Di balik ambisi China pekerjakan jutaan robot di pabrik-pabriknya – 'Jika Anda tidak diperlukan dunia robotika, Anda pasti tersingkir'

Robot humanoid di Pusat Pelatihan Pengumpulan Data Robot Humanoid di Qingdao, Provinsi Shandong, China, pada 12 Januari 2026.

Sumber gambar, Nurphoto via Getty Images

Keterangan gambar, Robot humanoid mempelajari proses penyortiran komponen di Pusat Pelatihan Pengumpulan Data Robot Humanoid di Qingdao, Provinsi Shandong, China, pada 12 Januari 2026.
    • Penulis, Laura Bicker
    • Peranan, Koresponden Tiongkok
    • Melaporkan dari, Beijing, Hangzhou, dan Chengdu
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 8 menit

Saat dunia terpukau oleh robot humanoid yang bisa berlari dan bertinju, revolusi yang lebih penting sedang berlangsung di China.

Di seluruh China, lebih dari dua juta robot bekerja di pabrik-pabrik manufaktur. Jumlah itu merupakan yang terbesar di dunia, dan terus bertambah dengan laju yang luar biasa cepat.

"Saya tidur siang dan dunia berubah," kata Chen Tianyu.

Pria berusia 28 tahun itu mengikuti perkembangan teknologi terbaru dengan menghabiskan waktu luangnya mengunjungi pabrik-pabrik yang beralih ke sistem otomasi.

Dengan cara itu, dia tahu keterampilan apa yang perlu diprioritaskan saat mengajar kecerdasan buatan (AI) dan robotika di kelasnya.

Di hadapannya, sekitar 30 mahasiswa tengah belajar pemrograman. Salah satu dari mereka mengetik cepat sambil bergantian menatap layar komputer dan sebuah robot.

"Idenya, robot ini akan mengambil komponen berbentuk silinder itu lalu memindahkannya ke sana," kata mahasiswa tersebut.

Deretan robot industri menunggu untuk diprogram. Di sudut lain ruangan, sejumlah mahasiswa sedang mengembangkan instrumen medis berbasis robotika.

"Jika Anda tidak dibutuhkan oleh dunia AI dan robotika, maka Anda pasti akan termasuk di antara mereka yang tersingkir," kata Chen.

Baca juga:

Bagi orang-orang di ruangan tersebut, ini adalah sebuah langkah—atau lebih tepatnya lompatan—menuju masa depan yang sedang dibangun China dengan cermat.

Rencana Xi Jinping ini diperkirakan bernilai US$20 miliar (sekitar Rp354 triliun), dengan tujuan menempatkan negaranya di garis depan inovasi dan dalam persaingan langsung dengan Amerika Serikat.

Tanda-tandanya terlihat di mana-mana. Mereka berada di Institut Teknik Hangzhou, salah satu dari sejumlah sekolah vokasi raksasa yang dibangun khusus untuk mencetak generasi baru insinyur yang menguasai teknologi.

Kampus itu berada di pinggiran Hangzhou, bekas ibu kota kekaisaran yang kini menjelma menjadi pusat teknologi dan berambisi menjadi pusat inovasi global.

Para siswa belajar robotika di Institut Teknik Hangzhou.
Keterangan gambar, Para siswa mempelajari robotika di Institut Teknik Hangzhou, salah satu dari banyak sekolah kejuruan baru.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Komitmen China ini diperkirakan akan mengubah dunia, seperti halnya ketika ekonomi China mengalami transformasi besar-besaran.

Mereka sudah mengirimkan robot-robotnya ke seluruh dunia. Lebih dari setengah robot industri dunia saat ini diproduksi di China.

Yang kurang jelas adalah dampak otomatisasi besar-besaran tersebut di negara yang berada di jantung manufaktur, perdagangan, dan inovasi global.

Apa artinya ini bagi tenaga kerja manusia di China, misalnya? Dan bagaimana kita dapat benar-benar mengukur biaya transformasi ini dalam rezim yang mengontrol informasi dengan sangat ketat?

Masa depan para pekerja di China menjadi tidak pasti, di tengah revolusi industri yang telah disaksikan dunia. Mulai dari jaringan tenaga surya, jam-jam sibuk yang sunyi berkat kendaraan listrik buatan China, hingga mesin-mesin yang berjalan lebih cepat daripada Usain Bolt.

Pada akhir pekan lalu, China menjadi tuan rumah edisi kedua World Humanoid Games di mana robot-robot bertinju, berlari cepat, dan berbaris.

Yang memicu tontonan ini adalah revolusi lain yang lebih sunyi, yang terjadi di dalam pabrik-pabrik dan ruang-ruang kelas.

