yang dia klaim datang padanya melalui mimpi.

U Nain La Shwe tidak asing dengan pemakaman-pemakaman di Naypyidaw. Dikatakannya, dia terbiasa bermeditasi di sejumlah pemakaman kota itu dan pemuja Ma Phae Wa, arwah pembawa peti mati.

Arwah tersebut, menurut U Nain La Shwe, kerap datang dan bertanya apa yang dia perlukan. Hubungan mereka begitu baik.

"Dia ketua dewan. Dia yang bertanggung jawab atas semua arwah pemakaman di Myanmar. Dia sangat bersih dan cantik," katanya.

U Nain La Shwe menyaksikan pemindahan arwah di Tatkon. Dia melihat para arwah berdesakan di truk-truk dan melihat roda-roda truk terperangkap di dalam pasir karena sedemikian berat.

Saat natsaya yang bertugas memerintahkan sejumlah arwah turun, U Nain La Shwe melihat truk-truk itu mulai bergerak maju.

"Di kuburan ada hukum lain," ungkapnya, merujuk hukum yang hanya bisa dipahami natsaya.

Hanya natsaya yang bisa berkomunikasi dengan dunia arwah sehingga, sebagaimana dituliskan Brac de la Perrière menyampaikan "semacam kompensasi" bagi para arwah yang tewas secara mengenaskan.

Pada hari terakhir di Naypyidaw, saya menyewa sebuah sepeda motor untuk menjelajah kota sekaligus menelusuri jalan delapan jalur yang sepi kendaraan. Tak jarang hanya ada saya di jalan kota.

Ketika malam tiba, saya kembali ke hotel.

Sekitar 10 kilometer dari hotel, saya menyadari petunjuk bahan bakar menandakan BBM bakal habis. Sesaat ada perasaan waswas berkelana di jalanan kosong Naypyidaw setelah matahari tenggelam. Saya pun merinding saat memikirkan arwah-arwah yang dipindahkan.

Namun, saya mengingatkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kapten Aung Khant sudah memastikannya. Naypyidaw adalah kota hantu tanpa hantu, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris pada laman BBC Travel