Mudik: Faktor di balik kelancaran pulang kampung untuk lebaran termasuk masa mudik berbeda antara PNS dan masyarakat

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Moch Asim
Setidaknya 1,4 juta kendaraan yang berasal dari Jabodetabek melintasi Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra pada masa arus mudik lebaran tahun ini.
Data Kementerian Perhubungan menyebut, angka itu meningkat 5-12% pada tahun lalu dengan jumlah kecelakaan mengalami penurunan hingga 60%.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiadi, mengatakan arus mudik tahun ini sangat lancar.
Hampir tak ada kemacetan di sepanjang jalan Tol Trans Jawa. Selain karena persiapan yang matang terkait skema lalu lintas one way atau satu arah, masyarakat juga dibekali informasi mengenai hal itu.
"Mudik tahun ini lancar jaya. Jaya banget," ujar Budi Setiadi sambil tertawa kepada BBC News Indonesia.
"Saya kira tahun lalu, ada skema one way juga tapi tidak direncanakan dengan bagus dan tidak diberitahu ke masyarakat. Tahun ini direncanakan dan dibuat skema. Jadi sangat bagus karena persiapan lebih baik," sambungnya.
- Mudik lebaran 2019: Aspek keselamatan, titik rawan kecelakaan dan jalur mudik terpadat di Jawa
- Mudik lebaran 2019: Tiket pesawat mahal, pemudik rela berkendara berjam-jam atau naik kapal laut
- Lebaran: Mereka yang batal mudik karena tiket pesawat mahal
- Mudik lebaran: Pekerja Indonesia di Hong Kong 'marah dan sangat sedih', terdampak agen perjalanan yang bangkrut
Menurut Budi Setiadi, hanya ada beberapa kendala kecil, seperti kurangnya papan informasi, rambu-rambu lalu lintas, dan petugas patroli tol. Tapi selebihnya, kata Dedi, cukup.
Angka kecelakaan tahun ini pun, klaimnya, turun 60% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 831 kasus. Begitu pula dengan jumlah korban meninggal pada tahun ini, tercatat ada 74 kasus atau turun 58%.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
"Misal kalau di hari biasa, ada petugas patroli 10 yang akan mengawasi 20 mobil. Sekarang petugas patroli 10 mengawasi 50 mobil. Itu kan kurang. Makanya akan kita tambah," tukasnya.
"Kalau rest area, menurut saya cukup sekali. Paling kalau jelang pagi, banyak yang istirahat dan kalau rest area itu penuh menggunakan bahu jalan. Itu yang mengganggu. Jadi lebih baik pemudik jalan siang hari," sambung Dedi.
Rest area di Tol Trans Jawa kurang dan jalan bergelombang
Kendati begitu menurut Novaeny Wulandari, warga Jakarta yang hendak mudik ke Yogyakarta, tempat beristirahat atau rest area di sepanjang Tol Trans Jawa terlampau sedikit sehingga disesaki antrean sepanjang dua kilometer. Nova mengatakan dia dan keluarganya memilih menggunakan rest area di luar tol.
"Mau masuk rest area itu antre banget. Tiap kali mobil melambat, ada keramaian, itu pasti ada rest area dan kecil. Enggak cukup untuk pemudik dari Jabodetabek deh kayaknya. Jadi antrean panjang banget," ujar Nova kepada BBC News Indonesia.
Dia juga bercerita, beberapa ruas jalan di Tol Trans Jawa bergelombang dan ada lubang-lubang kecil. Sehingga pengemudi, menurutnya, harus lebih berhati-hati ketika berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Jalanannya sih sudah bagus, tapi agak bergelombang. Kalau di jalan tol Jakarta kan halus, ini tuh rasanya tiba-tiba ada gundukan. Jadi harus benar-benar awas deh kalau kecepatan tinggi," tukasnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Moch Asim
Meski demikian, untuk perjalanan mudik tahun ini Nova mengaku sangat menghemat waktu.
Saat ia mudik pada Rabu (29/05) malam lewat Cikampek, ia sempat terhalang macet karena antrean kendaraan menyesaki pintu tol.
Tapi begitu melewati pintu tol, bebas kemacetan. Pada Kamis (30/05) sore, ia sekeluarga sampai di Yogyakarta. Menurut Nova, waktu yang dipangkas pada mudik tahun ini, kira-kira empat sampai lima jam.
"Karena kebetulan pas banget dibuka one way itu kan, jadi langsung bablas. Enggak ada macet sama sekali. Yha kondisi jalan ramai lancar lah," kata Nova.
Lewat tol Trans Sumatra selisih waktu enam jam
Bagi Dian Setiawan Ilyas, pemudik yang hendak ke Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, jalan Tol Trans Sumatra juga memangkas waktu tempuh perjalanannya kira-kira enam jam.
"Berkat tol ini, selisihnya enam jam. Ya walau belum 100 persen selesai ya," ujar Dian kepada BBC News Indonesia.
Bapak tiga anak ini selalu pulang kampung lewat jalan darat. Sebab hampir di setiap kota yang dilalui, ia punya sanak saudara yang wajib dikunjungi.
