Covid: Susahnya mencari donor plasma konvalesen, ‘Seperti berenang di kegelapan’

Sumber gambar, Getty Images
Perjuangan mencari donor plasma darah konvalesen tidaklah mudah. Beberapa keluarga pasien berkisah harus menunggu ratusan antrean, menyebarkan permintaan di media sosial, hingga menggunakan koneksi untuk mempercepat proses.
Sementara, hingga kini, terapi penyembuhan Covid-19 dengan plasma konvalesen masih dalam tahap uji klinis.
Nursyawal tengah memantau kondisi adiknya, Nurkhalis, yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit di Kota Bandung pada Juli lalu, ketika dokter memintanya mencari plasma darah konvalesen.
Saat itu, Nurkhalis mengalami gejala kategori sedang akibat terpapar Covid 19.
Pihak rumah sakit mengarahkannya ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, tapi tetap saja dosen komunikasi sebuah perguruan tinggi swasta itu mengaku kebingungan.
Baca juga:
Dia tidak memiliki informasi yang cukup tentang donor plasma konvalesen. Kepalanya dipenuhi pertanyaan, ke mana harus mencari calon pendonor, bagaimana proses donor, dan apakah stoknya ada.
Nursyawal merasa "seperti berenang di kegelapan." Di saat bersamaan, ia harus berkejaran dengan waktu mengingat kondisi adiknya yang dikhawatirkan memburuk.

Sumber gambar, Dok. Nursyawal
Saat dia mendatangi kantor PMI Kota Bandung, pencari dan calon pendonor plasma konvalesen memadati ruangan.
"Di PMI kondisinya, waduh, rupanya banyak orang yang juga memohon. Beberapa yang saya tanya, ada yang sedang menunggu, ada yang sedang memastikan [donor].
"Ruang tunggunya kecil. [Orang] yang sedang menunggu kepastian, harusnya dipindahkan lagi ke ruangan lain. Tapi saya memaklumi karena kondisinya betul-betul luar biasa," ujar Nursyawal ketika dihubungi Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (21/7).
Sesuai dugaannya, PMI Kota Bandung menyatakan stok plasma konvalesen kosong. Nursyawal disarankan mencari calon pendonor sendiri.
Sejak itulah, Nursyawal mulai menyebarkan permohonan plasma konvalesen di berbagai WhatsApp grup, media sosial, dan situs yang mengkoordinir para penyintas Covid-19.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Tak ada yang membuahkan hasil. Nursyawal menyebutnya, "Seperti melempar botol berisi kertas ke lautan, lalu dibiarkan mengapung. Entah kapan sampainya, entah siapa yang mau membalasnya."
"Pada akhirnya yang lebih efektif kami dapatkan adalah dari jaringan lingkaran keluarga dan lingkaran rekan kerja dari pasien. Itu lebih cepat, karena informasinya lebih terarah dibandingkan yang tadi [lewat media sosial]," ungkapnya.
Nursyawal akhirnya berhasil mendapatkan 16 calon pendonor, namun hanya enam orang yang lolos skrining.
Proses skrining pun tidak mudah, memakan waktu dua hingga tiga hari. Tapi karena banyaknya permohonan, kata Nursyawal, proses skrining bisa molor sampai tujuh hari lamanya.
Lantaran darurat, Nursyawal mengaku terpaksa "memotong antrian" dengan mengandalkan koneksi.
"Memang ada kemudahan, tidak semua keluarga [bisa] begini. Tapi saya juga tidak bisa mengatakan ini pola yang bisa ditiru oleh orang banyak karena ini menggunakan jalur lain yang tidak prosedural. Akhirnya kita bisa dapat sehari selesai skrining," aku Nursyawal.
Plasma konvalesen untuk sang adik, Nurkhalis, baru bisa ditransfusikan tiga hari kemudian. Pada saat itu, semua telah terlambat.
"Pasiennya sudah memburuk terus. Kondisi pasien tidak pernah dikomunikasikan kepada kami. Yang kami tahu saturasi terus menurun, tidak membaik juga," kata Nursyawal.
