You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Trump menengok tentara AS di Afghanistan untuk Thanksgiving, berkata 'Taliban ingin kesepakatan damai'
Presiden Donald Trump melakukan kunjungan mendadak ke pasukan Amerika di Afghanistan dan mengatakan AS telah berunding dengan Taliban.
"Taliban ingin membuat kesepakatan (damai)," kata Trump kepada para pasukan di pangkalan udara Bagram.
Dalam kunjungan pertamanya ke Afghanistan, Trump juga bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.
Kunjungan yang bertepatan dengan hari raya Thanksgiving itu dilakukan setelah setelah pertukaran tawanan dengan Taliban yang bertujuan melanjutkan negosiasi perdamaian.
Trump juga mengatakan AS akan "secara substansial" mengurangi jumlah pasukan.
Sekitar 13.000 tentara AS masih ditempatkan di Afghanistan 18 tahun setelah intervensi AS untuk menggulingkan Taliban menyusul serangan 11 September 2001.
Kunjungan Trump terjadi berminggu-minggu setelah Taliban membebaskan dua akademisi Barat yang telah disandera sejak 2016 – Kevin King, warga Amerika, dan Timothy Weeks, warga Australia – dalam pertukaran dengan tiga militan senior yang dipenjara.
"Kami bertemu dengan mereka [Taliban] dan kami mengatakan harus ada gencatan senjata dan mereka tidak mau melakukan gencatan senjata dan sekarang mereka mau melakukan gencatan senjata," kata Trump di pangkalan udara Bagram yang terletak di dekat ibu kota, Kabul.
"Saya percaya mungkin akan berjalan seperti itu."
Tidak jelas seberapa substantif perundingan tersebut.
Para pejabat Afghanistan telah lama meminta gencatan senjata, tapi Taliban, yang sekarang mengendalikan paling banyak wilayah sejak mereka digulingkan pada tahun 2001, menolak berbicara langsung dengan pemerintah sampai ada kesepakatan dengan AS.
Para pemimpin Taliban mengkonfirmasi bahwa pertemuan dengan para pejabat senior AS telah diadakan di Doha sejak akhir pekan lalu tetapi pembicaraan formal itu belum dilanjutkan, lansir kantor berita Reuters.
Trump juga menegaskan kembali rencananya untuk memangkas jumlah pasukan menjadi sekitar 8.600; tapi tidak mengatakan berapa banyak personil yang akan pergi atau kapan.
"Kita akan tetap tinggal sampai ada kesepakatan atau kemenangan total, dan mereka [Taliban] sangat ingin membuat kesepakatan."
Apa lagi yang terjadi pada kunjungan ini?
Trump tiba pada pukul 20:30 waktu setempat (23:00 WIB) dan pergi sebelum tengah malam dalam perjalanan yang diselimuti kerahasiaan karena alasan keamanan.
Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa ada pengaturan bagi akun Twitter sang presiden untuk terus mengirim twit selama perjalanan demi mencegah timbulnya kecurigaan.
Ketika mendarat, Trump disambut Ketua Umum Gabungan AS Jenderal Mark Milley yang, pada hari Rabu, mengatakan peluang hasil yang sukses dari perundingan damai lebih tinggi dari sebelumnya dan bisa terjadi dalam "waktu dekat".
Presiden Trump, yang bepergian dengan sejumlah stafnya, kemudian menyajikan kalkun untuk para pasukan, duduk untuk makan malam Thanksgiving bersama mereka sebelum berpose untuk foto.
"Tidak ada tempat yang lebih saya suka untuk merayakan Thanksgiving daripada di sini," kata Trump, "bersama para prajurit yang paling tangguh, paling kuat, paling baik, dan paling berani di muka bumi."
Presiden Ghani berterima kasih kepada pasukan AS yang telah melakukan "pengorbanan terbesar" di Afghanistan, seraya mengatakan: "Sekarang [giliran] pasukan keamanan Afghanistan yang memimpin."
Belakangan, Ghani berkomentar tentang pertemuan dengan AS dalam sebuah Twit. Namun ia tidak menyebut komentar Trump tentang pembicaraan dengan Taliban.
"Kedua belah pihak menekankan bahwa jika Taliban sungguh-sungguh dalam komitmen mereka untuk mencapai kesepakatan damai, mereka harus menerima gencatan senjata."
Tidak ada reaksi langsung dari Taliban, dan banyak kalangan sebelumnya mempertanyakan apakah kesediaan kelompok itu untuk terlibat dalam negosiasi serius bisa dipercaya.
Lawatan luar negeri dengan tujuan domestik
Analisis oleh Chris Buckler, koresponden BBC News di Amerika Utara
Donald Trump bangga dengan kekuatan militer negaranya, tetapi perjalanan ke luar negeri ini tidak harus ditafsirkan sebagai tanda ketertarikannya pada wilayah tersebut.
Sang panglima telah berulang kali menyatakan bahwa ia ingin pasukannya pulang dan tidak terjebak dalam konflik yang tampaknya tidak ada habisnya seperti yang terjadi di Afghanistan, yang menyandang gelar sebagai perang terpanjang Amerika.
Prioritas Trump ada di dalam perbatasan AS — perbatasan yang ingin ia perkuat. Tapi kebijakan luar negeri penting bagi Partai Republiknya, seperti yang dipelajari oleh sang presiden ketika dia dikecam keras karena terkesan menyetujui invasi Turki ke Suriah utara.
Sejak itu ia telah dapat mengklaim sebagian dari kesuksesan operasi pasukan khusus AS yang berujung pada kematian pemimpin kelompok Negara Islam, Abu Bakr al Baghdadi. Dan sekarang, ada kemungkinan untuk kesepakatan damai dengan Taliban.
Trump berkoar-koar tentang kemungkinan kesepakatan — tetapi tidak jelas berapa banyak yang telah berubah sejak ia menyatakan negosiasi "mati" pada bulan September lalu.
Meskipun ini adalah masalah kebijakan luar negeri, perlu disadari bahwa setiap kunjungan presiden seperti ini cenderung berdampak pada politik dalam negeri — Natal lalu, Presiden Trump terbang ke Irak.
Menunjukkan solidaritas dengan tentara di luar negeri penting untuk menggalang dukungan di dalam negeri, terutama pada waktu liburan ketika para pasukan itu berada jauh dari keluarga mereka.
Apa yang terjadi pada perundingan damai sebelumnya?
Perundingan dengan Taliban bubar pada bulan September segera setelah Presiden Trump mengundang para pemimpin senior Taliban dan Presiden Ghani untuk bertemu di rumah singgah kepresidenan AS di Camp David, dekat Washington DC.
Namun serangan Taliban di ibu kota Afghanistan dua hari sebelumnya, yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 lainnya, mendorong Trump untuk mundur, dengan mengatakan kelompok itu "mungkin tidak punya kekuatan untuk bernegosiasi" jika mereka tidak bisa menyetujui gencatan senjata selama perundingan berlangsung.
Ghani mengatakan pertukaran tahanan bulan ini bermaksud "memfasilitasi negosiasi perdamaian langsung." Namun demikian, Taliban telah lama menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintahan Ghani, menyebutnya boneka AS.