'Sakit kepala yang saya derita ternyata kanker ganas'

    • Penulis, Catriona Aitken
    • Peranan, BBC Wales
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 7 menit

Josh Smith (34), asal Wrexham, Wales, tak pernah mengira sakit kepala berhari-hari yang dideritanya merupakan pertanda kanker otak yang tidak bisa disembuhkan.

"Saya hanya mengira saya lelah," kenangnya.

Bermula pada Januari, ia kesulitan fokus dan berpikir, serta mudah lupa diikuti "perasaan-perasaan aneh". Namun, ia "tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius".

Sebulan kemudian, gejalanya makin meluas dari sakit kepala selama 10 hari hingga kejang yang tak disadarinya ketika beraktivitas.

Istrinya, Kelly (33), memaksanya untuk periksa ke dokter.

Dia kemudian didiagnosis mengidap glioblastoma —jenis tumor atau kanker ganas di otak atau sumsum tulang belakang dengan harapan hidup 12 hingga 18 bulan.

Melalui operasi, 95% tumor di otak berukuran 4,5 cm berhasil diangkat. Akan tetapi, ia tahu penyakit ini tidak dapat disembuhkan sehingga rangkaian kemoterapi tetap dijalaninya.

Berdasarkan data Brain Tumour Research, sekitar 3.200 orang di UK didiagnosa mengidap glioblastoma tiap tahun. Sedangkan, pengobatannya tidak mengalami kemajuan selama 20 tahun terakhir.

Pemerintah Wales berkata, pihaknya sedang menyusun strategi pengobatan kanker yang fokus pada "penelitian, inovasi, dan peningkatan akses uji klinis".

'Saya sempat dirujuk untuk pemeriksaan mata'

Dalam wawancara dengan BBC, Josh bercerita mengenai penyakitnya yang berkembang begitu agresif dengan durasi singkat.

"Pada Februari, kondisi itu benar-benar mulai terasa. Saya sakit kepala selama 10 hari," ujarnya.

"Lalu, saat saya sedang berjalan-jalan dengan anjing bersama istri saya atau berbicara dengan ibu dan ayah saya, tiba-tiba saya merasa seperti melamun," tuturnya.

"Belakangan saya tahu itu adalah kejang kecil yang saya tidak menyadarinya. Sangat menakutkan jika mengingatnya kembali."

Kelly pun mendesaknya pergi ke dokter umum. Pada 9 Februari, untuk pertama kalinya sepanjang 12 tahun terakhir, Josh berkonsultasi dengan dokter mengenai keluhannya.

"Saya selalu menghindari ke dokter. Ada ekspektasi sosial untuk 'menjadi kuat' dan tetap bertahan. Jadi, saya hanya minum parasetamol dan tidur lebih awal."

Baca juga:

Setelah bertemu dengan dokter umum, ia hanya diberi lebih banyak obat penghilang rasa sakit dan dirujuk ke optometris —tenaga kesehatan profesional non-medis yang khusus melakukan pemeriksaan mata dan meresepkan pemakaian kacamata.

"Cukup meremehkan. Saya merasa tidak mendapatkan pengalaman yang terbaik saat itu," katanya.

Belakangan, pihak rumah sakit tersebut meminta maaf dan menjadi "sangat membantu".

Pada 13 Februari, Josh berniat berangkat bekerja seperti biasa. Namun, Kelly berkeras agar ia pergi ke unit gawat darurat saja. Saat itu, Josh kembali merasakan sakit yang cukup mengganggu.

"Rasanya seperti seseorang mendorong bagian belakang bola mata saya ke luar. Saya belum pernah merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti itu," tutur Josh.

Baca juga:

Rumah Sakit Wrexham Maelor yang menanganinya memilih memulangkan Josh setelah diberi morfin sebagai penghilang rasa sakit.

Keesokan harinya, rasa sakit yang terus berlanjut itu membawa Josh dan Kelly datang lagi ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan CT Scan. Dari hasil pemindaian itu, terungkap ada tumor berukuran 4,5 cm di otaknya.

"Mereka membawa kami ke sebuah ruangan samping dan menunjukkan hasil itu. Pada awalnya, saya tidak terlalu sedih. Saya berpikir, 'mungkin mereka salah orang' atau 'apa ada sedikit kotoran di layar?'" kenangnya.

Josh dirujuk ke The Walton Centre di Liverpool, tempat ia didiagnosis mengidap glioblastoma dan menjalani operasi untuk mengangkat 95% tumor tersebut.

'Target saat ini hidup sampai Natal'

Beberapa waktu mendengar keluhan suaminya, Kelly yakin ada sesuatu yang tidak beres pada kesehatan suaminya.

"Saya ingat betul saya berkata (ke pihak rumah sakit) ada gejala yang mengarah pada masalah kesehatan. Tapi saat itu, kami diberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Usai mendengar diagnosis di rumah sakit rujukan, Kelly berkata "itu sangat menakutkan".

