Gunung Semeru erupsi, kesaksian saat pendakian Ranu Kumbolo – 'Kami harus mengambil keputusan berani'

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Gunung Semeru di Jawa Timur bergejolak hebat, Rabu (19/11). Aktivitas vulkaniknya meningkat dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) hanya dalam beberapa jam—tingkat tertinggi dalam status gunungapi di Indonesia. Erupsi besar sedang terjadi.
Rabu (19/11), gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan material hingga 2.000 meter dari puncaknya. Kemudian menyusul awan panas guguran meluncur 13 kilometer ke arah tenggara dan selatan.
Sejauh ini, ratusan warga mengungsi menghindari Semeru yang sedang batuk.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pada Rabu malam, terdapat tiga desa di dua kecamatan yang terdampak. Wilayah ini berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Desa tersebut yaitu Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo di kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Berikut adalah fakta-fakta yang sejauh ini diketahui tentang erupsi Gunung Semeru:

Cerita pendakian Ranu Kumbolo saat Semeru erupsi
Sebanyak 187 orang berada di Danau Ranu Kumbolo saat erupsi Gunung Semeru terjadi. Mereka mencakup 129 pendaki, petugas TNBPTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), porter, dan Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST).
Ranu Kumbolo dikenal sebagai surganya Gunung Semeru. Kawasan seluas 15 hektar ini berada sekitar enam kilometer di sebelah utara Semeru.
Artinya, saat Semeru berstatus Awas, wilayah ini masuk 'zona merah'—radius yang harus steril dari aktivitas manusia karena rawan bahaya.
Petugas TNBPTS dan pendamping pendaki yang berada di tengah situasi ini bercerita kepada BBC News Indonesia saat mereka menghadapi detik-detik menegangkan ketika harus memutuskan turun hari itu juga, atau menunggu.

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
Rabu pagi (19/11), Rizky Ardiansyah menatap langit di sekitaran Ranupani, untuk memulai perjalan bersama rombongan pendaki menuju Ranu Kumbolo. Tak ada tanda-tanda yang aneh di angkasa. Hanya setumpuk awan kelabu.
"Kita menikmati perjalanan... Cuma dalam perjalanan sering gerimis, reda, gerimis lagi, reda," kata Rizky yang menjadi pemandu dari PPGST.
Saat itu, rombongan Rizky juga berjalan bersama dengan petugas dari TNBPTS, Rudi Budi Doyo.
"Waktu itu, kami adalah rombongan pertama yang mendaki di hari itu, di tanggal 19 November," kata Rudi yang mengamini cerita Rizky. "Perjalanannya waktu itu normal, seperti biasa, tidak ada tanda-tanda bahwa akan terjadi erupsi dan lain-lain".

Sumber gambar, Google Maps
Di tengah perjalanan, gerimis berubah menjadi hujan.
Rudi yang memimpin rombongan paling depan, sempat melihat longsor setelah melewati Pos 2 jalur Blok Watu Rejeng.
"Kami juga biasanya berhenti di Watu Rejeng. Karena terjadi longsor, jadi kami buru-buru menghindari area tersebut. Hingga akhirnya kami melakukan perjalanan lagi ke Ranu Kumbolo," kata Rudi.
Di tengah hujan deras, pria yang akrab disapa Cak Benjor mempercepat langkah, meninggalkan rombongan. Ia punya tugas lain: memastikan adanya jaringan internet di Ranu Kumbolo yang mengandalkan energi sinar matahari.
"Ketika saya sampai di Ranu Kumbolo itu kebetulan CCTV-nya mati, jaringannya mati. Ternyata karena panel surya sebagai tenaga menghidupkan Starlink, tidak terisi karena kabut," katanya.

