You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Kisah pria-pria China yang ditipu pengantin palsu
- Penulis, Laura Bicker
- Peranan, Koresponden BBC
- Melaporkan dari, Beijing dan Guiyang
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 9 menit
Pada usia 37 tahun, Wang Zhuang masih lajang dan hampir menyerah dalam menemukan istri. Namun, secercah harapan timbul setelah dia melihat iklan biro jodoh yang mengilap.
Iklan itu menjanjikan bahwa dirinya tidak perlu membuang waktu bertahun-tahun membangun hubungan yang tidak memiliki masa depan.
Biro jodoh tersebut menawarkan untuk memperkenalkan pria lajang seperti dirinya kepada perempuan yang lembut dan setia.
"Para mak comblang mengatakan bahwa perempuan dari Guizhou hidup hemat," kata Wang.
"Biro jodoh itu memberi tahu saya bahwa perempuan-perempuan ini pandai mengurus rumah tangga, mampu melakukan pekerjaan rumah, dan keluarga mereka sangat miskin. Sehingga setelah menikah, mereka akan menetap dan menjalani kehidupan bersama Anda."
Wang lantas membulatkan tekadnya pergi ke Guiyang, sebuah kota di Provinsi Guizhou di barat daya China, dengan harapan menemukan belahan jiwanya.
Dia mengira telah menemukan jodohnya ketika dipasangkan dengan seorang perempuan yang tampaknya memenuhi semua kriteria.
Mereka hanya bertemu beberapa kali sebelum menikah.
Lalu, secepat kehidupan barunya dimulai, secepat itu pula semuanya berakhir.
"Seluruh keluarga saya menjadi kacau," katanya sambil menggelengkan kepala.
Hingga kini, dia masih berusaha memulihkan hidupnya setelah mengetahui bahwa semua yang dikatakan istrinya adalah bohong.
Perempuan itu adalah mantan pemandu karaoke yang telah menikah tiga kali, memiliki tiga anak, menderita penyakit menular seksual yang serius, dan terlilit utang besar.
Dia bahkan berbohong tentang usianya.
Wang sedang berupaya untuk bercerai. Dia tidak dapat kembali ke kehidupan lamanya, setidaknya sampai dia bisa mendapatkan kembali sebagian tabungannya, yang menurutnya diserahkan kepada biro jodoh tersebut hanya beberapa jam setelah diperkenalkan kepada beberapa calon pasangan.
"Orang tua saya menyalahkan saya. Saya mengalami insomnia dan kecemasan. Saya tidak bisa fokus bekerja."
Kisah Wang adalah gejala ekstrem dari krisis demografi yang telah berlangsung lama di China.
Selama beberapa dekade, Partai Komunis China menetapkan bahwa pasangan suami istri hanya boleh memiliki satu anak.
Mereka mengubah kebijakan itu pada Januari 2016. Namun, pada saat itu kebijakan "satu anak", ditambah preferensi terhadap anak laki-laki, telah menghasilkan jumlah perempuan yang terus menyusut dan ketimpangan gender yang mencolok.
Kini terdapat 30 juta lebih banyak laki-laki daripada perempuan di China. Jumlah itu lebih besar daripada populasi laki-laki di Inggris, atau bahkan seluruh populasi Australia.
Baca juga:
Kondisi ini membuat laki-laki seperti Wang, yang berusia akhir 30-an tahun dan tinggal di kota-kota kecil atau daerah pedesaan yang terpencil, memiliki sangat sedikit pilihan.
Perempuan di tempat-tempat tersebut dapat lebih selektif karena mereka tahu bahwa mereka sangat diminati.
"Persyaratan bagi laki-laki sangat tinggi di kota saya. Saya harus memiliki mobil, rumah, dan keluarga saya harus punya usaha," katanya.
Banyak keluarga juga menuntut "uang mahar" yang tinggi, sebuah tradisi lama di China di mana keluarga mempelai pria memberikan uang kepada mempelai perempuan.
Di sejumlah wilayah China, tempat jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan, hal ini telah menjadi beban keuangan yang besar.
Karena itulah biro jodoh seperti di Guizhou menjadi menarik, karena mereka menawarkan solusi cepat terpadu, atau "pernikahan kilat".
