Dari iseng jadi kecanduan, demam drama China di kalangan para pria – 'CEO yang menyamar, drama kerajaan, seru tiap nonton'

Serial mini drama online di ponsel.

Sumber gambar, VCG/VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang warga menunjukkan tangkapan layar serial mini drama online di ponsel melalui platform berbagi video Douyin, yang dimiliki oleh raksasa teknologi Tiongkok ByteDance, pada 12 Maret 2024 di Shanghai, Tiongkok.
    • Penulis, Riana A Ibrahim
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 10 menit

Belakangan ini, format drama pendek asal China (drachin) tengah naik daun dan digandrungi masyarakat. Fenomena ini melahirkan berbagai komunitas penggemar, salah satunya yang diinisiasi oleh seorang pria bernama Icuk.

Di dalam komunitas tersebut, ia akrab disapa dengan julukan "Raja Utara". Tak hanya Icuk, masing-masing anggota rupanya juga punya sebutan khusus yang diambil dari karakter dalam drama pendek yang sedang naik daun itu.

"Ada yang dokter kan itu juga dipanggil tabib sakti. Jadi, ambil yang mirip di film-film itu. Kita begitu kalau lagi di komunitas. Konyol sih tapi seru," jelas pria yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Banyumas, Jawa Tengah, dan sekitarnya itu sambil tergelak.

Ketertarikan Icuk pada tren drama ini sebenarnya bermula secara tidak sengaja. Semula, ia hanya menikmati tontonan tersebut sendirian lewat gawai setelah melihat sekelebat cuplikannya di media sosial. Namun, tayangan singkat itu dengan cepat berubah menjadi rutinitas wajib sebelum tidur. Sembari bersantai ditemani rokok dan kopi, Icuk melepas penat setelah seharian bekerja dengan menyaksikan drama-drama tersebut.

Kini, ia mengaku sudah kecanduan. Setiap malam, Icuk setidaknya harus menamatkan satu judul drama—yang saking pendek per episodenya, total bisa mencapai 100 episode, dengan durasi keseluruhan sekitar dua jam. Terkadang, ia bahkan rela bertahan sampai dini hari demi menyelesaikan cerita agar tidak penasaran.

Setelah menemukan banyak teman dan mendirikan komunitas, Icuk menyadari bahwa pola ini juga dialami oleh rekan-rekannya.

"Sama itu. Kalau malam pada susah dihubungi karena lagi nonton drachin. Aku juga kalau ditelepon kadang susah pas malam, Raja Utara lagi drachin," ungkapnya.

Menariknya, hobi ini tidak sekadar menjadi hiburan pelepas lelah. Sambil menyelam minum air, Icuk bahkan bisa mereguk untung hingga ratusan rupiah dari menonton drama ini lewat aplikasi tertentu. "Ada dapat duit dari nonton. Bisa Rp300, Rp500, sampai Rp1.000, tergantung itu," kata Icuk.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Hal serupa juga dialami Catur, pengemudi ojek daring yang tinggal di Tangerang Selatan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk nonton drama asal China. Bahkan saking lupa waktunya, ia sering kesiangan untuk mencari penumpang.

Kegiatan ini akan dilanjutkannya lagi saat sedang menunggu orderan masuk.

"Saya enggak punya target harus dapat berapa. Yang pasti, pagi harus gerak sampai jam 11 atau 12. Istirahat. Nanti lanjut lagi pas sore, orang mulai pulang kerja sampai malam. Di antara waktu itu, saya nonton lagi drachin sambil nunggu penumpang," tutur Catur.

Ia juga menyebut para pengemudi ojek daring lainnya yang kerap berjumpa saat sedang sama-sama menunggu penumpang juga menghabiskan waktu dengan nonton drama asal China. Bahkan tidak jarang mereka saling merekomendasikan judul atau drama yang sedang mereka tonton.

"Padahal ceritanya sama aja ya. CEO yang menyamar, drama kerajaan, menantu yang dijahatin mertua. Muter-muter aja. Tapi kok ya seru gitu tiap nonton," ujarnya sambil tertawa.

