Quick count Pilkada: Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah, Nurdin Abdullah, Edy Rahmayadi, Wayan Koster, 'menang'
Hasil quick count sementara menunjukkan sejumlah calon yang sedari awal dijagokan, termasuk Ridwan Kamil (Jabar), Ganjar Pranowo (Jateng), Khofifah (Jatim), Nurdin Abdullah (Sulsel) dan Edi Rahmayadi (Sumut), Wayan Koster (Bali) 'unggul.'
Liputan langsung
Isu putra daerah di Pilgub Sumut?
Wartawan BBC News Indonesa, Ayomi Amindoni, melaporkan dari Medan, isu putra daerah juga muncul dalam pemilihan gubernur Sumatra Utara.
Calon gubernur Edy Rahmayadi digadang-gadang sebagai putra daerah, yang mengacu setidaknya pernah tinggal dan besar di Sumut meski tak lahir di provinsi itu. Sedangkan lawannya, Djarot Saiful Hidayat -mantan wakil Gubernur Jakarta- dianggap sebagai "pendatang."
Isu putera daerah tergolong baru di Sumut, ungkap pengamat politik dari Universitas Sumatra Utara, Henri Sitorus, karena tidak muncul ketika Gatot Pujo Nugroho, yang berasal dari Jawa Tengah mencalonkan diri pada pilkada 2013.
"Isu putra daerah digunakan sebagai propaganda dan dikawinkan dengan politik identitas, oleh salah satu paslon, dan ini tidak baik demi kepentingan nasionalisme," jelasnya kepada Ayomi Amindoni.
Dia menambahkan Sumut dipandang berhasil merawat keberagaman dan percampuran budaya karena selain Islam dan Kristen, terdapat juga pemeluk agama Katolik, Buddha, dan Hindu.

Sumber gambar, EPA
Sekilas angka Pilkada Serentak 2018

Sumber gambar, Antara
Sekilas angka Pilkada Sebanyak 152.058.452 orang akan mendatangi ratusan ribu TPS di berbagai tempat di Indonesia. Paling tidak sebanyak itulah pemilih tetap yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum.
Dari total jumlah pemilih, perempuan lebih banyak dari pria, yaitu 76.082.159 pemilih perempuan dengan 75.976.293 pemilih pria.
Namun tak ada jaminan seluruh pemilih terdaftar akan memberikan suara, karena biasanya ada yang mendaftar tapi memutuskan tidak memilih karena mengganggap, mungkin, para calon tidak memenuhi keinginannya atau bisa juga karena pada hari pencoblosan si pemilih menderita sakit maupun karena harus melakukan kegiatan yang lain.
Untuk pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 ini, tersedia 387.566 TPS, dengan jumlah terbanyak di Jawa Barat sebesar 74.954 TPS.
Jawa Barat -yang menggelar pemilihan gubernur selain beberapa pemilihan bupati maupun wali kota- juga merupakan daerah dengan jumlah pemilih terbanyak, yaitu 31.730.039 juta atau 21,14% dari total jumlah pemilih yang ikut Pilkada kali ini.
Adapun jumlah pemilih paling sedikit di Kalimantan Utara yang tahun hanya melakukan pemungutan suara untuk Wali Kota Tarakan dengan 133.345 pemilih.
Seruan KPU untuk memberikan suara
Yang menggelar pilkada

Sumber gambar, Reuters
Hari ini, Rabu 27 Juni, sekitar 152 juta orang di berbagai tempat di Indonesia akan memberikan suara dalam pemilihan kepala daerah masing-masing.
Dari 171 daerah yang melakukan Pilkada Serentak 2018, 17 akan memilih Gubernur, 39 memilih wali kota, dan 115 akan memilih bupati. Yang akan memilih gubernur antara lain Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maupun Nusa Tenggara, serta Papua.
Sedangkan pemilihan wali kota berlangsung, antara lain di Serang, Tangerang, Cirebon, Bandung, Palangkaraya, Padang, Palembang, Makassar dan 30-an lebih kota lainnya.
Adapun kabupaten yang termasuk dalam 115 yang akan menggelar pilkada termasuk Aceh Selatan, Pidie Jaya, Deli Serdang, Tapanuli Utara, Empat Lawang, Tanggamus, Lampung Utara, Sumedang, Gianyar, Timor Tengah Selatan, Talaud, dan puluhan lainnya.
Jika Anda ingin melihat daftar lengkap dari daerah yang menggelar Pilkada, bisa dilihat di situs KPU.
*BBC News Indonesia tidak bertanggung jawab atas isi situs di luar BBC.
TPS mulai dibuka
Di Papua, provinsi paling barat Indonesia, Tempat Pemungutan Suara, sudah dibuka, seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Abraham Utama dari Jayapura.
Namun para petugas mengatakan biasanya para pemilih baru berdatangan setelah pukul 09.30 waktu setempat.
Dan di beberapa tempat di Papua diterapkan sistem Noken, yang terdiri dari dua cara.
Yang pertama adalah para pemilih yang menyerahkan surat suara ke noken -atau tas tradisional warga Papua- yang mewakilkan calon pilihannya.
Sedang sistem noken kedua adalah kepala suku yang memilih untuk dan atas nama pemilih di kelompok sukunya.
Kedua cara itu tidak bersifat rahasia sehingga pengamat politik dari Universitas Cendrawasih, Hiskia Sapioper, menyebut sistem noken rawan dicurangi.
"Pengawasan itu perlu, terutama di tingkat bawah. Kalau ada dugaan-dugaan ditindak saat itu juga."
Kericuhan akibat penerapan sistem noken telah menewaskan 71 orang pada dua pilkada sebelumnya.
KPU menyebut yang bisa mereka lakukan untuk menghindari potensi konflik hanyalah dengan membuat petunjuk teknis noken dan melakukan sosialisasi.

