Kunjungan Putin ke India: Rusia tingkatkan hubungan 'yang cocok untuk segala musim' dengan andalan sistem pertahanan rudal

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Vikas Pandey
- Peranan, BBC News, Delhi
- Telah diterbitkan
Kunjungan presiden Rusia ke India selalu membangkitkan nostalgia. Hubungan Moskow-Delhi berlangsung sejak Perang Dingin dan hubungan tersebut semakin kuat sejak itu.
Kemitraan "yang cocok untuk segala musim" ini tercatat sebagai salah satu diplomasi paling sukses di dunia dan menjadi prestasi hebat bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Perdana Menteri, India Narendra Modi. Putin berkunjung ke India pada Senin (06/12).
Namun di samping perjanjian pertahanan skala besar, pengumuman perdagangan, jabat tangan dan pelukan Modi yang khas, kedua negara juga harus mengatasi berbagai tantangan berat.
Faktor utama disebabkan oleh pilihan geopolitik yang berbeda-beda dari kedua negara. Bagaimana India dan Rusia menyelesaikan masalah-masalah itu akan berpengaruh pada politik regional dan dunia.
Perdagangan dan pertahanan
Andalan dalam kunjungan Putin kemungkinan adalah sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia yang dikirim ke India. Sistem pertahanan rudal darat ke udara ini tercatat sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Dengan jangkauan 400 kilometer, sistem itu dapat menembak 80 sasaran sekaligus.

Sumber gambar, AFP
Sistem pertahanan ini menempatkan India mempunyai penangkal strategis dari arah China dan Pakistan, dan itulah mengapa India tidak membatalkan pemesanan meskipun diancam sanksi oleh Amerika Serikat (AS).
Washington menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan Rusia. Akta yang mengatur sanksi dikeluarkan pada 2017 dengan sasaran Rusia, Iran, Korea Utara, dengan sanksi ekonomi dan politik.
Peraturan AS itu juga melarang negara mana pun menandatangani perjanjian pertahanan dengan Rusia, Iran dan Korea Utara. Walaupun perjanjian pembelian sistem pertahanan rudal ini menimbulkan ketegangan antara AS dan India, Moskow tampak puas dengan sikap Delhi.
Para diplomat India merasa bahwa keputusan membeli S-400 juga menegakkan praktik terkenal negara itu yang disebut "otonomi strategis", seraya menambahkan bahwa AS harus menghormati itu.
Mantan diplomat India yang pernah bertugas di Moskow, Anil Trigunayat berpendapat anggaran pertahanan yang besar juga memberikan keuntungan strategis bagi India. "Sebagian besar hubungan internasional bersifat transaksional dan itu juga berlaku bagi Moskow dan India," tambahnya.
India merupakan negara importir senjata terbesar kedua di dunia, mencakup sekitar 10% dari perdagangan pertahanan dunia, menurut lembaga pemikir pertahanan Sipri.
Moskow terus menjadi pemasok senjata terbesar bagi India meskipun porsinya turun ke 49% dari 70% sesudah India mendiversifikasi portfolionya dan menggenjot manufaktur pertahanan dalam negeri.
AS menjadi pemasok senjata terbesar kedua bagi India antara 2011 hingga 2015 sesudah Rusia tetapi AS kalah dari Prancis dan Israel selama periode 2016 hingga 2021. Washington tentu ingin memasok lebih besar lagi dan faktor tersebut, kata para analis, menempatkan India pada posisi lebih penting.
Rusia juga berusaha menggenjot ekspor senjata ke India. Kendati demikian, perdagangan komersial antara kedua negara tetap berada di bawah potensi yang ada. Perdagangan bilateral pada 2019 (tingkat pra-pandemi) berjumlah US$11 miliar (sekitar Rp159 triliun).
Rusia dan India sekarang memasang target perdagangan bilateral menjadi US$30 miliar sebelum akhir 2025.
Kedua negara menjajaki berbagai sektor di luar energi dan mineral. Pendidikan, keamanan siber, pertanian, jalur kereta, farmasi, dan energi bersih kemungkinan akan menjadi perhatian.
Keputusan India untuk menyalurkan kredit kepada kalangan pengusaha untuk investasi di kawasan Timur Jauh Rusia juga akan turut meningkatkan perdagangan kedua negara.
Perundingan juga diperkirakan mencakup usulan membentuk koridor maritim Chennai-Vladivostok. Rute itu akan membuka lebih banyak peluang usaha.
"Selama perjanjian perdagangan, pertahanan tetap relevan, kedua negara akan menemukan jalan mengatasi perbedaan geopolitik," kata Michael Kugelman, wakil direktur lembaga pemikir Wilson Center di Washington.
Hubungan India-AS, dan faktor China
Hubungan hangat antara India-Amerika Serikat (AS) menjadi sumber kejengkelan dalam hubungan Delhi-Moskow, terlebih selama satu dekade terakhir.
Modi bahkan menggelar penyambutan akbar untuk Donald Trump pada 2020 ketika ia berkunjung ke India. Acara itu itu merupakan bentuk dukungan kuat bagi Washington.
Baca juga:
Moskow pada umumnya tidak mengindahkan hal-hal yang mengganggu seperti itu meskipun hubungannya sendiri dengan Washington semakin memburuk tahun-tahun belakangan.
Tetapi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov memilih berbicara terang-terangan ketika India masuk ke Quad - aliansi yang terdiri dari AS, Jepang Australia. Aliansi itu mengatakan Quad bukan aliansi militer dan tidak diarahkan ke satu negara secara khusus, tapi tampaknya Lavrov tidak sepakat.
Dikatakan oleh Lavrov bahwa Barat "berusaha melibatkan India dalam permainan anti-China melalui strategi-strategi Indo-Pasifik". Menurut mantan diplomat India yang pernah bertugas di Moskow, Anil Trigunayat, Quad adalah garis merah bagi Rusia.
Kekhawatiran Moskow terkait aliansi Quad ini dapat dilihat dari peningkatan hubungannya dengan Beijing selama tahun-tahun terakhir.
Trigunayat menambahkan Rusia terpaksa menjalin hubungan dekat dengan China untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan geopolitiknya di Asia ketika Barat pimpinan AS juga berusaha menancapkan dominasinya di kawasan tersebut.
Hubungan memburuk China dengan AS juga tampak membuat Beijing dan Moskow semakin dekat.
Yang membuat rumit masalah lebih lanjut adalah hubungan India-China tegang baru-baru ini.
Pasukan dari kedua negara terlibat bentrokan di Lembah Galwan dengan menggunakan batu dan pentungan. Dua puluh tentara India tewas dan China kemudian juga mengaku bahwa sejumlah tentaranya juga tewas.

