Penjaga hutan adat Wonosadi: 'Jangan tinggalkan air mata untuk anak cucu, tetapi tinggalkanlah mata air'

Telah diterbitkan

Sri Hartini adalah seorang ibu rumah tangga berusia 53 tahun. Semasa kecil, dirinya sering diajak sang ayah yang merintis penghijauan di Hutan Adat Wonosadi.

Sekitar 56 tahun lalu, hutan itu hanya menyisakan empat pohon berusia ratusan tahun. Hutan nyaris gundul akibat pembalakan liar. Imbasnya, masyarakat yang kebanyakan adalah petani kekurangan air dan gagal panen.

Simak juga:

Sri, meneruskan peran ayahnya sebagai penjaga hutan. Dia masuk ke dalam hutan tiga kali dalam sepekan bersama rekan-rekan penjaga lainnya dari desanya untuk memeriksa dan memelihara hutan itu.

Kegiatan yang mereka lakukan adalah tanpa upah.

"Saya tergerak lewat pesan almarhum ayah saya, dia berpesan, janganlah meninggalkan air mata untuk anak cucu kita, tetapi tinggalkanlah mata air untuk anak cucu kita," ungkap Sri.

Namun, Sri mengaku kesulitan mencari para pemuda yang bersedia menjadi penerusnya kelak. Dia juga berharap para pemuda tergerak untuk menjaga kelestarian hutan.

Video produksi:

Kameraman: Furqon Ulya Himawan / Video Editor: Silvano Hajid