Mesin sinar-X portabel yang dapat membantu pasien di wilayah terpencil, medan perang, hingga kawasan bencana

Mesin sinar-X portabel

Sumber gambar, CHRISTINE RO

Keterangan gambar, Pemanfaatan mesin sinar-X portabel, seperti dalam foto ini, terus meningkat
Telah diterbitkan

Mesin sinar-X portabel “bisa menjadi penyelamat antara hidup dan mati”, kata radiografer Sam Pilkington.

Kebanyakan orang harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan rontgen. Namun bagi pasien yang sakit parah, atau untuk penanganan infeksi, Pilkington mengatakan bahwa mesin portabel ini sangat membantu.

Itu karena kehadiran mesin portabel itu “menghilangkan beban ongkos pasien” ke rumah sakit. Sebaliknya, mesin itulah yang didatangkan kepada mereka.

Mahasiswa tahun terakhir di Universitas West of England di Bristol itu mengatakan alat ini akan sangat bermanfaat di lokasi-lokasi terpencil termasuk medan perang hingga area bencana.

Penggunaannya pun telah berkembang pesat berkat jumlahnya yang kian banyak dan kemampuan dari sistem portabelnya.

Pandemi Covid-19 juga berkontribusi pada peningkatan ini. Pada tahun lalu, pasar sinar-X portabel global bernilai US$7,1 miliar (Rp110,35 triliun) pada tahun lalu. Dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi US$14 miliar (Rp217,6 triliun) pada tahun 2028.

Secara sederhana ada dua jenis mesin sinar-X portabel, yakni mesin beroda yang “bergerak” serta perangkat paling ringan yang dapat dibawa oleh satu orang. Perangkat paling ringan itu biasanya digambarkan sebagai “ultraportable”.

Mesin sinar-X portabel

Sumber gambar, IDDS/STOP TB PARTNERSHIP

Keterangan gambar, Mesin sinar-X portabel kini bisa menghasilkan foto rontgen yang memiliki standar mendekati mesin yang biasa digunakan di rumah sakit

Perangkat sinar-X ultraportabel ini telah diuji di Kepulauan Orkney, sebuah tempat terpencil di Skotlandia.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sebelum uji coba pada November 2021 hingga Januari 2022, 73% pasien yang dijadwalkan untuk menjalani rontgen pada akhirnya tidak bisa hadir karena ongkos yang mahal dan waktu yang diperlukan untuk datang ke rumah sakit.

Tetapi selama masa uji coba, perangkat portabel yang dibuat oleh perusahaan Jepang, Fujifilm, dibawa ke klinik-klinik setempat.

Perangkat itu bernama Fujifilm Xair, beratnya hanya 3,5kg, lebarnya 301 milimeter, dan tingginya 144milimeter.

Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh pasien akhirnya bisa menjalani prosedur rontgen.

Salah satu pasien mengatakan bahwa, “Alat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di pulau-pulau kecil. Apalagi bagi pasien-pasien dalam kondisi lemah.”

Produsen mesin sinar X portabel lainnya, OR Technology yang merupakan perusahaan Jerman, mengeklaim melihat ada minat yang besar dari negara-negara berkembang.

“Ada permintaan besar untuk menghadirkan layanan kesehatan kepada orang-orang,” kata Kepala bagian komersial OR Technology, Tim Thurn.

Mesin sinar-X portabel

Sumber gambar, OR TECHNOLOGY

Keterangan gambar, Maket ini menunjukkan bagaimana mesin sinar-X portabel Maket ini menunjukkan bagaimana mesin sinar-X portabel dapat mengambil gambar di lokasi kecelakaan

Di Filipina, Nigeria, dan negara-negara berkembang lainnya, sistem sinar-X portabel telah membantu proses skrining tuberkulosis (TB) yang membunuh sekitar 1,3 juta orang per tahun, meskipun sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan.

Wakil Direktur Eksekutif Stop TB Partnership, Suvanand Sahu, mengatakan bahwa rontgen dada masih menjadi alat skrining terbaik untuk mendeteksi TBC. Organisasi yang berbasis di Swiss ini mewakili lebih dari 1.500 badan pemerintah dan non-pemerintah di seluruh dunia.

Namun Sahu mengatakan bahwa akses terhadap sinar-X selama ini terhambat karena kurangnya rumah sakit. Ini terjadi di daerah-daerah terpencil, dan di antara masyarakat terpencil, nomaden, dan pengungsi.