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
Ia juga memeriksa tower panel surya yang berada di Tanjakan Cinta—lokasi tinggi di area Ranu Kumbolo. "Tapi tidak ada [pengisian Listrik] panel surya sama sekali," katanya.
Saat itu, jarak pandang Rudi terhalau kabut. Biasanya Semeru bisa terlihat dari sini.
"Saya di Tanjakan Cinta sekitar jam 3 lebih, yang kemungkinan berbarengan juga dengan terjadinya letusan, itu kondisinya kan gerimis".
"Jadi ada petir waktu itu. Ada suara geluduk. Andaikan ada suara [letusan gunung] pun, kami mengiranya suaranya geledek. Jadi berbarengan," kata Rudi yang saat itu belum menyadari adanya erupsi karena sinyal belum terhubung.

Sumber gambar, Finn Markert via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Rudi turun kembali ke Ranu Kumbolo. Memutar mesin genset yang tersedia di pos sebagai cadangan saat panel surya tidak berfungsi.
Bar sinyal internet mulai muncul di layar ponsel, dan pemberitahuan muncul. "Setelah sekitar 10 menit, baru kami mendapat kabar bahwa Semeru erupsi," tambahnya.
Rudi mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari pihak terkait yang haus informasi tentang kondisi para pendaki. Ia segera membuat laporan tertulis dan sibuk memotret segala sisi Ranu Kumbolo.
Saat itu, sekitar 60 pendaki sudah menapakan kaki di Ranu Kumbolo dengan tujuh pemandu, dan 15 porter. Sisanya, masih di perjalanan.
"Kami mendapatkan instruksi, saat itu demi keamanan, kami harus turun [kembali] ke Ranupani. Waktu itu statusnya Semeru masih di level 3, belum level 4. Sampai akhirnya jam 5, kami dihubungi lagi, status Semeru naik di level 4. Di level Awas," kata Rudi.
Informasi ini belum diketahui semua pendaki, karena hanya petugas yang bisa mengakses internet.

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
Menurut penilaian Rudi yang berada di lapangan, "untuk vulkanik, baik abu atau apapun yang mengarah ke Ranu Kumbolo tidak ada". Kemungkinan abu vulkanik tersebut dilunturkan hujan, dan angin terus berembus "mengarah ke arah Tenggara".
Rizky mengatakan hal serupa. Meskipun sedang erupsi, tapi kondisi di Ranu Kumbolo "tidak ada masalah apapun". "Abu vulkanik pun juga tidak sampai ke Ranu Kumbolo," kata pria yang akrab disapa Cak Kid.
Rudi bersama Rizky dan para pemandu pendaki berembuk. Mereka berusaha melobi agar rombongan pendaki bisa turun pagi esok hari. Menurut mereka, risikonya justru lebih besar untuk segera turun ke Ranupani di hari yang sama.
Pertama, karena kondisi pendaki sudah kelelahan. Kedua, risiko terjadi longsor di tengah perjalanan, sehingga menetap semalam di Ranu Kumbolo menjadi opsi paling aman. Keputusan mereka disetujui pihak terkait.

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
"Malamnya setelah kita berunding, kami kumpulkan teman-teman [pemandu]. Kebetulan saya ketua PPGST, menginstruksikan untuk ngasih tahu ke tenda-tenda tamunya masing-masing untuk memberitakan kejadian yang saat ini sedang terjadi," kata Rizky.
"Dan kami arahkan untuk tidak panik, tetap tenang, karena dengan bisa dilihat sendiri, dengan disaksikan bersama, kami semua baik-baik saja di situ."
Rizky yang memulai karir pemandunya sejak menjadi relawan Ranupani pada 2014, membantah para pendaki ini "terjebak" seperti diberitakan banyak media.
Sementara itu, di balik tempurung kepala Rudi, terbayang-bayang keluarga pendaki yang mengkhawatirkan anggota keluarganya. "Saya malam itu banyak yang calling [telepon] ke saya, menghubungi kondisi keluarganya dan sebagainya," katanya.
"Jadi memang waktu itu kami harus mengambil keputusan yang berani. Jadi kami berbekal pengalaman. Bukan kami menyepelekan atau merasa lebih tahu Semeru dan sebagainya, tapi kami berkaca pada pengalaman".

