Jenuh dengan aplikasi kencan, para perempuan lajang beralih ke kencan buta – 'Kami hanya mencari orang baik'

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Silvano Hajid
- Penulis, Silvano Hajid
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 10 menit
Ketika sebagian orang mulai jenuh mencari jodoh di aplikasi kencan, jasa kencan buta mulai dilirik banyak kalangan.
Metode ini dianggap dapat membantu banyak orang untuk menemukan pasangan yang sesuai kriteria mereka. Namun, bagaimana agar perempuan bisa tetap memiliki ruang aman dalam mencari pasangan?
Beberapa dekade lalu, iklan pencarian jodoh menghiasi halaman sejumlah koran, berisi profil singkat si pencari jodoh beserta alamat yang bisa dihubungi. Lambat laun, baris iklan itu seolah bertransformasi menjadi fitur geser kanan atau kiri di aplikasi kencan atau dating app.
Kini tren dating app atau aplikasi kencan mulai bergeser dengan 'kopi darat' melalui jasa mak comblang.
Jasa mak comblang, biro jodoh, atau bahkan kencan buta mulai ramai di media sosial, pula mulai diminati para pencari pasangan yang jenuh dengan dating app.
Ketimpangan kebutuhan dalam aplikasi kencan menjadi salah satu faktor banyak orang, terutama perempuan, meninggalkannya, kata peneliti agama, budaya dan kesehatan mental, Universitas Gadjah Mada, Ladrina Bagan.
"Perempuan sekarang sudah mulai sadar, yang kami tuntut hanyalah decent human being, orang yang tahu cara memperlakukan orang lain dengan benar," jelas Ladrina.
Kecenderungannya sekarang, lanjut Ladrina, laki-laki belum sadar jika permintaan perempuan sudah mulai bergeser dan "bukan lagi berkutat pada dogma budaya yang menyebut perempuan itu submissive [patuh]".
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sementara di sisi lain, fenomena mak comblang itu ada karena memang ada permintaan dan pasarnya, menurut sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Desintha Asriani.
"Permintaan itu terbentuk dari perubahan sosial online ke offline, secara sosiologis ini juga menggambarkan fenomena kelas sosial, karena yang bisa mengakses itu pasti orang-orang yang punya kemampuan untuk membayar jasa mak comblang," papar Desintha.
Pada akhir Mei lalu, Nina (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja kreatif di Malang, Jawa Timur, datang ke Surabaya untuk mengikuti acara kencan buta.
Nina, yang berusia 30 tahun, sudah melajang selama dua tahun. Sebenarnya, dia sempat mencoba mencari pasangan lewat aplikasi kencan. Namun, ia malah mendapat pengalaman buruk.
"Saya tidak terlalu percaya dengan dating app karena beberapa kali hampir kena tipu, ada yang love bombing, ada pula yang meminta identitas diri (KTP)," jelas Nina.
Di tengah kesibukannya, ia melihat kesempatan mengenal orang lain dan mencari pasangan lewat kencan buta.
Kencan buta, episode awal sebuah 'film seri kehidupan'
Nina merupakan peserta pertama yang datang ke lokasi kencan buta, di sebuah kedai kopi di Kota Surabaya.
Dia mengenakan kerudung hitam berpadu dengan blus berwarna krem, karena panitia kencan buta sempat berpesan kepada para peserta untuk mengenakan pakaian berwarna earth tone.
Seorang panitia kencan buta mendatangi Nina, mempersilakannya masuk ke dalam kedai kopi.
Nina kemudian menunggu di sebuah meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Terdapat enam meja dengan format serupa di dalam kedai itu.
Kencan buta yang Nina hadiri ini diadakan oleh Blinddate Indonesia. Acara hari itu merupakan sesi ke-22.
Pendiri Blinddate Indonesia, Mahathir Al Afgahani Zein, atau yang akrab disapa Al, pada hari itu terlihat wara-wiri memastikan kesiapan properti acara, dia menyebut, sejauh ini, sudah ada 1.300 orang yang mendaftar untuk sesi tersebut.
"Namun, dari ribuan aplikasi itu yang lolos proses kurasi hanya 12 orang, atau enam perempuan dan enam laki-laki," ungkap Al.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Silvano Hajid
Kurasi dianggap penting dalam kencan buta besutan Al, demi mencapai yang ia sebut kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.
Dengan kesetaraan itu, kencan buta bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seseorang untuk mencari pasangan.
"Kesetaraan itu penting untuk kelangsungan hubungan. Pernikahan, misalnya, merupakan ibadah terlama dalam keyakinan saya, yakni Islam. Jadi, kesetaraan dalam finansial, kestabilan ekonomi, mental hingga hobi merupakan faktor-faktor yang memengaruhi kurasi itu," kata Al.
