Berkunjung ke rumah para seniman dan penulis tersohor, benarkah sesuai karakter karya-karyanya?

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art, Phaidon

    • Penulis, Andrea Marechal Watson
    • Peranan, BBC Culture
  • Telah diterbitkan

Apa yang ingin diungkapkan dari berbagai interior rumah menarik tentang penghuninya yang berlatar seniman dan penulis tersohor kepada kita? Andrea Marechal Watson menemukan jawabannya pada buku baru, 'Life Meets Art'.

Jika rumah mencerminkan karakter pemiliknya, maka rumah seorang seniman bisa jadi akan membuat Anda penasaran.

Sebuah buku baru berjudul Life Meets Art: Inside the Homes of the World's Most Creative People, oleh Sam Lubell diterbitkan oleh Phaidon, membuka pintu ke koleksi interior yang pernah dimiliki sejumlah seniman, pemahat, musisi dan penulis tersohor.

Sambil melakukan pekerjaannya di seluruh dunia, penulis Sam Lubell memilih 250 tempat tinggal yang paling fotogenik dan berkesan yang dia temukan.

Beberapa telah menjadi museum yang berisi karya-karya para seniman yang tinggal dan sering bekerja di sana, dan tempat lainnya dapat digambarkan sebagai tempat suci.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/ Phaidon

Keterangan gambar, Rumah abad pertengahan perancang dan arsitek Denmark, Finn Juhl, masih terasa sangat modern.

Apa yang dikatakan rumah-rumah ini perihal pemiliknya? Nah, karena satu alasan, tampilan interior rumah-rumah para seniman itu tak sesuai gambaran umum seperti 'para seniman itu kelaparan di loteng rumahnya sendiri'.

Dengan sedikit perkecualian, buku ini diisi dengan rumah-rumah mewah, elegan dan didekorasi dengan perabotan nan mewah.

Lubell berujar: "Jika saya tak menyukai suatu tempat, saya biasanya menolaknya".

Tapi apa yang dipikirkan Lubell itu bisa jadi salah, karena inti dari buku ini adalah ringkasan perihal selera keindahan atau semacam kitab suci bagi para dekorator.

Kendati banyak ruangan telah dikurasi secara ketat, biasanya masih ada nuansa kepribadian pemiliknya; aura penghuninya, apakah di piano tua, rak buku dan meja tulis, atau aneka perangkat antik yang dikoleksi serta barang-barang pribadi.

"Perabot-perabot dan barang-barang pribadi dari seorang seniman dapat bercerita tentang kisah mereka," kata kurator National Trust, Lucy Porten.

Terkait interior vila keluarga yang dibangun arsitek Secessionist, Otto Wagner, barang-barang pribadi dari pemilik sebelumnya sudah pasti bercerita tentang sesuatu.

Vila, yang saat ini dianggap sebagai ruang Art Nouveau terbesar di Wina, dipenuhi dengan barang-barang seni yang tidak harmonis karya Ernst Fuchs, pendiri sekolah Fantastic Realism.

Baca juga:

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/ Phaidon

Keterangan gambar, Villa keluarga yang dibangun oleh arsitek 'Secessionist', Otto Wagner, sekarang penuh dengan barang-barang seni pemilik berikutnya, Ernst Fuchs.

Cerita berlanjut. Sebagai bocah melarat, Fuchs mengenal rumah itu, dan berjanji bahwa suatu saat nanti dia akan membeli rumah itu untuk ibunya.

Pada 1970, vila yang saat itu terbengkalai akan dibongkar, dan Fuchs dapat mewujudkan mimpinya.

Dia merestorasi vila dengan gaya campuran, dan mengisinya dengan karya-karya seni fantastiknya. Tempat ini sekarang dikenal sebagai Museum Ernst Fuchs.

Walau tergoda untuk berasumsi bahwa para musisi, penulis, dan para seniman non-visual lainnya biasanya tak menyadari lingkungannya karena kepala mereka penuh dengan ide-ide besar, tidaklah mungkin menggeneralisasi menyeluruh tentang cara hidup seniman.

Rumah-rumah milik Puccini dan Tchaikovsky sama-sama merupakan tempat berlindung yang ditata apik, penuh barang-barang antik nan molek, tempat mereka dapat menulis dengan damai.

Adapun legenda musik jaz Louis Armstrong hanya menginginkan tinggal di lingkungan yang ramai dan semarak.

Terlepas dari banyaknya harta yang dia kumpulkan, Armstrong memilih tetap tinggal di kawasan hunian kelas pekerja yang dipenuhi ras campuran di Queens, New York.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/Phaidon.

Keterangan gambar, Seniman Peter Paul Rubens, tinggal di sebuah rumah dengan proporsi elegan di Antwerpen.

Generalisasi kacau lainnya, adalah saat Anda menjelajahi halaman-halaman Life Meets Art,bahwa rumah para pelukis, entah bagaimana menjelaskannya, akan merefleksikan gaya lukisan-lukisan mereka.