Biro jodoh bukanlah hal baru di China, tetapi banyak di antaranya tampaknya menemukan sasaran yang rentan di kalangan laki-laki yang kesulitan mencari pasangan seiring bertambahnya usia.
Bahkan media pemerintah baru-baru ini melaporkan bahwa industri tersebut mengalami "pertumbuhan pesat" yang "melahirkan praktik ilegal dan kekacauan".
Sulit menentukan seberapa besar jaringan penipuan semacam ini di seluruh China, tetapi kasusnya telah berkembang cukup besar sehingga menarik perhatian para pejabat China.
Antara Januari 2024 dan Maret 2025, para jaksa di China menangani kasus yang melibatkan 1.546 individu terkait kejahatan dalam industri perjodohan.
Bulan ini, lima otoritas berbeda bersama-sama meluncurkan penindakan nasional terhadap industri perjodohan setelah masalah tersebut memicu "keprihatinan publik".
Dalam satu kasus, sebuah biro jodoh dilaporkan menggunakan pramuwisma karaoke sebagai umpan untuk menipu 128 korban dengan total lebih dari 2,5 juta yuan (Rp6,6 miliar).
"Saya pikir pemerintah dapat membuat aturan khusus industri yang menargetkan penipuan pernikahan kilat," kata Fan Binghe dari firma hukum Beijing Jingshi kepada BBC.
Baca juga:
Meskipun Guiyang terkenal dengan "pernikahan kilat" yang berkembang pesat, hanya sedikit tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kota tersebut merupakan pusat romantika.
Kantor-kantor agen berada di dalam labirin bangunan yang padat di atas kawasan pertokoan, tempat para pedagang menjual buah-buahan lokal dan para pekerja mengantre membeli mi kuah untuk dibawa pulang.
Namun Wang yakin ia bisa mempercayai mereka setelah perusahaan mengatakan akan melakukan pemeriksaan latar belakang menyeluruh dan bahwa ia berhak mendapatkan kompensasi jika menjadi korban penipuan.
Maka ia membayar, dan proses perkenalan pun dimulai.
Wang bertemu tujuh perempuan di berbagai ruang "kencan buta" selama beberapa hari, dengan pengawasan ketat staf agen.
Dia mengajukan pertanyaan tentang asal mereka, apakah pernah menikah sebelumnya, dan apakah mereka memiliki anak.
Dia kemudian menjatuhkan pilihan pada perempuan kedelapan yang ditemuinya.
Wang berharap bertemu seseorang yang belum pernah menikah, tidak memiliki anak, dan hanya sedikit lebih muda darinya.
"Dia juga berpakaian sangat sederhana," kenangnya.
"Dia tampak tertutup dan jujur."
Mereka bertemu empat atau lima kali, masing-masing hanya selama delapan hingga 10 menit.
Menurutnya, mereka mendapat instruksi ketat untuk tidak saling bertukar nomor telepon atau detail pesan pribadi apa pun. Jika tidak patuh, mereka akan didenda.
Setelah dua atau tiga hari, Wang memutuskan bahwa perempuan itu adalah orang yang tepat dan setuju membayar uang pengantin dalam jumlah besar.
"Saya menghabiskan lebih dari 300.000 yuan (Rp792 juta)," katanya sambil memegang setumpuk dokumen hukum yang telah lusuh sebagai bukti.
"Jika termasuk pesta pernikahan dan semuanya, saya menghabiskan sekitar 400.000 hingga 500.000 yuan (Rp1 miliar - Rp1,3 miliar)."
Seluruh proses itu didokumentasikan oleh biro jodoh dalam serangkaian foto mengilap, yang juga mereka gunakan untuk mengiklankan layanan mereka di media sosial China.
Dalam video tersebut, pasangan itu bergandengan tangan di atas karpet merah dan tersenyum selagi musik romantis diputar di latar belakang.
Baca juga:
Beberapa bulan setelah menikah, para penagih utang mulai menelepon dan menuduh istri Wang berutang uang kepada mereka.
Wang mulai curiga dan ingin mengetahui apa lagi yang telah disembunyikan istrinya.
Ia memeriksa telepon istrinya dan menemukan rincian kehidupan masa lalunya, akta kelahirannya, serta dokumen pernikahan sebelumnya.
