Kebakaran Pantanal sebabkan badai abu mengerikan yang tampak seperti badai salju

Sumber gambar, IHP
- Penulis, Vinicius Lemos
- Peranan, BBC News Brasil
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Sekilas, video yang banyak dibagikan di media sosial itu tampak seperti badai salju.
Tapi gambar itu diambil di Pantanal Brasil, di mana suhu jarang turun hingga ke level sangat rendah - khususnya di awal musim panas di belahan bumi selatan.
Itu adalah abu dan pasir yang jatuh dari langit di Barra do Sao Lourenco, sebuah desa dengan sekitar 100 penduduk, yang terletak di jantung lahan basah tropis terbesar di dunia.
Warga setempat mengatakan kepada BBC bahwa badai seperti itu sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Para ahli mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan akibat dari kebakaran yang melanda Pantanal tahun ini dari Januari hingga Oktober.
Api besar menghancurkan area seluas hampir 45.000 km persegi, menurut LSM SOS Pantanal Institute.
(Video yang diunggah di Twitter oleh ahli biologi Brazil Hugo Fernandes menunjukkan badai abu di Sao Lourenco yang terlihat seperti badai salju)
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Daerah itu luasnya empat kali lebih luas dari Metropolitan New York.
Sementara kebakaran telah mereda, orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut masih menderita dampaknya.
'Abu menempel'
Maria de Souza, seorang pengrajin yang tinggal di Sao Lourenco, mengatakan dia telah menyaksikan badai abu dalam beberapa minggu terakhir.
"Perasaan saya sangat tidak enak. Selain berbahaya bagi kesehatan, rumah kami penuh dengan kotoran dan pakaian kotor," ujarnya.
"Abu menempel pada semua barang."

Sumber gambar, Courtesy of Rosinei Jesus
"Beberapa hari yang lalu, saya sedang keluar rumah ketika angin bertiup keras. Tidak ada waktu untuk masuk ke dalam untuk memakai masker. Akibatnya saya batuk-batuk," kata de Souza.
Alexandre de Matos, seorang ahli lingkungan di Sistem Nasional Brasil untuk Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan, sebuah badan pemerintah, menjelaskan fenomena itu.
"Abu dari api menyebar akibat angin kencang dan air hujan belum cukup untuk membuang abu itu ke sungai."
Fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya
Ini adalah pertama kalinya fenomena tersebut tercatat di Pantanal sejak pihak berwenang Brasil mulai memantau kebakaran di wilayah tersebut mulai tahun 1990-an.
Matos mengatakan ada sejumlah laporan bahwa badai yang cukup kuat terjadi di wilayah itu, sehingga mampu menerbangkan atap-atap rumah.
Keadaan diperparah banyaknya pohon yang terbakar, yang sebelumnya bisa melindungi masyarakat dari angin kencang.
"Tidak banyak puncak-puncak pohon hari ini. Padahal pohon-pohon itu pasti bisa menahan badai abu," Matos yakin.
Badai abu pertama, menurut peneliti, terjadi pada pertengahan Oktober.

Sumber gambar, Getty Images
Serra do Amolar, tempat yang dianggap salah satu yang terpenting untuk kelestarian lahan basah, juga dilanda badai abu.
Gambar yang diambil oleh penduduk menunjukkan awan besar, rendah, berwarna coklat yang mendekat.
Pada saat itu, kebakaran masih berkobar sehingga banyak asap serta angin kencang dan partikel abu, hal yang cukup mengganggu visibilitas pilot yang menerbangkan pesawat pemadam kebakaran.
Siang berubah menjadi malam
"Itu adalah hal yang menakutkan, belum pernah terjadi sebelumnya," kata Angelo Rabelo, seorang peneliti di IHP, sebuah LSM lingkungan yang memantau wilayah tersebut.
"Siang berubah menjadi malam dalam beberapa menit dan situasinya berlangsung hingga subuh."
Tapi badai belum berhenti sejak saat itu.
Para ahli mengatakan bahwa meski kurang intens, tapi badai itu tetap menimbulkan masalah bagi penduduk, fauna lokal dan mereka yang bekerja melestarikan wilayah Pantanal.

