You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.

Take me to the main website

Gempa dan tsunami Palu: Korban tewas kini 1.407, Jokowi bicara keamanan pengiriman bantuan

Jumlah korban gempa dan tsunami yang menerjang Palu dan Donggala dicemaskan akan terus bertambah. Warga penyintas mengalami kesulitan bahan pangan, mulai terjadi 'penjarahan.'

Liputan langsung

  1. Wiranto: Benar ribuan tahanan kabur, tapi dua napi teroris sudah dipindahkan

    Dalam jumpa pers di Jakarta, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranbto mengakui, bahwa hampir 1500 napi kabur dari berbagai penjara di Palu dan Donggala.

    "Itu karena tembok penjara rubuh, dan mereka bisa meloloskan diri, sementara para penjaga tak mampu mengatasi mereka."

    Betapa pun, kata Wiranto, 'dua napi kasus terorisme yang ditahan di salah satu penjara, sudah sempat dipindahkan ke Nusa Kambangan pada 26 September, dua hari sebelumnya."

    Hampir 1.500 narapidana kabur dari berbagai penjara usai gempa dan tsunami Palu

  2. Donggala: Menarik tubuh sanak keluarga tak bernyawa secara manual

    Lian Gogali, salah seorang pekerja sosial yang tiba di Donggala mengatakan rumah-rumah ratusan orang, yang menghadap laut, hancur.

    Di kelurahan Mamboro, misalnya, kata Lian, rumah-rumah tempat tinggal 600 kepala keluarga hanya tinggal puing-puing.

    Dan tidak ada evakuasi di daerah itu dan warga mencari sanak keluarga secara manual, tambahnya.

  3. Detik-detik saat rumah roboh akibat likuifaksi

  4. Rumah amblas lain akibat likuifaksi

  5. Kendala logistik dan alat berat

    Kepala BNPB Willem Rampangilei mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi masalah dengan logistik.

    "Terutama dalam distribusi logistik, ini masalah utamanya," kata Willem menjawab pertanyaan wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan Senin (01/10) di Posko, Palu.

    "Masalah kedua, listrik belum pulih sepenuhnya, " tambahnya. Listrik baru bisa beroperasi di titik tertentu, utamanya rumah sakit, SPBU, dan jaringan seluler," ungkap Willem.

    "Mudah-mudahan dalam tiga hari ke depan, listrik sudah bisa dicover," ujarnya.

    "Jadi listrik dan BBM ini saling terkait. Listrik untuk menjalankan BBM, dan BBM untuk menjalankan listrik," paparnya.

    Dia juga membenarkan evakuasi terhadap korban meninggal atau sakit masih dihadapkan kendala. "Ini prioritas kita, upaya pencarian dan penyelamatan bagi korban yang masih tertimbun," katanya.

    Willem mengaku pihaknya kekurangan alat berat untuk menyelesaikan upaya tersebut. "Kita terus mendatangkan alat berat itu, tapi itu butuh waktu," ungkapnya.

    Dan untuk beberapa kasus, misalnya kasus beberapa rumah yang amblas, pihaknya menyebutnya sebagai upaya yang tak mudah.

  6. Alat pendeteksi tsunami dijarah dan dirusak

    Puluhan alat deteksi tsunami terapung yang dihibahkan Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia untuk Indonesia kini tak dapat dioperasikan lagi. Akibatnya peringatan potensi tsunami, termasuk yang terjadi di Palu dan Donggala akhir pekan lalu, tidak akurat.

    Juru bicara Badan Penanggulangan Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebut hampir seluruh pendeteksi tsunami yang dikenal dengan istilah buoy itu rusak karena vandalisme dan hilang dicuri.

    Pendeteksi tsunami ratusan miliar rusak, peringatan bencana tidak 'akurat'

    Sutopo mengatakan, hal itu tersebut memperlemah mitigasi atau upaya preventif pemerintah mencegah munculnya korban jiwa saat gelombang tsunami menerjang daratan.