BBC telah mengunjungi lokasi-lokasi industri di mana jurnalisnya diperlihatkan robot-robot yang tidak tampak seperti manusia, tidak menari atau melompat di atas panggung, tetapi bisa mengelas, mengecat, mengangkat, merakit, dan bekerja sepanjang waktu tanpa istirahat atau tunjangan.

Beberapa dirancang untuk membangun lebih banyak robot. Kami juga telah berada di dalam akademi tempat China melatih orang-orang yang akan bekerja bersama tenaga kerja robotnya.

Ini adalah kesempatan untuk menyaksikan langsung apa yang Xi sebut sebagai "kekuatan produktif baru" China - dan bagaimana kekuatan tersebut dapat membentuk kembali negara ini.

Seorang wanita mengoperasikan mesin di sebuah pabrik di Chengdu.
Keterangan gambar, Lebih dari dua juta robot bekerja berdampingan dengan manusia di pabrik-pabrik di China.

Di lantai pabrik di Kota Chengdu, tenaga kerja lama dan yang baru bekerja berdampingan.

Sekitar 30 pria dan wanita paruh baya sedang merakit, mengebor, dan memoles produk andalan CRP Technology, yakni sebuah lengan robot yang bisa melakukan berbagai tugas-tugas keindustrian.

Di ruangan itu juga terdapat empat insinyur muda yang berkerumun di sekitar konsol, mencoba memecahkan kode untuk sebuah prototipe, robot baru yang mereka harapkan akan membantu membangun robot-robot lain.

Salah satu dari mereka, Pang Kai, yang berusia 31 tahun, merupakan bagian dari tim penelitian dan pengembangan. Dia mendorong kerangka ramping itu melintasi ruangan.

Untuk saat ini, robot-robot ini hanya dapat melakukan gerakan berulang yang sederhana, seperti memindai kode QR.

"Mungkin dalam setengah tahun lagi, alat ini bisa melakukan tugas lain," kata Pang sambil tersenyum sendu.

Perjalanan masih panjang dan timnya merayakan setiap kemenangan kecil.

CRP Technology, yang mempekerjakan sekitar 300 orang, telah membangun lengan robot selama sembilan tahun.

Setiap lengan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pabrik untuk membantu membangun mobil, elektronik, atau turbin angin.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa satu lengan dapat diprogram untuk melakukan lebih dari 90% tugas berulang.

Para insinyur juga bertanya-tanya apakah suatu hari nanti mereka dapat menggantikan tenaga kerja perusahaan.

"Kami ingin robot baru kami seperti manusia. Kami berharap ia dapat berpikir sendiri," kata Pang. "Kami membutuhkan robot semacam ini karena mungkin dalam 10 tahun ke depan, kami tidak akan memiliki cukup pekerja di China."

Pang Kai mengenakan kemeja biru dengan robot berdiri di belakangnya.
Keterangan gambar, Pang Kai adalah bagian dari tim penelitian dan pengembangan.

Penurunan populasi dan penuaan angkatan kerja adalah alasan lain mengapa Beijing bergegas merevolusi pabrik-pabriknya.

Menurut perkiraan resmi, pada tahun 2035, lebih dari sepertiga populasi China akan berusia di atas 60 tahun.

Negara ini juga akan kehilangan hampir 60 juta jiwa dalam dekade berikutnya—hampir setara dengan populasi Prancis—menurut beberapa perkiraan.

Harapannya adalah peningkatan otomatisasi akan mengisi kesenjangan yang mengancam di angkatan kerja sebelum mulai memengaruhi perekonomian yang sudah lesu.

Tetapi, kecepatan transisi adalah kuncinya. Sekitar 120 juta orang masih bekerja di sektor manufaktur.

Jika China bergerak terlalu cepat, orang-orang akan kehilangan pekerjaan. Ini akan jadi pukulan telak bagi jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada upah bekerja di pabrik.

"Secara teori, mesin dapat bekerja 24 jam sehari, yang tentu saja merupakan keuntungan dibandingkan dengan pekerja manusia. Tetapi mesin juga membutuhkan perawatan. Setiap hari kita membutuhkan waktu untuk itu, dan setiap bulan lini produksi juga membutuhkan inspeksi dan perbaikan," kata Cao Li, wakil presiden produsen kendaraan listrik Leapmotor.

Akhir-akhir ini, mobil buatan Leapmotor kian populer di Eropa dan UK.

Mobil-mobil berteknologi canggih dan ramah di kantong dari perusahaan ini dirakit di pabrik Hangzhou dengan bantuan robot di setiap langkahnya.

Di ujung jalur perakitan, lebih banyak manusia yang terlibat.

Perusahaan ini memiliki lebih dari 25.000 pekerja dan ratusan di antaranya melakukan pengecekan akhir saat kendaraan-kendaraan baru yang berkilau melintas. Akankah tiba saatnya mereka tidak lagi dibutuhkan?