Nurkhalis menghembuskan napas terakhir di pertengahan Juli 2021, setelah lima hari dirawat di ruang perawatan intensif.

Sumber gambar, Dok. Nursyawal
Bagi Nursyawal, tidak ada penyesalan atas kepergian adiknya. Namun dia menyesalkan ketidakhadiran negara di tengah warga yang sedang berjuang sembuh, khususnya dalam pencarian plasma konvalesen.
Menurutnya, negara sebagai pihak yang menguasai data para penyintas Covid-19, semestinya memanfaatkan data tersebut dengan membuat sistem yang memudahkan pencarian calon donor plasma konvalesen.
Sistem itu, kata Nursyawal, akan sangat membantu keluarga pasien mencari donor.
"Padahal kalau datanya ada, PMI tinggal menghubungi orang yang sembuh. Karena tidak ada datanya, kami [seperti] berenang di ruangan gelap, mencari-cari — mungkin ketemu, mungkin enggak; mungkin cepat, mungkin lambat.
"Kami semua mengurus sendiri. Padahal kita tahu, banyak orang yang sembuh menurut perhitungan," kata Nursyawal.
Perjuangan yang berbuah manis
Mencari plasma konvalesen, bagi Ayu Citra, 32 tahun, ibarat perjuangan tanpa mengetahui medan pertempuran.
Ayu mengaku kebingungan saat dokter yang merawat kakaknya, Bagus Djoko, meminta plasma konvalesen lantaran paru-paru kakaknya mengalami perburukan.

Sumber gambar, Dok. Ayu Citra
Sama seperti Nursyawal, Ayu mengaku bingung harus mencari ke mana, apalagi saat kakaknya terpapar Covid-19 di Januari 2021, kasus Covid-19 sedang naik dan banyak pasien yang membutuhkan plasma konvalesen.
"Saat itu nge-blank, bingung juga... ada tidak ya, yang mau donor karena kasus Covid [tinggi] kan pasti masih ada yang membutuhkan [plasma konvalesen]. Dan saat itu hiruk-pikuk di PMI karena banyak banget yang mencari plasma konvalesen," kisah Ayu.
Sementara, lanjut Ayu, persyaratan untuk menjadi donor plasma konvalesen juga susah. Di antaranya, maksimal terinfeksi Covid-19 tiga bulan lalu dan dinyatakan sudah sembuh di 14 hari terakhir.
"Sepertinya susah banget mencari [donor] plasma konvalesen, saya sudah nge-blank saja pikirannya," tukas Ayu.

Sumber gambar, Getty Images
Ayu kemudian menghubungi PMI Kota Bandung, kota tempat tinggalnya. Beruntung, PMI memiliki stok satu labu plasma konvalesen yang sesuai dengan golongan darah kakaknya. Namun ini masih kurang, karena kakaknya butuh dua labu.
Ayu kemudian memulai pencarian dengan menyebarkan pengumuman di media sosial. Tidak hanya itu, Ayu juga mencari plasma konvalesen ke PMI di luar Kota Bandung, seperti Cirebon, Karawang, dan Jakarta.
Selang sehari setelah diumumkan di media sosial, Ayu mendapat respon dari sejumlah relawan.
Ada tiga relawan penyintas Covid-19 yang bersedia mendonorkan darahnya, hanya satu yang lolos skrining.
Harapan Ayu sempat menipis, terlebih lagi kakaknya memilih pasrah seiring kondisi paru-parunya yang memburuk.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
"Kondisi saat itu [rasanya] campur aduk. Penginmenangis melihat kakak sesak, sampai dia bilang, sudah enggak usah cari, sudah pasrah," kenang Ayu.
"Semua keluarga bergerak untuk membantu sharing [pengumuman mencari plasma konvalesen di media sosial]. Puji Tuhan, ada saja orang baik yang membantu," ujarnya.
Harapan Ayu bertumpu pada satu relawan yang akhirnya bisa memberikan satu labu plasma konvalesen yang dibutuhkan.