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
Hasil rembukan lainnya dari para penanggung jawab pendaki adalah menyiapkan skema terburuk: saat Semeru tidak lagi batuk, tapi bersin alias mengalami letusan eksplosif.
"Ya paling buruk waktu itu, kami memang berencana [turun] untuk camp di Pos 3," kata Rudi.
Para penanggung jawab pendakian ini pun bergantian berjaga sepanjang malam. Mengawasi arah angin, berharap hal buruk tidak terjadi.
"Tapi sampai pagi aman," kata Rudi.
Kamis sebelum pukul 09.00 pagi, seluruh rombongan pendaki dan lainnya sudah mengemas barang-barang. Mereka semua tiba di Ranupani.
Rudi menjadi yang belakangan turun. Ia punya tugas lain: memastikan tidak ada orang lain yang tersisa di zona merah.

Sumber gambar, Dok. TNBPTS
"Sampai di Pos 3, ternyata ada dua pendaki dari Surabaya yang kondisinya fisiknya kurang baik karena hujan. Saya [akhirnya] mengawal dua pendaki itu sampai di Ranupani," kata Rudi yang memiliki pengalaman sebagai pendamping pendaki sejak 2009.
Baik Rudi dan Rizky berkata, keputusan krusial ini juga dilatarbelakangi dengan kondisi dan pola serupa saat Semeru mengalami erupsi pada 2020, 2021 dan 2022. Saat itu, Ranu Kumbolo tidak terdampak langsung. Dampak awan panas guguran pun cenderung ke arah tenggara—berlawanan arah dari Ranu Kumbolo.
Hal ini disebabkan karena posisi kawah aktif Jonggring Seloko yang terbentuk sejak 1913, memiliki arah bukaan ke tenggara.
Di sisi tenggara juga terdapat lembah dan sistem sungai seperti Besuk Kobokan, Besuk Kembar, dan Besuk Bang. Dengan lembah curam dan panjang ini memudahkan material masuk dan meluncur, menjadi jalur utama awan panas guguran.
Bagaimanapun, Ranu Kumbolo tetap masuk radius yang harus steril dari aktivitas manusia saat Semeru berada pada level Awas. "Jadi mau nggak mau, tentunya kita harus sesuai prosedur, kita harus keluar dari area itu," kata Rizky.

Pengungsi mulai mengeluh kesehatan dan butuh pakaian layak
Hari ketiga pascaerupsi Semeru, para pengungsi mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan. Selain membutuhkan pasokan obat-obatan yang memadai, ketersediaan sandang layak menjadi kebutuhan utama bagi warga terdampak.
Anik Hatamah sudah hampir tiga hari berada di pengungsian di SDN 4 Supit Urang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur. Rumahnya sudah hancur akibat awan panas guguran.
"Sisa satu sendok pun enggak ada. Habis," katanya.
Ia bercerita saat erupsi terjadi, Rabu sore (19/11). Kala itu ia memperoleh informasi ada "lava turun".
"Lava itu kecil, berhenti. Katanya aman, enggak ada apa-apa," kata Anik.

Sumber gambar, Tutus Sugiarto
Tapi saat ia masuk kamar mandi dan siap mengambil wudhu, tiba-tiba orang-orang berteriak.
"'Cepat keluar! Cepat keluar!' Itu lava sudah turun ke bawah".
Dengan pakaian yang melekat di badan, Anik langsung keluar rumah. "Belum sempat apa-apa, langsung lari," katanya.
Ia menyelamatkan diri dan mencapai lokasi aman pada malam, sampai hari ini.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
"Yang dibutuhkan pakaian," katanya. "Rumahnya sudah habis. Terus, tanaman sudah habis semua".
Ke depan, Anik sudah berencana pindah tempat tinggal.
Keluhan serupa juga disampaikan pengungsi lainnya, Siti Munamah, terutama terkait kebutuhan susu dan popok bayi yang mulai menipis.
Kondisi ini menambah kesulitan bagi para ibu dan balita di pengungsian.
"Rumahnya enggak ada. blas," katanya.

