Belanda akui jet tempurnya serang 'pabrik bom ISIS' di Irak, tewaskan warga sipil

F-16s (file pic), 2013

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Dutch F-16s flew missions over Iraq almost daily for more than four years
Telah diterbitkan

Pemerintah Belanda mengakui salah satu jet tempurnya melakukan serangan udara di Irak utara pada 2015 lalu, yang menewaskan puluhan orang.

Kementerian Pertahanan Belanda mengatakan jet F-16 yang tergabung dalam pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat di Irak, menewaskan sekitar 70 milisi ISIS dan warga sipil.

Ini untuk pertama kalinya pemerintah Belanda memberikan detil terkait serangan tersebut, yang menyasar lokasi yang diduga sebagai pabrik bom ISIS di Hawija, dekat kota Baghdad.

Para pejabat Belanda mengatakan, tidak ada warga sipil di dekat pabrik pada saat serangan itu. Namun mereka membenarkan serangan itu memicu ledakan yang menghantam area yang lebih luas dari yang diperkirakan.

Mereka menyatakan, ledakan kedua yang besar dan tak terduga, menyebabkan korban jiwa semakin tinggi dari perkiraan.

Pasukan Belanda ditarik dari Irak tahun lalu.

Fasilitas ISIS di Hawija yang diserang pada 2 Juni 2015 itu diyakini memproduksi bom rakitan (IED) yang digunakan untuk menyerang pasukan koalisi, kata pernyataan itu.

Belum jelas berapa jumlah petempur dan warga sipil yang tewas dalam serangan itu.

Menteri Pertahanan Belanda, Anna Bijleved, mengatakan "hubungan antara pejuang ISIS yang tewas dan korban sipil tidak dapat ditentukan setelahnya".

Dia mengatakan intelijen sebelum serangan mengindikasikan bahwa "tidak ada warga sipil di sekitar target".

Map of Iraq showing Hawija and Baghdad

"Pemukiman terdekat berada di luar area kerusakan ... Namun setelah serangan, ledakan sekunder yang lebih besar terjadi di luar ekspektasi, menyebabkan area kerusakan yang lebih besar," dia menambahkan.

"Ternyata ada jauh lebih banyak bahan peledak di pabrik IED daripada yang diketahui atau dapat diperkirakan oleh Belanda berdasarkan informasi yang tersedia ... Ini juga menghancurkan sejumlah besar bangunan lain di daerah tersebut."

Sehari setelah pemboman Hawija, petinggi Angkatan Udara AS Letnan Jenderal John Hesterman mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa "senjata yang cukup kecil" telah dijatuhkan di "bangunan yang diketahui 'memproduksi' IED di kawasan industri".

"Ledakan kedua, yang disebabkan oleh sejumlah besar bahan peledak ISIS, sangat besar, dan itu menghancurkan sebagian besar kawasan industri itu," katanya, seraya menambahkan bahwa koalisi tidak melihat adanya bukti korban sipil.

Meski begitu, Airwars, sebuah organisasi yang melacak kematian warga sipil, menyimpulkan bahwa setidaknya 26 anak dan 22 perempuan termasuk di antara mereka yang tewas dalam insiden itu.

Kementerian Pertahanan Belanda juga mengatakan pada hari Senin bahwa serangan di Mosul pada 20 September 2015, menewaskan empat warga sipil.

Sebuah rumah dibom setelah intelijen yang salah mengidentifikasi markas ISIS, kata kementerian itu.

Satuan tugas pasukan koalisi yang melawan ISIS di Irak dan Suriah melaporkan pada 26 September bahwa mereka telah melakukan 34.573 serangan udara antara Agustus 2014 hingga Agustus 2019, menyebabkan setidaknya 1.335 warga sipil tewas.

Namun, Airwars meyakini 8.214 dan 13.125 non petempur kemungkinan telah terbunuh sebagai akibat aksi serangan koalisi selama periode yang sama.