You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Ramadan: Masjid Agung Surakarta menjembatani perbedaan tradisi salat tarawih
Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah, yang berusia lebih dari dua abad, menggelar salat tarawih 11 dan 23 rakaat sekaligus.
Masjid di Kampung Kauman, Pasar Kliwon, Solo, yang merupakan saksi bisu penyebaran Islam di kota itu, memang sejak awal tidak terlalu kaku dalam menafsirkan dan mempraktikkan ritual ibadah.
Pengelola masjid menyediakan dua orang imam untuk memimpin 'dua cara' salat tarawih tersebut — sebuah ketidaklaziman mengingat kebanyakan masjid di Indonesia cenderung memilih salah satu aliran.
Simak juga:
- 'Saya orang NU tulen, tapi sesekali salat tarawih delapan rakaat' — salat di masjid yang menyatukan dua tradisi
- Hormati IduI Adha, gereja 'tiadakan ibadah pagi': Kisah gereja dan masjid yang berdempetan di Solo
- Toleransi di Sumenep: Masjid dengan tukang dari Cina dan 'bicara tafsir di kelompok Syiah'
"Masjid Agung posisinya memfasilitasi semua [dua aliran] karena kita kembali ke pranata lama keraton itu bisa memfasilitasi semua jemaah," kata Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Muhtarom.
Dalam tradisi di Indonesia, tata cara salat tarawih delapan rakaat biasanya identik dengan organisasi Muhammadiyah. Sebaliknya, praktik tarawih 20 rakaat dilekatkan kepada organisasi Nahdlatul Ulama yang juga memiliki alasan di baliknya.
Dihadapkan persoalan pelik seperti itu, pihak keraton yang saat itu masih menaungi masjid, memilih untuk berusaha menyatukannya.
Video Editor: Anindita Pradana
Kameraman : Fajar Sodiq