Sumber gambar, Tutus Sugiarto
Selain itu, menurut Tim Kesehatan Posko Pengungsian Semeru, pengungsi sudah mulai mengeluhkan kesehatan: pusing, sesak napas, hingga penyakit kulit.
"Banyak keluhan dari lansia, yang sudah 60 tahunan itu biasanya kalau nggak pusing, kalau nggak gatal-gatal setelah erupsi," kata Ahmad Saifuddin, anggota Tim Kesehatan Posko Pengungsian Semeru.
Ahmad berkata, persediaan obat untuk masalah pernapasan sudah tersedia, tapi kemungkinan masih diperlukan "obat-obatan yang lainnya".
Dampak kesehatan dari aktivitas vulkanik Semeru
Saat Gunung Semeru erupsi dan terjadi awan panas guguran akan diikuti keluaran gas dan material.
Keduanya memiliki risiko terhadap kesehatan dalam jangka pendek dan panjang, kata Profesor Anna Rozaliyani, ahli pulmonologi.
Gas dari aktivitas gunungapi mengandung unsur uap air(H₂O), karbon dioksida (CO₂), Sulfur Dioksida (SO₂), Hidrogen Sulfida (H₂S), Hidrogen Klorida (HCl), Hidrogen Fluorida (HF) dan lainnya. Sejumlah gas ini beracun dan dapat membuat iritasi mata, kulit dan paru.
"Biasanya sifatnya iritasi saluran napas dan bahkan memicu serangan asma pada pasien-pasien yang memang punya kecenderungan itu," kata Prof Anna yang juga Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Sementara itu, keluaran material hasil aktivitas vulkanis, mulai dari yang tampak seperti bongkahan batu sebesar kambing hingga butiran halus - abu.
Komponennya adalah Silika (SiO₂), fragmen batu & kristal vulkanik, logam berat, sampai partikel kaca vulkanik.
Abu vulkanik melayang-layang di udara terbawa angin sampai bisa masuk ke dalam lubang hidung yang "bersifat akut".
"Kalau jangka pendek untuk yang gejala berat yaitu adalah sesak berat," tambah Prof Anna.
Dokter penanggung jawab di RS Universitas Indonesia ini menambahkan, sesak berat ini biasanya terjadi pada kelompok rentan: orang yang punya riwayat penyakit paru atau jantung, anak-anak dan orang tua. Petugas kesehatan yang berada di lokasi juga rentan dengan gejala ini.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
"Ada nyeri dada, bahkan bisa sampai penurunan kesadaran karena kadar oksigen yang mestinya cukup tapi kemudian terganggu. Kemudian gejala ringannya mungkin batuk, cuma pilek-pilek, dahaknya banyak," katanya.
Gejala jangka pendek ini bersifat iritasi yang menyebabkan gejala lain seperti demam. "Kayak infeksi padahal sebetulnya penyebabnya iritasi," kata Prof Anna.
Pada dampak jangka panjang, paparan abu vulkanik yang intens akan membuat orang yang sudah punya asma bawaan "menjadi lebih berat keluhannya".