Ketika ia mengonfrontasinya, sang istri menawarkan perceraian, tetapi menolak mengembalikan satu sen pun dari uang mahar.
Wang mengaku telah berusaha mencari biro yang bertanggung jawab atas pernikahannya. Tetapi ketika kembali ke kantor mereka, mereka sudah berkemas dan menghilang.
Dari apartemen sewaannya di Guiyang, tepat di seberang distrik utama yang menampung sebagian besar biro tersebut, Wang kini menghabiskan waktunya membuat video media sosial untuk memperingatkan laki-laki lain tentang apa yang bisa terjadi.
Di Guiyang, sulit menemukan biro jodoh yang stafnya bersedia berbicara.
Seorang pemilik biro jodoh setuju berbicara dengan kami di kantornya, meskipun rekan bisnisnya kemudian meminta kami pergi.
Di dalamnya terdapat karpet merah yang dipenuhi kelopak bunga palsu yang siap digunakan untuk lamaran.
Dia mengatakan bahwa beberapa jam sebelum kami tiba, sepasang calon pengantin telah berjanji untuk menikah.
"Ada pasar yang sangat besar untuk pernikahan kilat di China. Fenomena ini benar-benar baru muncul dalam dua atau tiga tahun terakhir," katanya kepada kami.
Para agen mengklaim bahwa keluarga-keluarga di wilayah ini tidak secara ketat mematuhi kebijakan satu anak, sehingga daerah tersebut memiliki lebih banyak perempuan.
"Bahkan jika sebuah keluarga memiliki dua atau tiga anak perempuan, mereka tetap akan terus mencoba mendapatkan anak laki-laki," kata salah satu dari mereka kepada BBC.
Mereka mengatakan kini berusaha menjodohkan perempuan-perempuan tersebut dengan laki-laki dari provinsi-provinsi bagian tengah, seperti Wang yang tinggal di Hebei, yang relatif kaya tetapi hanya sedikit perempuan tinggal di sekitar mereka.
"Klien kami bebas memilih siapa pun yang mereka sukai. Tujuan bisnis kami adalah membantu orang menemukan seseorang yang benar-benar ingin mereka jalani hidup bersama."
Salah satu iklan meyakinkan calon klien bahwa "Tiga hari dengan perkenalan yang tepat bisa mengalahkan tiga tahun pacaran".
Wang kini menghabiskan waktunya mencoba membantu korban lain yang mengalami rayuan serupa.
Apartemen sewanya penuh dengan laki-laki yang sedang mencari pemilik agen yang menipu mereka, atau berusaha mendapatkan kembali kerugian dari istri yang pergi setelah hanya beberapa minggu menikah.
Di tempat tidur lipat dekat jendela, Xu Rulin yang berusia 59 tahun dari Provinsi Jiangxi mengeluarkan bukti-bukti yang ia susun rapi dari kantong belanja plastik merah.
Dia menghabiskan hampir 500.000 yuan (Rp1,3 miliar) untuk mencari istri bagi putranya melalui agen "pernikahan kilat".
Mereka bersama-sama pergi ke Guiyang, lebih dari 1.000 kilometer jauhnya. Putranya menikah hanya tujuh hari setelah pertama kali bertemu pengantinnya di ruang "kencan buta".
Baca juga:
Xu mengatakan bahwa setelah pernikahan didaftarkan, perempuan itu meminta mereka membelikannya iPhone dan mentransfer sekitar 20.000 yuan (Rp52,8 juta) untuk membantu usahanya.
Perempuan tersebut juga meminta 120.000 yuan (Rp317 juta) untuk gaun pengantin dan perhiasan, klaim Xu.
"Yang saya inginkan hanyalah agar dia benar-benar menetap dan tinggal bersama kami," katanya kepada kami.
"Dia mengatakan ingin rumah dan saya setuju untuk membelikannya rumah bagi mereka. Semua sudah disepakati."
Namun, menurut Xu, perempuan itu kabur setelah tinggal bersama mereka kurang dari dua minggu.
Perempuan tersebut telah ditahan oleh polisi, dan pasangan itu telah bercerai.
