Versi lebih sederhana dan lebih tua dari Stonehenge ditemukan 5 km dari situs terkenal tersebut

Sumber gambar, English Heritage
- Penulis, Alison Francis
- Peranan, Jurnalis sains BBC
- Penulis, Rebecca Morelle
- Peranan, Editor sains BBC
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Sejumlah arkeolog meyakini mereka telah menemukan versi Stonehenge yang lebih awal dan jauh lebih sederhana, berjarak sekitar 5 kilometer dari monumen prasejarah tersebut.
Yang tersisa dari struktur lebih tua itu hanyalah dua lubang di tanah.
Tapi, tim peneliti menyatakan di lubang tersebut, kemungkinan pernah tertancap tiang kayu yang sejajar dengan posisi Matahari saat titik balik matahari musim panas dan musim dingin—hari terpanjang dan terpendek dalam setahun—dengan cara yang serupa seperti di Stonehenge.
Situs ini diperkirakan berusia sekitar 5.000 tahun, atau sekitar 500 tahun lebih tua dibandingkan Stonehenge.
Sejumlah artefak juga ditemukan di lokasi tersebut, termasuk pecahan tembikar, alat batu api, dan tulang hewan, yang menunjukkan bahwa manusia prasejarah kemungkinan menggelar pertemuan atau aktivitas bersama di sana.

Sumber gambar, Tony Jolliffe/BBC News
Phil Harding dari Wessex Archaeology, yang memimpin penggalian tersebut, mengatakan temuan ini merupakan salah satu yang terbaik sepanjang kariernya.
"Dua lubang tiang ini memberi saya pemahaman yang jauh lebih dalam tentang kehidupan manusia 5.000 tahun lalu," ujarnya.
"Ini menggambarkan seluruh komunitas, bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menjalani kehidupan, serta bagaimana mereka memandang dan menghormati langit."
Baca juga:
Batu-batu raksasa di Stonehenge ditempatkan secara presisi agar sejajar dengan Matahari.
Jika Anda berdiri di tengah lingkaran saat matahari terbit pada titik balik matahari musim panas, Anda akan melihat Matahari muncul di atas sebuah batu yang dikenal sebagai "heel stone" di sisi timur laut lingkaran.
Sementara itu, pada pertengahan musim dingin, jika berdiri di pusat lingkaran, Anda akan melihat Matahari terbenam di atas batu altar di sisi barat daya situs tersebut

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Struktur yang ditemukan di Desa Bulford itu merupakan konstruksi yang jauh lebih sederhana, hanya terdiri atas dua tiang kayu yang kini telah lama membusuk.
Kedua tiang tersebut diperkirakan berjarak sekitar 120 meter dan memiliki tinggi antara dua hingga empat meter.
Saat Harding menemukan lubang-lubang yang menarik tersebut, dia menyadari bahwa posisinya tampak sejajar dengan Matahari, mirip dengan Stonehenge yang terletak beberapa mil dari lokasi itu.
"Saya mengambil pensil dan penggaris, lalu menghubungkannya, dan saya menyadari bahwa susunannya mengarah ke arah umum titik terbit Matahari pada pertengahan musim panas," katanya.
Jejak struktur yang lebih awal ini ditemukan satu dekade lalu di Bulford, ketika lahan tersebut dibersihkan untuk pembangunan perumahan baru bagi militer.
Namun, analisis rinci mengenai keselarasan arah situs ini baru dilakukan sekarang, dengan melibatkan rekonstruksi posisi langit pada masa lalu.
"Langit—posisi Matahari, Bulan, planet, dan bintang—berubah sangat lambat dari abad ke abad. Kita hampir tidak menyadarinya dalam rentang hidup manusia," kata Dr Fabio Silva, arkeoastronom dari Bournemouth University dan Skyscape Academy.
"Karena itu, kami perlu merekonstruksi kondisi langit, seperti apa tepatnya 5.000 tahun lalu, di mana Matahari terbit dan pada waktu berapa hal itu terjadi di lokasi tersebut.
"Jika mempertimbangkan lebar tiang-tiangnya, maka keselarasan ini benar-benar tepat. Susunannya secara akurat sejajar dengan terbitnya Matahari saat titik balik musim panas dan terbenamnya Matahari saat titik balik musim dingin."