Dia juga mengaku harus tahu ekspektasi para peserta yang mendaftar. Sebab, dari sana, dia dan timnya dapat mengurasi peserta dengan lebih baik.
Sekitar 10 orang dilibatkan dalam proses kurasi dan membutuhkan waktu 14 hari untuk memilih calon peserta.
Baca juga:
Memang, setiap peserta yang lolos seleksi harus membayar sejumlah uang, sebagai bentuk dari keseriusan mereka dalam mencari pasangan.
Namun, Al mengaku tidak mencari profit. "Kami fokus pada idealisme, menjodohkan seseorang dengan yang setara," tambah Al.
Setidaknya, idealisme itu sudah dia bangun sejak 2021 dan terealisasi pada 2023 lalu.
MC acara itu, Aulia Lestari Rauf — istri Al, terlihat mempersilakan para peserta perempuan untuk masuk ke dalam ruangan kedai.
Tak lama, hari mulai gelap, enam perempuan sudah duduk di kursi masing-masing dengan mata tertutup kain kuning.
Para peserta laki-laki menunggu di luar untuk kemudian dipersilakan masuk, juga dengan mata tertutup kain.

Sumber gambar, CFOTO/Future Publishing via Getty Images
Mereka duduk berhadap-hadapan. Setiap peserta diberikan waktu sekitar 10 menit untuk mengobrol satu sama lain, masing-masing peserta mendapat giliran mengobrol kepada semua calon pasangannya.
Kemudian, terdengar suara menggema. Aulia mengumumkan bahwa waktu berbicara sudah habis.
"Silakan bergeser untuk mengobrol dengan yang lain," katanya.
Suara riuh penuh tawa, tak ada satu peserta pun yang terlihat menutup diri.
Mereka seolah memanfaatkan setiap detik untuk mengenal satu sama lainnya, meski dengan mata tertutup.
Begitu pun dengan Nina.
Usai acara, dirinya mengaku, ia merasakan munculnya "sparks" dalam kegiatan tersebut.
"Karena enggak pernah ngobrol seintens itu, tetapi jujur saja belum bisa memutuskan memilih siapa," katanya.
Setidaknya, dia menemukan fakta bahwa dirinya tidak sendiri, banyak perempuan seusianya yang juga berkutat di dunia kerja dan tidak cukup waktu untuk mengenal orang baru, lalu memilih ikut kencan buta.
"Kenapa mau coba blind date, karena aku mau coba membuka diri dan pengen tes diriku," katanya. "Seberapa bisa aku open sama orang lain dalam waktu sekali pertemuan."
Dia menyatakan "tak berharap 100%" soal hubungan dari kencan buta itu bisa menjadi kisah asmara.
"Aku ngerasanya karena di situasi itu, semuanya udah pada paham apa maksud acara itu, jadinya aku bisa lebih pede untuk membuka diri," katanya.
Peserta lain, Dinda (nama disamarkan), seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) merasakan hal yang sama.
"Lega rasanya, ternyata masih ada orang-orang di usia yang relatif dekat dengan kondisi melajang yang sama seperti diriku," kata Dinda.
Baginya, kencan buta ini ibarat seperti menonton film seri.
"Kalau kita merasa cocok, kita akan menunggu episode-episode selanjutnya, saya sudah bertukar kontak, akun media sosial, jika nanti di kemudian hari visinya sudah cocok, mungkin bisa lanjut ke episode selanjutnya," papar Dinda.
Maka, bagi Nina dan Dinda, kencan buta ini dimaknai sebagai permulaan, sebuah "ikhtiar bagi perempuan masa kini mengenal orang baru, memikirkan bibit, bebet, bobotnya untuk menikah kelak".
Sejak 2023 hingga 2026 ini, Al mengklaim, setidaknya sudah ada 10 pasangan dalam kencan buta yang ia inisiasi yang melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Dua bulan setelah kencan buta itu, Nina mengaku masih berteman baik dan sering berbincang dengan beberapa peserta dalam kencan buta ke-22 yang diselenggarakan Blinddate Indonesia.
Baik Nina dan Dinda juga menyatakan percaya dengan kredibilitas jasa mak comblang dan kencan buta ini.
Mereka juga merasa aman, karena aktivitas ini dilakukan di tempat yang terbuka dan ramai.
Bagi Nina, jasa kencan buta juga dirasa mempermudahnya mencari pasangan sesuai dengan kriteria yang ia inginkan.
"Jadi lebih selektif dan tidak perlu repot mencari di dating app," katanya.
