You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Gempa NTT hancurkan fasilitas kesehatan, petugas medis berkejaran waktu untuk selamatkan pasien - 'Puskesmas hancur, kami butuh relawan dan obat-obatan'
- Penulis, Faisal Irfani
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang melanda kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) turut menyebabkan layanan kesehatan publik terhambat. Sejumlah fasilitas kesehatan rusak parah dan pasien terpaksa dirawat di tenda darurat.
Pegawai kehumasan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai, Rista Mari, mengatakan bahwa kondisi rumah sakit terdampak hebat akibat gempa.
Atap serta tembok bangunan roboh sehingga banyak ruangan kehilangan fungsinya, seperti ruang operasi, persalinan, farmasi, sampai laboratorium.
Untuk menanggulangi situasi tersebut, pihak rumah sakit mendirikan tenda darurat bagi para pasien, seraya mempersiapkan ruang medis pengganti sebagai jalan pintas sementara.
Per Minggu (16/08) siang, masih ada 32 pasien yang dirawat di tenda darurat, termasuk korban gempa yang berjumlah 4 orang.
Semua pasien dari klaster korban gempa memerlukan tindakan medis sesegera mungkin. Satu pasien, contohnya, mengalami patah tulang.
"Di luar itu, beberapa pasien juga sudah tidak nyaman dan minta untuk pulang," ujar Rista kepada BBC News Indonesia.
"Situasinya sekarang sangat susah."
Rita menambahkan RSUD Ruteng tengah berkejaran dengan waktu.
Sejauh ini, selain membangun ruang darurat agar pasien yang butuh penanganan cepat dapat diatasi, mereka berupaya keras mengumpulkan sisa-sisa alat medis yang sekiranya masih dapat difungsikan.
"Kami dengar kabar akan ada bantuan tim medis, tapi belum ada sampai sekarang. Kami berharap bantuan itu segera tiba," pungkasnya.
Pemandangan tak jauh berbeda ditemukan di Kabupaten Ngada.
Merujuk keterangan salah seorang warga bernama Charles Abar, layanan kesehatan yang disediakan puskemas tidak bisa bergulir ideal.
Di Puskesmas Ladja, Golewa Selatan, misalnya, penanganan kesehatan yang normalnya dilakukan di dalam ruangan puskesmas, sekarang terpaksa dipindah ke halaman luar. Penyebabnya: kerusakan bangunan.
Di sana, pengelola puskesmas mendirikan tenda darurat.
Pemandangan serupa dijumpai di Puskesmas Maronggela, Riung Barat, yang "hampir rusak di setiap sisi," terang Charles kala dihubungi BBC News Indonesia, Minggu (16/08).
Masalah lain yang mengikuti ialah mayoritas peralatan tidak mampu berfungsi secara baik karena terkena reruntuhan bangunan.
Alhasil, puskesmas-puskesmas di Kabupaten Ngada cuma mengandalkan perkakas seadanya guna mengobati pasien.
Bantuan medis, menurut Charles, satu pun belum tiba.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Kementerian Kesehatan pada Sabtu (15/08), tercatat 21 rumah sakit terkena imbas gempa bumi. Enam di antaranya rusak ringan, sementara tiga lainnya berstatus parah.
Persebaran rumah sakit yang rusak berat mencakup Kabupaten Manggarai (RSUD Ruteng) serta Kabupaten Nagekeo (RS Pratama Raja dan RS Aeramo).
Sementara dari 190 puskesmas yang terdaftar, sekitar 57 ditetapkan rusak—berat serta ringan. Puluhan puskesmas ini terletak di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada.
Dokter: 'Puskesmas hancur, kami butuh relawan dan obat-obatan'
Tim SAR dan relawan, termasuk tim tenaga medis, terus berusaha mencapai wilayah-wilayah yang terisolasi karena gempa yang melanda NTT, Sabtu (15/08).
Salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Kelurahan Pota dan Dampek di Kabupaten Manggarai Timur.
Puskesmas di kedua kelurahan itu hancur terkena gempa, sementara aliran listrik dan komunikasi terputus sejak Sabtu.
Dokter Alhamzah yang bertugas di Puskesmas Lalang, Manggarai Timur, mengatakan dia mendapat kabar dari koleganya di Pota dan Dampek, yang kewalahan karena mereka hanya satu-satunya dokter di wilayah tersebut. Sementara korban gempa terus berdatangan ke puskesmas yang hancur.
