Konflik Afghanistan: Bom di Kabul tewaskan puluhan siswi SMP, Indonesia 'mengutuk serangan brutal' - Mengapa etnis minoritas jadi sasaran?

Sumber gambar, Getty Images
Sejumlah keluarga di Afghanistan menguburkan anak-anak mereka yang tewas dalam ledakan bom di luar gedung Sekolah Menengah Pertama di Ibu Kota Kabul, Sabtu lalu (8/5).
Lebih dari 60 orang, sebagian besar anak perempuan, meregang nyawa akibat serangan yang menimpa para murid saat jam pulang sekolah.
Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Dasht-e-Barchi, wilayah yang sering jadi target serangan militan Islamis Sunni.
Pemerintah menyalahkan Taliban atas serangan tersebut, namun milisi itu membantahnya.
Siapa sebenarnya yang menjadi target dalam insiden berdarah Sabtu lalu itu tidak jelas. Ledakan terjadi di tengah meningkatnya aksi kekerasan saat AS bersiap memulangkan semua pasukannya dari Afghanistan pada 11 September mendatang.
Kawasan di barat Kabul yang jadi lokasi ledakan merupakan permukiman bagi banyak warga minoritas Hazara, yang berketurunan dari Mongolia dan Asia Tengah serta sebagian besar Muslim Syiah.
Hampir setahun yang lalu, unit bersalin di suatu rumah sakit setempat diserang, menewaskan 24 perempuan dewasa, anak-anak, dan bayi.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 1

Heather Barr dari Human Rights Watch mencuit serangkaian video dan foto yang dia sebut merupakan sekolah yang dimaksud di Kabul - termasuk tur yang dipandu oleh salah seorang murid sekolah. Menurut Barr, film dokumenter di sekolah tersebut dibuat pada 2017.
Pemenang Hadiah Nobel dan aktivis Malala Yousafzai - yang kepalanya ditembak Taliban pada 2012 - memposting soal "serangan mengerikan" itu lewat Twitter.
"Hatiku bersama para keluarga korban sekolah di Kabul," tulisnya.
Indonesia 'mengutuk serangan'

Sumber gambar, Anadolu Agency via Getty Images
Masyarakat internasional pun melontarkan reaksi keras. Salah satunya Indonesia, yang mengutuk serangan brutal yang menyasar Sekolah Sayed Ul-Shuhada itu.
"Duka cita dan simpati yang mendalam terhadap keluarga korban dan seluruh rakyat Afghanistan. Indonesia akan terus mendukung upaya memerangi terorisme dan mewujudkan perdamaian yang lestari di Afghanistan," demikian cuit Kementerian Luar Negeri RI di Twitter pada Minggu malam (09/05).
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 2
Afghanistan mengalami peningkatan kekerasan saat AS dan NATO bersiap menarik semua pasukan mereka yang masih bertugas di negeri itu pada 11 September.
Sabtu lalu Departemen Luar Negeri AS mengencam "serangan barbar" itu yang terjadi di luar sekolah.
"Kami menyerukan segera diakhiri kekerasan dan pengincaran atas warga sipil yang tidak bersalah," sebut Deplu AS.
Kantor misi Uni Eropa di Afghanistan lewat Twitter menyatakan bahwa "mengincar anak-anak sekolah sama saja dengan menyerang masa depan Afghanistan."
Suasana emosional
Pemakaman pertama para korban berlangsung di "Tempat Pemakaman Martir", yang menjadi lokasi penguburan bagi banyak warga Hazara.
Mereka yang hadir begitu terpukul menyaksikan peti-peti jenazah para korban diturunkan ke liang lahat, ungkap kantor berita AFP.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Salah seorang warga setempat, yang dikutip AFP, mengaku: "Saya bergegas ke lokasi kejadian dan langsung berada di antara para korban tewas. Semuanya anak perempuan. Tubuh-tubuh mereka saling bertumpukan."
Ledakan itu diyakini akibat sebuah bom mobil dan dua bom rakitan yang dipasang di lokasi.
Seorang saksi yang selamat, Zahra, kepada para wartawan mengungkapkan bahwa dia tengah pulang sekolah saat ledakan terjadi.
"Teman kelas saya meninggal. Beberapa menit kemudian ada ledakan lagi, dan muncul lagi. Semua orang berteriak dan darah di mana-mana," ungkapnya.

Sumber gambar, EPA
Lebih dari 150 orang luka-luka akibat serangan itu. Laporan dari Kabul mengatakan bahwa saat itu suasana di kota tersebut tengah sibuk oleh para warga yang berbelanja untuk kebutuhan Idul Fitri pekan ini.
Sementara itu, Taliban hari Minggu mengatakan mereka menerapkan gencatan senjata selama tiga hari terkait Idul Fitri.
Pemberontak itu menyatakan bahwa pihaknya "menghentikan semua operasi atas musuh untuk mendukung suasana yang damai dan aman."
Pemerintah Afghanistan diperkirakan menanggapinya juga dengan gencata senjata.

Analisis oleh Secunder Kermani, koresponden BBC Afghanistan
Begitu banyak tempat di Afghanistan mengalami begitu banyak penderitaan, namun yang terjadi di distri Dasht-e-Barchi di Kabul benar-benar mengerikan.
Wilayah itu dihuni oleh minoritas etnis Hazara. Sebagai pengikut Islam Syiah, mereka dipandang ISIS sebagai bidah dan sering dijadikan target serangan.
Puluhan warga itu telah tewas akibat pengeboman di gelanggang olahraga, pusat budaya, dan terutama di tempat-tempat belajar.
Tahun lalu dan pada 2018, pengebom bunuh diri ISIS menyerang pusat pembelajaran di kawasan itu yang menewaskan lebih dari 70 orang. ISIS bukan bagian dari perundingan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, yang kini prosesnya mandek.
Hingga saat ini belum ada yang mengeklaim serangan Sabtu kemarin. Namun, ISIS terus melancarkan pembunuhan dan pengeboman di Kabul dan Kota Jalalabad walau mereka sudah kehilangan banyak wilayah kekuasaan di sebelah timur negara itu.






