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau bronkitis kronis, efek abu vulkanik juga dahsyat. Komponen silika yang masuk ke dalam paru, dapat menyebabkan fibrosis paru.
"Parunya jadi nggak elastis lagi. Parunya jadi tidak bisa mengembang, mengempis, masukin udara, mengeluarkan CO2-nya terganggu," jelas Prof Anna.
Dan, pada efek terparah: kanker. "Kalau pajanan debu dan sebagainya di daerah vulkanik itu meskipun bisa [kanker] tapi sangat kecil risikonya. Karena kan sifatnya periodik singkat," katanya.
Bagaimana penanganannya?
Pada fase awal erupsi, Prof Anna menyarankan penggunaan masker N95 atau KN95 untuk menyaring partikel halus dan gas berbahaya. Masker bedah berlapis bisa digunakan ketika situasi mulai mereda.
Namun ia mengingatkan, penderita penyakit paru mungkin merasa tidak nyaman memakai masker tertentu terlalu lama. "Pajanan harus dibatasi. Masker kain jelas tidak cukup," katanya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/
Risiko di pengungsian
Setelah erupsi, risiko kesehatan khususnya pada pernapasan tidak berhenti. Kondisi pengungsian yang padat membuat penyebaran penyakit pernapasan, baik virus maupun bakteri, lebih mudah terjadi.
"Pertahanan paru setelah terpapar abu itu menurun. Begitu ada virus flu biasa saja, gejalanya bisa lebih berat," kata Prof Anna. Ia juga menyoroti bahaya asap rokok di pengungsian yang dapat semakin memperburuk kondisi paru-paru yang sudah rentan.
Rekomendasi perlindungan warga
Prof Anna menyarankan sejumlah langkah mitigasi kesehatan, antara lain:
- Menghindari aktivitas luar ruangan saat abu pekat
- Menutup pintu, jendela, dan ventilasi
- Membersihkan abu dengan metode basah, bukan disapu
- Melindungi sumber air dan makanan
- Mengurangi penggunaan bahan bakar kayu
- Memastikan ketersediaan masker dan obat bagi penderita asma atau PPOK