"Saya tahu memang ada sesuatu yang salah, tapi tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini," ujarnya.

Baca juga:

Kendati demikian, Josh tetap merasa bersyukur karena Kelly memaksanya periksa ke dokter.

"Saya tidak mungkin bisa melalui semua ini tanpa dia. Jika saya terus mengabaikan rasa sakit saat itu, mungkin saya tidak akan berada di sini sekarang."

Sebagai operator mesin di Tritech yang bertugas "mengoperasikan mesin berat", kondisinya bisa berujung berbahaya apabila sakit kepala atau kejangnya muncul mendadak.

"Saya juga mengemudi pulang-pergi ke tempat kerja. Jika diingat-ingat lagi, saya bisa saja mengalami kejang kapan saja, akibatnya bisa sangat buruk."

Keputusan untuk operasi sempat memicu kekhawatiran karena menyasar bagian otak. Josh cemas akan kehilangan selera humor atau kepribadiannya.

"Saya selalu suka tertawa. Saya ingin keluar dari ruang operasi tetap menjadi diri saya sendiri, dan ternyata saya berhasil tetap menjadi diri saya."

Hal pertama yang dilakukannya setelah sadar dari operasi adalah meminta Kelly membelikan KFC.

"Dalam perjalanan ke rumah sakit, kami melewati KFC, jadi mungkin itu sebabnya ada di pikiran saya," katanya.

"Mereka panik dan segera memesan UberEats karena saya terus minta. Sebenarnya saya tidak terlalu suka KFC sebelumnya, tetapi saya ingin sekali. Saudara laki-laki saya sampai kesal karena saya menghabiskan semuanya dan tidak menawarkannya sedikit pun."

Pascaoperasi, ia menjalani radioterapi serta kemoterapi di Rumah Sakit Glan Clwyd di Rhyl, Denbighshire.

"Saya diberitahu ini tidak bisa disembuhkan. Ini stadium akhir. Saya masih menjalani kemoterapi dan berharap ada perubahan, walau serba tidak pasti," tuturnya.

Baca juga:

Menurut Brain Tumour Research, hanya sepertiga penderita gliobalstoma yang bertahan hidup lebih dari 12 bulan. Sementara itu, 4% bertahan hidup selama lima tahun atau lebih.

Meski begitu, ia tetap punya target dalam hidupnya sembari menjaga harapan.

"Saya sudah berjanji kepada Kelly bahwa saya akan mengeluarkan pohon Natal untuknya agar dia tidak perlu berurusan dengan laba-laba. Itu target saya saat ini," ujarnya

Awal tahun ini, Josh dan Kelly merencanakan petualangan dengan campervan dan mencoba memiliki anak. Namun dengan kondisi ini, rencana hidup mereka yang tertunda kini dimaknai dengan menciptakan kenangan setiap hari.

Belum lama ini, Josh mendaki Yr Wyddfa —gunung tertinggi di Wales. Ia juga mengikuti parkrun, bermain paddleboarding, merasakan pengalaman menjadi penjaga kebun binatang selama sehari di Chester Zoo, menanam bunga di kebun, dan jalan-jalan bersama anjing campuran shih tzu dan Maltese miliknya, Olive dan Teddy.

"Kami hanya berusaha membuat setiap hari berarti," kata Josh.

"Saya berusaha bangun lebih awal setiap hari dan membuatkan [Kelly] secangkir kopi. Sangat mudah untuk terus ingat tentang kondisi saat ini, karena itu harus tetap sibuk."

Dari perjalanannya ini, ia menyadari banyak kebaikan yang sangat mengesankan di sekelilingnya dari mereka yang tidak lelah merawatnya.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang tumor otak sebelum ini," katanya.

"Sungguh mengherankan betapa banyak orang yang terkena penyakit ini, tapi kita hampir tidak pernah mendengarnya. Sekarang saya melihatnya di mana-mana."

Ia menambahkan kondisi ini "tidak pilih-pilih", bahkan anak-anak juga bisa kena.

Kini, ia dan istrinya menyuarakan untuk meningkatkan penelitian, "meskipun hanya membantu satu orang". Mereka juga ikut dalam kampanye agar pemerintah Wales untuk meningkatkan investasi untuk penelitian tumor otak.

Kelly berkata: "Ada pilihan dan pengobatan yang sedang berkembang yang memberi harapan kepada keluarga, tapi tidak selalu tersedia di sini, di UK. Itu sangat membuat frustrasi."

Pemerintah Wales berkata, Cancer Plan for Wales, yang dijadwalkan terbit pada Februari 2027, akan "menguraikan pendekatan terhadap penelitian, inovasi, dan peningkatan akses ke uji klinis agar pasien dapat memperoleh manfaat dari pengobatan baru".

"Kami juga merencanakan Wales Cancer Conference untuk mempertemukan para ahli dan berbagi praktik terbaik dalam perawatan kanker," kata perwakilan pemerintah.