Salvador: Dulu menjadi tempat orang-orang Afrika diperbudak, kini dijuluki 'ibu kota kebahagiaan' Brasil

Ibu kota kebahagiaan Brasil

Sumber gambar, Jeremy Graham/Alamy

    • Penulis, Kate Schoenbach
    • Peranan, BBC Travel
  • Telah diterbitkan

Dianggap sebagai tempat kelahiran Brasil modern, sejarah Salvador yang penuh gejolak telah menghasilkan energi yang unik mengenai kehidupan.

Aroma gorengan acarajé yang dijual oleh pedagang Baiana berpadu dengan irama drum band jalanan Salvador.

Para pelancong dan penduduk setempat membanjiri jeruji di kawasan Pelourinho untuk menonton pertandingan pertama Brasil di Piala Dunia 2022. Kerumunan itu seketika meledak ketika Brasil mencetak gol ke gawang Serbia.

Perayaan kegembiraan itu dilatari oleh langit biru dan bangunan era kolonial berwarna pastel di alun-alun Terreiro de Jesus, yang merupakan ciri khas ibu kota negara bagian Bahia di Brasil, yakni Salvador de Bahia (lebih dikenal sebagai Salvador).

Saya segera memahami bahwa perayaan ternyata adalah sebuah kebiasaan di Salvador, sebuah kota yang terletak di sepanjang pantai timur laut Brasil yang dianggap oleh banyak orang sebagai tempat kelahiran Brasil modern.

Penduduk setempat memegang erat pepatah "Sem pressa, olha para o céu, fala com Deus, você tá na Bahia" (Luangkan waktu Anda, lihat ke langit, bicara dengan Tuhan, Anda berada di Bahia).

Alicé Nascimento yang lahir di Salvador mengatakan pepatah itu menggambarkan suasana santai dan menyenangkan yang unik di wilayah ini.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kota Warisan Dunia Unesco ini secara tidak resmi dikenal sebagai “ibu kota kebahagiaan” Brasil.

Ketika Anda bertanya kepada penduduk setempat, yang dikenal sebagai Soteropolitanos, soal apa yang membuat Salvador begitu bergembira, mereka semua menyebutkan istilah yang sama: axé, istilah Afrika Barat Yoruba yang bisa diartikan menjadi “energi”.

Jair Dantas Dos Santos, seorang penduduk Salvador, menggambarkan axé  Salvador sebagai sesuatu yang “kehadirannya begitu kuat di udara, yang harus dirasakan dibanding dijelaskan”.

Soteropolitanos memang mengatakan bahwa axé adalah energi yang dibentuk ke dalam jalinan budaya Bahia, dan itu meresap ke segala sesuatu mulai dari musik Salvador hingga sikap mereka yang santai menjalani kehidupan.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Mustahil untuk menggambarkan energi Bahia itu tanpa mempertimbangkan sejarah kawasan ini yang penuh gejolak.

Salvador mulai dihuni pada 1549 oleh penjajah Portugis dan menjadi ibu kota Portugis Amerika pertama hingga 1763.

Wilayah ini merupakan pelabuhan utama selama perdagangan budak transatlantik dan dianggap sebagai pasar budak pertama di Dunia Baru, di mana orang-orang Afrika yang diperbudak dibawa untuk bekerja di perkebunan gula di kawasan itu.

Guru sekaligus penyair lokal Antônio Barreto mengatakan bahwa untuk memahami sejarah Salvador yang kompleks, Anda hanya perlu melihat nama yang diberikan untuk pusat sejarah kota: Pelourinho, perangkat kayu yang digunakan untuk menghukum orang di hadapan publik.

Selama masa kolonial, individu yang diperbudak dihukum di depan umum pada pelourinho karena diduga melanggar sesuatu. Saat ini, namanya masih melekat sebagai pengingat masa lalu kelam Salvador.

Sepanjang era perdagangan budak, Portugis memperbudak lebih banyak orang Afrika dibandingkan dari negara-negara lain. Mereka membawa hampir lima juta budak ke Brasil.

Sebagian besar orang yang diperbudak ini berasal dari Angola, negara koloni Portugis lainnya, serta negara-negara barat Afrika.