Lubang-lubang yang pernah menancapkan tiang-tiang tersebut bukan satu-satunya temuan dalam penggalian ini.
Di sekelilingnya, ditemukan puluhan lubang lain yang berisi artefak milik masyarakat prasejarah di Desa Bulford.
Benda-benda ini membantu menentukan usia situs tersebut.
Tim peneliti menggunakan metode penanggalan radiokarbon—yang mengukur perubahan suatu bentuk khusus karbon dari waktu ke waktu—untuk memastikan bahwa struktur ini berusia sekitar 5.000 tahun.
Artefak yang ditemukan mencakup tanduk rusa yang kemungkinan digunakan sebagai alat gali, serta tulang-tulang hewan yang diukir, selain fragmen tembikar berhias halus.
Sejumlah alat dari batu api juga berhasil diungkap, termasuk pisau Neolitikum langka yang dibentuk menyerupai cakram (discoidal).
"Itu, menurut saya, adalah temuan unggulan kami," kata Harding dari Wessex Archaeology.
"Yang membuatnya istimewa adalah tingkat pengerjaan yang begitu halus. Itu merupakan hasil keterampilan tangan yang sangat tinggi."
Dia menambahkan, pisau tersebut ditemukan dalam posisi tegak, seolah sengaja ditempatkan dengan hati-hati, dan dia menduga benda itu memiliki makna simbolis.
"Mungkin bentuk cakram itu merupakan semacam representasi Matahari, siapa yang tahu?" ujarnya.

Sumber gambar, Wessex Archaeology
Monumen di Bulford berasal dari periode yang sama dengan tahap paling awal aktivitas di Stonehenge, ketika pekerjaan tanah pertama dibangun sekitar setengah milenium sebelum batu-batu besar didirikan.
"Penemuan di Bulford ini menunjukkan kemungkinan bahwa orang-orang yang membangun tahap awal Stonehenge tinggal atau bermukim di sana, atau setidaknya berkumpul secara musiman untuk melakukan pekerjaan konstruksi di Stonehenge," kata Dr Jennifer Wexler, kurator sejarah di English Heritage.
Namun, mengapa masyarakat prasejarah ini begitu tertarik pada Matahari?
"Orang-orang yang membangun Stonehenge dan yang berada di Bulford merupakan petani awal, dan kehidupan mereka sangat bergantung pada musim serta peran Matahari dalam siklus tersebut," jelas Wexler.
Baca juga:
- Penemuan arkeologi situs Gobekli Tepe di Turki,'menulis ulang' kisah peradaban manusia
- Vila Romawi yang terpendam 1.700 tahun ditemukan di lahan pertanian, penemuan 'paling signifikan' di Inggris
- Bukti paling awal kehadiran manusia di Amerika 30.000 tahun lalu, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya
Saat ini, titik balik matahari musim panas di Stonehenge menjadi daya tarik terbesar, ketika ribuan orang datang untuk menyaksikan matahari terbit di monumen tersebut.
Namun, Wexler mengatakan bahwa 5.000 tahun lalu, titik balik matahari musim dingin—hari terpendek dalam setahun—justru memiliki makna yang lebih besar bagi komunitas kuno.
"Musim dingin kemungkinan sangat penting karena merupakan saat ketika cahaya secara harfiah 'memudar', dan mungkin perlu ada sesuatu yang dilakukan untuk menandai atau memanggil kembali datangnya cahaya tersebut. Sebab setelah itu akan datang musim semi, ketika diharapkan tanaman dan hewan ternak mereka akan tumbuh dengan baik," jelasnya.
































