You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Implan vagina: Johnson & Johnson kalah dalam gugatan di Australia
Lebih dari 1.350 perempuan Australia memenangkan gugatan perwakilan kelompok (class action) yang sudah berlangsung lama melawan Johnson & Johnson (J&J) terkait implan jala vagina.
Pengadilan Federal Australia menyatakan anak perusahaan J&J, Ethicon gagal memperingatkan pasien dan ahli bedah mengenai "risiko" dari produk mereka.
Implan vagina biasa digunakan untuk merawat kejatuhan organ pervis dan inkontinensia sesudah kelahiran.
- Lima hal yang perlu diketahui tentang vagina
- Pemasangan implan vagina yang 'biadab,' ratusan perempuan gugat dinas kesehatan Inggris
- Vaginismus: 'Tubuh saya tidak mengizinkan saya berhubungan seksual'
- Apakah semua perempuan mengalami ejakulasi? Pertanyaan yang menghasilkan Pussypedia, ensiklopedi daring gratis seputar vagina
Kasus ini merupakan salah satu dari beberapa kasus yang dihadapi J&J terkait produk mereka ini.
Beberapa pasien mengatakan mereka menderita rasa sakit yang kronis, pendarahan dan rasa tidak nyaman yang parah pada saat berhubungan seks sesudah menjalani pembedahan implan vagina.
Hakim Anna Katzmann memutuskan bahwa informasi yang disampaikan oleh J&J tentang produk mereka itu "tidak akurat" dan "sengaja keliru".
"Risiko alat ini diketahui sejak semula, dan tidak kecil dan menurut pengakuan Ethicon sendiri, bisa mendatangkan kerugian yang serius jika risiko itu benar-benar terwujud," kata Hakim Katzmann dalam putusannya.
Kerugian yang diderita oleh para pasien ini akan ditentukan dalam sidang tahun depan.
Dalam pernyataannya, Ethicon membela reputasi mereka dan menyatakan sedang mempertimbangkan akan melakukan banding.
"Ethicon yakin bahwa kami telah bertindak secara etis dan bertanggungjawab dalam riset, pengembangan dan distribusi produk kami," kata mereka.
Julie Davis, pihak yang pertama kali mengajukan gugatan, menyambut gembira putusan ini.
"Pada dasarnya mereka memperlakukan perempuan seperti kelinci percobaan, mereka berbohong, dan tak membantu apa-apa saat masalah terjadi," katanya kepada wartawan di depan pengadilan di Sydney.
Tahun lalu, pemerintah Australia mengeluarkan permintaan maaf secara nasional kepada perempuan yang terkena dampak implan jala vagina ini, seraya mengakui adanya "penderitaan dan rasa sakit" yang mereka alami beberapa dekade.
Gugatan kepada J&J menumpuk
Putusan ini adalah konsekuensi yang harus dijalani oleh J&J yang sedang menghadapi gugatan hukum bernilai miliaran dolar terkait produk mereka.
Bulan Oktober, J&J setuju untuk membayar senilai US$117 juta (sekitar Rp1,6 trilyun) untuk menuntaskan gugatan jala vagina di 41 negara bagian di Amerika Serikat dan District of Columbia.
Mereka juga menghadapi gugatan terhadap produk mereka di Kanada dan Eropa.
Sekalipun banyak gugatan dan perintah membayar ganti rugi, J&J mencatat penjualan US$20,7 milyar dalam penjualan kuartal 2019, meningkat 1,9% dibandingkan tahun 2018.
Gugatan di Inggris
Di Inggris, implan jala vagina juga mendatangkan banyak gugatan. Menurut data dari NHS, antara bulan April 2007 dan Maret 2015, lebih dari 92.000 perempuan melakukan pemasangan implan vagina.
Dari jumlah tersebut, sekitar satu dari 11 perempuan mengalami masalah.
Kini, lebih dari 800 perempuan di Inggris menggugat lembaga kesehatan NHS dan berbagai produsen, termasuk raksasa farmasi AS, Johnson & Johnson - perusahaan pembuat implan terbesar.
Banyak perempuan yang ditemui BBC mengatakan mereka tidak pernah diberitahu oleh para dokter bedahnya tentang potensi risiko yang terkait dengan implan tersebut.