"Pota dan Dampek [puskesmasnya] sama-sama hancur semua. Di Dampek kehilangan sinyal dan dokternya sendiri, dan yang di Pota juga sama, dokternya sendiri tapi kehilangan sinyal, jadi mereka dari kemarin itu tidak ada yang bantu," ujar Dokter Al kepada BBC News Indonesia.
Selain komunikasi yang terputus, akses menuju ke dua lokasi tersebut juga sulit, karena sebelumnya terhalang batu-batu besar akibat longsor.
"Pembersihan jalan sudah selesai dilakukan semalam, tadi pagi jalanannya sudah bisa dilewati ambulans, karena itu kami sudah bisa menuju ke lokasi," papar Dokter Al.
Tim SAR dan relawan telah mendirikan posko bantuan, termasuk posko medis di Pota yang berlokasi di SMK Muhammadiyah. Sementara di Dampek, tim dari rumah sakit umum daerah telah mengirimkan bantuan.
Adapun warga yang mengalami luka berat akan dirujuk ke Rumah Sakit Manggarai Timur yang berjarak sekitar 5 jam dari Pota.
"Jika kondisinya darurat, maka akan kami rujuk ke Rumah Sakit di Ruteng, yang jaraknya 4 jam perjalanan," papar Dokter Al.
Sementara itu, tim medis masih mendata jumlah korban. Hal itu terkendala, ujar Dokter Al, karena banyak warga yang berlari menyelamatkan diri ke gunung saat gempa terjadi.
"Itu yang membuat kami susah, karena mereka masih takut, masih [mengungsi] di gunung-gunung. Makanya kami yang tim medisnya ini, kami harus jemput bola. Kami ke desa yang membutuhkan, lalu kita data yang mana yang perlu penanganan lebih lanjut, kalau memang harus dirujuk, nanti kita data, dan nanti ambulan yang jemput ke sana," terangnya.
Di sisi lain, melalui media sosialnya, Dokter Al juga menggalang bantuan dengan meminta relawan medis yang bersedia datang ke lokasi, juga meminta bantuan berupa obat-obatan.
"Hari ini ada dokter spesialis bedah yang mau datang, tadi sudah berkoordinasi," ujar dokter yang sudah empat tahun bertugas di Manggarai Timur ini.
Adapun untuk obat-obatan, Dokter Al menyebut suplai semakin menipis di lokasi.
"Karena warga tahu dokter sudah datang hari ini, jadi mereka yang dari gunung-gunung banyak yang turun, sehingga akan dibutuhkan stok obat, dan tentu juga relawan tenaga medis," katanya.
Permohonan bantuan yang diunggah Dr Al di media sosialnya, bermula dari pesan yang dikirim oleh Dr. Melinda, satu-satunya dokter di Puskesmas Dampek.
Dalam pesan yang dilihat oleh BBC News Indonesia tersebut, Dr. Melinda mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya dalam menangani ratusan korban gempa di wilayah layanan yang mencakup sekitar 17.000 penduduk, setelah akses jalan terputus akibat tanah longsor.
Ia melaporkan bahwa puskesmas telah hancur, jaringan listrik dan telepon mati, persediaan medis menipis, serta gempa susulan masih terus terjadi.
"Saya satu-satunya dokter di sini yang menangani ratusan korban. Saya benar-benar kewalahan. Saya belum beristirahat sejak kemarin karena korban terus berdatangan sepanjang waktu," tulisnya, sembari mendesak pihak berwenang untuk mengirimkan tambahan dokter, tenaga kesehatan, dan bantuan darurat.
'Kalau siang kami kepanasan, kalau malam kedinginan'
Sudah tiga hari, Theresia Teja setia menjaga salah satu keluarganya di tenda Rumah Sakit (RS) Santo Gabriel Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Siang itu, Theresia Teja, berdiri di samping tempat tidur pasien sambil mengipas menggunakan kardus bekas agar pasien tidak kepanasan.
Keluarganya yang mengalami luka-luka itu menempati tenda di halaman rumah sakit setelah gempa mengguncang wilayah itu pada Sabtu (15/08) pagi.
Di malam hari, pasien maupun keluarga yang menjaga mengaku "kedinginan". Namun saat siang hari, mereka "kepanasan".
"Sudah hari ketiga kami di tenda ini, kalau siang kami kepanasan, dan kalau malam dingin, kami sampai mau menggigil," ujarnya, Senin (17/08).