Pada 2 Februari 2021, labu kedua berhasil ditransfusikan ke tubuh Bagus Djoko, yang merespon dengan baik plasma tersebut.
"Setelah diberi plasma yang pertama, dua hari kemudian paru-parunya di-rontgen sama dokter, sudah mulai pulih. Makanya dikasih satu labu lagi," kata Ayu.
Saat ini, Ayu menyebutkan, kakaknya sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula.
Demi kemanusiaan dan memenuhi nazar
Relawan yang membantu kayak Ayu pulih itu adalah Yudha Prawira, 32 tahun. Selama sebulan, Yudha sempat merasakan sakit gara-gara terinfeksi Covid-19.
Meski gejala yang dialaminya tak terlalu parah, Yudha mengaku menjadi sulit beraktivitas.

Sumber gambar, Dok. Yudha Prawira
"Saya sakit lumayan lama karena hampir sebulan tidak negatif juga. Jadi saya bernazar kalau seandainya nanti saya sembuh, saya mau donor plasma," kata Yudha kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
"Biar ada manfaatnya, sudah sakit begini," tutur Yudha.
Ketika hasil uji usap Yudha menunjukkan negatif Covid-19, ayah satu anak ini langsung memasang pengumuman di akun media sosialnya, bahwa dia siap mendonorkan plasma darahnya untuk pengidap Covid-19.
"Ternyata banyak yang langsung DM [direct message]," kata pegawai bank pemerintah tersebut.
Setelah dua pekan terlewati sejak tes negatifnya, Yudha dihubungi Ayu yang membutuhkan plasma konvalesen untuk sang kakak. Tanpa pikir panjang, Yudha langsung mengiyakan.
Esok harinya, dia mendatangi PMI Kota Bandung untuk menjalani proses skrining dengan hasil memenuhi syarat sebagai pendonor plasma konvalesen. Proses yang dijalani Yudha cukup singkat, hanya dua hari.
Dia mengaku kaget dan senang karena bisa mendonorkan enam labu plasma darah. Itu berarti, plasma darahnya bisa didonorkan kepada tiga orang pasien Covid-19.
"Saya senang bisa membantu orang buat bisa sembuh. Ya, kita sakit setelah sembuh pun jadi ada manfaatnya buat orang lain," ungkapnya.
Yudha mengaku lega dan bersyukur ketika mendapat kabar pasien Covid-19 yang mendapat plasma darahnya berhasil disembuhkan. Namun, ada satu hal yang disesalkan Yudha.
"Agak menyesal karena saya cuma satu kali donornya. Kenapa kemarin itu saya enggak maksimalkan. Sekarang baru kepikiran, ya Allah sekarang [kasus Covid-19] naik lagi. Terus banyak lagi yang mencari donor plasma, kenapa kemarin enggak donor sering-sering," ujarnya.

Sumber gambar, DOK. Kabul Suwaskhito
Kisah berbeda dituturkan Kabul Suwaskhito, 47 tahun, yang juga mendonorkan plasma konvalesen.
Warga Kota Bandung ini sejak lama telah rutin mendonorkan darahnya ke PMI. Ketika mendengar rekan kerjanya kritis dan membutuhkan plasma konvalesen, Kabul tidak berpikir dua kali untuk mengajukan diri.
Sebelumnya, Kabul pernah terpapar Covid-19 dan mengalami gejalanya selama kurang lebih tiga minggu.
"Walaupun saya sempat dikasih cobaan terpapar Covid, tapi barangkali ada hikmahnya. Toh, darah ini bukan kita yang bikin, Allah yang memberikan. Kalau memang ada kesempatan, Insya Allah saya bersedia [donor] sepanjang memenuhi syarat untuk donor," ujar Kabul.
Tapi sayang, akibat panjangnya antrian di PMI Kota Bandung, Kabul harus menunggu lebih dari seminggu untuk mendapatkan jadwal skrining.
Kondisi ini dialami Kabul pada Juli 2021, ketika kebutuhan plasma darah meningkat karena lonjakan kasus.