"Itu sangat mungkin," kata Cao. "Dan mungkin akan terjadi relatif cepat. Di bengkel-bengkel, termasuk pengepresan, pengelasan, dan pengecatan, kami pada dasarnya telah mencapai otomatisasi 100%."

Mesin-mesin di dalam pabrik Leapmotor.
Keterangan gambar, Mesin merupakan bagian dari setiap tahapan dalam pembuatan kendaraan listrik Leapmotor.

China memiliki keunggulan dibandingkan AS karena basis manufakturnya yang sangat besar. Motor, baterai, elektronik, roda gigi, sensor - semua yang dibutuhkan untuk membangun badan robot tersedia dengan mudah.

"China juga punya ide. Mereka punya rencana. Mereka tahu di mana mereka ingin berada dalam lima tahun ke depan. Mereka membuat rencana di tingkat atas, tetapi mereka memecahnya hingga ke wilayah, hingga ke kotamadya," kata Dr. Susanne Bieller, Sekretaris Jenderal Federasi Robotika Internasional.

"Jika Anda ingin membuat robot di Shenzhen, tersedia ekosistem yang lengkap. Anda hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk mendapatkan komponen yang Anda perlukan untuk membuat robot. Di Eropa, hal itu bisa memakan waktu hingga satu minggu."

Namun, ia mengakui, meskipun China mahir dalam membangun tubuh, AS masih unggul dalam membangun "otak", yang mencakup pengembangan AI untuk memprogram robot.

Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan China, dari DeepSeek hingga Moonshot, telah meluncurkan model AI baru yang menurut mereka dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan top AS.

Didorong oleh pendekatan "sumber terbuka" alias open source, di mana perusahaan rintisan AI berbagi kode mereka, inovasi Tiongkok mampu mengejar ketertinggalan lebih cepat dari yang diperkirakan, meskipun ada kontrol ekspor AS atas chip canggih yang penting.

Para analis sekarang percaya bahwa tahap selanjutnya dari perlombaan ini akan ditentukan bukan oleh siapa yang memiliki model bahasa terbaik, tetapi siapa yang dapat memasukkan kecerdasan ini ke dalam jutaan mesin.

Seorang pekerja wanita muda sedang memeriksa sebuah mesin di pabrik Leapmotor.
Keterangan gambar, Inovasi Tiongkok mendorong pabrik-pabrik di negara itu lebih cepat dari yang diperkirakan.

Dan itulah mengapa China juga berinvestasi dalam menghasilkan generasi siswa yang belajar untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Di Institut Teknik Hangzhou, misalnya, anak-anak dapat mulai belajar sejak usia 15 tahun.

Skala materi yang diajarkan terasa sangat mencengangkan.

Ada seluruh bangunan yang didedikasikan untuk mesin dan aeronautika, dan lantai khusus untuk siswa yang akan bekerja untuk menjaga China tetap terdepan dalam pengolahan logam tanah jarang (rare earth)—komoditas penting lainnya dalam persaingan dengan Washington.

Sebagian orang melihat ini sebagai solusi untuk tingkat pengangguran kaum muda yang masih tinggi di China—satu dari lima orang kesulitan mencari pekerjaan.

"Murid-murid kami sangat dibutuhkan dan bahkan bisa dipesan terlebih dahulu oleh perusahaan. Mereka tidak perlu khawatir tentang pekerjaan sama sekali, dan kami mengadakan kompetisi sebagai bagian dari pelatihan mereka," kata Chen, guru muda tersebut.

"Lebih baik menemukan posisi Anda dalam gelombang teknologi. Dalam proses kemajuan, perubahan struktural pasti akan terjadi, dan perubahan struktural inilah yang menjadi peluang kerja masa depan bagi para mahasiswa."

Namun China masih menghadapi tantangan ekonomi yang serius, mulai dari krisis properti yang terus berlanjut hingga utang pemerintah daerah yang sangat besar dan konsumsi yang terus rendah.

Belum bisa diperkirakan, apa dan bagaimana revolusi yang digembar-gemborkan Beijing akan memperbaiki masalah ini.

Pun sulit untuk mengukur bagaimana perasaan mereka yang pekerjaannya terancam terhadap perubahan yang akan datang.

Akankah robot menciptakan kemakmuran bagi mereka, atau hanya mengambil banyak pekerjaan mereka?

"Murid-murid saya bertanya apa yang akan terjadi di masa depan," kata Chen.

"Saya bilang saya tidak tahu. Teknologi berubah begitu cepat. Tapi kita tidak bisa hanya berdiam diri dan tidur di sini. Kita harus bergerak maju untuk melihat apa yang mampu kita lakukan."

Kami menggunakan AI untuk membantu menerjemahkan artikel ini, yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris. Jurnalis BBC memeriksa terjemahan tersebut sebelum diterbitkan. Selengkapnya tentang bagaimana kami menggunakan AI.