Bertahan dalam keterbatasan, mmereka harus membawa selimut agar bisa menahan cuaca dingin di saat malam hari dan membuat kipas angin dari kardus bekas agar pasien bisa tidur nyaman saat siang hari.
Kerentanan rumah sakit dalam gempa bumi
Eksistensi fasilitas kesehatan sering kali berada dalam posisi teramat rentan manakala bencana gempa bumi terjadi. Sejarah mampu menunjukkan hal itu.
Gempa yang muncul di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), delapan tahun silam telah merusak puluhan rumah sakit serta puskesmas.
Situasi di lapangan memperlihatkan petugas kesehatan mesti mengobati pasien dengan dukungan minim.
Bergeser ke Palu, Sulawesi Tengah, masih pada tahun yang sama, belasan rumah sakit terkena dampak berat dari kelahiran gempa serta likuefaksi. Laporan organisasi kemanusiaan menyatakan banyak korban tidak dapat ditangani di rumah sakit.
Di Cianjur, Jawa Barat, sekira empat tahun silam, gempa tidak hanya menghancurkan ribuan rumah penduduk, melainkan turut menyapu fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. Sebanyak lima unit bangunan kesehatan mengalami rusak ringan maupun berat.
Akibatnya, pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat—atau korban gempa—sempat terganggu di tengah ancaman serangan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga hipertensi.
Mengutip sebuah riset, sistem rumah sakit merupakan inti dari ketahanan terhadap bencana karena mereka harus menyediakan layanan kesehatan yang penting secara tepat waktu untuk masyarakat.
Bencana alam, khususnya gempa, menyodorkan tuntutan berat kepada sistem rumah sakit lantaran menciptakan banyak korban dengan waktu relatif singkat. Pada saat yang sama, gempa merusak infrastruktur pendukung dalam sistem rumah sakit.
Penelitian bertajuk Effective plans for hospital system response to earthquake emergencies (2020) menggambarkan bagaimana sistem rumah sakit begitu terjepit selama masa tanggap darurat pascagempa.
Dengan mengambil studi kasus gempa berukuran Magnitudo 8 yang menggoyang Peru pada 2019, riset di atas mencoba membikin pemodelan untuk mengecek seberapa jauh kerentanan sistem rumah sakit.
Hasil studi memperkirakan bahwa nyaris 5.000 orang akan memerlukan prosedur pembedahan di ruang operasi usai gempa bumi berkekuatan Magnitudo 8. Mereka mengalami cedera dari memar ringan sampai patah tulang.
Lalu gempa bumi juga menyusutkan kemampuan ruang operasi dalam menangani pasien hingga di bawah 50%.
Terakhir, gempa bumi membikin proporsi tidak seimbang antara pasien yang masuk dengan ketersediaan sumber daya di rumah sakit. Keadaan itu lantas mendorong respons lebih lama kepada pasien.
Apabila terus dibiarkan, "ketidakseimbangan tersebut dapat menjadi kondisi kritis," jelas riset bersangkutan.
Bicara dalam konteks Indonesia, makalah berjudul Hospital safety index: assessing the readiness and resiliency of hospitals in Indonesia (2019) memaparkan kesiapsiagaan serta ketangguhan rumah sakit berperan "sangat krusial" mengingat "negara ini rawan bencana."
Sayangnya, kenyataan di lapangan dipandang belum merepresentasikan kesiapan itu. Sekitar 15 rumah sakit di Jawa Barat dan Yogyakarta memiliki nilai HSI (Hospital Safety Index) sebesar 0,544 (level B), masih mengacu penelitian yang sama.
HSI sendiri ialah instrumen dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mewujudkan rumah sakit yang aman serta siap dalam menghadapi situasi bencana maupun darurat. HSI berfungsi memperkirakan kapasitas operasional rumah sakit selama dan setelah keadaan darurat.
Kemudian, HSI juga membantu otoritas dalam menentukan rumah sakit mana yang paling mendesak membutuhkan tindakan untuk meningkatkan keselamatan serta fungsionalitasnya.
Skor yang diperoleh rumah sakit di Jawa Barat serta Yogyakarta menunjukkan perlunya langkah-langkah intervensi dalam jangka pendek sebab kemampuan rumah sakit untuk beroperasi selama dan setelah situasi darurat berpeluang terancam.
Dari sini, pemerintah diminta agar menyusun strategi guna memperkuat kesanggupan rumah sakit kala bencana besar tiba. Semakin siap rumah sakit di seluruh Indonesia bereaksi atas peristiwa alam, maka jatuhnya (banyak) korban bisa ditekan.