Sumber gambar, IHP
"Saya telah mengalami dua badai abu lainnya. Ini bukan sesuatu yang biasa," tambah Rabelo.
"Fenomena ini menyebabkan kepanikan."
Rabelo mengatakan bahwa kelembapan yang rendah, suhu tinggi dan kekeringan baru-baru ini di wilayah itu telah berkontribusi pada fenomena tersebut.
Tidak ada statistik resmi yang mencatat seberapa sering badai abu terjadi di Pantanal, tetapi penduduk Sao Lourenco mengatakan bahwa mereka telah merasakan badai itu hampir setiap hari belakangan ini.
"Sejak Oktober, hampir setiap minggu terjadi kasus seperti itu di sini. Dalam seminggu terakhir, praktis terjadi setiap hari," kata seorang warga Leonida Aires.
Penduduk lain, nelayan Rosinei de Jesus, berbicara kepada BBC tentang badai abu yang dia saksikan pada sore hari tanggal 30 November.
"Saat itu hampir pukul dua siang dan kami tidak bisa melihat apa-apa. Situasi di sini sangat sulit," katanya.
Badai tersebut telah menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga yang tinggal di tepi sungai. Laporan kondisi pernafasan sudah menjadi hal biasa.
Fenomena tersebut memperburuk kondisi orang yang sudah mengidap penyakit pernafasan.
"Polusi udara, terutama yang terkait dengan pembakaran biomassa, menghasilkan produksi materi partikulat (yang sangat kecil). Semakin kecil, partikel itu semakin bisa mencapai ujung saluran udara," kata Patricia Canto, dokter paru-paru dari Fiocruz, salah satu dari pusat penelitian medis terpenting di Brasil.
Di masa pandemi Covid-19, situasinya menjadi semakin mengkhawatirkan.
"Ada penelitian yang menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi akibat Covid-19 di daerah dengan polusi udara lebih besar. Jadi (paparan abu) adalah situasi yang mengkhawatirkan," tambah Canto.
Namun dampak kesehatan juga bisa muncul bertahun-tahun kemudian.
Sungai juga terdampak
"Jika hal ini sering terjadi, fenomena ini bisa menyebabkan kanker paru-paru, yang dapat berkembang perlahan dalam kasus paparan jangka panjang terhadap polusi udara," kata sang ahli.
Abu dan badai hanyalah salah satu dari masalah yang saat ini dihadapi Sao Lourenço sebagai akibat dari kebakaran Pantanal.
Ada kekurangan air dan makanan di komunitas yang terletak di tepi kiri Sungai Paraguay.
Sungai yang menjadi sumber pendapatan utama warga itu mengering dalam lima dekade terakhir.
Selain itu, kebakaran telah mempengaruhi kualitas air sungai itu, yang pernah disebut tidak layak untuk dikonsumsi manusia.

Sumber gambar, Gustavo Figueiroa/SOS PANTANAL
"Hujan sejauh ini belum cukup untuk memenuhi sungai dan ini membuat penangkapan ikan lebih sulit. Tapi hujan juga membawa banyak sedimen dan abu ke air," kata ahli lingkungan Alcides Faria, yang bekerja di wilayah tersebut.
Menurut Faria, banyak warga yang mengalami diare setelah minum dari sungai.
Memancing adalah aktivitas penting di Sao Lourenco, tetapi polusi air juga sudah membunuh ikan.
"Ini bencana besar. Sayangnya, ini disebabkan 'tangan manusia'. Benar-benar tidak bertanggung jawab," kata Leonida Aires.
Dia mengacu pada penelitian para ahli yang mengatakan sebagian besar kebakaran di Pantanal dalam beberapa tahun terakhir adalah karena ulah manusia.
Leonida, yang bekerja sebagai pengrajin lokal, menggunakan daun eceng gondok dalam karyanya. Namun, kini daun itu juga menghilang.
"Hanya ada sedikit eceng gondok karena kebakaran dan kekeringan."

Sumber gambar, Getty Images
Tetapi bahkan jika ada lebih banyak eceng gondok di sekitar, tidak ada yang bisa menjualnya. Pandemi dan kebakaran sangat mempengaruhi pariwisata di wilayah tersebut.
"Banyak orang mengalami kesulitan keuangan," kata Leonida.
Dia mengatakan bahwa penduduk bertahan hidup dengan uang dari bantuan darurat.
Selain itu, sebagian juga menerima sumbangan makanan.
"Beberapa orang membawa makanan dan itu sangat membantu," katanya.
"Kami juga berbagi apa yang kami dapat dengan hewan-hewan karena tidak ada yang bisa dimakan oleh banyak dari mereka, mengingat pohon-pohon telah terbakar."





