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Pemerintah juga diminta memperkuat sistem pemantauan kualitas udara di kawasan rawan erupsi.
"Idealnya ada alat pemantau seperti pengukur PM2.5 di kota-kota besar, dan tenaga kesehatan harus terlatih untuk menghadapi risiko spesifik daerah vulkanik," kata Prof Anna.
Meski risiko kesehatan akibat abu vulkanik nyata, Prof Anna menegaskan, paparan polusi perkotaan masih menjadi ancaman jangka panjang yang lebih besar terhadap penyakit paru dan kanker paru.
"Paparan debu vulkanik memang berbahaya, tapi sifatnya episodik. Polusi kota itu kronik," ujarnya.
Ratusan pendaki dinyatakan 'aman'
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, memastikan 187 pendaki termasuk pemandu, saver dan petugas yang berada di Ranu Kombolo tidak terjebak akibat erupsi letusan Gunung Semeru.
Ia menerangkan, ketika aktivitas Semeru meningkat secara cepat pada Rabu (19/11) siang, para pendaki sudah dalam perjalanan menuju Ranu Kombolo dan tiba pada pukul 17.00 WIB, bersamaan dengan berubahnya status Semeru menjadi level IV atau awas.
Merujuk pada catatan letusan-letusan sebelumnya, sambung Rudijanta, material erupsi Semeru tidak pernah mencapai area Ranu Kumbolo.
"Tapi arah erupsi ke arah selatan dan tenggara. Sementara Ranu Kombolo berada di utara. Jadi kami pastikan lokasi itu cukup aman, sehingga kami meminta pendaki tetap bermalam di Ranu Kumbolo karena sudah sore, jelang gelap," jelasnya dalam konferensi pers daring.
"Dan cuaca juga hujan, kurang kondusif kalau dilanjutkan ke Ranu Pane."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Namun demikian, Rudijanta berkata, pada pagi tadi pihaknya menggelar rapat dan memutuskan untuk mengajak para pendaki kembali ke Ranu Pane.
Berdasarkan laporan yang dia terima, seluruh pendaki, maupun pemandu, petugas, dan porter telah berada di sana pada pukul 14.30 WIB.
"Jadi tidak ada yang tertinggal di Ranu Kumbolo," tegasnya.
Di sisi lain, dia mengimbau masyarakat untuk menaati arahan PVMBG mengenai daerah-daerah rawan bencana untuk menjamin keselamatan bersama.
Dia menegaskan radius 8 kilometer dari puncak gunung tidak disarankan ada aktivitas manusia.
"Sehingga jalur-jalur lain tidak memungkinkan dilalui oleh para pendaki," katanya.
Ratusan jiwa mengungsi
Hampir 1.000 orang mengungsi menyusul erupsi Gunung Semeru.
Berdasarkan laporan Basarnas lebih dari 950 orang dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro menempati sejumlah titik pengungsian.
Di Kecamatan Pronojiwo, warga yang menempati tempat sementara di SD 04 Supiturang, Balai Desa oro-oro Ombo, Masjid Ar-Rahmah, dan SD Sumberurip.
Di Kecamatan Candipuro, pengungsi juga tersebar di Rumah kepala desa sumbermujur dan kantor kecamatan.
"Pendataan masih terus dilakukan," tulis Basarnas.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Selain itu, terdapat sejumlah warga dievakuasi menuju Balai Desa Penanggal. Namun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat masih melakukan pendataan di lapangan.
Rokhmad, wartawan di Lumajang yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, berada di salah satu titik pengungsian di Masjid Jami' Nurul Jadid, Kecamatan Pronojiwa.
"Tadi malam ada 300 jiwa [pengungsi] di sini. Mereka hanya menggunakan alas tikar. belum ada bangunan tenda pengungsian," kata Rokhmad.
Namun, Kamis pagi, sebagian besar pengungsi ini kembali ke rumahnya untuk "menyelamatkan barang-barang".
"Masyarakat awalnya tidak dievakuasi. Mereka diimbau menyelamatkan diri. Ada suara sirine [peringatan erupsi Semeru], mereka gotong royong sendiri".
Korban luka bakar
Tidak ada laporan korban meninggal, tapi menurut laporan Badan SAR Nasional setidaknya tiga orang mengalami luka akibat awan panas.
Dua korban awan panas adalah sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Mereka terjatuh di jembatan Gladak Perak dan dirujuk ke Rumah Sakit Pasirian, Kabupaten Lumajang.
"Korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen setelah terjatuh saat melintas di jembatan Perak yang licin dan tertutup abu panas akibat erupsi Gunung Semeru yang disertai luncuran guguran awan panas," kata Sekda Lumajang Agus Triyono, seperti dikutip Antara.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Menurutnya, kendaraan motor yang digunakan korban tergelincir akibat jalanan licin dan tertutup awan panas Semeru.
"Meskipun demikian, koordinasi cepat petugas di lapangan berhasil mengevakuasi korban tanpa terlambat, sehingga korban dirujuk ke RS Pasirian," tambah Agus.
Ia mengatakan korban telah mendapat penanganan awal di Puskesmas Candipuro dan ditangani secara medis untuk penanganan luka bakar.
Namun karena membutuhkan perawatan lebih intensif, maka korban kemudian dirujuk ke RS Pasirian.
Satu korban luka lainnya adalah Dimas, warga Desa Supit Urang, Kabupaten Lumajang. Dimas mengalami luka bakar grade 1 (lapisan kulit luar) dan saat ini dirujuk ke Puskesmas Pasirian.
Tujuh hari status tanggap darurat
Pemkab Lumajang memutuskan status status tanggap darurat bencana alam menyusul erupsi Semeru.
Penetapan ini diteken bupatinya, Indah Amperawati melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025.
Status tanggap darurat berlaku selama 7 hari, mulai 19 hingga 25 November 2025, sebagai langkah cepat dan terpadu dalam menghadapi dampak erupsi.
Dengan status ini, artinya pemda dapat mengerahkan Tim SAR, medis, dan logistik secara cepat.
Status ini juga memperbolehkan penggunaan dana darurat tanpa prosedur administratif yang panjang, termasuk mobilisasi tenaga dan peralatan dan pembukaan posko darurat.
Baca juga:
Fokus utamanya penyelamatan jiwa dan meminimalisir dampak bencana.
"Pemkab Lumajang menetapkan status tanggap darurat bencana erupsi gunung Semeru hingga 7 hari," kata Indah, seperti dikutip Detik.
Dalam surat edaran itu pemerintah dan warga meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan dan dampak dari erupsi Gunung Semeru.
"Kemudian melakukan antisipasi dengan mengamankan diri ke tempat aman sementara waktu untuk menghindari dampak erupsi sambil menunggu perkembangan lebih lanjut," terangnya.
2.800 kali letusan sepanjang 2025
Semeru adalah gunung aktif. Ia bergejolak sepanjang hari.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan selama 2025 hingga hari ini, gunung di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten malang mengalami 2.802 kali letusan.
Hasil pengamatan visual per Rabu 20 November, "Gunungapi [Semeru] terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0 - II. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung, angin lemah ke arah utara, tenggara dan selatan".
Letusan Gunungapi Semeru sempat menjadi sorotan di penghujung 2021. Saat itu, otoritas mencatat korban meninggal mencapai 51 jiwa dan lebih dari 10.000 orang mengungsi.