"Sebelum saya menyelesaikan donor, ternyata rekan saya sudah mendahului kami semua, meninggalkan kita," ungkap Kabul.
Kejadian itu tidak mengurungkan niat Kabul mendonorkan plasma konvalesen. Ia dihubungi seorang keluarga yang ibunya sedang kritis di ruang perawatan intensif karena Covid-19.
Kabul pun mengalihkan rencana donornya ke pasien tersebut. Lagi-lagi, Kabul harus menghadapi antrian yang lumayan panjang.
"Saya agak kaget juga. Walaupun selama ini sudah melakukan donor darah secara rutin ternyata untuk donor plasma berbeda juga mekanismenya," sebut Kabul.
"Pengalaman saya sendiri, untuk antrian mulai diambil sampel darah itu 10 hingga 11 hari. Mungkin saudara-saudara kita yang butuh di rumah sakit, tidak bisa menunggu selama itu," ujar Kabul.
Kendala keterbatasan alat dan SDM
Berdasarkan data PMI Kota Bandung per Jumat (30/7), antrian pasien yang membutuhkan plasma konvalesen mencapai 300 orang.
Angka itu sudah jauh berkurang dibanding awal Juli 2021 yang mencapai hingga 800 antrian.
Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Bandung, Uke Muktimanah menyebutkan, panjangnya antrian disebabkan dua hal, yakni keterbatasan alat dan lonjakan kebutuhan.

Sumber gambar, Getty Images
Uke menjelaskan, satu mesin pengolah hanya bisa dipakai maksimal delapan pendonor. Dari delapan pendonor itu bisa didapatkan 20 labu plasma konvalesen.
PMI Kota Bandung memiliki enam mesin yang dipakai untuk mengolah darah, tidak hanya untuk kebutuhan plasma konvalesen tapi juga kebutuhan darah untuk penyakit lainnya, seperti trombosit.
"Untuk plasma konvalesen itu sudah terjadwal sehari tuh bisa sampai 30 pendonor," ungkap Uke saat dihubungi Sabtu (24/7).
Dari 30 pendonor itu, PMI Kota Bandung bisa menghasilkan 80 labu plasma konvalesen per hari.
Tapi jumlah tersebut masih kecil dibandingkan permintaan per hari sehingga memunculkan antrian yang panjang. Antrian juga diperparah dengan lamanya proses skrining calon pendonor.
Baca juga:
Uke menjelaskan, proses pengambilan darah hingga menjadi plasma konvalesen memang memakan waktu yang cukup lama, minimal 45 menit dalam satu kali proses.
Proses seleksi calon pendonor juga cukup memakan waktu karena ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.
"PMI diamanahkan mencari darah berkualitas, aman, jumlahnya cukup," ujar Uke.
Untuk plasma konvalesen, sebut Uke, standar kualitas terletak di titer antibodi. Maka, jangka waktu pengambilan plasma pun harus ketika titer antibodi sedang bagus, yakni dua minggu setelah negatif dan tidak bergejala sampai 12 minggu.
Setelah itu, sampel baru bisa diambil dan dilakukan serangkaian pemeriksaan lain.
Uke menyadari antrian yang panjang dikeluhkan oleh keluarga pasien dan juga pendonor. Tapi kondisi itu tidak bisa diatasi hanya dengan menambah alat yang harganya mencapai Rp1 miliar.
Penambahan alat, menurut Uke, harus juga diiringi dengan penambahan sumber daya manusia yang terlatih dan juga perlengkapan yang saat ini masih impor.
Strategi yang bisa dilakukan PMI Kota Bandung, lanjut Uke, adalah melakukan prioritas terhadap pasien yang betul-betul membutuhkan atau urgent.
"Kita kerjasama dengan rumah sakit, prioritas mana yang diberikan. Kan ada yang hanya rencana dulu, supaya nanti pada saat [plasma konvalesen] diperlukan sudah ada. Jadi, nanti dokter yang menentukan. Ini harus segera," kata Uke.
Selain itu, proses penyediaan plasma konvalesen membutuhkan biaya yang tidak murah.