Proses pencarian pasangan yang makin kompleks
Dalam mempertimbangkan untuk masuk ke jenjang pernikahan dengan seseorang, Ghea menyebut ia butuh cinta dan logika.
"Kalau hanya cinta, mau makan apa saya? Maka kita butuh logika juga untuk bertahan, harus seimbang antara keduanya, termasuk yang paling penting, literasi finansial," ungkap Dinda.
Menurutnya, jika semua sudah dipersiapkan, termasuk aspek finansial, pernikahan yang ia sebut sebagai "perjalanan jauh" itu bisa berjalan tanpa "menyusahkan diri kita, atau pasangan, bahkan orang lain".
Sebagai perempuan di masa modern kini, Dinda mengaku memiliki kebebasan untuk menentukan standar pasangan idamannya.
"Bukan berarti kami merendahkan laki-laki, kami [perempuan] bisa hidup sendiri, kamu sebagai laki-laki sudah bisa melihat pencapaian kami, dan itu tidak mudah, sehingga itu bisa menjadi motivasi laki-laki untuk berperilaku setara terhadap perempuan," jelas Dinda.
Menurut Nina, dalam mencari pasangan juga diperlukan pemahaman yang sama akan kebutuhan masing-masing.
"Saya butuhnya apa, dia butuhnya apa, kira-kira bisa saling melengkapi atau tidak, ketika itu terjadi, cinta bisa bertumbuh," kata Nina.

Sumber gambar, Getty Images
Menurutnya, zaman sudah berubah, kini tuntutan dalam pernikahan sangat tinggi, jika dibandingkan pada zaman ketika kedua orang tuanya menikah.
Secara statistik, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat tren penurunan jumlah pernikahan di Indonesia sejak 2013 hingga 2025. Dari lebih dari 2 juta pernikahan pada 2018, jumlahnya terus turun menjadi sekitar 1,57 juta pada 2023, hingga 1,48 juta pada 2025.
Hal ini juga disinggung Nina. Dirinya mengaku sebenarnya "sanggup hidup sendiri", tapi merasa tidak mungkin terus sendiri dalam waktu yang lama.
Menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada, Desintha Asriani, kini terdapat fenomena masa tunggu menikah. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh.
"Semakin banyak pertimbangan-pertimbangan untuk memutuskan menikah, seperti menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, lalu berkarir dan mendapatkan independensi ekonomi, sehingga terdapat rasionalitas untuk menunda pernikahan," papar Desintha.
Pada akhirnya, terdapat standar pernikahan yang semakin kompleks jika dibandingkan dengan zaman lampau, ketika menikah merupakan sebuah dorongan dari keluarga dan masyarakat.

Sumber gambar, Getty Images
Menurut Deshinta, perempuan pada masa lalu berupaya untuk negosiasi dengan stigma "perawan tua" di tengah isu ekonomi.
Sebab, katanya, besar kemungkinan para perempuan tersebut tidak bersekolah, sehingga orang tua mereka menganggap pernikahan merupakan jaring pengaman secara ekonomi dan juga status sosial, yang dianggap sebagai sebuah kemapanan.
"Kini, standar pernikahan menjadi lebih beragam, tentang kesiapan finansial, psikologis, dan sosial dalam konteks gender seperti rasionalitas-rasionalitas yang dimiliki perempuan berkarier yang mempertimbangkan, apakah calon pasangan bisa mendukung semua impian-impiannya," jelas Desintha.
Sehingga, pada akhirnya, perempuan menakar tentang sejauh mana pola pikir kesetaraan itu terjadi dalam sebuah hubungan.
Dalam konsep gender, menurut Desintha, kesetaraan itu merupakan cara pandang ketika perempuan dan laki-laki punya akses dan kesempatan yang sama untuk meraih apa pun yang menjadi impiannya.
"Namun, dalam konstruksi masyarakat patriarki, relasi itu cenderung tidak setara, dalam artian ada pembakuan seolah-olah kalau di dalam relasi pernikahan itu, laki-laki sebagai pemimpin dan pencari nafkah utama, sehingga kemudian dia punya banyak privilese untuk menjadi dominan," katanya.
Sementara perempuan seakan perannya "seputar urusan domestik", padahal perempuan juga dalam waktu yang sama, memiliki pekerjaan dan berkarir.
"Sehingga timbul beban ganda bagi perempuan," ungkap Desintha.
Tulisan terkait yang layak dibaca:
- Perjuangan Velmariri Bambari memenjarakan pelaku kejahatan seksual yang 'berlindung di balik hukum adat'
- Kisah perempuan buta dan tuli jadi kreator konten media sosial – 'Disabilitas bukan lelucon dan tragedi'
- Perjuangan Sekolah Perempuan untuk suara perempuan akar rumput – Disebut ajaran sesat hingga dipercaya desa
Desintha memaparkan, dalam banyak kasus, peran perempuan menjadi subordinat dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga menjadi sepihak milik laki-laki.