Pemandangan umum dari adegan syuting drama kostum mini daring di Hengdian World Studios (kota film dan televisi Hengdian) pada 14 Maret 2024 di Jinhua, Provinsi Zhejiang China.

Sumber gambar, VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan umum dari adegan syuting drama kostum mini daring di Hengdian World Studios (kota film dan televisi Hengdian) pada 14 Maret 2024 di Jinhua, Provinsi Zhejiang China.

Icuk dan Catur hanya segelintir pria yang jatuh hati pada drama China alias drachin. Dalam sebuah wawancara, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat menyebut drama China sebagai jalannya menghilangkan lelah dan kepusingan.

"Jumlahnya banyak aku yakin, tapi pada gengsi aja ngaku. Ini komunitas juga jadi wadah yang sebelumnya gengsi atau rahasia-rahasiaan nonton drachin. Dari 40 orang anggota, hampir semua laki-laki. Perempuannya ada dua, dari Unsoed sama Kebumen," kata Icuk.

Media Partners Asia (MPA) pada kuartal pertama 2026 menemukan peningkatan jangkauan konten drama China di Asia Tenggara. Indonesia merupakan pasar dengan pertumbuhan tercepat dilihat dari kinerja di berbagai pelantar digital.

Salah satunya di aplikasi iQIYI, yang memaparkan lonjakan pelanggan berbayar hingga lima kali lipat per April 2026. Demografinya pun disebut berimbang antara pelanggan perempuan dan laki-laki. Meski begitu, data juga merekam bahwa persentase pelanggan laki-laki terus menanjak.

Mengapa drama China makin digemari?

Anggota komite film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Gietty Tambunan, menilai popularitas drama China di kalangan para pria ini sebagai wujud eskapisme.

"Dalam pop culture studies, eskapisme ini kan suka dilihat sebagai hal-hal negatif bagi user. Tapi ada juga riset yang menunjukkan eskapisme ini semacam mengklaim kembali waktu untuk diri sendiri," ujar Gietty.

Ia memberi contoh bagaimana para ibu yang kecanduan sinetron selalu dipandang negatif. Padahal, dari riset yang disebutnya itu, para ibu ini mencoba kembali menyeimbangkan kehidupannya antara tugas keseharian dan kepuasan untuk dirinya yang bisa jadi sulit diperoleh.

"Cara yang memungkinkan ya sinetron sehingga dia bisa keluar sebentar dari hectic-nya hidup. Dalam sejam sinetron itu, ada pemberdayaan lewat waktu sendiri. Walau nontonnya sambil nyetrika, misalnya. Jadi, eskapisme tidak selalu negatif."

Hal ini kemudian dilihatnya berkaitan dengan para pria yang kecanduan drama China. Apalagi, jika melihat pola konsumsi para pria pecandu drachin, yang menonton selepas kerja atau di tengah jeda kesibukan sehari-hari, Gietty berpendapat, eskapisme memang jadi tujuan utamanya.

Terlebih, drama China ini mudah dijangkau karena sering berseliweran di media sosial, lewat cuplikan adegan yang tiba-tiba berhenti saat sedang seru-serunya. Akhir yang menggantung, atau cliffhanger, ini memicu rasa ingin tahu sehingga setelah beberapa kali terpapar, para pengguna, termasuk para pria, akan mencoba mencari tahu dan mulai masuk perangkapnya.

Mini drama online di ponsel.

Sumber gambar, VCG/VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang warga menunjukkan tangkapan layar serial mini drama online di ponsel pada 12 Maret 2024 di Shanghai, Tiongkok.

"Itu human nature memang. Selalu pengin tahu kan bagaimana selesainya. Apalagi setelah ditonton, endingnya ternyata happy ending. Itu akan menambah rasa suka karena pada dasarnya kita mencari kebahagiaan yang mungkin tidak kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Drachin ini menawarkan kebahagiaan sesaat. Yang jahat pasti kalah, yang baik pasti menang," jelas Gietty.