Sumber gambar, Getty Images
Michael Kugelman, wakil direktur lembaga pemikir Wilson Center di Washington, mengatakan realitas geopolitik baru menjadi "risiko ancaman bagi hubungan India-Rusia".
Dalam konteks ini, kunjungan Putin ke India penting untuk meneguhkan hubungan istimewa.
"Saya pikir bagi Rusia, tujuan dalam kunjungan ini adalah untuk memperkuat betapa penting hubungan Moskow dengan New Delhi, sekali pun tanda-tanda geopolitik mengisyaratkan kondisi yang berbeda," tambah Kugelman.
Tetapi para analis, termasuk Kugleman dan Trigunayat, menilai bahwa fondasi hubungan antara kedua negara cukup kokoh untuk mengatasi kekhawatiran masing-masing.
Kedua negara dapat bekerja sama dalam sejumlah hal, termasuk masalah Afghanistan.
Hal ini jelas menjadi bagian pembicaraan antara Putin dan Modi bersamaan dengan upaya India agar tetap relevan di Afghanistan. Pakistan, tetangga dan sekaligus musuh bebuyutan India, kini telah mempunyai pijakan strategis lebih baik di Afghanistan sesudah tampak telah membentuk aliansi tidak resmi dengan Rusia, Iran dan China.
Moskow dapat membantu Delhi mengembalikan pengaruhnya di Afghanistan karena kedua negara sama-sama mempunyai keprihatinan yang sama tentang masa depan Afghanistan.
"Baik Rusia maupun India sama-sama waspada terhadap Taliban dan Jaringan Haqqani, potensi terorisme dari Afghanistan dan dampaknya bagi kedua negara. Jadi Afghanistan benar-benar menjadi titik temu kuat antara New Delhi dan Moskow," kata Derek Grossman, analis senior lembaga pemikir AS, RAND.
India dan Rusia menjadi mitra di sejumlah forum multinasional seperti Brics, Organisasi Kerja Sama Shanghai dan RIC (Rusia, India dan China).
Forum-forum ini menciptakan peluang bagi Moskow dan Delhi untuk bekerja sama secara erat dalam isu bilateral dan global.
Dan karena China juga menjadi anggota forum-forum itu, Moskow dapat menggunakan pengaruhnya, meskipun tidak secara terbuka, guna memastikan Beijing dan Delhi sama-sama terus melibatkan diri menjaga perdamaian di wilayah perbatasan yang diperebutkan.





