Uke menyebutkan, biaya pengganti plasma konvalesen mencapai Rp 2,25 juta, antara lain untuk pembelian reagen, pemeriksaan darah lengkap, titer antibodi, pemeriksaan konfirmasi golongan darah dan skrining antibodi.
Semua biaya tersebut akan ditagihkan ke rumah sakit, jika pasien dirawat di rumah sakit yang melakukan MoU (Memorandum of Understanding) dengan PMI Kota Bandung.
"Kalau dengan rumah sakit besar, kita ada MoU-nya, bisa ditagihkan PMI ke rumah sakit, lalu rumah sakit menagihkan ke pemerintah, mungkin ada paket terapi Covid. Kalau yang tidak ada MoU, pembayaranya secara resmi di PMI," ujar Uke.
Secara nasional, PMI menyebutkan permintaan plasma konvalesen naik hingga 40 kali lipat dari biasanya. Seminggu lalu, antrian mencapai 4.000 dari seluruh Indonesia.
Apakah plasma konvalesen efektif menyembuhkan Covid-19?
Plasma konvalesen adalah komponen atau plasma darah yang diambil dari pasien yang sudah sembuh dari infeksi Covid-19.
Antibodi yang terkandung dalam plasma konvalesen diyakini mampu menyembuhkan pasien yang terpapar virus SAR CoV2 ini. Namun pemberian terapi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19 hingga kini masih dalam proses uji klinis.
Di Indonesia, uji klinis terapi plasma konvalesen dilakukan oleh sejumlah instansi, seperti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Universitas Indonesia, Kementerian Riset dan Teknologi, serta Biofarma.
Balitbangkes sendiri telah merilis uji klinis terapi plasma konvalesen di empat rumah sakit pada September tahun lalu.
Dikutip dari Seri Hasil Penelitian Plasma Konvalesen dan Covid-19 yang diterbitkan Balitbangkes pada 2020, terapi plasma konvalesen terbukti aman untuk digunakan pada pasien Covid-19, namun efektivitasnya belum terbukti.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Disebutkan pula dalam laporan tersebut, mayoritas hasil studi saat ini menunjukkan penggunaan terapi plasma konvalesen tidak bermanfaat untuk pasien Covid-19 derajat berat hingga kondisi kritis.
Sementara, penelitian terbaru menunjukkan terapi plasma mungkin bermanfaat bila plasma donor dengan titer antibodi tinggi diberikan lebih dini pada pasien Covid-19 untuk mencegah perburukan penyakit.
Dalam pengantarnya, Kepala Balitbangkes, Slamet mengatakan, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa pemberian terapi plasma konvalesen pada pasien Covid-19 mempunyai efikasi yang baik.
"Efikasi dari penggunaan terapi plasma konvalesen ini perlu diteliti lebih lanjut dengan metode yang baik, agar dapat diberikan dengan tepat sasaran. Begitupun lembaga-lembaga yang mempunyai otoritas di Amerika maupun Eropa menyarankan terapi plasma konvalesen ini digunakan dalam konteks uji klinik.
"Begitu juga di Indonesia, kami mengharapkan rekan-rekan sejawat dokter dan tenaga kesehatan memahami tentang pemberian plasma konvalesen dan dapat mengimplementasikannya," kata Slamet.
Sementara itu, penelitian Universitas Oxford Inggris menyimpulkan analisis awal terhadap 1.873 kematian dalam sebuah penelitian terhadap 10.400 pasien di Inggris menunjukkan terapi plasma "tidak membuat perbedaan yang signifikan".
Pada kelompok yang diobati dengan plasma konvalesen, 18% pasien meninggal dalam 28 hari — angka yang sama untuk kelompok yang diberi pengobatan standar. Pasien dalam penelitian ini masih ditindaklanjuti dan hasil akhir akan segera diumumkan.
Wartawan Yuli Saputra di Bandung, Jawa Barat, berkontribusi untuk laporan ini.






