Sumber gambar, PVMBG
Riwayat Gunung Semeru 'paku bumi' Pulau Jawa
Gunungapi aktif yang berada di timur Pulau Jawa ini memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Ia disebut sebagai "paku bumi" bagi tanah Jawa.
Sebuah kitab kuno "Tantu Paggelaran" yang diperkirakan berasal pada abad ke-15 menuliskan Pulau Jawa terus mengambang di tengah laut, dan dipermainkan oleh ombak.
Tapi kemudian, para dewa memutuskan untuk memanteknya. Diambillah Gunung Meru yang berada di India ke Jawa sebagai "paku bumi", agar Pulau Jawa tidak lagi terombang-ambing.
Berdasarkan riset yang dimuat Jurnal Pesona dari Universitas Indonesia, penamaan Semeru setidaknya sudah muncul pada abad ke-19, yaitu pada tahun 1879 yang tercatat pada peta eksepdisi Belanda.
Dan, Semeru yang memiliki puncak bernama Mahameru memiliki sejarah panjang mengalami erupsi, setidaknya sejak 1818.
"Catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan," kata juru bicara BNPB, Abdul Muhari dalam catatannya di situs BNPB.
Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. PVMBG menyebut leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942.
Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.
Aktivitas vulkanik Semeru juga tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, hingga 1960.
Tapi tak berhenti di situ.
Paku bumi Pulau Jawa ini pun tercatat mengalami gejolak luar biasa pada 1 Desember 1977. Saat itu, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar.

Sumber gambar, PVMBG
"Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989," tulis Abdul Muhari.
PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008.
Pada 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Menurut data PVMBG, pusat aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru.
Gunung Semeru memiliki karakter letusan bertipe "vulkanian dan strombolian" yang terjadi 3–4 kali setiap jam.
Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya, sedangkan letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawah dan lidah lava baru.

Sumber gambar, Dok. BPBD Kabupaten Lumajang
Berikut dampak dari aktvitas Gunung Semeru yang tercatat media dalam lima tahun terakhir:
- Desember 2020
Sebanyak 550 orang diungsikan setelah Gunung Semeru memperlihatkan aktivitas vulkanik. Tidak ada laporan korban jiwa.
- Desember 2021
Saat itu, setidaknya 51 orang meninggal, menurut BNPB. Kejadian erupsi Semeru ini mendapat sorotan luas karena tingginya korban jiwa.
Sistem peringatan dini dianggap tidak berfungsi dan pengelolaan tata ruang yang salah. Warga yang terdampak berasal dari tiga kecamatan: Pronojiwo, Candipuro dan Pasirian.
- Desember 2022
Gunungapi Semeru mengalami letusan puluhan kali dan statusnya dinaikkan pada level tertinggi 'awas'. Hampir 2.000 warga mengungsi.
- Juli 2023
Gejolak alam ini disebabkan sisa lava Semeru: banjir lahar dingin dan longsor. Banjir lahar dingin disebabkan intensitas hujan yang tinggi.
Setidaknya tiga orang meninggal, dan ribuan orang mengungsi. Beberapa fasilitas seperti rumah, bangunan, tanggul, dan jembatan rusak.
Wartawan Tutus Sugiarto dan Rokhmad di Lumajang berkontribusi dalam reportase ini.





