Meski formulanya sesungguhnya identik dengan sinetron Indonesia di layar kaca, drachin punya kekuatan tersendiri. Beberapa kelebihannya di antaranya cerita yang tidak berbelit, waktu yang singkat, dan dapat diakses melalui gawai secara vertikal.

Jumlah episodenya umumnya berkisar 60 hingga 100 episode. Meski begitu, durasinya hanya 1-3 menit per episode, untuk satu judul drama. Oleh karena itu, drachin acap disebut drama mikro.

Akhir tiap episode juga sengaja dibuat menggantung, sehingga penonton tergelitik untuk lanjut menonton episode selanjutnya tanpa berpikir panjang.

Dalam psikologi, ini disebut efek Zeigarnik. Artinya, orang akan sulit lepas saat ada urusan yang belum selesai, atau aktivitas yang terputus dan belum tuntas. Hal itu akan melekat dalam ingatan dan terus terngiang.

Akibatnya, orang akan memilih untuk merampungkannya segera. Ini berlaku juga dalam industri hiburan yang kemudian memanfaatkan cliffhanger untuk membuat para penonton tak beralih.

"Alih-alih kuenya dijual utuh, kuenya dijual per potong. Kalau kita mau ngerasain enak keseluruhan kuenya, ya beli dulu potongan-potongan kecilnya," ujar Gietty.

Serial video ultra-pendek "Strange Mirror of Mountains and Seas".

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto yang diambil pada 10 Oktober 2025 menunjukkan layar monitor di sebuah studio film drama mikro di Shanghai.

Icuk tak menampik hal ini. Ia sempat sebal ketika melihat drama China wara-wiri di media sosial. Namun saking seringnya lewat, ia akhirnya terpancing ingin tahu.

"Ternyata menarik. Dari yang kerajaan, klasik, sampai CEO, itu menarik semua dan jadi enggak bisa berhenti," ucap Icuk.

Ia juga merasa, ia juga bisa bebas dari kepenatannya sehari-hari lewat menonton drachin.

"Kadang ya jadi membayangkan juga jadi CEO atau masa kerajaan saat itu bagaimana. Terus jadi lebih tenang ya karena bisa punya waktu sendiri," kata Icuk.

Catur juga menyebut hal serupa. Tekanan ekonomi dan upayanya mencari nafkah di jalan diakuinya sangat melelahkan. Istirahat sejenak dengan menyaksikan drachin membuatnya sejenak melupakan problemanya.

"Bisa ketawa karena kadang kan aktingnya tuh kadang lebay atau malah kaku padahal ceritanya lagi marah-marah atau sedih-sedih. Tapi bisa ngimpi juga kalau tiba-tiba ternyata ketemu CEO yang nyamar, bisa ikut kecipratan juga kan lumayan," ungkap Catur sambil tertawa.

Serial video ultra-pendek "Strange Mirror of Mountains and Seas" dipenuhi dengan monster mirip naga, protagonis tampan dan banyak melodrama.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto yang diambil pada 10 Oktober 2025 menunjukkan layar monitor di sebuah studio film microdrama di Shanghai.

Mengenai gagasan cerita yang disebut tidak berpihak pada perempuan atau cenderung Cinderella complex, pemerintah China kini melarang cerita mengenai CEO yang jatuh cinta pada perempuan miskin. Menurut pemerintah, hal ini mengglorifikasi kekayaan dan memberikan impian semu sukses secara instans.

China telah memerintahkan otoritas tingkat provinsi untuk menindak konten materialistis, penuh kekerasan, dan terseksualisasi dalam drama mikro yang diproduksi secara lokal.

Inspeksi yang dilakukan otoritas China ini menarget konten yang menampilkan pornografi ringan, "pandangan yang menyimpang tentang pernikahan dan hubungan", serta "pamer kekayaan yang mencolok", menurut Administrasi Radio dan Televisi Nasional China.

Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dari pemerintah China untuk membentuk norma sosial, termasuk dengan mendorong pernikahan dan mencegah penyebaran ideologi yang dianggap merugikan secara daring.

Untuk itu, tahun lalu, pertumbuhan sektor ini juga mendorong pemerintah China untuk memerintahkan agar produksi drama mikro yang berprofil tinggi dan sensitif harus mendapat persetujuan dari pihak berwenang.

Platform besar China seperti WeChat dan Douyin — TikTok versi negara itu — juga gencar menghapus materi yang bernuansa seksual, serta membidik drama mikro yang mempromosikan ideologi yang dianggap merugikan, misalnya pembenaran kenakalan remaja, aksi main hakim sendiri, atau materialisme.

Di bawah Presiden Xi Jinping, langkah-langkah ini diambil untuk tetap membentuk sikap sosial di China, seperti mendorong hubungan yang sehat sambil mengurangi pamer kekayaan ketika negara itu menghadapi sejumlah tantangan ekonomi.

Bagaimana pengaruh drama China secara global?

Drama china dengan konsep mikro atau drama pendek ini muncul di China pada akhir 2010-an. Distribusinya mengandalkan jaringan ponsel dengan pelantar digital milik China, seperti ByteDance, Tencent, dan Kuaishou. Ekspansinya menemukan momentum ketika pandemi merebak pada 2020-2021 dan terus berlanjut.

Dari jurnal bertajuk Micro-Drama: From Chinese Phenomenon to Global Trend, industri drama mikro China meraup pendapatan 37,39 miliar yuan atau setara Rp94 triliun, naik hingga 267,65% pada 2023, menurut iResearch. Dengan pasar yang makin meluas, pendapatan hingga 2027 bahkan diprediksi bisa menembus 100 miliar yuan atau setara Rp251,3 triliun.

Di China, ribuan studio kecil berlomba memproduksi drama mikro vertikal ini. Biaya produksi di sana cenderung rendah, sekitar US$150 ribu hingga US$300 ribu atau sekitar Rp2,5 miliar per seri, dengan syuting yang hanya memakan waktu delapan hingga sepuluh hari. Biaya itu sudah meliputi semuanya, termasuk honor aktor. Untuk itu, pilihannya jatuh pada aktor baru.

Cara ini menjadi salah satu cara bertahan. Sebelumnya, Quibi di AS pernah menjajal konsep drama mikro ini dengan biaya produksi hingga US$1,75 miliar dan membayar aktor papan atas Hollywood, tapi mereka kemudian merugi dan tutup.

China melirik ide ini dan memodifikasinya dengan menggunakan aktor baru,bukan yang berkategori papan atas.

Menurut MPA, dengan pertumbuhan tahunan majemuk di atas 16%, drama mikro diprediksi menjadi industri hiburan digital yang paling cepat tumbuh di dunia.

Mengacu data SensorTower, jumlah unduhan platform drama mikro di triwulan I-2025, menunjukkan bahwa pendapatan terbesar datang dari Amerika Serikat, yakni hampir 50% dengan 100 juta unduhan. Posisi selanjutnya ditempati Asia Tenggara dengan 88,8 juta unduhan. Lalu, China sebanyak 44,4 juta unduhan, diikuti India tercatat 40,7 juta unduhan, dan Eropa 25,9 juta unduhan.

Permintaan yang tinggi ini kemudian membuat drama mikro China ini diadaptasi oleh berbagai negara dan difilmkan di sana untuk penonton berbahasa Inggris dan global, yang sebagian besar diadaptasi dari naskah China.

Warga menunjukkan poster serial drama mini online di ponsel melalui platform berbagi video Douyin, yang dimiliki oleh kelas berat teknologi China ByteDance pada 12 Maret 2024 di Shanghai, China

Sumber gambar, VCG via Getty Images

Keterangan gambar, Warga menunjukkan poster serial drama mini online di ponsel melalui platform berbagi video Douyin, yang dimiliki oleh kelas berat teknologi China ByteDance pada 12 Maret 2024 di Shanghai, China

Salah satu yang juga mengikuti tren ini adalah industri hiburan Korea Selatan. Kesuksesan lewat drama Korea ternyata tetap memantik untuk membuat mikrodrama. Ada ramuan yang harus diikuti dari drama mikro ini, mengutip dari laporan BBC.

