Penembakan massal Thailand: 'Sejumlah saksi mata bersembunyi di toilet, mencari info lewat ponsel'

Sumber gambar, AFP
Penduduk kota Nakhon Ratchasima, Thailand, menceritakan kenangan buruk mereka setelah seorang pria bersenjata berkeliaran di pusat perbelanjaan dan menembaki orang, menewaskan setidaknya 29 orang.
Beberapa orang berlari ke toilet atau bersembunyi di bawah meja. Dengan panik, mereka mencari informasi dari ponsel mereka.
Jakraphanth Thomma mulai mengamuk pada Sabtu sore (08/02), dan kemarahannya baru berakhir dengan kematiannya 16 jam kemudian.
Doa untuk para korban digelar pada hari Minggu (09/02) dengan sejumlah biksu melantunkan doa.
Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan penembak, yang merupakan seorang prajurit berusia 32 tahun itu, tampaknya dimotivasi oleh pertikaian tanah.
Sebanyak 57 orang lainnya terluka dalam insiden. "Jumlah korban sebanyak itu belum pernah terjadi sebelumnya di Thailand", kata PM.
Apa yang dikatakan para korban?
Jakraphanth memulai serangannya sekitar pukul 15.30 waktu setempat pada hari Sabtu (08:30 GMT) di sebuah kamp militer.
Tetapi tembakannya yang membabi buta terjadi di kompleks perbelanjaan Terminal 21.
Banyak korban terbunuh ketika dia tiba, beberapa di dalam mobil, dan yang lain di luar kompleks perbelanjaan.
Video kejadian ini muncul di media sosial.
Di dalam Terminal 21, kompleks tujuh lantai yang dirancang dengan tema bandara, pengunjung yang ketakutan kebingungan apakah mereka harus melarikan diri atau bersembunyi.
Nattaya Nganiem meninggalkan kompleks dengan mobil ketika dia mendengar suara tembakan dan melihat seorang wanita "berlari keluar dari mal dengan histeris".
Dia melihat seorang pengendara sepeda motor melempar sepeda motornya dan berlari.
Seseorang yang melihat pria bersenjata itu, Diaw, mengatakan kepada Amarin TV bahwa penyerang itu "menembak ke mana-mana dan tembakannya sangat tepat".

Sumber gambar, AFP
Dia membidik para kepala korban, ujar Diaw, yang satu rekannya tewas dalam peristiwa ini.
Di lantai empat, Chanathip Somsakul, 33, melindungi dirinya di toilet wanita dengan banyak orang lainnya.
Mereka menggunakan pintu bilik toilet untuk menutup pintu masuk.
Mereka semua menggunakan perangkat seluler untuk mencari informasi. Tetapi dia mengatakan ada begitu banyak informasi, dan tidak jelas mana yang harus dipercaya.
"Semua orang ketakutan. Seorang teman yang bekerja di mal berbicara dengan seorang pria di ruang kendali CCTV ... dia memberi kami informasi terbaru tentang lokasi pria bersenjata itu," katanya kepada kantor berita AFP.
Ketika polisi tiba sekitar pukul 21.00, mereka pergi dengan tertib, tetapi mulai berlari ketika tembakan terdengar.
Charlie Crowson, seorang guru bahasa Inggris yang tinggal di Nakhon Ratchasima, mengatakan kepada BBC ada "mayat-mayat tergeletak di jalan" di kota yang biasanya damai.
Dia mengatakan seorang murid kekasihnya termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan itu.
Jakraphanth akhirnya ditembak mati oleh pasukan keamanan.
Sementara itu, di kamar mayat pada hari Minggu, Natthawut Karnchanamethee berduka karena kehilangan putranya yang berusia 13 tahun, Ratchanon Karnchanamethee.
"Dia satu-satunya putra saya. Saya mengizinkannya melakukan apa pun yang dia inginkan. Saya tidak pernah berharap yang macam-macam. Saya hanya ingin dia menjadi orang baik," kata Natthawut.
Di doa hari Minggu, Lapasrada Khumpeepong yang berusia 13 tahun mengatakan dia dan ibunya terjebak di kamar mandi pusat perbelanjaan selama lima jam.
Dia menulis di papan belasungkawa: "Terima kasih kepada mereka yang mengorbankan diri untuk menjaga orang lain tetap hidup. Tanpa Anda, kami tidak akan berada di sini hari ini."
Siapa pelaku penembakan?
Tentara yang diketaui bernama Jakraphanth Thomma pada hari Sabtu (08/02) membunuh komandannya sebelum mencuri senjata dan amunisi dari sebuah kamp militer.
Dia kemudian melanjutkan serangannya di sebuah pusat perbelanjaaan dan terus menggungah aksinya di sosial medianya.
Selain menewaskan sekurangnya 29 orang, tindakan tentara tersebut juga menyebaban lebih dari 50 orang mengalami luka-luka.