Relasi "berat sebelah" itu kerap menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga, yang kini disebut sebagai hubungan toksik, atau red flag.
"Dalam konteks perspektif gender dan kesetaraan, bukan berarti perempuan dan laki-laki bisa disamakan, masing-masing memiliki nilainya sendiri, pengalamannya sendiri, kearifannya sendiri, poinnya adalah, apa yang dimiliki perempuan pasti berbeda dengan laki-laki, itu yang harus diakui, dan diafirmasi, diberikan ruang yang sama," ungkap Desintha.
Sehingga, kini kesadaran perempuan dalam memilih pasangan semakin meningkat "bukan saja keputusan-keputusan reaksioner atau spontan, tetapi ada pertimbangan logisnya".
Apakah ada ruang aman bagi perempuan dalam mencari pasangan?
Dalam dating app, perempuan kerap harus menghadapi maraknya foto-foto rekayasa AI (Akal Imitasi) sebagai foto profil, hingga laki-laki yang mengaku lajang ternyata sudah menikah.
Peneliti agama, budaya dan kesehatan mental, Universitas Gadjah Mada, Ladrina Bagan, menyebut profil semacam itu tidak bisa dipertanggung jawabkan.
"Jadi, jika perempuan ingin punya tempat lain, di mana orang yang ditemui, diajak ngobrol bisa dikurasi [seperti jasa kencan buta], itu wajar banget, apalagi yang punya kemungkinan untuk dirugikan, dibahayakan dari interaksi dengan orang asing itu adalah perempuan," jelas Ladrina.
Meski demikian, baik dating app ataupun jasa mak comblang, bagi Ladrina yang terpenting adalah menjaga ekspektasi.
"Saya tahu, kamu kesepian, ingin punya pasangan, sudah jomblo menahun, dikejar nikah, kamu harus punya ekspektasi yang sehat," kata Ladrina.

Sumber gambar, Getty Images
Ladrina menyarankan para lajang untuk berfokus kepada hal-hal yang bisa menambah wawasan, seperti mendapat relasi yang berguna bagi karir, hingga sesederhana mendapat informasi tentang restoran baru yang rasanya menarik.
Bagian romansa itu bisa ditaruh terakhir dalam daftar ekspektasi, karena menurutnya, tidak ada ruginya bertemu orang baru, meski berakhir jadi teman.
Dari sana, akan ada ruang obrolan yang panjang, sehingga memang butuh waktu, kata Ladrina.
Kiat-kiat ini juga tertuang dalam buku yang ia tulis pada 2019 bertajuk 'Dating Queen', yang ditujukan bagi para perempuan memulai perjalanannya di dating app.
Menurut Ladrina, buku itu semakin relevan pada 2026 ini.
Dia menyebut perlunya kehati-hatian perempuan dalam membangun koneksi di dating app, atau apapun medium perkenalannya, termasuk pada kencan pertama.
"Seperti, tidak boleh diantar dan dijemput, bertemu di tempat umum yang ramai dan hindari alkohol," jelas Ladrina.
Setelah itu, jika dirasa aman dan menemukan kecocokan, dia mengingatkan bahwa seseorang itu belum otomatis menjadi "soulmate".
"Pelan-pelan saja, jika pun di-ghosting, kamu tidak perlu merasa salah kamu apa? Mungkin dia hanya mencari validasi dari perempuan lain, merasa dapat validasi dan ya sudah selesai," katanya.
Laki-laki juga perlu memperhatikan bagaimana mereka mempresentasikan diri, katanya.
"Well groomed, atau punya basic manner ketika akan nge-date," katanya.
Bagaimanapun pencarian pasangan apapun mediumnya, Ladrina berpesan bahwa seseorang perlu mendengarkan kata hati mereka.
"Jika dirasa itu baik untukmu, dan kamu merasa itu penting, dan kamu merasa lebih baik, maka lakukanlah," katanya.
Di Malang, lewat pesan teks WhatsApp, Nina menyebut dia "masih nyari [pasangan]".
"Tapi dibawa santai saja," tambahnya.
Nina memilih untuk tidak terburu-buru dalam mencari pasangan, dia sedang menikmati hidup dan karirnya yang kini sedang moncer.
Orang tuanya pun tidak ambil pusing tentang pilihan hidupnya.
"Kalau mau cari pasangan, carilah sendiri, itu pesan orang tuaku," tutup Nina.
