"Kami membutuhkan momen-momen spektakuler untuk mencuri perhatian mereka dalam sekejap," ucap sutradara Korea, Kang Mi-so.

Kang menambahkan, ini tidak seperti streaming atau TV, di mana pemirsa "siap dan bersedia mengorbankan waktu mereka," drama mikro bersaing dengan daya tarik dari aktivitas menggulir layar.

Hal itu mungkin menjelaskan mengapa serial yang disutradarainya memiliki lebih dari 10 adegan seseorang ditampar di wajah.

Ekspresi wajah yang kuat terlihat jelas di lokasi syuting

Sumber gambar, BBC/Hosu Lee

Keterangan gambar, Ekspresi wajah yang kuat terlihat jelas di lokasi syuting

Bisnis ini bergantung pada kemampuan untuk langsung memberikan dampak yang kuat karena lima hingga 10 episode pertama diberikan gratis. Setelah itu, penonton didorong untuk beralih ke aplikasi berbayar untuk menonton lebih lanjut.

Strategi pemasaran itu yang membuahkan hasil bagi drama China, yang dilaporkan mengungguli pendapatan box office pada 2024.

"Korea Selatan telah menunjukkan kepada dunia kemampuannya dalam menciptakan musik, acara TV, dan film. Para pembuat konten yang sama kini beralih ke drama pendek dan saya pikir mereka berkelas dunia," kata Neil Choi, CEO Vigloo, salah satu aplikasi drama pendek terbesar di Korea Selatan.

Kini, kecerdasan buatan (AI) yang ada menjanjikan biaya yang lebih rendah dan peluang yang lebih banyak. Industri drama mikro di China pun mulai beralih pada pembuatan konten memanfaatkan AI.

Bagaimana pengaruh drachin ke industri di Indonesia?

Di Indonesia, pengaruhnya juga besar. Rick Masran dari Vision+ menjelaskan, rumah produksi tempatnya bekerja telah memproduksi drama mikro Indonesia sejak tahun lalu. Dalam sebulan, ada 12 hingga 15 judul drama mikro Indonesia yang diproduksi.

Saat ditinjau, penontonnya justru melejit ketimbang drama mikro China.

"Sebelumnya memang bergerak di drama mikro China yang dari Mandarin. Tapi melihat trennya, kami rasa perlu mengembangkan lagi. Ternyata, setelah dijajal memang penontonnya makin meningkat sehingga karena permintaan tinggi itu, kami bisa buat sampai 15 judul dalam sebulan," ujar Rick.

Sementara itu, komunitas peminatnya juga berkembang. Salah satunya yang diinisiasi Icuk di Banyumas. Komunitas tersebut terus menarik minat para penggemar drama China yang berada di sekitar Banyumas, Purworejo, Cilacap, Purwokerto, Brebes, Kebumen, dan beberapa daerah sekitar.

Bahkan ketika bulan Ramadan lalu, komunitas ini mengadakan buka puasa serta nonton bareng dengan anggota komunitas yang sekaligus menggerakkan UMKM sekitar.

Tidak hanya itu, grup fans drama China di media sosial juga makin hidup. Mereka saling membagikan jadwal jika ada kunjungan artis drama China ke Indonesia. Mereka juga saling berbagi foto atau gosip terkini dari artis-artis tersebut.

Serupa dengan industri global, industri drama mikro Indonesia yang sedang mekar pun berhadapan dengan AI. Rumah produksi kecil mulai menjajal peruntungan dengan membesut drama mikro berbasis AI. Meski kadang terlihat janggal, tontonan ini tetap menemukan ceruknya.

Karena pada akhirnya, kebutuhan masyarakat untuk mencari hiburan dan pelarian di tengah beban hidup tak butuh banyak syarat.