You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Wali Kota Seoul Park Won-soon, yang ditemukan tewas, dituduh melecehkan sekretarisnya selama empat tahun
Seorang mantan sekretaris Wali Kota Seoul Park Won-soon, yang ditemukan tewas kemungkinan karena bunuh diri pekan lalu, menuduhnya melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya.
Dalam jumpa pers pada Senin (13/07), tim kuasa hukum dari sekretaris yang mengaku menjadi korban itu mengatakan Park Won-soon melecehkannya selama empat tahun.
Perempuan itu menceritakan wali kota mengirimkan foto-fotonya sendiri yang tampak mengenakan celana dalam.
Ditambahkan, Park juga menyuruhnya masuk ke kamar tidur di kantornya dan memintanya untuk memberikan pelukan.
Atas kejadian tersebut, perempuan itu mengaku sudah meminta bantuan ke Kantor Kota Seoul tetapi diabaikan.
Menurutnya, pelecehan yang dialaminya tetap berlanjut meskipun ia sudah berpindah bagian.
"Saya seharusnya melaporkan hal ini sejak awal," kata terduga korban dalam surat yang dibacakan dalam jumpa pers. "Mungkin jika saya lakukan, saya tidak akan menyalahkan diri sendiri sekarang."
Jumpa pers kuasa hukum mantan sekretaris Wali Kota Seoul, Park Won-soon digelar setelah polisi Korea Selatan mengatakan Wali Kota Seoul, Park Won-soon ditemukan tewas pada Jumat (10/07), beberapa jam setelah dilaporkan hilang.
Mayatnya ditemukan di Gunung Bugak di utara Seoul, dekat tempat sinyal teleponnya terakhir terdeteksi.
Kini lebih dari 500.000 orang menandatangani petisi untuk menuntut agar prosesi pemakaman kenegaraan Park selama lima hari ditiadakan.
Laporan polisi
Dia dilaporkan hilang oleh anak perempuannya di tengah penyelidikan dan laporan media atas dugaan pelecehan seksual.
Polisi membenarkan bahwa seorang staf perempuan membuat laporan bahwa Park melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Tak lama kemudian, Park dilaporkan hilang.
Kendati begitu, belum bisa dipastikan bahwa laporan ini menjadi salah satu faktor terkait kematiannya.
Kantor berita Yonhap mengatakan, seorang mantan sekretaris Park mengajukan laporan pada hari Rabu (08/07) atas dugaan pelecehan seksual.
Park tiga kali terpilih sebagai wali kota Seoul, dan dianggap sebagai salah satu calon presiden dari Partai Liberal Demokrat pimpinan Presiden Moon Jae-in.
Dia tidak muncul untuk bekerja pada Kamis (02/07), membatalkan pertemuan dengan seorang pejabat presiden di kantor Balai Kota Seoul, ujar Kim Ji-hyeong, seorang pejabat dari Pemerintah Metropolitan Seoul mengatakan kepada Associated Press.
Petugas polisi Lee Byeong-seok mengatakan kepada wartawan bahwa Park terlihat oleh kamera keamanan pada pukul 10:53 waktu setempat di dekat pintu masuk ke area hutan di mana sinyal teleponnya terakhir terdeteksi.
Polisi menemukan mayatnya setelah pencarian selama berjam-jam oleh 600 polisi dan petugas pemadam kebakaran menggunakan drone dan anjing di salah satu pegunungan Seoul, hanya beberapa menit dari pusat kota Seoul yang ditinggali hampir 10 juta orang.
Sekitar tiga jam kemudian, tubuhnya dibawa keluar dari hutan oleh petugas forensik, menurut seorang fotografer Reuters di tempat kejadian.
Media dan kerumunan warga kemudian berkumpul di luar rumah sakit Universitas Nasional Seoul pada Kamis malam di tengah laporan yang belum dikonfirmasi bahwa Park telah ditemukan dan dibawa ke sana.
Park terpilih sebagai Wali kota Seoul pada 2011 dan terpilih untuk masa jabatan ketiga dan terakhir pada Juni tahun lalu.
Sebagai anggota Partai Liberal Demokrat yang dipimpin oleh Presiden Moon Jae-in, Park dilaporkan sedang dipertimbangkan sebagai calon presiden yang berpotensi dalam pemilihan 2022.
Dengan terpilihnya kembali tahun lalu, Park menjadi wali kota pertama di Korea Selatan yang memimpin selama tiga periode.
Di masa lalu, dia merupakan aktivis sipil dan pengacara hak asasi manusia, sekaligus pengkritik ketimpangan sosial dan korupsi di Korea Selatan.
Sebagai seorang pengacara, ia berjasa dalam mengamankan hukuman pelecehan seksual pertama negara itu.
Dia berseteru dengan Presiden Park Geun-hye, secara terbuka mendukung jutaan orang yang memprotesnya pada tahun 2017 sebelum dia akhirnya didakwa dan dipenjara karena suap dan tuduhan lainnya.