Perlawanan warga di negara yang jumlah penduduknya paling cepat menyusut

    • Penulis, Denise Hruby
    • Peranan, BBC Capital
  • Telah diterbitkan

Ketika jumlah populasi Bulgaria yang menurun tajam mengancam negara tersebut, sejumlah warga mencoba membujuk mereka yang tersisa untuk tetap tinggal di sana.

Pada satu pagi yang cerah di Universitas Sofia, universitas terbesar di Bulgaria, para orang tua memotret dengan bangga anak-anak mereka yang baru saja lulus dari kampus tersebut.

Dalam beberapa minggu, banyak di antara mereka yang akan terbang ratusan bahkan ribuan kilometer dari tanah kelahiran mereka di Bulgaria untuk mencari kesempatan, pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik di luar negeri.

Sebagai warga dari negara paling miskin di Uni Eropa, penduduk Bulgaria telah lama berbondong-bondong merantau. Ini menyebabkan penurunan populasi tercepat di dunia.

Populasi Bulgaria pada akhir 1980-an berada di sekitar angka 9 juta jiwa, namun jatuh menjadi kurang dari 7 juta di tahun 2018. Diperkirakan jumlahnya akan ada di bawah 6 juta jiwa dalam 50 tahun ke depan.

Divisi Populasi PBB memprediksi Bulgaria akan kehilangan 23% jumlah populasinya pada tahun 2050. Ini adalah sebuah prediksi yang tinggi, yang membuat Bulgaria dan Lithuania saling berkejaran dalam hal negara dengan populasi paling anjlok di dunia.

Angka kelahiran yang rendah merupakan faktor terbesar dalam kasus-kasus serupa. Namun yang membuat Bulgaria berbeda dari negara Eropa lain yang mengalami masalah sama adalah migrasi keluar besar-besaran yang terjadi di sana.

Pemerintah setempat tidak memiliki data statistik yang mutakhir, namun beberapa ekonom, termasuk Cvetan Davidkov, memperkirakan bahwa setidaknya 60 ribu orang Bulgaria meninggalkan negara itu setiap tahunnya.

Angka itu pun masih tetap terbilang rendah, mengingat Jerman sendiri mengatakan bahwa pada tahun 2017 saja mereka menerima 30 ribu penduduk baru asal Bulgaria.

"Ramalan (populasi) itu tidak optimistis dan itu adalah masalah besar bagi kami," kata Davidkov, profesor di Fakultas Ekonomi Universitas Sofia.

Perginya para kalangan terdidik dan ahli dari Bulgaria, menurutnya, memengaruhi seluruh sektor perekonomian. Alasannya, kata dia, sebagian besar warga Bulgaria, dari para dokter hingga pekerja konstruksi bangunan, yakin kesempatan yang lebih baik tersedia di luar negeri.

Agen perubahan

Beberapa warga Bulgaria bekerja keras untuk mengubah gelombang penurunan populasi itu. Mereka memulai berbagai program maupun proyek yang diharapkan bisa membuat orang-orang tetap tinggal.

Anthony Hristov, 58 tahun, salah satu di antaranya. Sebagai pengarah seni dari Pixar di Amerika Serikat, Hristov terlibat dalam film Finding Nemo dan Wall-E, lalu kembali ke Bulgaria dengan tujuan membantu kampung halamannya.

Hristov percaya bahwa pendidikan yang kuat, lapangan kerja dan pendapatan yang lebih tinggi dapat membalik tren migrasi yang ada.

Tahun lalu, Hristov kembali ke Sofia untuk membuka Arc Academy, sebuah sekolah tersier untuk profesi di bidang kreatif digital, seperti gaming dan desain film animasi.

Sekolah itu, menurut Hristov, adalah bentuk kontribusinya untuk memungkinkan anak muda Bulgaria yang berbakat mendapatkan pendidikan yang setara - atau bahkan lebih dari - negara-negara Eropa lainnya.

"Kita kehilangan banyak anak muda, yang berarti berkurangnya banyak talenta. Akan ada banyak anak muda, tapi mereka mengambil kesempatan di luar negeri, di mana kualitas pendidikan dan pekerjaannya lebih baik," ujarnya.

Arc Academy akan memulai tahun ajarannya Oktober ini. Hristov berkata, sekitar 80 siswa baru menulis dalam surat pendaftaran bahwa mereka sebelumnya juga berniat meninggalkan Bulgaria untuk studi dan pada akhirnya bekerja di luar negeri.

Namun mereka belakangan senang ada sekolah baru yang dibuka, yang memunginkan mereka tetap dekat dengan rumah.

Tetap saja, kalaupun sekolah seperti yang Hristov dirikan mendorong anak muda Bulgaria untuk tetap tinggal, populasi di sana akan menurun: anak-anak muda akan tetap pindah ke luar negeri setelah lulus untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih baik.

Penghasilan minimum negara bekas blok Soviet itu, yang ada pada angka AS$320 (Rp4,5 juta), lebih rendah daripada negara anggota Uni Soviet lainnya.

Meskipun PDB mereka tumbuh di angka 3,1% tahun lalu, dan diperkirakan meningkat menjadi 3,3% tahun ini, angka pengangguran Bulgaria ada di angka 5,3% per Juli lalu.

Seperti dijelaskan Davidkov, bahkan pekerja profesional dengan keahlian tinggi pun kerap kali pergi. Mereka disebut tahu bahwa mereka bisa mendapat lebih banyak uang untuk keahlian dan tingkat pendidikan lebih rendah di luar negeri.

"Bagi kebanyakan orang, lebih baik punya pekerjaan kurang bagus di luar negeri, ketimbang punya pekerjaan bagus di dalam negeri," katanya.