Lihatlah rumah seniman Peter Paul Rubens, yang lukisan cat minyaknya menjadi sorotan, lantaran dipenuhi sosok perempuan-perempuan menggairahkan dan kadang-kadang tampil menyedihkan. Namun rumahnya di Antwerpen, yang dia rancang sendiri, jauh dari kesan kacau.

Meski rumah itu telah banyak diubah, elemen-elemen dasar seperti serambi dan paviliun, menurut proporsi Renaisans Italia, tetap ada persis seperti rancangan Rubens.

Mengapa seorang seniman yang begitu setia pada proporsi sempurna dalam karyanya, di ruang-ruang rumahnya mesti menghasilkan begitu banyak lukisan-lukisan kacau dan tidak teratur, itu adalah sebuah misteri.

Rumah pematung Gustav Vigeland, sekali lagi, menampilkan selera yang tampaknya bertentangan secara diametral dengan apa yang disebut Lubell sebagai karya "fisik yang penuh semangat" yang diciptakan orang Norwegia itu, dan yang sekarang dipajang di Vigeland Park, Oslo.

Rumah dan studio Vigeland terletak di sebuah bangunan bata merah, yang dirancang arsitek Lorentz Ree, yang dibangun oleh para tetua kota sebagai imbalan atas jaminan karya-karya seninya.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/ Phaidon

Keterangan gambar, Rumah pesanan pematung Gustav Vigeland bertolak belakang dengan karya seninya yang meriah.

Bisa jadi, memiliki rumah sendiri adalah insentifnya, tetapi dengan tidak pernah mengikuti rancangan interior sebelumnya.

Vigeland melakukan perubahan dan menciptakan serangkaian lukisan pastel yang anggun dari setiap jenis furnitur, mulai dari bantal sampai tempat lilin dan lampu.

Jiwa-jiwa yang warna warni

Dramawan dan penyair Jerman, Friedrich von Schiller meninggal tiga tahun setelah akhirnya dia membeli rumahnya sendiri.

Pada 1802, di usia 42 tahun, Schiller, tokoh besar abad Pencerahan dan penulis gaya modern yang luar biasa, pindah ke sebuah rumah berwarna kuning mustard di Weimar dengan keluarganya, dekat dengan sahabat dan mitranya, Goethe.

Rumah ini adalah bangunan dua lantai yang indah di kota, dengan standar yang sangat tinggi untuk seorang penulis pada masa itu.

"Hari-hari ini saya akhirnya teringat sebuah keinginan lama untuk memiliki rumah sendiri," tulisnya pada penerbitnya.

"Karena sekarang saya telah melepaskan semua pemikiran tentang meninggalkan Weimar dan berpikir bahwa saya akan hidup dan mati di sini." Ini seperti ramalan.

Sedihnya, Schiller meninggal di sini tiga tahun kemudian, karena kelelahan dalam bekerja dan penyakitnya.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/Phaidon

Keterangan gambar, Dramawan dan penyair Jerman, Friedrich von Schiller meninggal tiga tahun setelah memiliki rumah kotanya di Weimar.

Dalam kata pengantar Life Meets Art, kita mengetahui bahwa Coco Chanel pernah berkata bahwa interior merupakan "proyeksi jiwa yang alami".

Sebuah contoh yang bagus adalah Vila Santo Sospir di Saint-Jean-Cap-Ferrat dekat Nice, tempat tinggal Jean Cocteau.

Tempat ini milik induk semangnya, Françine Weisweiller, yang di tahun 1950 mengundang Cocteau untuk tinggal seminggu untuk berlibur.

Yang tidak diketahui adalah Cocteau akan menetap selama 11 tahun, menutupi seluruh permukaannya dengan rancangan-rancangan yang sebagian besar terinspirasi dari subjek-subjek dalam pantheon Yunani.

Dia menggunakan palet yang kecil, dan menyebut sketsa sebagai "tato", sehingga rumah yang sekarang menjadi monumen nasional, menjadi dikenal sebagai Tattooed Villa.

"Kami telah mencoba untuk mengalahkan semangat menghancurkan yang telah mendominasi era kami," kata Cocteau.

"Kami telah menghias berbagai permukaan yang ingin dihancurkan orang-orang."

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/Phaidon

Keterangan gambar, Rumah di selatan Perancis tempat seniman Jean Cocteau pernah tinggal dikenal sebagai 'Tattooed Villa'.

Rumah lain yang secara dramatis memproyeksikan jiwa warna warni pemiliknya yang bangsawan adalah milik Lord Leighton, seniman dan pematung era Victoria.

Dia termasyur dengan lukisan Flaming June-nya, suatu visi sosok dewi Pre-Raphaelite yang terbungkus dalam sutera jinggal dan pingsan lantaran terik musim panas.

Rumah Leighton di Holland Park, London, diawali dengan struktur bata sederhana dengan langit-langit setinggi dua kali lipat pada sebidang tanah yang dibeli oleh Leighton.

Sebuah pintu rahasia yang pernah menjadi tempat masuk para model tanpa terlihat oleh para tetangga era Victoria yang kolot.