Xu mengatakan bahwa pemilik biro jodoh itu juga ditangkap pada Januari tahun ini, tetapi ia masih berada di Guiyang untuk mencoba mendapatkan uang ganti rugi.
Manajer biro jodoh yang diwawancarai BBC mengakui bahwa tidak ada pemeriksaan latar belakang resmi terhadap klien mereka.
"Para perempuan diperkenalkan oleh mak comblang lokal yang sudah mengenal mereka dengan sangat baik. Mereka mengetahui latar belakang keluarganya karena sering kali berasal dari desa yang sama. Mak comblang pihak laki-laki juga biasanya mengenal laki-laki itu dengan sangat baik."
Mereka tidak bersedia mengatakan berapa biaya layanan mereka karena informasi tersebut "rahasia".
Dia mengatakan bahwa jika informasi yang diberikan oleh salah satu pihak tidak benar, klien berhak mendapatkan uangnya kembali.
"Saya akan mengatakan bahwa lebih dari 90% dari apa yang disampaikan klien kami di sini adalah benar," klaimnya.
"Kami memiliki pepatah di China. 'Satu kotoran tikus merusak sepanci sup'. Kami secara rutin menghadiri pertemuan dengan polisi setempat. Jika sebuah biro jodoh terbukti terlibat dalam penipuan pernikahan, maka mereka akan dimintai pertanggungjawaban secara hukum."
Klaim tersebut tidak banyak menghibur para pria yang telah kehilangan seluruh uang dalam tabungan mereka.
"Saya tidak pernah membayangkan bahwa dengan agen yang mengenakan biaya layanan sangat tinggi, mak comblang lokal di kampung halamannya memeriksa latar belakangnya, dan perusahaan memberikan begitu banyak jaminan, informasi perempuan itu ternyata sepenuhnya palsu," kata Wang.
Baca juga:
Kini ia hampir pasrah terhadap kerugian yang dialaminya.
Dia pun menyalahkan dirinya sendiri karena terjebak dalam penipuan tersebut:
"Hanya perempuan yang memiliki masalah yang mau menyetujui pernikahan kilat seperti ini."
Dia pernah berlutut di kantor polisi di Guiyang sambil memohon bantuan agar uangnya kembali. Dia bahkan pergi ke Beijing untuk mendesak aparat melakukan lebih banyak upaya untuk memerangi jenis kejahatan ini.
Namun, kasus-kasus seperti ini sulit dituntut, kata Fan Binghe, pengacara yang telah menangani banyak kasus serupa.
Salah satu alasannya adalah hukum China tidak memiliki tindak pidana khusus yang mencakup jenis penipuan pernikahan ini. Sehingga untuk mengajukan tuntutan pidana, korban harus membuktikan bahwa tujuan pasangan mereka sejak awal memang untuk mengambil uang mereka.
"Dalam kasus yang saya tangani, para tersangka sering berargumen bahwa mereka benar-benar berniat menikah dan menjalani kehidupan yang baik, tetapi kemudian menyadari mereka tidak cocok, mengalami konflik, dan memutuskan mengakhiri hubungan," katanya.
"Dalam situasi seperti itu, batasnya menjadi kabur. Masalah hubungan sulit untuk dibantah."
Yang lebih sulit lagi adalah mendapatkan kembali uang dari biro jodoh palsu yang sering menutup usaha mereka segera setelah memperoleh cukup banyak uang.
Wang berhasil mendapatkan kembali sebagian uangnya, tetapi tidak semuanya.
"Setelah mengalami hal seperti ini, saya bahkan tidak tahu apakah saya masih bisa menikah. Sebelumnya saja saya sudah sulit menemukan seseorang. Dan sekarang saya sudah menghabiskan begitu banyak uang. Saya tidak akan mempertimbangkannya sekarang."
Kehidupan Wang, dan kehidupan para laki-laki di apartemen tersebut, tampak terkatung-katung.
"Sudah hampir dua tahun berlalu, dan sampai sekarang saya masih tidak tahu kapan saya bisa menceraikannya," katanya sambil dikelilingi dokumen-dokumen hukumnya.
"Saya tidak tahu kapan ini akan selesai sehingga saya bisa memulai kembali kehidupan yang normal. Rasanya tidak ada akhirnya."