Kemampuan untuk bekerja, tinggal dan bepergian secara bebas di seantero kawasan Uni Eropa juga telah menjadi faktor signifikan terhadap penurunan populasi Bulgaria.

Di Jerman, sebagai ekonomi terbesar di blok tersebut, angka migran asal Bulgaria meningkat pesat dari 8.000 pada tahun 2006 - tahun sebelum Bulgaria bergabung dengan Uni Eropa - menjadi 20.000 setahun setelahnya.

Hristov menilai perekonomian Bulgaria sedang mengalami masalah 'ayam dan telur': apakah lapangan kerja harus diciptakan terlebih dahulu agar menarik dan menghasilkan talenta-talenta lokal atau justru perusahaan-perusahaan lokal dan global baru akan membuka lapangan kerja ketika tenaga kerja dengan keahlian mumpuni tersedia?

Reputasi tak layak

Hristo Boyadzhiev, 33 tahun, menyebut Bulgaria tidak layak menyandang reputasi miskin di antara populasinya sendiri.

Boyadzhiev adalah migran yang kembali ke Bulgaria dan mendirikan lembaga nonprofit bernama Tuk Tam. Lembaga itu mengorganisir berbagai pameran kerja bagi para migran yang memutuskan pulang. Mereka juga menyediakan beasiswa dan mencoba untuk menyebarkan berita positif tentang perkembangan Bulgaria.

"Jika Anda tinggal di Inggris atau negara lainnya, mungkin tajuk berita yang akan Anda baca bukan soal sebuah perusahaan besar yang membuka 1.000 lowongan kerja di Varna, tapi mungkin soal mewabahnya flu burung," kata Boyadzhiev.

Boyadzhiev menambahkan bahwa banyak di antara 1,1 juta warga Bulgaria yang tinggal di luar negeri menahan diri untuk tidak pulang kampung karena tidak tahu hidup mereka akan seperti apa di Bulgaria, atau apakah mereka akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Kita bukan sedang mencoba memulangkan warga ke Bulgaria, tapi kami ingin memberi mereka informasi yang mereka butuhkan untuk bisa membuat keputusan itu sendiri," ujarnya.

Tuk Tam tidak bisa mengukur berapa banyak orang yang telah berhasil dibuatnya pulang kampung, tapi Boyadzhiev mengaku bahwa ia termotivasi oleh 200 ribu warga Bulgaria yang menghubunginya lewat media sosial.

Banyak email yang ia terima dikirim orang-orang yang tengah mempertimbangkan untuk kembali ke Bulgaria.

"Mereka menulis surat kepada kami untuk mengatakan, 'Kalian telah membuatku berpikir panjang'," katanya.

Menyoroti para 'migran yang pulang'

Petya Kertikova menyoroti warga yang kembali ke Bulgaria.

Petya adalah pencipta sekaligus pembawa acara The Returnees berusia 30 tahun yang mengelola perusahaan penyiaran swasta, Bulgaria on Air.

The Returnees menyorot kisah sukses warga Bulgaria lintas-usia yang pernah tinggal di luar negeri namun kemudian pulang ke tanah kelahiran mereka.

Sejauh ini, Kertikova telah mengangkat lebih dari 70 kisah para profesional, termasuk dokter, insinyur, pengusaha, manajer, seniman hingga pakar telekomunikasi. Kisah-kisah mereka, ia harap, akan menginspirasi yang lain.

"Orang-orang yang kembali ke kampung halaman ini sangat penting bagi negara kita. Pengalaman mereka dan perspektif mereka yang baru sangat penting bagi perekonomian, dan akan membawa negara ini semakin maju," ujarnya.

Meski ia mengatakan bahwa banyak di antara para 'returnees' pulang ke Bulgaria karena rasa rindu, banyak juga di antara mereka yang berharap bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan negara mereka.

Dengan mewawancarai mereka, Kertikova berkata ia bisa menggarisbawahi gagasan bahwa pulang ke Bulgaria merupakan hal yang sangat mungkin. Keputusan itu disebutnya juga bisa menghapus ketidakpastian yang akan mereka dapatkan jika mereka memutuskan untuk kembali ke negara itu.

Kertikova mengaku sering merasa sedang mewawancarai dirinya sendiri: ia juga baru kembali dua tahun lalu setelah bekerja di Chicago, AS sebagai presenter TV untuk sebuah stasiun TV berbahasa Bulgaria.

Ketika pulang ke Bulgaria untuk liburan Natal, ia melihat berbagai perkembangan dalam kualitas hidup warga Bulgaria yang memantik keinginannya untuk pulang kampung.

Saat akhirnya ia meninggalkan Chicago dan kembali ke Sofia, Kertikova berkata bahwa ia melihat banyak orang lain yang seperti dirinya.

Dari situlah ia mendapat ide untuk membuat acara The Returnees. Ia ingin memberikan mereka platform untuk bersuara.

Kebanyakan warga Bulgaria yang tinggal di luar negeri baru akan memahami perubahan positif yang dialami negeri mereka saat mereka melihatnya sendiri, ungkapnya.

Seperti yang dialami seorang manajer yang ia wawancarai di The Returnees, yang pada satu hari pulang kampung untuk menghadiri sebuah undangan pernikahan. Saking kagumnya dengan 'Bulgaria baru' yang dilihatnya, sampai-sampai ia memutuskan untuk membatalkan jadwal penerbangannya kembali ke AS.

"Mereka punya mimpi untuk tinggal di luar negeri, dan mereka telah mewujudkan mimpi itu," kata Kertikova. "Kini saya ingin mereka mewujudkan mimpi Bulgaria mereka."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam How to slow down the world's fastest-shrinking country pada laman BBC Worklife.