Banyak penambahan yang terinspirasi oleh perjalanan Leighton, kemudian dicangkokkan pada gedung tersebut.

Bagian yang paling berkesan adalah "aula Arab", meniru istana abad ke 12 di Sisilia, dengan campuran aneh dari lantai dan ukiran Moor, pernik-pernik keemasan dan tiang-tiang klasik.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/Phaidon

Keterangan gambar, 'Leighton House' yang mewah di London mencerminkan perjalanan seniman Lord Leighton.

Untuk mengatasi masalah kabut musim dingin, Leighton menambahkan sebuah 'studio musim dingin' yang luas ke bangunan rumah yang tampak seperti rumah kaca berkaki.

Penambahan terakhirnya adalah 'ruangan sutra' yang diisi dengan lukisan dan pahatan, beberapa di antaranya adalah karya-karya para seniman dari suatu batalion yang dikenal sebagai Artists' Rifles, pasukan relawan yang dibentuk pada 1859, terdiri dari pelukis, musisi, aktor dan arsitek, yang dikomandoi oleh Leighton di tahun-tahun awal.

Leighton kemudian diangkat sebagai bangsawan pada 1896 tetapi meninggal karena serangan jantung di rumah Kensington-nya sehari kemudian, yang menjadikannya sebagai penerima gelar kebangsawanan terpendek dalam sejarah Inggris.

Studio-studio para artis yang diabadikan selalu menjadi magnet bagi pengunjung, dan kendati Leighton House tidak tipikal, Life Meets Art penuh dengan contoh-contoh lainnya.

Di antara studio-studio yang paling terkenal adalah gudang East Hampton tempat Jackson Pollock menciptakan lukisan tetesnya yang terkenal, yang jejak tetesannya masih dapat terlihat di lantai.

"Orang-orang selalu tertarik oleh asal usul suatu karya seni. Ini sering menjadi misteri, bahkan bagi para senimannya," kata Louisa Buck, jurnalis seni kontemporer untuk Art Newspaper, kepada BBC Culture.

"Studio itulah wadahnya, tempat semua proses kimia mulai."

Banyak interior di Life Meets Art sesuai dengan zamannya, tetapi yang lain terasa sangat modern di masanya.

Salah satu contoh yang mencolok adalah rumah perancang furniture dan arsitek Denmark, Finn Juhl, yang biasanya langsung tersaji di halaman-halaman majalah interior saat ini.

Tempat tinggal terbuka dengan warna warni kerennya, kursi-kursi klasik modern dan segala kerajinan tangan yang mengantisipasi interior masa kini dengan sempurna.

Baca juga:

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/ Phaidon

Keterangan gambar, Organic House dari perancang Meksiko, Javier Senosiain serupa dengan rangkaian gua.

Sementara itu, 'Organic House' karya arsitek dan perancang kontemporer Meksiko, Javier Senosiain yang terletak di Meksiko City dapat mengantisipasi masa depan arsitektur dan desain.

Bangunan mirip hobbit ini sepenuhnya terinspirasi dari bentuk lengkung alami, seperti jamur dan rumah kerang.

Dengan eksterior yang tertutup rerumputan, bunga-bunga serta semak belukar, tempat ini menawarkan salah satu atap rumput hijau pertama di dunia.

Interiornya menyerupai bagian dalam rangkaian gua.

"Hampir tidak ada garis lurus di alam: semuanya berpindah secara spiral," kata Senosiain dalam buku itu.

Di rumah perupa keramik, Kawai Kanjirō di Kyoto, Jepang, kami menemukan sebuah kuil untuk menyimpan karya-karyanya.

Kanjirō adalah salah satu pendiri Mingei, suatu gerakan seni rakyat Jepang yang sejajar dengan gerakan Arts and Crafts.

Suasana rumah seniman dan penulis

Sumber gambar, Life Meets Art/Phaidon

Keterangan gambar, Rumah pembuat keramik Kawai Kanjirō di Kyoto mencerminkan warna-warna tanah dan bentuk organik dari kerajinannya.

Bekerja sama dengan saudara laki-lakinya yang berprofesi sebagai arsitek, rumah Kanjirō merupakan perpaduan antara rumah pedesaan dan rumah perkotaan modern, dan jelas merefleksikan minatnya untuk memadukan teknik modern dengan kerajinan tradisional.

Di permukaan dinding terdapat contoh-contoh dari segala sesuatu yang dikagumi Kanjirō, semuanya disusun dan ditata rapi, dan gerakan Mingei mengagumi karya-karya orang-orang biasa dan rendah hati, dari bentuk organik sederhana sampai warna-warna tanah.

Hal ini merupakan suatu estetika yang menangkap semangat para perancang muda saat ini dalam hal kesempurnaan.

Dan seperti semua rumah para seniman, rumah ini pun memberikan wawasan yang menarik tentang temperamen dan kesenangan penghuninya.

--

Artikel versi bahasa Inggris yang berjudul Inside the homes of remarkable artists and writers, dapat Anda baca di BBC Culture.