    Padahal alat deteksi tsunami berteknologi tinggi seharusnya dipasang di sepanjang kawasan pesisir Indonesia yang rawan bencana.

    "Buoy tsunami tidak ada lagi di Indonesia padahal itu diperlukan untuk memastikan tsunami sebagai sistem peringatan dini," ujar Sutopo di Jakarta, Minggu (30/09).

  7. Warga kesulitan sembako dan air minum

    Memasuki hari ketiga gempa dan tsunami di Palu, warga kota itu kesulitan mendapatkan sembako, air minum bersih, serta bahan bakar minyak, lapor wartawan BBC News Indonesia Heyder Affan dan Oki Budhi yang berada di sana.

    Warga kota Palu juga mengeluhkan listrik yang masih padam sejak guncangan gempa pada Jumat (28/09) lalu.

    Hampir semua toko atau pasar yang menjual sembako, masih tutup, sementara tidak semua SPBU mampu melayani kebutuhan bahan bakar minyak warga kota Palu.

    Bantuan sembako yang mulai berdatangan dilaporkan belum mampu memenuhi kebutuhan warga, kata sejumlah warga.

  8. Apakah peringatan dini diakhiri sebelum atau sesudah tsunami?

    Muncul kritik dari berbagai pengguna media sosial. Mengapa peringatan dini dicabut padahal terjadi tsunami? Apa yang salah dengan sistem peringatan dini yang katanya canggih, sumbangan Jerman sesudah Tsunami 2004 di Aceh?

    Menurut BMKG dan BNPB, peringatan dini tidak dicabut, melainkan 'diakhiri.' Dan kedua, dari data mereka, tsunami terjadi sebelum peringatan dini dicabut.

  9. Apa yang diketahui sejauh ini

    • Jumlah korban meninggal mencapai 844 orang. Namun jumlah ini belum termasuk sejumlah tempat yang paling parah terkena termasuk Donggala.
    • Sekitar 600 orang dirawat di rumah sakit karena luka parah dan lebih dari 48.000 lainnya mengungsi
    • Listrik masih padam di banyak tempat sehingga menghambat operasi pencarian korban. Bahan bakar juga sulit dicari dengan antrean panjang di pom-pom bensin.
    • Para petugas mulai memakamkan korban secara massal di perbukitan Palu untuk mencegah penyakit. Makam sekitar 100 meter disiapkan untuk 1000 jenazah
  10. BMKG sempat 'mengakhiri' peringatan tsunami, tapi tsunami terjadi juga

    Mulanya, Pada Jumat (28/9) pukul 17:02 (WITA) itu, peringatan tsunami otomatis muncul, menyusul gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang menghantam kawasan sekitar Palu dan Donggala. Setengah jam kemudian, 'peringatan dini tsunami diakhir.'

    Ini membuat banyak orang -di luar Sulawesi Tengah- lega. Namun kemudian muncul bermacam ekaman video yang menunjukkan terjadinya tsunami, khususnya di pantai Talise, Palu.

    Orang berteriak-teriak, berdoa, menangis, menjerit.

    Rekaman itu beredar di media sosial, menyebut bahwa tsunami terjadi di Palu. Namun muncul keraguan: jangan-jangan ini hoaks. Mengingat dalam berbagai bencana sebelum ini, sering muncul gambar atau rekaman video dramatis yang ternyata hoaks: merupakan gambar dari kejadian lain atau di waktu lain.

    Kantor BBC News Indonesia di Jakarta sibuk memeriksa otentisitas berbagai video, dan mengerahkan sejumlah wartawan kami yang pernah ke Palu untuk mengecek gambar-gambar itu.

    Kami mulai yakin bahwa itu otentik: bahwa benar terjadi tsunami. Namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG belum memberikan pengumuman resmi.

    Baru beberapa puluh menit kemudian, BMKG memberikan jumpa pers, yang memastikan, bahwa betul terjadi tsunami.