Menurutnya, mesin sinar-X portabel, yang seringkali dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk memproses gambar dengan cepat, telah menjadi solusi ampuh yang memungkinkan deteksi dilakukan di lapangan.

“Sekitar 10 tahun yang lalu, jika kita mengatakan 'kita bisa melakukan rontgen di masyarakat, dan komputer dapat membacanya', orang-orang tidak akan menyangka. Tapi itu sudah terjadi sekarang.”

Dr Sahu menambahkan bahwa AI telah memungkinkan terjadinya "lompatan kuantum" terkait seberapa akurat dan cepat sinar-X ini dapat dibaca.

Mesin sinar-X portabel

Sumber gambar, IDDS/STOP TB PARTNERSHIP

Keterangan gambar, Mesin sinar-X portabel kini digunakan di negara-negara seperti Filipina untuk melakukan tes TBC

Ada pula yang khawatir dengan radiasi yang dilepaskan oleh mesin sinar-X portabel. Peralatan sinar-X portabel bekerja dengan cara yang sama seperti mesin yang digunakan di departemen radiologi di rumah sakit. Fotonya pun dihasilkan oleh semburan radiasi pengion yang ditargetkan.

Biasanya ruang rontgen di rumah sakit dirancang secara cermat demi meminimalkan paparan radiasi, misalnya dengan pemasangan timah.

Thurn mengatakan bahwa dengan sistem portabel, kurangnya perlindungan ini dikompensasi oleh luasnya area tempat alat tersebut digunakan. Sebab umumnya, alat portabel ini digunakan di luar ruangan atau di rumah sakit lapangan. Dalam kasus-kasus ini, dia mengatakan bahwa petugas kesehatan juga dapat menjaga jarak dengan alat.

Namun perkara radiasi ini masih perlu diklarifikasi, karena saat ini pedoman internasional tentang keselamatan radiasi “dirancang untuk jenis sinar-X tetap tradisional”, kata spesialis kesehatan digital di Stop TB Partnership, Zhi Zhen Qin.

Selain itu, ada pula perhatian terkait kualitas gambar dari mesin sinar-X portabel. Namun Pilkington mengatakan bahwa mesin-mesin portabel ini tetap bisa diperhitungkan.

“Gambar yang diambil menggunakan mesin-mesin tersebut memiliki standar diagnostik yang sebanding.”

Bagaimana pun, ada hambatan-hambatan terkait seberapa kecil komponen sistem sinar-X. Jika detektor sinar-X terlalu kecil untuk menangkap bagian tubuh dalam satu paparan, maka kemungkinan perlu diambil foto tambahan. Ini akan menambah lama prosesnya dan menambah dosis paparan radiasi.

Unit ini juga memiliki masa pakai baterai dan penyimpanan data yang terbatas, mengurangi jumlah pasien yang bisa dicitrakan dalam satu sesi.

Sementara itu, beberapa sistem yang digambarkan portabel ini sebenarnya tidak terlalu ringan dan mudah dibawa, terutama jika memerlukan perangkat lain agar alat ini berfungsi dalam bentuk stasioner.

Namun perusahaan Australia Micro-X kini membuat mesin sinar-X ultraportabel yang jauh lebih ringan, karena teknologi barunya yang dapat menghasilkan sinar-X tanpa menimbulkan panas. Hal ini menghilangkan kebutuhan oli dan motor untuk pendinginan, yang menambah berat bobotnya.

Mahalnya harga mesin sinar-X portabel juga menjadi masalah. Meskipun lebih murah dibandingkan mesin stasioner yang lebih besar, namun tetap saja harganya sangat mahal.

Stop TB Partnership mengatakan bahwa harga mesin ultraportabel berkisar antara $47.000 (Rp730,5 juta) dan $66.000 (Rp1,02 miliar). Ada pula biaya tambahan untuk garansi, instalasi dan perangkat lunak.

Dr Suvanand mengatakan dengan semakin banyaknya produsen yang memasuki sektor ini, "kami berharap persaingan bisnis akan menurunkan harganya".

Pada akhirnya, visinya untuk masa depan adalah "setiap orang yang membutuhkan sinar-X harus memiliki akses terhadap jenis sinar-X ultra-portabel yang modern, digital, dan dilengkapi dengan kemampuan AI".