"Bisa samperin saudara-saudara dulu sebelum sampai kampung. Ibaratnya merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui kan...," katanya sambil tertawa.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Dziki Oktomauliyadi
Berangkat pada Kamis (30/05) subuh, Dian menyeberang dengan kapal dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni. Dari situ, ia melewati Tol Bakauheni-Terbanggi Besar dan lanjut ke jalan Tol Kayuagung dan keluar di Palembang.
"Tol Kayuagung belum 100%, jadi masih satu arah saja. Sebagian jalan sudah dibeton, sebagian dikerasin saja."
"Jadi ada lewat jalur non-tol juga dan terakhir lewat jalan Bukit 12 itu kan, jalannya kelok-kelok tapi alhamdulilah jalannya bagus. Sampai ke Kota Rengat itu hari Jumat (31/05)," jelasnya.
Menurut Dian, titik kemacetan hanya terjadi di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni dan ketika turun dari kapal kira-kira satu jam. Setelahnya perjalanan lancar. Ia berharap pembangunan Tol Trans Sumatra yang menghubungkan kota-kota di pulau Sumatra, dari Lampung hingga Aceh, segera dirampungkan.
"Paling kalau tol tinggal diteruskan saja pembangunannya."
Keberhasilan arus mudik karena banyak faktor
Pengamat transportasi, Tory Darmantoro, menyebut keberhasilan penanganan arus mudik tahun ini tak lepas dari sejumlah faktor, yakni masa mudik bagi PNS yang berbeda dengan masyarakat umum.
Pemberlakuan one way atau satu arah yang panjang yakni 200 kilometer juga membuat jumlah arus kendaraan makin lancar dan tersebar.
"PNS itu kan tanggal 1 Juni wajib upacara, jadi itu mengurangi beban penumpukan. Lalu dari sisi kapasitas infrastruktur, artinya Tol Trans Jawa ini tidak fungsional lagi tapi berjalan penuh. Kalau dulu hanya tiga jalur, sekarang karena one way menjadi enam jalur," jelas Tory kepada BBC News Indonesia.
"Dari kombinasi penyebaran arus mudik dan peningkatan kapasitas maka lalu lintas makin lancar," sambungnya.

Sumber gambar, ANTARA/Anis Efizudin
Dari pengamatannya, persoalan kemacetan yang terjadi di daerah rest area, tak bisa terpecahkan.
Untuk itu, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) disarankan memperbaiki manajemennya, termasuk sistem bayar untuk kendaraan yang rehat lebih dari dua jam.
"Itu selalu jadi masalah, karena kalau mau diperbaiki kapasitasnya untuk melayani arus mudik wasting resources. Kapasitas besar tapi terpakai setahun sekali."
"Solusinya bisa dengan dikenakan bayar Rp100.000 jika lebih dari dua jam. Jadi orang tidak akan berlama-lama di rest area."
Kebijakan yang menurutnya patut diapresiasi pada penanganan arus mudik tahun ini adalah penggunaan sistem digital untuk antrean kendaraan di pelabuhan. Cara ini, kata dia, memberikan kepastikan kepada pemudik dan menghilangkan pungli.
"Jadi manajemennya sudah tidak manual lagi. Jadi semua antre cepat dan ada kepastian layanan. Kalau dulu manual, mau cepat bisa bayar. Kalau digital enggak bisa," ucapnya sembari tertawa.
Memilih mudik lewat jalur non-tol
Meskipun mudik lewat jalur tol menghemat waktu, tapi untuk Bobby Febriansyah yang pulang ke Surabaya, Jawa Timur, ada sesuatu yang hilang yaitu keramaian di jalanan. Karena itulah Bobby sekeluarga selalu memilih jalur non-tol.
"Dari dulu lebih suka menikmati mudik dengan mengikuti perjalanan. Meski ada macetnya, ketemu banyak orang, kulineran. Itu kan bagian dari cerita mudik yang bikin berkesan," ujar Bobby.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Bapak enam anak ini berangkat pada Minggu (02/06) subuh. Begitu menjelang sore, ia dan keluarga selalu mencari penginapan untuk beristirahat. Esoknya kembali melanjutkan perjalanan.
"Saya sampai Surabaya Senin (03/06) menjelang magrib lah," sambungnya.
Sepanjang perjalanan, ia merasa sedikit lengang dengan kendaraan roda dua tak lagi mendominasi.
Bobby mengatakan kemacetan terasa begitu memasuki tiap kota yang dilalui.
"Macet sih normal saja, persimpangan masuk kota kayak di Cirebon. Tiap masuk kota pasti ada kemacetan."
"Tapi kan kalau di jalur non-tol pilihan banyak. Mau mampir ke masjid bisa, mau makan kulineran banyak. Ya dinikmati saja."
Bobby mengatakan kendati Tol Trans Jawa sudah rampung dan menggiurkan untuk dicoba, tapi pada masa arus balik nanti ia takkan melewatinya.






