Perbudakan bertahan di Brasil hingga tahun 1888, namun Barreto menjelaskan bahwa orang Afrika yang diperbudak dan keturunan mereka terus memperjuangkan kebebasan dan tradisi mereka selama bertahun-tahun.

Lambang Bahia menggambarkan kekuatan masyarakatnya melalui frasa Latin "Per ardua surgo" (Saya bangkit melalui kesulitan).

Saat ini, Salvador dianggap sebagai ibu kota Afro-Brasil, dengan sekitar 80% penduduknya berasal dari Afrika.

Budaya unik kota ini merupakan bukti kekuatan dan keberanian masyarakatnya yang menyukai energi masa kini dan dengan bangga merayakan tradisi Bahia mereka yang kaya yang diambil dari masyarakat Portugis, Afrika, dan Indian Amerika.

Menyusuri jalan-jalan di kota ini, mudah untuk memahami betapa berbaurnya musik, kuliner, dan agama yang beragam di Salvador.

Ibu kota kebahagiaan Brasil, Salvador

Sumber gambar, Jan Sochor/Alamy

Keterangan gambar, Salvador adalah ibukota Afro-Brasil yang juga merupakan ibukota pertama di negara itu

Saat Barreto dan saya berjalan-jalan di pusat sejarah Pelourinho, kami menghampiri alun-alun Terreiro de Jesus, yang terkenal dengan gereja dan monumen era kolonialnya yang berasal dari abad ke-17.

Perpaduan bangunan bermotif semen dengan seni yang terinspirasi dari Afrika di sepanjang Terreiro de Jesus menyoroti perpaduan budaya yang begitu unik di kota ini.

Dulunya, ini merupakan tempat di mana orang Afrika diperbudak dan dipukuli, tapi alun-alun itu sekarang berfungsi sebagai panggung bagi festival Bahia yang dirayakan dengan capoeira dan samba yang lahir di kawasan ini.

Di depan Gereja São Francisco, yang terkenal dengan interior pahatan emas dan lukisan era Barok yang ilusionistik, kami menemukan roda (lingkaran) capoeira yang penuh energi ditampilkan sebagai bagian dari Festival de Cultural Popular untuk merayakan tradisi orang-orang Bahia.

Para pemain Capoeira bergerak dengan lincah mengikuti irama drum atabaque dan berimbau, alat musik perkusi berbentuk busur dengan senar tunggal yang berasal dari Afrika barat. Seperti atabaque dan berimbau, capoeira juga berasal dari Afrika.

Sejarawan meyakini bahwa capoeira, yang merupakan perpaduan unik antara seni bela diri dan tarian, dikembangkan di Brasil oleh orang Afrika yang diperbudak sebagai pertahanan diri mereka di bawah kendali Portugis.

Saat ini, capoeira adalah hiburan utama di jalanan Salvador yang mewakili pembebasan dan kemerdekaan.

Para praktisi capoeira mengatakan gerakan gesit mereka menunjukkan semangat vadiação, yang dapat diartikan sebagai berkeliaran, dan menggambarkan energi santai di wilayah ini.

Di seberang Terreiro de Jesus, Barreto dan saya menemukan pertunjukan samba, di mana gerakan para penarinya selaras dengan hentakan gitar, drum, dan pandeiros (rebana).

Seperti capoeira, samba dilahirkan di Bahia oleh orang-orang Afrika yang diperbudak dan sekarang dianggap sebagai tarian nasional Brasil.

Berbagai bentuk tarian samba telah berkembang di seluruh wilayah Brasil selama era kolonial, namun Samba de Roda berasal dari Salvador.

Jenis samba ini merupakan pertunjukan kolektif yang menggabungkan tarian, alat musik, nyanyian dan puisi yang diambil dari tradisi Afrika dan Portugis.

Saat ini, samba ditampilkan secara luas di seluruh Brasil. Balé Folclórica da Bahia di Salvador menjadi tempat pertunjukan profesional untuk merayakan tarian kelahiran Bahia ini.

Salvador, Brasil

Sumber gambar, Getty Images

Tradisi orang-orang Bahia seperti capoeira dan samba dirayakan dengan penuh kebanggaan.

Salah satu musim perayaan paling utama di Salvador, yang berlangsung dari Desember hingga Maret, dimulai dengan Hari Samba dan diakhiri dengan Karnaval.