Sumber gambar, Facebook
Pihak berwenang mengatakan penembakan massal oleh Jakraphanth Thomma disebabkan oleh pertikaian tentang penjualan rumah. Diduga, dalam jual beli ini ia merasa ditipu.
Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, menggambarkan penembakan massal tersebut tak pernah terjadi sebelumnya.
Ia membantah aparat keamanan kurang sigap yang membuat Jakraphanth Thomma bisa mencuri senapan mesin, senapan laras panjang dan amunisi.
Apa yang terjadi di pusat perbelanjaan?
Pusat perbelanjaan Terminal 21 di Nakhon Ratchasima, juga dikenal sebagai Korat, masih ditutup pada hari Minggu (09/02).
Tak lama setelah pukul 03:00 waktu setempat, suara tembakan terdengar ketika pasukan keamanan menggerebek gedung itu, berusaha mengusir pria bersenjata itu.
Satu anggota pasukan keamanan tewas dan dua lainnya cedera.

Sumber gambar, Reuters
Pada pukul 09.30 waktu setempat, polisi mengonfirmasi bahwa pria bersenjata itu telah ditembak mati, namun hingga kini belum ada detail terkait bagaimana hal itu bisa terjadi.
Laporan sebelumnya mengatakan pria bersenjata itu berusaha melarikan diri melalui bagian belakang gedung.
Ibu tersangka sempat dibawa ke pusat perbelanjaan untuk mencoba membujuknya agar menyerah.

Sumber gambar, AFP/THAI ROYAL POLICE
Bagaimana penembakan itu terjadi?
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (08/02) sekitar pukul 15.30 waku setempat di kamp militer Suatham Phithak, tempat komandan, yang disebut bernama Kolonel Anantharot Krasae, terbunuh.
Koran Bangkok Post mengatakan seorang perempuan berusia 63 tahun, ibu mertua dari komandan tersebut, dan seorang tentara lain juga terbunuh di sana.


Tersangka kemudian mengambil senjata dan amunisi dari kamp sebelum mengambil kendaraan jenis Humvee.
Dia kemudian menembaki sejumlah lokasi sebelum tiba di Terminal 21 sekitar pukul 18.00 waktu setempat.
Rekaman media lokal tampak menunjukkan tersangka keluar dari kendaraannya dan melepaskan tembakan ketika orang-orang melarikan diri.
Rekaman CCTV menunjukkan dia di dalam pusat perbelanjaan dengan senapan di tangannya.

Sumber gambar, EPA
Rekaman lain menunjukkan kebakaran di luar gedung, dengan beberapa laporan mengatakan itu disebabkan oleh tabung gas yang meledak ketika tertembak peluru.
Salah satu unggahan media sosial tersangka menampilkan gambar dirinya dengan api di latar belakang.
Perdana Menteri Chan-ocha mengikuti perkembangan dan menyatakan belasungkawa kepada keluarga mereka yang terbunuh, kata seorang juru bicara.
Menteri kesehatan masyarakat telah mengajukan permohonan agar orang-orang menyumbangkan darah di rumah sakit di daerah tersebut.
Apa yang diunggah tersangka di media sosial?
Selama penembakan di pusat perbelanjaan berlangsung, tersangka selalu mengunggah status di media sosialnya.
Salah satunya di akun Facebook, menanyakan apakah dia harus menyerah.
Dia sebelumnya telah mengunggah foto senjata dengan tiga set peluru, dengan tulisan "ini saatnya untuk bersemangat" dan "tidak ada yang bisa menghindari kematian".
Facebook telah menghapus unggahan tersebut.






























