Resensi serial televisi Good Omens

Good Omens

Sumber gambar, Amazon

    • Penulis, Nicholas Barber
    • Peranan, BBC Culture
  • Telah diterbitkan

Serial fantasi apokaliptik yang diangkat dari novel komik oleh Terry Pratchett dan Neil Gaiman sudah ditunggu lama. Tapi apakah serial ini bisa memenuhi harapan? Nicholas Barber memberikan penilaiannya.

Setelah hampir 30 tahun dan banyak kegagalan lain, novel komik fantasi apokaliptik karya Terry Pratchett dan Neil Gaiman, Good Omens, akhirnya bisa dibuat versi tontonannya — dan untuk banyak penggemar, serial ini layak ditunggu.

Naskah serial enam episode ambisius ini ditulis oleh Gaiman sendiri dan disutradarai oleh Douglas Mackinnon, dan dibintangi banyak nama-nama besar, seperti Michael Sheen, David Tennant dan Jon Hamm, dan didukung oleh nama besar di belakang layar (David Arnold menyusun komposisi melodi untuk serial ini, dan Tori Amos menyanyikan lagu penutupnya).

Penyuka novel ini akan merasa doa mereka telah terjawab. Tapi siapapun yang meragukan versi bukunya tentu akan merasakan hal yang sama dengan versi filmnya.

Kisah ini berawal 6000 tahun lalu: Para pakar Injil memperkirakan bahwa itulah saat Tuhan menciptakan Bumi — dan Good Omens menggunakan perkiraan itu.

Adam dan Hawa sudah diusir dari Surga karena tipuan setan bernama Crowley (Tennant) tapi mereka mendapat bantuan, dan pedang api, dari seorang malaikat bernama Aziraphale (Sheen). Sejak itu, Crowley bertugas untuk menggoda manusia dan Aziraphale bertugas menuntun kita ke jalan yang benar.

Tapi kemudian mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya menyukai keberadaan masing-masing, selain juga menikmati hidup di Bumi, dan mereka kaget ketika mengetahui di London bahwa dunia akan berakhir.

Sosok Antikristus — anak laki-laki berusia 11 tahun — diramalkan akan memicu perang antara Surga dan Neraka, tapi si malaikat dan setan sepakat bahwa jika mereka bisa mencari anak itu, mereka mungkin bisa memintanya untuk menunda Hari Kiamat.

Keduanya harus memastikan bahwa tak ada seorang pun dari Surga atau Neraka yang sadar akan apa yang mereka lakukan.

Gaiman membuat beberapa perubahan pada narasi asli buatannya dan Pratchett. (Pratchett meninggal pada 2015.) Dia mengembangkan pertemanan yang tak diduga antara Aziraphale dan Crowley, sehingga persahabatan keduanya lebih menyentuh dan manusiawi daripada yang tertulis di buku.

Sheen tampil menggemaskan sebagai sosok malaikat yang cemas dan mengenakan dasi kupu-kupu dan patuh pada rencana Tuhan, tapi tak bisa membayangkan keabadian tanpa musikal karya Stephen Sondheim dan minum teh di Ritz.

Sementara setan versi rock'n'roll yang diperankan oleh Tennant bisa kadang-kadang tampak seperti peniru Bill Nighy, tapi siapapun yang terpesona dengan bagaimana dia memerankan Doctor Who akan menikmati hal yang sama, dengan tambahan sebotol bourbon.

Gaiman juga menambah jumlah malaikat dan setan (terutama Gabriel atau Jibril, yang diperankan oleh Hamm sebagai seorang bos korporat) yang masuk ke toko buku kuno milik Aziraphale atau ke tempat tinggal Crowley untuk membuat mereka tetap waspada.

Mereka mengisi episode pertama dengan nuansa mirip seperti film mata-mata yang tak muncul di novelnya.

Sayangnya, kesan ini menghilang dalam episode-episode selanjutnya. Masalahnya, ada banyak adegan di Good Omens yang tidak melibatkan Aziraphale dan Crowley, dan meski materi sampingan itu melibatkan kostum mewah, efek digital dan penampilan yang hidup, tapi tak ada yang setegang atau selucu misi dua karakter utama di serial ini.

Ada sosok pencari tukang sihir yang berantakan (Michael McKean, dengan aksen Skotlandia yang aneh) yang menyewa seorang asisten baru (Jack Whitehall) dan tinggal di sebelah rumah pekerja seks baik hati (Miranda Richardson).

Ada sosok penyihir abad 17 (Josie Lawrence) yang bisa melihat masa depan, dan ada keturunan cantik dari penyihir itu (Adria Ariona), yang berusaha untuk mencari tahu apa makna dari ramalan leluhurnya.

Dan kemudian ada Empat Penunggang Kuda atau kini menjadi Empat Pengendara Motor — selain sosok Antikristus dan teman-temannya, yang berkeliling desa Oxfordshire tanpa mengetahui pentingnya keberadaan mereka.

Jika itu belum cukup, kita juga melihat penyaliban Kristus, Revolusi Prancis, Teater Globe Shakespeare dan Perang Dunia Dua.

Kita mengunjungi markas Surga yang putih dan berkilau dan koridor Neraka yang sibuk. Dan kita mendengar narasi Tuhan, yang disuarakan oleh Frances McDormand. Semua adegan ini memang menghibur dengan cara yang membanggakan diri sendiri.

Tapi seberapa terhubung adegan-adegan ini dengan upaya malaikat dan setan menghentikan kehancuran manusia? Di sebagian besar seri ini, jawabannya, tak banyak.

Struktur tambahan dalam serial ini tak akan mengganggu penyuka buku, yang menyukainya bukan hanya karena plotnya tapi leluconnya yang cerdas, komentarnya yang nakal akan ajaran Kristiani, dan lompatannya dari satu benua ke benua lain, dan dari satu abad ke abad lain. Tapi orang lain akan bertanya apakah seri ini perlu untuk mengoceh seperti ini selama enam jam.

Untuk memberi gambaran akan betapa santainya serial ini, nasib kemanusiaan bisa diselesaikan di bagian awal dari episode ini, dan menyisakan sekitar 40 menit untuk merapikan semua akhir yang belum selesai: setiap kali Anda merasa sedang menonton adegan terakhir, Gaiman menambah lagi adegan baru, dan begitu selanjutnya.

Cara ini tentu akan membuat kita frustrasi, tapi di serial ini, cara ini menjadi semakin problematik ketika yang dihadapi adalah saling berkejaran dengan waktu: hitung mundur ke Armageddon.

Mari realistis saja, jika sebuah serial televisi tak bisa menggambarkan kehancuran semua hal dan semua orang di planet ini sebagai sesuatu yang mendesak, maka ada yang salah di sini.

Ada animasi yang menunjukkan berapa hari atau jam yang tersisa sampai kiamat, namun Good Omens berjalan seperti mereka sedang tidak terburu-buru.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di TV Reviews: Good Omens di laman BBC Culture