Penduduk setempat menunjukkan bahwa pesta jalanan Karnaval terbesar di dunia bukan berada di Rio, tetapi di sini, di Salvador.

Mungkin tidak ada yang mewujudkan konsep axé sebaik Candomblé, sebuah agama sinkretis yang memadukan Yoruba dan tradisi Afrika Barat lainnya dengan Katolik Roma.

Apabila Soteropolitanos ditanya, mereka akan segera memberi tahu Anda bahwa mereka lebih bahagia dibandingkan orang-orang Brasil lainnya karena mereka memiliki lebih banyak perayaan dibanding daerah lain, yang sebagian besar karena kuatnya kepercayaan Candomblé.

Kika Anda menjelajahi Salvador saat ini, Anda kemungkinan bisa melihat penganut Candomblé mendoakan orang-orang yang lewat.

Kepercayaan Candomblé berkembang di Brasil selama era kolonial ketika Portugis memaksa orang-orang Afrika yang diperbudak menganut Katolik.

Demi melestarikan identitas spiritual mereka, orang-orang yang diperbudak memadukan rupa orang-orang kudus Katolik dengan orixás (roh) Afrika mereka sendiri.

Kepercayaan Candomblé saat ini diterima secara umum di masyarakat Brasil, tapi sayangnya, penganutnya sesekali masih menghadapi diskriminasi.

Meski demikian, di Salvador, baik gereja Katolik maupun tempat ibadah Candomblé hidup berdampingan secara harmonis, dan kehadiran Candomblé terasa kuat di seluruh kota.

Pengaruh Candomblé terlihat jelas pada gaun megah yang dikenakan dengan bangga oleh para perempuan Baiana de Acarajé yang menjual makanan kaki lima tradisional.

Pakaian mereka yang semarak melambangkan Candomblé dan menonjolkan tradisi campuran dari populasi yang beragam di kawasan ini.

Sementara pakaian perempuan-perempuan Bahia terinspirasi oleh gaun era Baroque Eropa dan pakaian berdaya Yoruba, kalung manik-manik warna-warni mereka mewakili roh Candomblé.

Jalanan Salvador dipenuhi oleh perempuan Baiana yang menjual barang-barang seperti acarajé yang terinspirasi Afrika (gorengan yang terbuat dari kacang polong) dan cocada (hidangan penutup kelapa), sambil dengan gembira berbagi budaya mereka dengan penduduk lokal dan turis.

Salvador, Brasil

Sumber gambar, Getty Images

Di Salvador, makanan –sebagaimana kehidupan pada umumnya—adalah untuk dirayakan.

Hidangan lokal yang populer seperti acarajé dan abará (makanan ringan yang mirip dengan acrajé yang dikukus dalam daun pisang) ditawarkan ke roh-roh Candomblé selama perayaan dan dijiwai dengan energi oleh para penganutnya.

Di luar liburan Candomblé, restoran yang terus berkembang pesat dan pasar-pasar yang ramai menjadi opsi yang bagus untuk bisa menikmati masakan unik Salvador.

Saat menjelajahi lingkungan Ladeira da Preguiça yang ramai, saya bertemu juru masak lokal Cris Oliveira de Santana, yang menggambarkan hidangan favoritnya, abará, sebagai "ledakan rasa yang merupakan percampuran antara Brasil dan Afrika".

Seperti tradisi lain yang lahir dari Bahia, Oliveira de Santana mengatakan makanan Bahia bukan hanya sebagai identitas lokal mereka, namun juga mewakili "berço do Brasil", atau tempat kelahiran Brasil modern itu sendiri.

Dari seni campuran hingga perpaduan makanan, tradisi Salvador menggambarkan ketangguhan bersejarah dan kebanggaan budaya yang erat kaitannya dengan suasana kota yang penuh energi.

Kunci kebahagiaan nyata Salvador mungkin terletak pada kemampuan masyarakatnya untuk mengubah sejarahnya yang penuh gejolak menjadi kegembiraan unik yang telah disumbangkan Salvador kepada seluruh wilayah di Brasil.

Artikel versi bahasa Inggris berjudul Brazil's unsung 'capital of happiness' dapat Anda simak di BBC Travel.